
"Yang," panggil Dirga.
Niar masih sibuk dengan benda pipih di tangannya. Membuat Dirga kesal sendiri. Segera Dirga menghampiri Niar dan mengambil benda pipih di tangannya.
"Ay," rengek Niar.
"Udah diem," titah Dirga yang kini berbaring di pangkuan sang istri. Mengusap lembut perut Niar yang sudah nampak membuncit. Menciumnya dengan penuh kasih sayang.
"Kamu gerak-gerak, Nak," ucap Dirga.
"Iya, Papih," seru Niar dengan suara anak kecil.
"Yang, kita babymoon, yuk."
Ajakan Dirga membuat Niar terperanjat. Sekarang, Dirga sudah berada di samping Niar menggenggam tangan Niar lalu mengecupnya.
"Kamu seriusan?" tanya Niar.
"Iya, aku ingin suasana baru pas nengokin dedek bayinya." Kalimat yang diutarakan Dirga membuat wajah Niar merona.
Tidak dipungkiri, semenjak kehamilan memasuki lima bulan. Hormon Niar semakin menjadi. Dan terkadang suaminya kewalahan dibuatnya. Tapi, itu juga membuat Dirga bahagia. Karena istrinya yang selalu mendominasi permainan. Dan sungguh membawa sensasi yang berbeda.
"Aku mah ikut aja, Ay. Yang penting, jangan cuma bulan madu tapi juga kulineran," sahut Niar.
"Beres itu mah."
Tangan Dirga sudah tidak bisa tinggal diam. Membuat Niar mulai merasakan desiran panas.
"Ay, jangan mulai. Kamu kan tau aku sensitif banget," ucap Niar.
"Aku pengen, Yang," bisik Dirga.
"Liat body kamu makin berisi, ditambah kedua balon kamu makin gede bikin aku selalu pengen nyentuh tubuh kamu," lanjutnya lagi dengan suara parau.
Suami istri ini pun mulai menyelami kenikmatan demi kenikmatan yang mereka rasakan. Sungguh mereka sedang bermandikan keringat. Tidak ada yang mau mengalah. Posisi sudah berubah-rubah, tapi pertempuran malah semakin sengit. Erangan, teriakan kecil yang terdengar tidak lantas menyudahi permainan mereka.
Napas yang tersengal, decitan suara kulit yang beradu menjadi alunan melodi yang sangat merdu. Hingga mereka berdua memejamkan mata dan memanggil nama pasangan masing-masing dengan sedikit berteriak menandakan perjalanan mereka sudah sampai puncak. Tubuh mereka pun terkulai lemas.
Tak hentinya, Dirga melayangkan kecupan demi kecupan ke wajah cantik Niar. Dan Dirga tersenyum sangat puas karena istrinya bisa mengimbangi permainannya kali ini.
"Ay, lapar."
Dirga segera beranjak dan membersihkan dirinya. Tak lupa, dia membawa baskom kecil berisi air hangat untuk mengelap tubuh istrinya. Setelah itu, barulah istrinya dipakaikan piyama kesukaan Niar. Di kehamilan Niar ini, Niar masih senang menggunakan piyama hot pants. Dan itu tidak masalah untuk Dirga. Karena piyama yang Niar pakai pun adalah buatan brand ternama. Jadi, aman untuk ibu hamil.
__ADS_1
Ketika mereka berdua turun, di sana sudah ada Nindy. Membuat Dirga dan Niar saling pandang. Dan menggedikkan bahu mereka masing-masing.
"Sejak kapan kamu di sini?" tanya Dirga.
"Sejak bos eh ah eh ah." Bukan Nindy yang menyahuti ucapan Dirga, melainkan Kenan.
"Kalian berdua janjian?" tanya Niar.
"Apa sih Kak Niar. Ogah banget sama asisten Kakak yang gak waras itu. Dia kan gak doyan cewek," ejek Nindy.
"Semprul nih bocah," sengit Dirga.
Dirga hanya tertawa melihat kedua orang di depannya sedang berdebat tidak jelas. Dan Niar pun menarik tangan Dirga untuk menuju meja makan. Tak Niar pedulikan dua manusia di ruang tamu yang masih saja berdebat. Perutnya lebih penting dibandingkan perdebatan mereka.
"Ay, abis ini makan seafood yuk." Dirga tersedak makanannya sendiri ketika mendengar ajakan Niar. Makanan yang Niar makan saja belum habis.
"Ini keinginan dedeknya atau Mamihnya?" Niar pun tersenyum penuh arti.
"Ya udah, abisin dulu makannya. Sama bajunya ganti." Niar pun mengangguk patuh.
Setelah selesai makan, mereka menuju kamar mereka. Dan dua manusia itu masih saja berdebat. Padahal sudah setengah jam berlalu.
Melihat Dirga dan Niar sudah rapi dengan pakaian santai, perdebatan kedua orang ini seketika terhenti.
"Mau ke mana?" tanya Kenan dan Nindy berbarengan.
"Mau ikut gak? Kita mau makan seafood ."
"Ikut," jawab Kenan dan Nindy bersamaan.
"Ciye kompak lagi." Niar sangat senang melihat kekompakan mereka berdua.
Dirga melempar kunci mobil ke arah Kenan. Dengan sigap Kenan menerima kunci dari Dirga. Dirga dan Niar duduk di kursi belakang, sedangkan Nindy dan Kenan duduk di kursi depan. Tak hentinya Nindy mendengus kesal. Apalagi, melihat kemesraan sang kakak yang sengaja diumbar.
"Kalo mau bermesraan itu tau tempat lah. Gak ngehargain banget sih jomblo yang ada di kursi depan kalian ini," keluh Nindy.
"Ngaku juga kalo jomblo." Lagi-lagi Kenan mengejek Nindy.
"Kayak lu punya pasangan aja. Lu mah jomblo permanen," ejek balik Nindy.
"Gua jomblo terhormat, ya," elak Kenan.
"Dih, terhormat dari mananya? Dari tiang bendera." Perdebatan pun kembali terjadi. Dirga dan Niar mendengus kesal.
__ADS_1
Tiba sudah mereka di restoran seafood favorit Niar. Niar sangat antusias dan langsung memilih menu apa saja yang dia inginkan.
"Kalian masih betah di situ?" hardik Dirga.
"Kalian pesan gih, semua pesanan ini cuma boleh buat aku sama suamiku," tegas Niar.
Nindy dan Kenan menggeleng tak percaya. Makanan sebanyak itu cuma untuk Niar. Perut atau karung goni, begitulah pikir mereka berdua. Kenan dan Nindy pun mengalah. Jika, masalah makanan mereka satu selera. Jadi, tidak ada perdebatan diantara mereka.
Rasanya enggan sekali untuk bergabung di meja Kakak dan kakak iparnya. Kemesraan yang mereka lakukan membuat Nindy meneteskan air liur. Mahasiswa kesepian begitulah Nindy.
"Ngapa bengong?" Kenan menatap ke arah yang sedang menjadi objek tatapan Nindy.
"Pasutri gak tau tempat," dengus Kenan.
"Kapan ya gua begitu?" rancau Nindy.
Kenan melihat ke arah Nindy yang sedang melamun. Dilihat dari samping, Nindy cantik memiliki hidung mancung dan bibir yang mungil. Kulitnya pun terawat. Tidak jauh berbeda dengan Niar.
Bibir Kenan terangkat ketika menatap Nindy. Nindy menoleh ke arah Kenan yang sedang menatapnya. Mata mereka terkunci.
Satu detik.
Dua detik.
Tiga detik.
"Mas, Mbak, silahkan dinikmati." Momen yang harusnya menjadi momen romantis hancur saat itu juga karena perkataan dari pelayan pengantar makanan.
Mereka berdua kembali canggung, dan menikmati makanan hanya dengan diam. Sedangkan di meja yang tak jauh dari mereka ada sepasang merpati yang sedang berbahagia menikmati seafood bersama.
"Pengen deh disuapin begitu," gumam Nindy.
Tiba-tiba ada sebuah tangan yang menyodorkan ikan di depan mulutnya. Mata Nindy membelalak. Dan Nindy pun mulai membuka mulutnya. Menikmati suapan yang Kenan berikan.
Namun, rasa pedas sudah menjalar di lidahnya. Membuat Nindy melotot seram ke arah Kenan. Sedangkan Kenan tertawa terbahak-bahak.
"Lu nyuapin gua apa?" sergah Nindy sambil meminum es teh manis yang sudah tersedia.
"Ikan bakar plus cabe rawit yang ada di sambal matah," sahut Kenan santai.
"Kenan!"
...----------------...
__ADS_1
Semoga terhibur ...
Ada notif up langsung baca ya ...