
"Ay, ngapain masih pagi ke sini?" tanya Niar yang menyelimuti tubuhnya dengan selimut.
"Kenapa? Gak boleh?"
"Gak gitu, aku ...."
Dirga menarik selimut Niar dan matanya membulat sempurna ketika melihat ada yang menyembul dibalik baju tidur seksi yang Niar gunakan. Dirga hanya bisa menelan ludahnya.
Niar langsung menarik kembali selimutnya, menyelimuti tubuhnya. Dan menatap Dirga kesal.
"Kenapa kamu ...."
"Aku kalo di rumah ya begini kalo tidur, udah dong Ay ... matamu kondisikan," ujar Niar.
Dirga mendekatkan wajahnya ke arah Niar, menyentuh pipi Niar dan bibirnya menyapu bersih bibir Niar. Ciuman yang penuh gairah karena Niar sudah membangkitkan gairah kelelakiannya. Dirga juga adalah pria normal.
"Ay." Suara Niar sudah parau namun, dia menggelengkan kepalanya.
Dirga pun tersenyum, lalu mengecup bibir Niar lagi. Dia menempelkan dahinya dengan dahi Niar. "Aku tahu batasan, Sayang. Aku tidak akan menodaimu sebelum kita sah jadi sepasang suami-istri."
Niar langsung memeluk tubuh Dirga. "Aku sayang kamu, Ay. Sangat sayang," katanya.
"Aku berangkat, ya. Aku ke sini mau pamit sama kamu. Dan ingin melihat wajah kamu."
"Jangan lama-lama, nanti aku kangen," balas Niar.
"Nggak Sayang, ketika urusanku sudah selesai aku akan kembali lagi ke sini. Dan selalu bersama kamu."
Dirga mengecup kening Niar sangat lama, lalu turun ke bibirnya. "Aku berangkat, ya. Jangan kemana-mana."
Niar memeluk tubuh Dirga lagi dan lagi. "Cepat kembali," ucapnya.
"Iya."
Dirga pun pergi meninggalkan Niar dan pamit kepada Bu Sari. Dia mengambil penerbangan pagi karena ada meeting penting dengan klien besar di jam makan siang.
"Sudah siap Bos?" Dirga menganggukkan kepalanya.
Setelah kepergian Dirga, Niar bergegas membersihkan tubuhnya. Setengah jam berlalu, Niar keluar dari kamar mandi. Dia mengirimkan pesan kepada Dirga.
"Hati-hati, Ay. Kalo sudah sampai Jakarta jangan lupa kabarin aku."
Niar meletakkan kembali ponselnya, dan dia turun ke bawah menemui sang bunda. Berniat untuk belajar masak dengan bundanya.
"Bun, boleh aku bantu?" Niar sudah berada di belakang Bu Sari.
__ADS_1
"Tumben banget si bontot Bunda." Niar hanya tersenyum.
"Kan aku ingin masakin suami aku nanti, Bun," ucap Niar berbunga.
"Ya sudah, kamu bantu potong sayuran aja, ya."
Niar pun menuruti perintah ibunya, sebenarnya di rumah Niar ada seorang pembantu. Hanya saja ketika bundanya sedang tidak sibuk Bu Sari lah yang akan memasak.
"Mbak Ara udah pulang, Bun?
"Belum, dia lagi nonton tv sambil ngemil buah," jawab Bu Sari.
"Dasar istri pemalas," dengus Niar.
"Hus, jangan begitu. Mbak mu tidak kuat mencium aroma bumbu masakan di dapur, makanya Bunda suruh dia nunggu di ruang keluarga."
Niar hanya ber-oh ria. "Aw," ringis Niar.
"Kenapa kamu?" tanya Bu Sari.
Niar buru-buru lari ke wastafel di dapur. Membasuh jari telunjuknya yang teriris pisau. Darahnya terus mengucur. Bu Sari bergegas mengambil kotak P3K di ruangan keluarga.
Breaking News.
Pesawat **** Air Boeing xxx-xx tujuan Malang-Jakarta telah hilang kontak.
"Dirga," gumam mereka berbarengan.
Mendengar suara barang pecah di ruang keluarga, Niar pun menghampiri bunda dan kakaknya.
"Bunda dan Mbak kenapa?" tanya Niar.
Tidak ada jawaban dari Bu Sari dan juga Ara. Mereka hanya menatap ke arah layar televisi. Niar pun ikut melihat ke arah televisi yang sedang menyiarkan kabar terbaru tentang pesawat yang hilang kontak.
"Dirga," lirihnya.
Niar bergegas lari ke kamarnya dan melihat ponselnya. Pesan yang dia kirim hanya centang satu. Niar pun mencoba menghubungi Dirga melalui panggilan WhatsApp dan telepon tapi, tetap tak ada jawaban.
"Ay, kamu baik-baik aja, kan."
"Ay, jawab aku."
"Ay, jangan buat takut."
Niar menghampiri ibu dan kakaknya dengan wajah yang penuh kekhawatiran. Dia mencoba menghubungi Nindy.
__ADS_1
"Kak Niar, Kak Dirga ..."
Niar melihat ke televisi yang sudah menayangkan letak pesawat yang hilang kontak tadi. Dan ternyata pesawatnya menabrak tebing dan hancur. Diperkirakan tidak ada yang selamat jika, melihat bentuk pesawat.
Tubuh Niar pun luruh seketika, pesawat itu adalah pesawat yang ditumpangi Dirga dan juga Kenan, asistennya.
"Nggak, itu bukan Dirga," ucapnya dengan air mata yang bercucuran. "Itu bukan Dirga," teriaknya.
Bu Sari dan Ara pun langsung memeluk tubuh Niar. Mereka ikut menangis melihat kondisi Niar yang sangat hancur.
"Bunda, katakan kalo ini cuma mimpi. Ini hanya mimpi kan, Bunda." Niar pun terus menangis dan Bu Sari pun tak bisa menjawab apapun.
Di Jakarta.
Keluarga Dirga yang langsung terbang ke Jakarta setelah lamaran selesai pun dirundung duka. Pasalnya, pesawat itu adalah pesawat yang ditumpangi oleh Dirga. Dan di daftar nama penumpang pun ada nama Dirga Anggara dan juga Kenan Raindra.
"Gak mungkin, itu bukan pesawat yang Dirga naikin," teriak Septi.
Nindy terus memeluk tubuh Septi yang sudah tak berdaya di sofa. Nindy pun menangis dan menolak untuk percaya. Mereka berdua benar-benar syok mendengar berita ini. Putra satu-satunya yang baru saja kembali harus pergi lagi, pergi untuk selama-lamanya.
"Lebih jelasnya, kita ke Bandara sekarang," ajak Deri. Hati Deri pun sangat ketakutan, dia takut Dirga termasuk korban pesawat itu.
Bu Sari, Ara, Pak Khorun dan juga Niar sudah ada di Bandara Abdurachman Saleh, mereka langsung menuju ruang informasi yang sudah dipenuhi para keluarga korban. Pihak informasi mengiyakan jika Dirga Anggara adalah salah satu penumpang di pesawat naas tersebut.
Tubuh Niar luruh kembali, air matanya tak henti menetes. "Kamu jangan pergi, Ay. Jangan tinggalin aku," lirih Niar dengan linangan air mata
"Nak, yang sabar," ucap Bu Sari yang tak hentinya menyeka ujung matanya.
"Lebih baik aku ikut mati, Bun. Dari pada harus tersiksa seperti ini," ujarnya dengan nada yang sungguh putus asa.
Ara pun memeluk tubuh Niar, dan ikut menangis sedih untuk adiknya ini. "Kenapa kisah cintaku selalu berakhir seperti ini, Mbak? Kenapa?"
"Apa belum cukup lima tahun lalu aku dan Dirga berpisah? Kenapa sekarang aku harus ditakdirkan seperti ini lagi?" Suara yang sangat membuat orang-orang terdekat Niar menangis pilu.
"Apa aku gak pantes bahagia Mbak?" tanyanya lagi kepada Ara yang mendekap erat tubuh Niar.
"Dek, kamu harus kuat, kamu harus ikhlas. Inilah yang sudah Allah tentukan," ujar Ara.
"Aku gak kuat Mbak."
Keluarga Niar masih menunggu di Bandara, menunggu perkembangan dari pencarian pesawat jatuh tersebut. Selang dua jam tim penyelamat berhasil masuk ke dalam titik lokasi pencarian. Di televisi besar menayangkan kondisi terkini di titik jatuhnya pesawat. Pesawat hancur dan sudah ada satu korban yang ditemukan. Itu hanya berupa potongan tangan. Dan tim evakuasi pun menemukan satu buah jam tangan.
Mata Niar melebar ketika melihat jam tangan itu. Jam tangan yang pagi ini calon suaminya gunakan. "Dir ... ga." Niar pun tak sadarkan diri.
****
__ADS_1
Happy reading...
Satu bab aja tapi isinya serebu kata.