
Kehadiran seorang bayi laki-laki membuat perubahan pada rumah megah uang ditinggali oleh Dirga dan Niar. Biasanya setiap hari santai kini sibuk dengan bayi kesayangan. Apalagi Arshen yang selalu bangun subuh-subuh. Dia selalu mengajak ayahnya bermain sebelum berangkat ke kantor. Dirga malah sangat bahagia karena dia memang tidak banyak memiliki waktu bersama sang putra. Setiap pagi dia sudah harus berangkat ke kantor dan ketik Arshen tidur barulah dia baru kembali ke rumah.
Seperti sekarang ini, tangis Arshen menggelegar di jam 04.30 pagi. Niar segera bangun dan menuju boks bayi putra kesayangannya. Begitu juga dengan Dirga. Dia akan selalu membantu sang istri untuk mengurus Arshen. Dia tidak membiarkan Niar begadang seorang diri. Mereka memutuskan untuk mengurus Arshen berdua.
"Aduh, anak Mamih poop," ujar Niar.
Dirga membantu Niar untuk mengikat rambut Niar yang acak-acakan. Hal kecil, tetapi berarti sekali untuk Niar. Dirga juga membantu menyiapkan popok serta tisu basah untuk Arshen. Begitulah kekompakan mereka berdua.
"Makasih, Papih," ucap Niar. Dirga hanya tersenyum dan mengecup ujung kepala istrinya.
Dia dan Dirga selalu membiasakan untuk mengucapkan terima kasih sekecil apapun bantuan dari orang lain agar kelak Arshen mampu meniru hal baik yang kedua orang tuanya lakukan. Hal sepele memang, tetapi itu dapat mengubah pola tingkah putranya ketika besar. Mereka berdua ingin mengajarkan kebaikan dan memberikan contoh yang baik pula kepada Arshen. Mereka berharapnya ketika Arshen besar, Arshen menjadi anak yang sopan.
Tanpa rasa jijik Niar menggantikan mengelap kotoran Arshen dan mengganti popoknya. Itu juga sering DIrga lakukan jika istrinya tengah sibuk di dapur. Awalnya Dirga muntah melihat kotoran anakya sendiri. Akan tetapi, pelan-pelan dia mulai terbiasa. Malah dia sendiri yang akan menawarkan diri untuk membantu sang istri.
"Udah, Papih tidur lagi aja. Biar Mamih yang main sama Arshen," ucapnya.
Namun, Dirga tidak mau. Dia masih menemani Niar membersihkan putranya. Setelah selesai dibersihkan, Dirga mengangkat tubuh Arshen dan membawanya ke tepat tidur berukuran king size. Arshen akan tertawa-tawa jika sudah diajak main oleh Dirga. Niar pun akan ikut tersenyum jika kedua laki-laki kesayangannya itu sudah bercanda seperti ini. Dia seperti memiliki dua malaikat pelindung yang nanti akan menjaganya.
"Mamih istirahat aja. Arshen anteng kok sama Papih," imbuhnya.
Niar menggeleng dan dia malah merangkulkan tangannya di lengan Dirga. Tak segan Dirga mengecup ujung kepala Niar. Hal itu pasti akan membuat Arshen tertawa. Arshen Snagit senang jika kedua orang tuanya itu bermesraan. Membawa kebahagiaan untuk Arshen juga.
Jika, Arshen sudah bangun suasana kamar ini akan mendadak ramai oleh tawa atau tangisan Arshen. Kali ini, Arshen menangis karena digoda oleh Dirga ketika hendak Mimi. Ketika Arshen hendak melahap sumber susunya, Dirga menjauhkan sumber susu tersebut. Sontak Arshen menangis keras.
"Papih, udah dong. Kasihan Arshennya," ucap Niar.
"Jangan dihabisin, Nak. Sisain untuk Papih juga," bisik Dirga di telinga Arshen. Niar hanya menggelengkan kepalanya.
Dirga pun menghentikan aksi jahilnya. Dia berbaring di samping sang istri yang tengah menyusui Arshen. Tangannya memeluk erat dua permata berharga yang dia miliki. Perlahan, dua laki-laki itu terlelap dengan damainya. Cara tidur Arshen maupun Dirga sama persis.
Ketika Arshen sudah berhenti Mimi susu. Dia meletakkan Arshen di samping sang suami. Lengkungan senyum terukir di wajahnya. Ada dua laki-laki yang akan melindunginya hati ini dan esok serta lusa.
"Kalian adalah lelaki hebat untuk Mamih." Niar mengecup kening Arshen serta Dirga bergantian.
Dia segera turun dari tempat tidur dan menuju kamar mandi. Selama memiliki anak, Niar yang bisa mandi paling sebentar tiga puluh menit, kini hanya lima menit. Dia tidak ingin putranya mencarinya ketika dia tidak ada.
Padahal dia sudah ditawari perihal baby sitter. Akan tetapi, Niar menolak. Dia ingin mengurus anaknya dengan tangannya sendiri. Dia juga ingin merasakan bagaimana mengurus anak seorang diri. Dia tidak ingin anaknya lebih dekat orang pengasuhnya.
Hanya butuh waktu sepuluh menit untuk Niar mandi dan berpakaian serta memakai skincare. Meskipun ada Mbok Sum, untuk sarapan serta makan malam selalu Niar yang memasaknya. Dia ingin sang suami selalu mengingat makanannya dan mengurungkan niat untuk makan di luar. Untungnya Dirga adalah manusia pemakan segalanya. Apapun yang Niar masakan pasti akan dia santap dengan begitu lahap. Bukan Dirga ingin membuat istrinya bahagia, memang masakan Niar tak ada duanya.
Setelah semuanya selesai, Niar naik ke lantai atas. Alangkah terkejutnya ketika dia melihat Arshen tengah dipakaikan baju oleh sang suami.
"Arshen udah mandi?" tanya Niar bingung. Bagaiman caranya Dirga memandikan Arshen? Kepalanya sedang berpikir keras.
"Udah dong, Papih bisa 'kan mandiin Arshen," jawab Dirga sambil membanggakan diri.
Niar tidak percaya dengan apa yang dilakukan sang suami. Setahunya, Dirga paling tidak bisa memandikan Arshen. Kata Dirga tubuh Arshen masih terlalu lunak.
"Papih gimana mandiinnya?" tanya Niar.
"Papih masukin bath up berisi air hangat. Anak ini malah gak mau diangkat."
__ADS_1
Niar menggelengkan kepala. Jika, sang suami yang menjaga Arshen ada saja kelakuan aneh yang dilakukan olehnya. Namun, putra kesayangannya seakan senang bualnnya menangis.
"Ya udah, Papih mandi dulu. Biar Arshen Mamih yang pakein baju." Dirga mengangguk mengerti.
"Kenapa kalau sama Papih kamu anteng banget sih, Nak. Kalau sama Mamih aja mandi pasti ada acara tangis-tangisan," ujar Niar dengan tangan yang cekatan untuk memakaikan pakaian putranya. Arshen itu anak yang sedikit sudah jika diajak mandi. Airnya kedinginan nangis. Sedikit kepanasan nangis juga.
Setelah rapih dan wangi, Niar mengambilkan baju sang suami untuk dipakai hari ini. Dia menaruhnya di atas tempat tidur.
Niar membawa putra pertamanya ke lantai bawah. Dia akan meletakkan bayi itu di ruang keluarga bersama Mbok Sum selagi dia mengurus bayi besarnya. Niar kembali naik ke atas, suaminya sudah rapih dengan pakaian yang sudah Niar sediakan. Kini, Niar yang memakaikan dasi untuk sang suami. Inilah momen yang paling Dirga suka. Dia bisa mengecup ujung kepala sang istri dan merengkuh pinggang Niar dengan erat. Setelah itu pasti ada kecupan manis nan hangat yang Dirga berikan. Keromantisan mereka tetap harus dijaga sesebiuk apapun pekerjaan Niar sebagai ibu rumah tangga.
"Istirahat ke kantor, ya. Papih ingin makan siang bareng kalian." Niar tersenyum dan melingkarkan tangannya di pinggang sang suami.
"Manja banget sih, bayi gedenya Mamih," ejeknya.
Dirga mencubit hidung Niar dan mengecup bibir merah cherry milik istrinya. "Papih 'kan makan siang di rumah cuma weekend doang," balasnya.
Niar tersenyum dan mengecup balik bibir sang suami. "Mau Mamih masakin apa?" Dirga menggeleng dengan cepat.
"Kita pesan saja. Papih gak mau buat
Mamih capek."
Niar merasa diperlakukan bagai ratu oleh sang suami. Dirga tidak ingin semakin menyusahkan istrinya.
"Baiklah. Nanti Mamih ke sana bersama putra kita." Lengkungan senyum terukir di wajah keduanya. Dirga sangat beruntung memiliki istri seperti Niar. Wanita yang tidak suka keluar, kecuali bersamanya.
Apalagi Niar sekarang bersahabat dengan Echa serta Nesha. Dia semakin keibuan dan selalu bersikap sederhana. Dia lebih mengutamakan kenyamanan.
"Nyonya, Den Arshen saya bawa ke kamar, ya." Niar mengangguk Dnegan senyum yang melengkung indah.
"Sarapannya hanya ini ya, Pih." Dirga tersenyum, kemudian mengangguk.
"Sudah lebih dari cukup kok," ucap Dirga.
Menu sarapan hari ini hanya nasi goreng kampung dengan chicken karage. Dirga tidak pernah komplain akan masakan Niar. Dia malah sangat beruntung karena istrinya masih mau masak untuknya disela kesibukannya mengurus Arshen seorang diri.
"Papih berangkat, ya." Niar mengangguk. Kecupan hangat Dirga berikan di kening sang istri.
"Nanti sopir kantor jemput Mamih dan Arshen," lanjutnya lagi.
Setelah suaminya pergi, Niar menyuruh Mbok Sum untuk membereskan meja makan. Dia menghampiri Arshen yang tengah terlelap. Dia tersenyum dan mengusap lembut pipi Arshen.
"Sehat terus ya, jagoan Mamih."
Hampir setiap hari Nindy akan datang ke rumah Niar dan Dirga hanya untuk bermain dengan Arshen. Dia sangat menyayangi Arshen. Sekarang, Arshen menjadi bayi kesayangan semua orang. Kakek, anteu serta omnya sangat menyayangi bayi yang baru menginjak usia dua bulan. Bayi yang sangat menggemaskan dan sudah mengerti jika diajak bicara.
"Arshen!"
Suara sang Tante sudah memekik gendang telinga. Dia menghampiri Arshen yabg baru saja bangun dari tidurnya dan tengah menyusu. Dia mencium pipi gembil keponakannya itu dengan gemas.
"Udah ganteng mau ke mana nih?" tanyanya pada Arshen.
__ADS_1
Putra dari Dirga Anggara itu hanya tersenyum ke arah Nindy. Seolah dia mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Nindy. Tangan mungil itu menyentuh pipi Nindy.
"Aku mau ke kantor. Papihnya ingin makan siang bareng katanya," ucap Niar.
"Ikut!" pinta Nindy.
Niar terkekeh dengan wajah yang Nindy tunjukkan. "Boleh banget," balas Niar.
Sebelum mereka berangkat ke kantor, Niar mengganti pakaian Arshen terlebih dahulu. Dia juga menyiapkan perlengkapan Arshen untuk dibawa ke sana. Namanya membawa bayi, pasti harus ada persiapan. Setelah semuanya selesai, mereka berangkat bersama menuju kantor DN group Karena mereka sudah dijemput oleh sopir yang diutus Dirga. Selama perjalanan, Nindylah yang menggendong Arshen. Bayi kecil itu malah tertidur di dalam gendongan Nindy. Tantenya itu bagai ibu kedua untuk Arshen.
Niar ingin menggendong Arshen, tetapi dilarang oleh Nindy. Jika, putranya sudah bersama Nindy atau Kenan sudah pasti orang tua kandungnya tidak boleh mengganggu. Akan tetapi, Niar dan Dirga merasa bahagia karena banyak orang yang menyayangi Arshen.
Tibanya di kantor, Nindy masih betah membawa Arshen dalam gendongannya. Sapaan hangat dan sopan dari para karyawan untuk Niat juga Nindy. Mereka tahu siapa dua wanita yang baru saja datang. Mereka adalah dua wnaita kesayangan Dirga dan juga Kenan. Atasan mereka yang tidak memiliki hati terhadap para karyawan. Mata para karyawan itu tak hentinya memandang ke arah dua wanita itu. Apalagi Nindy menggendong bayi laki-laki yang sangat tampan.
"Apa itu anak Pak Dirga?" bisik para karyawan di sana. Dirga belum memberitahukan kepada seluruh karyawannya perihal anak pertamanya. Seakan Dirga masih menyembunyikannya.
Niar dan Nindy langsung masuk ke dalam lift menuju ruang para petinggi. Arshen terlihat sangat nyenyak dalam gendongan Nindy. Tidak bergerak apalagi terbangun. Lift terbuka di lantai atas. Pintu ruangan petinggi perusahaan itu terbuka. Sudut bibir Dirga melengkung dengan sempurna. ketika dia melihat sang istri yang sedikit berisi datang. Namun, tidak menggendong putranya. Baru saja Dirga akan membuka suara, Nindy masuk dengan membawa Arshen.
Kenan menegakkan kepalanya ketika mendengar langkah kaki selain Niar. Matanya terpaku pada sosok yang telah merebut hatinya. Wanita itu sangat pantas untuk menggendong bayi.
"Sayang," panggil Kenan.
Dia bangkit dari duduknya dan menghampiri Nindy yang tengah menggendong Arshen. Kenan mencium pipi gembil keponakannya itu.
"Aku tadi ke rumah Kakak, terus Kakak sama Arshen mau ke kantor. Ya udah, aku ikut aja," tutur Nindy. Dia takut Kenan tidak suka dengan kehadirannya. Apalagi, dia tidak bilang kepada Kenan.
Kenan hanya tersenyum dan mengambil alih Arshen yang tengah tertidur. Dirga menatap Niar dengan senyum yang merekah.
"Sudah cocok, ya," bisik Niar kepada Dirga. Dia hanya mengangguk.
Arshen membuka mata dan menatap ke arah Nindy dan juga Kenan. Bibirnya terangkat dia tertawa. Padahal mereka bukan kedua orang tua Arshen. Nindy dan Kenan malah semakin menggoda keponakannya itu hingga tertawa keras.
Dirga dan Niar hanya menggelengkan kepala. Jika, sudah bersama Kenan dan Nindy mereka tidak akan kebagian Arshen. Putra mereka akan dikuasai sejoli itu.
"Arshen, itu bukan Papih dan Mamih kamu, Nak," ucap Dirga sengaja mengganggu Nindy serta Kenan yang tengah asyik bermain dengan putranya.
Decakan kesal keluar dari mulut Niar. Tatapan tajam Kenan berikan kepada Dirga.
"Bikin lagi deh, Kak. Biar Arshen Ndy dan mas Kenan jaga," ujar Nindy.
"Sembarang kamu kalau ngomong," decak Dirga. "Mamihnya Arshen masih merasakan kesakitan ketika ngelahirin Arshen. Lah masa iya mau bikin adik lagi buat Arshen. Kakak gak gila," omelnya.
Nindy dan Kenan hanya tertawa mendengar Omelan Dirga. Mereka tidak akan mendengarkan ocehan-ocehan Dirga yang panjang layaknya kereta api. Sudah biasa Dirga akan seperti ibu-ibu yang tengah mengomeli suaminya.
"Bos lebih baik menikmati waktu berdua bersama ibu bos. Kami bersedia kok untuk mengasuh Arshen," ucap Kenan.
Niar terkekeh mendengar ucapan dari Nindy. Dia benar-benar bahagia karena banyak yang menyayangi Arshen.
Arshen adalah anak penyebar cinta. Buktinya, banyak orang yang menyayangi Arshen. Sebagai orang tua Dirga dan Niar merasa sangat bersyukur. Apalagi sang kakek Arshen yang nampak bahagia juga sangat bersyukur karena dia masih bisa melihat cucu pertamanya.
Setiap akhir pekan pun, Dirga dan Niar lebih memilih membawa Arshen ke rumah kakeknya. Dirga ingin membuat ayahnya tak bersedih lagi. Terbukti, ketika mereka datang Deri akan terlihat sangat senang. Apalagi, jika melihat Arshen membuka mata. Deri akan segera mencium cucu kesayangannya. Melihat Arshen seperti melihat Dirga ketika kecil. Dirga dan Arshen sama-sama anak yang menjadi pelipur segala lara untuk Deri.
__ADS_1
Dirga sengaja mengajak Niar pergi makan siang di luar. Biarlah Kenan dan juga Nindy yang mengasuh Arshen. Toh, putranya itu tidak akan menangis dan mencarinya ataupun Niar. Mereka berdua pun bisa menikmati makan siang dengan leluasa karena tidak ada tangisan dari Arshen.