
Nindy masih terisak di dalam pelukan Deri. Terasa seperti mimpi mendapat kabar yang tidak pernah dia duga seperti sekarang ini.
"Pa, ini bohong 'kan." Nindy masih belum percaya.
"Semuanya benar, Ndy. Pengacara Papa sudah mengurus semuanya." Isak tangis Nindy semakin keras. Niar mencoba mendekat dan memeluk tubuh Nindy.
"Mamah pasti sangat sedih, Pa," ujar Nindy dengan suara yang sangat berat.
"Dia sudah bahagia bersama anaknya," terang Deri.
"Anak?" ulang Nindy. Deri menganggukkan kepalanya pelan.
"Apa maksud Papa? Anak siapa yang Papa maksud?"
Dirga menghela napas kasar mendengar pertanyaan Nindy. Ternyata Kenan tidak menjelaskan duduk perkaranya dengan terperinci.
"Itu tidak mungkin, Kak." Nindy mencoba untuk mengelak dengan air mata yang sudah membasahi wajah.
"Mamah tidak mungkin seperti itu," lanjutnya lagi.
"Tapi, ini kenyataannya, Ndy. Mamah telah mengkhianati papah. Umur adikmu pun hanya berbeda satu tahun dari kamu," jelas Dirga pelan-pelan.
__ADS_1
Nindy semakin menunduk dalam. Merasakan kesakitan yang luar biasa. Kecewa, sedih menjadi satu. Hanya Isakan tangis yang terdengar.
"Semuanya sudah terjadi, Ndy," ujar Dirga.
"Kenapa harus begini, Kak? Sudah sakit sekali hati Ndy ketika Ndy tahu Kakak bukan Kakak kandung Ndy. Sekarang, kenapa harus ada masalah ini? Kenapa Kak?"
Dirga hanya bisa memeluk tubuh Nindy yang sangat terguncang. Dia hanya bisa menenangkan.
"Ini sudah Tuhan takdirkan. Kita harus bisa menjalankan," jawab Deri yang kini mengusap lembut punggung Nindy.
"Takdir yang sangat menyakitkan, Pa," ungkap Nindy dengan suara berat.
"Nindy," panggil seseorang dengan suara sangat lirih. Semua orang menatap ke asal suara. Kecuali, Deri yang mulai menjauhi mereka. Memilih masuk ke ruang kerja.
"Ndy, Mamah tidak ingin bercerai dengan Papah. Bantu Mamah, Sayang." Septi mulai mendekat ke arah Nindy. Namun, Nindy semakin beringsut mundur. Dengan lelehan air mata di wajahnya.
"Jangan mendekat," cegah Nindy. Langkah Septi pun terhenti. Dia menatap nanar dan sedih ke arah Nindy.
"Ndy kecewa sama Mamah," ucapnya dengan suara lantang.
"Ndy benci Mamah!" seru Nindy.
__ADS_1
Sakit sekali hati Septi mendengar ucapan Nindy yang memekik di telinganya. Apalagi Nindy yang berusaha terus menghindari dirinya dan bersembunyi dibalik tubuh putra angkatnya.
"Lebih baik Mamah pergi dari sini! Ndy gak ingin lihat Mamah. Apalagi perempuan itu," teriak Nindy dari balik punggung Dirga.
Bukan hanya Septi yang tersentak. Bunga pun ikut terdiam karena teriakan Nindy.
"Pergi kalian! Pergi!" usir Nindy lantang.
Dirga dan Niar hanya bisa diam, mereka sangat tahu jika Nindy benar-benar terluka dan kecewa saat ini. Anak mana yang tidak sedih ketika usianya sudah dewasa perceraian kedua orang tuanya harus terlaksana karena sebuah pengkhianatan yang ibu kandungnya sendiri lakukan.
Tiba-tiba Septi sudah mengunci tubuh Niar dari belakang dengan sebilah pisau yang mengarah pada perut Niar. Pisau lipat berukuran sedang itu selalu ada di tas Septi.
Mata Dirga melebar dengan urat-urat kemarahan yang sudah terlihat di wajahnya. "Jangan sentuh istriku!" bentak Dirga.
"Istri dan anakmu akan mati di tanganku. Jika, sampai Papahmu menceraikan ku," ancamnya.
Nindy yang sedang berada di balik tubuh sang kakak mencoba menggeser badannya. Dia menutup mulutnya ketika tubuh Niar sudah dikunci oleh sang mamah. Ujung pisau yang cukup runcing pengarah ke perut sang kakak ipar.
Niar sudah meneteskan air mata. Ketika panik, perutnya akan terasa sakit.
"Jangan lukai Kak Niar."
__ADS_1
...****************...
Komennya mana?