
Setelah Maghrib Kenan-Nindy baru tiba di kediaman Dirga. Namun, adik iparnya itu tidak diperbolehkan masuk terlebih oleh Dirga.
"Jangan dulu masuk, diam dulu di depan rumah. Takutnya lu bawa makhluk-makhluk aneh."
Omelan Dirga membuat Kenan mengerutkan dahinya. Sejak kapan kakak iparnya itu percaya hal begituan. Namun, Kenan tak membalas ucapan dari Dirga. Dua menghargai setiap keputusan orang. Meskipun, baginya itu adalah kepercayaan orang dulu.
Bu Sarilah yang menyuruh untuk seperti itu. Tidak dipungkiri, semenjak Bu Sari menekankan kalimat itu kepada Dirga, Arshen lebih menjadi anak yang tidak reel jika malam tiba.
"Kak, Mas Kenan di mana?" tanya Nindy.
"Masih di luar. Kata Bunda kalau habis dari mana-mana jangan dulu masuk ke dalam rumah kalau punya anak bayi," tutur Dirga.
Nindy menggenggam mengerti. Bu Sari masih memakai kebiasaan orang dulu. Begitu juga dengan peraturan yang dibuatnya terhadap Niar. Kakak iparnya tidak boleh makan sembarang dan juga keluar rumah sampai empat puluh hari. Tradisi kuno, tetapi masih Bu Sari pakai.
Nindy memilih untuk pulang dari rumah Dirga. Dia berpamitan terlebih dahulu kepada Niar juga Bu Sari. Hari ini dia seperti bersama dengan ibu kandungnya. Nindy berlari ke arah sang suami yang duduk di teras.
"Mas," panggilnya.
Kenan tersenyum ke arah Nindy. Dia mengecup kening Nindy dengan sangat dalam.
"Kita pulang?" tanyanya.
"Ingin makan sop kaki kambing, Mas," rengeknya.
Kenan tersenyum dan mengusap lembut kepala sang istri. Apapun yang Nindy minta pasti akan Kenan turuti. Di sepanjang perjalanan, tangan Kenan terus menggenggam tangan Nindy. Sesekali dia mengecup punggung tangan sang istri.
Tibanya di kedai sop kaki kambing, mereka berdua memesan menu yang mereka inginkan. Nindy akan membahas perihal tempat tinggalnya.
"Mas," panggil Nindy.
Kenan yang baru saja terfokus pada layar ponselnya kini menatap ke arah sang istri.
"Ada apa, Sayang?" tanya Kenan yang kini menatap kamar nektra cokelat milik Nindy.
"Mas ... aku mau kita tinggal di rumah Papah aja," ucap Nindy sedikit ragu.
Kedua alis Kenan menukik tajam. Dia menginginkan penjelasan lebih dalam lagi.
"Anak Papah cuma dua, aku dan kak Dirga. Kak Dirga udah punya rumah sendiri, jaraknya pun cukup jauh dari rumah Papah. Aku ingin berada dalam satu rumah dengan Papah, supaya ketika ada apa-apa dengan Papah, beliau tidak sendirian," tutur Nindy.
Mengungkapkan semuanya bagai sedang mengungkapkan kesalahan kepada hakim. Jujur, tatapan Kenan tadi membuat nyali Nindy menciut.
Kenan menangkup wajah Nindy yang menunduk. Dia memandang wajah istrinya yang terlihat ketakutan itu.
"Kenapa, Sayang? Kamu takut Mas menolaknya?" tanya Kenan. Anggukan kepala menjadi jawaban dari Nindy, sontak Kenan pun tertawa.
"Apa yang kamu mau, pasti akan Mas ikuti. Selagi kamu bahagia," imbuh Kenan.
Nindy segera memeluk tubuh Kenan dan tak hentinya mengucapkan kata terima kasih. Hati Kenan benar-benar hangat dibuatnya.
"Hanya Papah yang aku miliki sekarang ini, Mas. Aku ingin memberikan yang terbaik untuk Papah," ucapnya dengan suara berat.
Kenan tidak bus berkata, dia hanya mengeratkan pelukannya Dnegan mengecup ujung kepala Nindy.
"Sabar ya, Sayang. Nanti kamu akan bertemu Mamah kamu. Aku yakin, nanti kamu akan sangat bahagia," gumamnya dalam hati.
Kenan dan Dirga sudah merencanakan semuanya. Hanya tinggal menunggu waktu.
Mereka berdua tidak ingin gegabah dalam hal ini. Bukan tanpa alasan, mereka tidak ingin menyakiti hati Deri. Apalagi Dirga, dia sangat berhati-hati akan tindakannya kali ini.
Keesokan harinya, disela pekerjaannya Kenan mencoba membuka obrolan perihal ibu mertuanya. Dirga hanya menghela napas kasar.
__ADS_1
"Kapan kita akan membawa Nindy bertemu dengan Mamah?" tanya Kenan.
"Tunggu istriku empat puluh hari dulu. Buka hanya Nindy yang rindu akan Mamah, istriku pun merasakan hal yang sama. Kami juga ingin memperkenalkan Arshen kepada Mamah," jelasnya.
Kenan mengangguk mengerti. Dia tau Dirga adalah orang yang sangat hati-hati dalam mengambil keputusan. Apalagi ini menyangkut keluarganya.
"Apa boleh saya menemui Mamah?" tanya Kenan.
Dahi Dirge mengkerut mendengar ucapan dari adik iparnya itu. "Bukannya kamu sering menemui Mamah, ya? Kenapa sekarang pura-pura meminta ijin kepada ku?" tanya Dirga heran. Kenan hanya memberikan giginya sebagai jawaban.
Di jam istirahat, Kenan sudah membuat janji dengan pihak lapas untuk menemui ibu mertuanya. Tibanya di sana, Kenan membalas makanan yang sangat banyak.
"Ibu Septi sudah berada di ruang jenguk,"ucap petugas lapas.
Seorang wanita tengah duduk di kursi. Garis kerutan sudah nampak di wajahnya. Kehidupan ibu mertuanya sudah sangat berubah drastis. Dari membidik istri pengusaha kaya yang serba ingin itu tinggal tunjuk, kini menjadi narapidana wanita yang harus mendekap di penjara karena kesalahannya.
Senyum penuh ketulusan Septi tunjukkan kepada Kenan. Begitu juga Kenan yang membalas senyuman ibu mertuanya.
"Apa kabar, Mah?" tanya Kenan, sambil mencium tangan Septi.
"Alhamdulillah baik, Nak. Bagaimana dengan kabar kamu juga Nindy?" tanya Bu Septi.
"Seperti yang Mamah lihat," jawab Kenan dengan senyum yang hangat.
"Apa putri Mamah baik-baik saja? Apa dia merepotkan kamu?" sergah Septi dengan wajah yang nampak cemas.
Kenan menggenggam tangan Septi. Dia menatap intens manik mata mertuanya.
"Nindy adalah istri yang baik, Mah. Aku bahagia dan sangat bersyukur karena telah memiliki istri seperti dia," jawab Kenan seraya tersenyum.
Ada kelegaan di hati Septi, sekaligus ada rasa rindu yang menggebu yang Septi rasakan. Namun, dia tidak ingin mengatakannya kepada Kenan. Cukup rindu itu dia pendam seorang diri karena belum tentu Nindy merindukannya juga.
"Mah, apa Mamah Inging bertemu dengan Nindy?" Pertanyaan Kenan membuta Septi sedikit terkejut. Dia menatap bingung ke arah menantunya ini.
"Tidak ada seorang ibu yang tidak merindukan anaknya. Apalagi Nindy adalah putri kandung Mamah. Kepada Dirga saja Mamah sangat merasakan rindu luar biasa. Apalagi kepada Nindy," paparnya.
Wajah Septi kemudian berubah, dia menatap lurus ke arah depannya. "Mamah ragu ... jika Nindy merindukan Mamah juga. Nindy sangat membenci Mamah," lanjutnya lagi.
"Tidak, Mah. Justru sebaliknya Nindy juga sangat merindukan Mamah," balas Kenan. Septi hanya tersenyum tipis.
"Kenan, menantu Mamah ... jangan berdusta kepada Mamah. Mamah tahu bagaimana watak dari Nindy. Mamah juga tahu bagaimana keras kepalanya Nindy. Mamah memang salah, Mamah pantas dibenci oleh anak kandung Mamah," lirihnya.
Septi tidak memercayai ucapan Kenan. Banyak orang yang selalu berdusta akan hatinya, berkata rindu pada nyatanya tidak. Itu hanya akan menyakiti hatinya saja.
"Tapi, Mah ...."
"Kenan," potong Septi. "Mamah sudah mendapat hukuman yang setimpal atas perbuatan Mamah. Mamah sudah ikhlas menerima semuanya. Mamah mendapat pelajaran yang sangat berharga selama di sini. Hitung-hitung masuk pesantren gratis," ujarnya seraya masih bisa tersenyum.
Kenan merasa senyuman ibu mertuanya itu sangatlah palsu. Ada hal yang dia sembunyikan, yaitu kerinduan yang menyakitkan.
"Mah, percaya sama aku bahwa bukan hanya Pak Dirga yang menyayangi Mamah dengan tulus, Nindy juga sangat menyayangi mamah. Tidak ada alasan untuknya membenci Mamah terlalu lama," tuturnya.
"Mamah wanita yang telah melahirkan Nindy. Mamah juga yang merawat Nindy dengan penuh kasih sayang juga cinta. Nindy Tidka akan sekejam itu, Mah," lanjut Kenan.
Ada sedikit kebahagiaan yang Septi rasakan. Namun, dia tidak ingin terlalu bahagia. Takutnya Kenan hanya ingin membuatnya bahagia. Pada nyatanya Nindy benar-benar membencinya.
Suasana mendadak hening, Septi bergelut dengan pikirannya sendiri. Kenan sudah kehabisan kata-kata. Dia pandai berbicara di depan kolega bisnis, tetapi di depan mertuanya dia mendadak menjadi manusia yang irit berbicara.
"Mah, aku pamit dulu, ya," ucap Kenan setelah melihat ke arah jam tangannya. "Aku ada meeting lagi dan gak boleh terlambat. Nanti bos marah," candanya.
Septi ikut tersenyum ke arah menantunya ini. Dia tahu bagaimana kedekatannya dengan Dirga.
__ADS_1
"Jaga Dirga dan Nindy, ya. Jaga Niar dan cucu Mamah juga," ucap Septi dengan suara yang sangat bergetar.
Kenan sedikit terkejut dengan ucapan sang mamah mertua. Tangan Kenan mengusap lembut tangan sang mamah.
"Aku akan jaga mereka, Mah. Mamah jangan khawatir. Jaga kesehatan Mamah, jangan buat putra kesayangan Mamah khawatir."
Air mata Septi menetes begitu saja ketika mendengar tentang putranya. Hatinya terasa perih jika mengingat Dirga. Dia telah menolak keinginan Dirga untuk membantunya bebas dari bui. Ada sedikit rasa takut di hatinya, dia takut Dirga semakin membencinya.
"Setiap hari Pak Dirga selalu memikirkan Mamah. Dia takut Mamah di sini sakit atau kekurangan apapun."
Septi menunduk dalam mendengar ucapan dari Kenan. Ternyata putrinya sangat menyayanginya. Meskipun, dia sudah berbuat jahat kepada menantunya, Niar. Namun, dua anak itu sangat baik dan sudah memaafkan segala kesalahannya.
"Samapaikan salam Mamah untuk Dirga, ya." Kenan mengangguk. "Mamah juga sangat merindukannya," lirih Septi seraya menundukkan kepala.
Kenan sangat melihat betapa tulusnya kasih sayang seorang ibu sesungguhnya. Septi bukanlah ibu angkat dari Dirga, dia seperti ibu kandung yang menyayangi putranya dengan penuh cinta.
"Pasti, Mah. Aku akan sampaikan salam Mamah untuk Pak Dirga. Beliau juga pasti akan sangat bahagia," balas Kenan.
Septi mengusap air matanya dalam keadaan masih menunduk. Dia sangat bahagia memiliki menantu yang sangat baik seperti Kenan dan juga Niar.
Kenan meninggalakan lapas tersebut dengan memeluk tubuh Septi terlebih dahulu. Hatinya sangat sakit ketika mendengar ucapan Septi ya v meminta disalamkan kepada sang putra.
"Sayangi Nindy dan bahagiakan Nindy."
Kalimat yang membuat Kenan merasakan beban yang cukup berat. Dia sedang berusaha untuk membuat istrinya bahagia dan dia juga tengah berusaha untuk menjaga Nindy. Tanggung jawab Nindy kini sudah sepenuhnya jatuh ke tangannya karena dia suami sah Nindy.
Tibanya di kantor, Dirga sudah menunggu Kenan sedari tadi. Makan siangnya pun seakan tak ada rasanya. Dia tengah mengkhawatirkan wanita yang telah memberikannya kasih sayang yang luar biasa. Wanita yang mampu menyayanginya dengan tulus, meskipun dia tidak terlahir dari rahimnya.
Pintu terbuka membuat Dirga menyapa ke arah Kenan dengan penuh tanya. Kenan hanya tersenyum ke arah Dirga.
"Bagaimana keadaan Mamah?" tanya Dirga dengan raut cemas.
"Mamah baik-baik saja. Mamah juga nitip salam kepada Bapak, dan Mamah bilang ... bahwa beliau sangat merindukan Bapak."
Kalimay terakhir yang Kenan ucapkan membuat Dirga menunduk dalam. Dia tidak kuasa menahan air matanya walau hanya sekedar mendengar kalimat Septi merindukannya.
"Anda sangat beruntung, Pak. Mamah sangat menyayangi Anda. Setiap mendengar nama Anda, mata Mamah selalu berkaca-kaca. Saya sangat melihat ketulusan yang Mamah miliki untuk Anda," paparnya.
Sebenarnya, Dirga tidak membenci Septi sepenuhnya. Di lubuk hatinya paling dalam dia sangat tidak tega melihat kondisi mamahnya seperti ini. Walaupun Septi bukan ibu kandungnya, dia sendiri pun tidak tahu siapa yang telah melahirkannya. Namun, dari Septilah Dirga bisa merasakan kasih sayang seorang ibu. Septi yang telah mengajarkan banyak hal kepadanya. Ketika Nindy lahir pun Septi tidak pernah membedakan kasih sayangnya.
Ketika Dirga beranjak remaja, semua kebenaran tentang siapa dirinya perlahan diungkapkan oleh kedua orang tuanya. Awalnya Dirga marah kepada kedua orang tuanya. Dia merasa mamah dan Papahnya u gun membuangnya karena dia bukanlah anak kandung dari kelurga itu hingga Dirga memutuskan untuk kabur. Bohong jika semua orang tidak mencarinya. Deri sudah mengerahkan anak buahnya untuk mencari Dirga. Akan tetapi, anak itu tidak dapat ditemukan. Seakan dia tahu orang suruhan Deri tengah mencarinya.
Selama tiga hari Septi tidak mau makan karena dia benar-benar kepikiran akan Dirga.
"Nak, kamu sudah makan atau belum? Kamu makan dengan apa, Nak?" Kalimat itu yang menjadikan gumamnya Septi selama tiga hari ini. Air matanya sudah tumpah ruah.
Setiap kali Deri masuk ke dalam kamar, hanya Dirgalah yang Septi tanyakan.
"Belum ketemu, Mah."
Berawal dengan harapan yang besar, kini malah membuat Septi semakin gusar. Hari kelima barulah Dirga ditemukan. Itupun Dirga sudah dalam keadaan lemah dan nyaris mati. Septi yang mendengar kabar Dirga ditemukan segera menuju rumah sakit yang diberitahukan. Ada rasa bahagia bercampur cemas tak terkira, sedangkan Nindy dua titipkan bersama asisten rumah tangga.
Tibanya di rumah sakit, Septi menangis keras ketika tubuh Dirga terkait lemas dengan selang infus di tangannya. Septi mendekat ke arah Dirga dan mengecup wajah putranya yang terlihat tirus.
"Jangan tinggalkan Mamah, Nak. Mamah sangat sayang kamu. Mamah tidak akan membuang kamu. Kamu adalah permata berharga untuk Mamah," ucapnya dengan penuh haru.
Septi menggenggam tangan Dirga dengan erat. Menciumi tangan yang terlihat mengecil itu.
"Bangun, Nak. Kita pulang ke rumah," lanjutnya lagi.
Deri yang berada di belakang Sepeti hanya dapat tersenyum bahagia dengan menyeka ujung matanya yang berair. Dia tidak menyangka bahwa Septi akan sesayang itu kepada Dirga.
__ADS_1
Jika, mengingat cerita itu hati Dirga akan terasa sesak. Bagaimana tidak, dia masih ingat akan ucapan sang mamah tercinta.
"Meskipun kamu tidak lahir dari rahim Mamah. Kamu tetap putra pertama Mamah. Kamu adalah anak kebanggaan Mamah. Jangan pernah berpikiran bahwa Mamah akan membuang kamu. Itu tidak akan mungkin, Nak. Kamu adalah anugerah terindah dari Tuhan untuk Mamah dan juga Papah. Kami sayang kamu."