Tak Kan Kulepas Lagi

Tak Kan Kulepas Lagi
Jangan Dibaca Masih Sama (Revisi)


__ADS_3

Pertemuan Dirga dan Nindy tidak membuahkan hasil. Dirga tidak ingin memaksa Nindy karena ibunya pun tidak ingin Nindy menemuinya karena sebuah keterpaksaan. Akhirnya, Dirga memilih untuk menyerah. Dia tidak tega melihat Nindy bermandikan air mata.


Keputusan Nindy sudah bulat, dia belum mau bertemu dengan ibunya. Bukan tanpa alasan, dia belum siap. Biarkan dia memendam rasa rindu terhadap ibunya seorang diri. Dia tidak mau melihat kedua pria yang sangat dia sayangi bersedih dan berpura-pura bahagia hanya untuk melihaynya bahagia. Dia bukanlah orang yang bahagia di atas penderitaan orang lain. Padahal Dirga sudah menjelaskan semuanya. Nindy tetap bersikukuh dengan keputusannya. Nindy hanya takut jika kedua pria kesayangannya itu merasa tersakiti lagi. Mulut bisa bicara iya, tetapi di dalam hatinya siapa yang tahu.


"Ndy gak mau Kakak dan Papah pura-pura bahagia hanya untuk melihat Ndy bahagia. Ndy gak perlu itu, yang Ndy perlukan hanya kalian berdua. Malaikat pelindung Ndy. Walaupun hanya bersama kalian, Ndy tetap bahagia," lirihnya.


Dirga tidak bisa berkata apa-apa. Nindy bukan anak kecil lagi dan dia berhak menentukan pilihan. Semua keputusan Nindy harus dia hormati. Mau itu sejalan dengannya atau bertolak belakang pun harus tetap dia hormati. Terkadang apa yang kita inginkan tidak sesuai dengan keinginan kita.


Sebelum keluar dari ruang kerja, Dirga menghapus air mata yang membasahi wajah adiknya ini. Dia mengecup lembut kening Nindy.


"Jangan menangis lagi," ucap Dirga. "Kakak ikut sedih kalau kamu seperti ini."


Nindy memeluk tubuh kakaknya lagi. Dia terisak kembali dan air matanya membasahi kemeja sang kakak.


"Cukup Kakak dan Papah ada di samping Ndy, Ndy sudah bahagia," tuturnya.


Dirga semakin memeluk erat tubuh adiknya ini. Dia pun tak kuasa menahan haru. Untuk saat ini biarkan seperti ini dulu. Membiaekan Nindy menenangkan hatinya itu lebih baki. Nanti Dirga akan mencoba berbicara lagi dengan Nindy setelah suasana hatinya berubah.


Mereka berdua keluar dari ruang kerja dan menemui Kenan juga Niar. Nindy segera memeluk tubuh Kenan,m dengan mata yang sembab, sedangkan Dirga mengecup ujung kepala Niar. Niar melihat mata sang suami merah seperti habis menangis. Dia menggenggam erat tangan Dirga dan memberikan senyum termanisnya. Sedikit rasa sedih Dirga meluap begitu saja.


Kenan yang melihat raut wajah Nindy yang sudah berubah sangat drastis hanya bisa membalas pelukan istrinya dengan erat. Dia pun mengajak Nindy untuk pulang supaya Nindy bisa menenangkan diri. Sebelumnya, dia berpamitan terlebih dahulu kepada Dirga juga Niar.


"Jaga Nindy," bisik Dirga. Kenan mengangguk mengerti. Sudah terjadi sesuatu di antara istri dan juga kakak iparnya.


Disepanjang perjalanan Nindy hanya terdiam. Ingin rasanya dia menanyakan sesuatu kepada istrinya. Namun, dia tahu batasan. Dia tidak ingin ikut campur dalam masalah istrinya. Dia takut salah karena Nindy belum bisa berkata jujur kepadanya.


"Mau beli sesuatu?" tawar Kenan. Nindy menggeleng tanpa melihat ke arah Kenan. Mobil pun terus melaju ke arah rumah Deri.


Di kediaman Dirga, Niar sudah mengusap lembut pundak suaminya untuk menenangkan hati pria yang telah menjadi ayah dari anaknya. Dia sangat melihat ada sesuatu yang tengah terjadi. Usapan lembut itu juga memberikan kode supaya suaminya itu harus berkata jujur kepadanya.


"Nindy menolak," ucap pelan Dirga.


Sudah Niar duga, dari mimik muka Nindy pun sudah terlihat jelas bahwa adik iparnya itu tidak menyejuinya, seperti ada yang masih mengganjal di hati Nindy.


"Sabar ya. Jangan memaksa Nindy, dia baru saja sembuh," imbuh Niar "Jangan membuat dia kepikiran akan permintaan Papih. Takutnya kondisinya drop lagi," lanjut Niar.


Dirga hanya bisa mengangguk mematuhi ucapan sang istri. "Pelan-pelan jika berbicara kepada Nindy. Ada luka yang tak terlihat yang dia rasakan. Mamih sangat merasakan itu."


Bukan hanya Niar yang merasakan perihal itu. Dirga juga merasa bahwa Nindy adiknya itu sudah berubah semenjak ibunya masuk penjara. Banyak yang dia tutupi. Banyak yang tidak dapat dia buka kepada orang lain, termasuk kepada dirinya.


"Maafkan Kakak, Ndy." Dirga merasa bersalah karena sudah membuat Nindy dan ibu kandungnya terpisah.


Tibanya di rumah, Kenan menyuruh istrinya untuk tidur terlebih dahulu. "Kamu istirahat, ya. Mas, ke ruangan kerja dulu. Banyak pekerjaan untuk besok," ucapnya. Sebelum pergi Kenan mengecup kening Nindy terlebih dahulu.


Nindy pun mengiyakan ucapan Kenan. Sesungguhnya dia ingin menangis sedari tadi, tetapi dia tidak ingin ada siapapun yang tahu. Hanya dirinyalah yang tahu akan kesedihan juga kesakitannya. Hanya dirinyalah yang boleh tahu kerapuhannya.


Selepas kepergian Kenan ke ruang kerjanya. Air mata yang sedari tadi dia tahan, akhirnya tumpah jua. Nindy menangis seperti mendapat sayatan luka yang sangat banyak dan dalam. Dia menumpahkan segala rasa yang ada di dadanya seorang diri. Dia tidak mau ada orang yang tahu termasuk suaminya.

__ADS_1


"Miss you so much, Mah," lirihnya.


Nindy semakin terisak dan dia mulai membenamkan wajahnya ke atas lututnya. Dia terisak dengan sangat lirih. Ada rindu yang menggebu yang tak dia sampaikan. Ada kesakitan yang dia tahan sudah berbulan-bulan.


"Ndy, belum siap untuk bertemu Mamah. Ndy, belum siap untuk bercerita kepada Kakak perihal perasaan Ndy yang sesungguhnya. Maafkan Ndy, Mah, " gumamnya.


Di ruang kerja, Kenan segera menghubungi Dirga. Dia membicarakan perihal istrinya dan rencana apa yang akan mereka lakukan setelah kegagalan ini. Dia tidak tega melihat Nindy seperti ini terus-terusan.


"Kamu ajak Nindy liburan dulu. Jangan bahas apapun perihal mamah." Kenan mengiyakan ucapan Dirga. Dia sangat tahu apa yang dilakukan oleh Dirga adalah yang terbaik untuk istrinya. Perkataan Dirga pun terdengar sangat menyesal.


Keesokan paginya, Dirga yang baru saja datang langsung menghampiri Kenan yang sudah berada di belakang layar laptop. Wajah Dirga terlihat frustasi dan sendu.


"Maafkan gua, Nan," sesal Dirga.


Dahi Kenan mengkerut, dia belum bisa mencerna perkataan Dirga yang tiba-tiba meminta maaf. Tak lama otaknya mampu menangkap apa yang dimaksud oleh bosnya itu. Akhirnya, Kenan mengerti apa yang Dirga bicarakan.


"Tidak perlu minta maaf, Pak. Kita hanya perlu memberikan ruang kepada Nindy. Jangan paksa dia. Mungkin ada alasan di balik ini semua yang tidak Nindy katakan kepada kita," balas Kenan.


"Sampai pagi ini pun Nindy tidak berbicara apapun kepada saya. Tidak juga membicarakan perihal pembicaraan Bapak dengannya," tutur Kenan.


Dirga tidak habis pikir dengan adiknya ini. Sungguh sangat kuat sekali hatinya menahan semuanya seorang diri. Kepada suaminya pun dia tidak terbuka.


"Semalam, Nindy menangis cukup lama. Namun, saya membiarkannya saja. Hanya dengan cara itu Nindy bisa tenang," lanjut Kenan.


Dirga menyandarkan tubuhnya di kursi kebesarannya. Terdengar hembusan napas kasar. Dia tengah memikirkan cara apalagi untuk membujuk adiknya itu karena dia tidak ingin melihat adiknya tersiksa seperti ini.


"Ketika Nindy sudah tidak bisa membendung rindunya, pasti dia akan datang kepada Bapak dan meminta untuk menemui Mamah," lanjut Kenan.


Deri sudah mendengar bahwa Nindy menolak bertemu dengan mamahnya. Deri hanya tersenyum tipis. Dia sudah tahu itu akan terjadi. Nindy adalah anak yang memiliki kekerasan hati yang luar biasa. Namun, Deri tidak bisa memaksa. Dia juga tidak ingin berbicara dengan Nindy perihal ibunya. Biarlah anaknya yang menyadari sendiri rasa rindu kepada sosok sang mamah. Deri hanya cukup mengijinkan.


Kali ini, Dirga sengaja datang ke kantor sang ayah. Meminta ayahnya untuk berbicara langsung kepada Nindy. Deri hanya tersenyum, kemudian dia bangkit dari duduknya dan duduk di samping Dirga.


"Pah, bantu aku," pinta Dirga.


"Papah gak bisa berbuat apa-apa. Semua keputusan ada di tangan Nindy. Dia bukan anak kecil lagi yang harus dipaksa. Dia memiliki kebebasan untuk menentukan pilihan. Hargai keputusannya," terang Deri.


Dirga terdiam mendengar awaban dari Deri yang sangat lugas itu. Tidak ada yang salah dari jawaban papahnya. Saat ini papahnya lah yang menjadi harapan terakhir untuk membujuk Nindy. Siapa tahu Nindy mau mendengar ucapan sang ayah.


"Pah, aku yakin Nindy itu sangat merindukan Mamah. Mamah juga pasti sangat merindukan Nindy. Aku hanya ingin melihat adik dan ibu aku bahagia," papar Dirga. Dia masih terus memaksa ayahnya agar membujuk Nindy. Dia berharap cara ini akan berhasil.


"Apa dipaksa itu akan membuat orang bahagia?" tanya Deri.


Sekarang mulut Dirga terbungkam. Dia tidak bisa menyanggah ucapan sang ayah. Wajah Deri terlihat santai, tetapi kalimatnya sungguh dalam.


"Dengar ya, Ga. Kita gak perlu memaksakan orang lain bahagia jika pada dasarnya dia sudah bahagia dengan caranya. Biarkan saja," jelas Deri.


"Sama halnya Dnegan adik kamu. Ketika dia menyadari letak kekosongan hatinya di mana, pasti dia akan ke tempat di mana hatinya bisa kembali penuh dengan cinta dan juga kasih. Anak itu tidak ada bekasnya, sama halnya dengan ibu. Mereka saling berkesinambungan. Mereka memiliki ikatan batin yang kuat. Mereka terpisahkan, hanya karena ego yang belum mampu menyatukan," jelas Deri dengan senyum yang terus mengembang.

__ADS_1


Melihat wajah ayahnya yang terlihat bahagia, Dirga pun mebgalan. Padahal dia berharap ayahnya akan membantunya. Akan tetapi, semuanya berbeda. Ayahnya malah membiarkan Nindy larut dengan hatinya. Tidak ada bujukan ataupun rayuan kepada Nindy.


Ada sedikit rasa kecewa di hatinya. Namun, dia juga tidak bisa memaksa ayahnya. Dia sangat bersyukur karena ayahnya sudah mengijinkannya menemui sang ibu. Deri pun tidak marah ketika Dirga mengatakan hal yang sebenarnya perihal dirinya dan juga Septi.


Ucapan sang ayah semuanya benar. Dia harus bisa menghargai keputusan adiknya. Dia harus bisa mengerti akan kondisi Nindy sekarang. Dia juga yakin, bahwa Nindy sangat menyayangi ibunya. Sama halnya dengan sang ibu yang pastinya tidak pernah putus untuk mendoakan anaknya. Meskipun, anaknya membencinya. Dirga harap, Nindy ingat akan kalimat surga berada di bawah telapak kaki ibu agar Nindy mau bertemu dengan ibunya serta menghilangkan rasa bencinya.


Setelah tidak mendapatkan apa-apa, Dirga memilih untuk pergi meninggalkan kantor sang papah. Dia harus lebih sabar sedikit untuk membuat Nindy mau menemui ibunya. Ada sesuatu hal yang tidak dapat Nindy ungkapan. Mungkin juga terlalu menyakitkan untuknya.


Merasa bosan di rumah, siang ini Nindy memutuskan untuk ke rumah sang kakak karena ingin bermain dengan Arshen, sang keponakan yang lucu dan menggemaakan. Niar pun di rumah sudah bersiap dan nghendong Arshen yang sudah tampan untuk menemui adik iparnya di rumah sang papah mertua. Niar sedikit khawatir dengan keadaan Nindy. Takut terjadi hal-hal yang buruk kepada adiknya itu.


Pintu rumah Niar terbuka, ketika Njar menuruni anak tangga dia tersentak dengan kehadiran Nindy.


"Mau ke mana?" tanya Nindy, kakak iparnya sudah memakai dress bagusan dan Arshen pun sudah sangat tampan.


"Ke rumah kamu," jawab Niar.


"Hah?" Nindy pun tertawa, dia segera mengambil alih keponakannya dan mengajaknya ke ruang keluarga. Niar mengikutinya dari belakang.


"Jangan khawatirkan Ndy. Ndy, baik-baik aja," imbuhnya.


Niar menatap Nindy dengan penuh tanda tanya. Kenapa adiknya ini masih bisa menyembunyikan semuanya. Padahal semua orang sudah tahu bagiamana dirinya.


"Ndy, kenapa kamu gak jujur dengan perasaan kamu?" sergah Niar.


Nindy yang sedang mengajak Arshen bermain kini menatap ke arah sang kakak ipar.


"Tidak semua yang Ndy rasakan dapat Ndy ungkapan Kak. Ada masa di mana Ndy butuh waktu untuk sendiri. Ada saatnya Ndy hanya ingin menangis tanpa bercerita," terangnya.


Niar yang mendengarnya merasa tersentuh hatinya. Ada sesuatu yang Nindy rahasiakan dan sulit diungkapkan kepada siapapun.


"Ndy, sudah bahagia kok seperti ini," tambahnya lagi.


Bibir Nindy mampu tersenyum, tetapi Niar merasakan kesakitan yang menimpa Nindy. Niar segera memeluk tubuh Nindy dengan begitu eratnya.


"Jangan pikul beban kamu sendirian. Berbagilah pada orang-orang yang menyayangi kamu supaya beban kamu sedikit menghilang." Kalimat yang membuat Nindy terhenyak.


Nindy menatap pilu ke arah sang kakak ipar. Dia merasa sangat disayangi oleh kakak iparnya ini. Sosok wanita yang menjadi ibu pengganti untuknya.


"Makasih," ucap Nindy dengan suara yang bergetar.


Niar tersenyum dan mengusap lembut pundak sang adik ipar. "Kalau kamu sungkan berbicara dengan kakak kamu. Bicaralah kepada Kak Niar."


Nindy pun tersenyum seraya mengangguk. Nindy memeluk tubuh kakak iparnya dengan sangat erat. Kakak ipar rasa kakak kandung. Itulah yang Nindy rasakan.


"Gak baik jika semuanya kami pendam sendirian. Ada kalanya kami juga harus berbagi kesedihan kamu. Bukan hanya kebahagiaan yang bisa dibagi. Kesedihan pun harus dibagi agar sedikit demi sedikit kesedihan itu pergi menjauh." Nindy hanya bisa mengangguk.


Sungguh beruntungnya dia memiliki kakak ipar seperti Niar. Meskipun ipar, tetapi Niar tak menunjukkan itu. Dia malah lebih dekat dengan kakak iparnya dibanding dengan kakaknya sendiri.

__ADS_1


"Kakak tidak ingin melihat kamu sedih. Sama halnya dengan suami kamu yang pastinya tidak ingin melihat kamu terpuruk perihal masalah ini.


"Belajar ikhlas pelan-pelan. Insha Allah kamu akan bisa melepaskan semuanya.,x


__ADS_2