Tak Kan Kulepas Lagi

Tak Kan Kulepas Lagi
Bawaan Bayi


__ADS_3

Kedatangan Niar dan Dirga disambut hangat oleh Bunda Sari dan Tiara. Tak lupa, keponakan Niar yang sangat menggemaskan yang berusia 3 bulan.


"Jangan sentuh si embul dulu, pamali. Kalian kudu bersih-bersih dulu," ujar Bunda.


Niar dan Dirga pun menuruti perintah dari sang bunda. Mereka masuk ke kamar dan membersihkan badan secara bergantian. Niar sudah menyiapkan kaos dan juga celana santai untuk sang suami. Sedangkan Niar memakai dress selutut yang membuat perut buncit Niar semakin terlihat.


Dirga dan Niar turun dengan tangan Dirga yang menuntun Niar. Bukan tanpa alasan, kamar Niar berada di lantai atas. Jadi, harus ekstra hati-hati.


"Sungguh bahagianya Niar kita, ya, Bun." Pandangan Tiara tak terlepas dari Niar dan Dirga.


"Iya, Niar terlihat sangat bahagia bersama Dirga. Dan Ibu tidak menyangka, jika Niar dipertemukan kembali dengan cinta pertamanya."


"Namanya jodoh, Bun. Manusia hanya berencana. Tapi, Tuhan lah yang menentukan semuanya." Sang Bunda pun mengangguk pelan.


Dirga dan Niar pun bergabung bersama Tiara dan Bu Sari. Niar sangat senang memainkan si embul yang bernama Delisa. "Cantik banget sih kamu embul." Dengan gemasnya Niar memainkan pipi gembul Delisa.


"Anak kalian cewek apa cowok?" Dirga dan Niar saling tatap. Dengan kompak mereka menggelengkan kepala.


"Kok?" seru Bu Sari dan juga Tiara berbarengan.


"Emang sengaja, Bun. Mau cewek atau cowok sama aja," ujar Dirga.


"Kamu harus banyak gerak, Ni. Biar lahirannya bisa normal. Jangan males-males," imbuh Bu Sari.


"Gak apa-apa, Bun. Namanya juga ibu hamil. Pasti setiap ibu hamil beda-beda. Mau normal atau jalan operasi, yang penting anak dan ibunya sehat dan selamat." Bu Sari dan Tiara tersenyum mendengar jawaban Dirga. Sungguh laki-laki yang sangat luar biasa.


"Sweet banget sih kamu, Dirga," puji Tiara. Hanya seulas senyum yang menjadi jawaban dari Dirga.


"Ni, kamu dimanja banget ya kayaknya." Mode ingin tahu Tiara muncul.


"Menurut, Mbak?" tanya balik Niar dengan senyum bahagia.


"Badan kamu makin gede begitu ya pasti kamu dimanja sama suami kamu," ejek Tiara.

__ADS_1


Semua orang tertawa mendengar ucapan Tiara. Tapi, tidak dengan Niar yang memanyunkan bibirnya.


"Ay, emang aku gendut, ya?" Dengan cepat Dirga menggeleng.


"Mau kamu gendut atau langsung, gak ada bedanya di mata aku. Kamu tetap wanita tercantik yang aku miliki," ucap Dirga. Niar berhambur memeluk tubuh Dirga membuat Tiara dan Bu Sari berdecak kesal.


"Manja begitu istrimu, Ga," imbuh Bu Sari. Dirga mengangguk. "Gak apa-apa, Bun. Malah aku senang," jawabnya dengan senyuman tulus.


"Ya Allah, meleleh banget sih denger ucapan kamu, Dirga. Sangat menyejukkan hati dan sanubari."


"Lebay, ih," sungut Niar yang semakin mengeratkan pelukannya kepada pinggang sang suami.


"Rencana mau jalan-jalan ke mana?" tanya Bu Sari.


"Belum tau, Bun. Kalo udah masuk kamar Niar, jadi malas ngapa-ngapain," sahut Niar.


"Katanya mau baby moon," timpat Tiara.


"Baby moon di kamar aja bisa toh, Mbak." Dirga tertawa mendengar jawaban Niar sedangkan Bu Sari hanya menggelengkan kepalanya. Anak yang terbilang pendiam kini sudah mulai berani berbicara hal-hal dewasa.


"Kamu bahagia?"


"Sangat bahagia," jawab Niar.


"Kalo ada yang kamu inginkan, jangan ragu kamu katakan. Sebisa mungkin aku akan mengabulkan."


Niar membalikkan tubuhnya tanpa melepas pelukan Dirga. Dan kedua tangannya sudah merangkul leher Dirga. Tersenyum manis lalu, mendekatkan wajahnya ke telinga Dirga. "Aku ingin kamu, Ay."


Senyum lebar pun melengkung di bibir Dirga. Dengan cepat, Dirga menggendong tubuh Niar ala bridal. Dan membawanya ke atas tempat tidur. Sebelum pergelutan mereka mulai. Dirga terlebih dahulu mengunci pintu kamar. Ini bukan rumahnya. Berjaga-jaga, jika ada seseorang yang sengaja nyelonong masuk ke kamar. Ketika mereka sedang melakukan pertempuran hebat.


Pertempuran pun akan segera di mulai. Di awali dengan pemanasan, lalu masuk ke inti. Deru napas yang tersengal, suara kenikmatan yang bersahutan serta decitan peraduan kulit yang menjadi melodi indah di atas kasur.


Hingga mereka berteriak kecil secara bersama. Menandakan mereka sudah mencapai titik kenikmatan yang tiada tara. Sebenarnya, untuk apa mengadakan baby moon. Setiap hari saja sepasang suami istri ini bisa bergumul lebih dari satu kali. Apalagi hormon Niar yang semenjak hamil semakin menggila.

__ADS_1


"Puas?" Niar mengangguk dengan senyum manisnya.


Dirga mensejajarkan kepalanya ke perut Niar. Ada gerakan-gerakan kecil dari dalam sana. Membuat Dirga tersenyum bahagia.


"Senang ya, Papih tengokin," imbuh Dirga. Dan janin di dalam perut Niar merespon ucapan Papihnya dengan bergerak-gerak.


"Papih janji, akan sering-sering tengokin kamu di sana. Sehat terus ya, Nak. Jangan nakal di perut Mamih." Sebuah kecupan di atas perut Niar membuat si calon bayi tenang. Tidak bergerak-gerak aktif lagi.


"Ya ampun, ini anak ngerti banget yang diucapin sama Papihnya." Dirga tersenyum lalu mengecup kening Niar. Menaikkan selimut hingga ke leher Niar dan dirinya.


"Aku harap, anak kita akan dekat sama aku. Jadi, kamu tidak perlu capek. Cukup layani aku," tutur Dirga.


"Aku akan selalu memuaskanmu, Ay. Aku tidak ingin kamu jajan di luar. Apalagi, aku sering mendengar skandal yang sering dilakukan oleh pengusaha-pengusaha muda dan sukses."


"Aku bukan tipe seperti itu, Sayang. Kamu tetap bidadari di dalam hidup aku. Setelah kamu lahiran, tetap jadi istri yang seksi untuk aku di rumah. Dan jadi istri yang ellegant jika di luar rumah." Dirga mengecup singkat bibir merah cherry sang istri.


"Istirahat, ya. Kasihan anak kita tadi keguncang-guncang sama permainan kita." Niar memukul dada Dirga disambut kekehan oleh Dirga.


Mereka pun terlelap karena kelelahan. Hingga waktu makan malam tiba, pasangan suami-istri ini belum juga turun. Membuat Bu Sari sedikit khawatir.


"Udah sih, Bun. Palingan juga mereka lagi nengokin mereka."


"Nengokin?" Tiara mengangguk pelan.


"Kenapa Niar jadi agresif begitu, ya?"


"Bawaan bayi, Bun. Jangan khawatir, selama masih bisa bermain aman dan tidak mencelakakan si jabang bayi, dokter juga tidak akan melarang." Bu Sari bisa bernapas lega mendengar penuturan Tiara.


Dan di dalam kamar Niar, apa yang dikatakan Tiara benar terjadi. Mereka berdua sedang kembali bertarung. Keringat yang sudah bercucuran tak menyurutkan semangat mereka. Napas yang sudah tersengal, rancauan yang sedari tadi keluar dari mulut mereka berdua tak mampu mengakhiri permainan panas yang sedang mereka lakukan.


Hingga lenguhan panjang dari keduanya menandakan permainan mereka sudah berakhir. Dan tubuh mereka pun lemah tak berdaya. Ya, ini permintaan ibu hamil. Tapi, Dirga tidak akan pernah menolak. Karena dia juga menginginkan permainan ini terjadi. Apalagi, Niar yang terlihat sangat buas dan membuat Dirga semakin bergairah dan tidak tahan jika harus berdiam diri.


****

__ADS_1


Happy reading ...


__ADS_2