
Dari semenjak pernikahannya bersama Kenan. Nindy sudah merindukan sosok ibunya. Dia merasa pernikahannya sedikit kurang sempurna karena ketidak hadiran sang mamah tercinta.
Namun, Nindy mampu menutupi kesedihannya dengan sangat sempurna. Dia selalu melengkungkan senyuman di hadapan semua orang. Padahal hatinya menangis keras.
Melihat Bu Sari membuat dirinya merasakan kasih sayang ibu sesungguhnya. Pijatan lembut dari tangan Bu Sari membuatnya merasa sangat nyaman dan terlelap dengan damainya.
Ketika Dirga pulang kerja, Niar mengajak suaminya untuk berbincang berdua. Dirga tidak mencela ucapan sang istri, dia mendengarkan dengan seksama.
"Papih juga merasakan hal yang sama. Makanya Papih mau membawa Nindy bertemu Mamah, tapi bersama Mamih juga."
Lengkungan senyum terukir indah di wajah Niar. Suaminya adalah suami idaman.
"Tunggu empat puluh hari ya. Bunda bilang sebelum empat puluh hari belum boleh ke mana-mana," jawab Niar.
Dirga mengangguk patuh. Dia mengecup kening istrinya sangat dalam.
"Makasih sudah menyayangi Nindy dengan tulus." Niar melingkarkan tangannya di pinggang sang suami.
"Keluarga Papih adalah keluarga Mamih juga. Sudah menjadi kewajiban Mamih untuk menyayanginya."
Dirga sangat beruntung memiliki istri seorang Niara Andhiny. Dirga memeluk erat tubuh Niar.
Di lain tempat, Nindy terus memandangi fotonya bersama sang mamah yang dia simpan di dalam ponselnya. Ingin rasanya dia bertemu dengan Septi. Akan tetapi, dia tidak mau menyakiti hati papahnya. Rasa rindu itu setiap hari hadir di hati Nindy. Sejahat apapun ibunya, Septi tetaplah ibu yang sudah melahirkannya.
"Mah, Ndy kangen. Apa Mamah juga merasakan hal yang sama?" gumamnya.
Tak terasa air mata Nindy menetes begitu saja. Dia tidak benar-benar membenci ibunya. Dia hanya kecewa kepada ibunya karena sudah memiliki niatan jahat kepada kakak iparnya. Padahal kakak iparnya sangat baik.
Nindy melihat ke arah jam dinding, sebentar lagi suaminya akan pulang. Dia segera ke kamar mandi untuk membersihkan wajahnya agar tidak terlihat sembab. Benar saja, ketika Nindy keluar dari kamar mandi Kenan masuk ke kamar. Senyuman tulus Nindy berikan untuk Kenan. Mata Kenan sangat jeli, dia dapat melihat mata sembab istrinya.
"Kamu nangis, Sayang?" tanya Kenan.
"Enggak, aku tadi ketiduran makanya mata aku merah dan sedikit sembab."
Kenan tahu istrinya ini tengah berdusta. Dia hanya mengangguk dan mencium kening Nindy sangat lama.
"Mau makan di luar gak? Mas lagi pengen makanan yang dibakar-bakar," tawar Kenan.
"Mau," sahut Nindy sangat antusias.
Kenan mengusap lembut kepala istrinya. Dia memilih untuk membersihkan tubuhnya terlebih dahulu. Ketika dia keluar kamar mandi sang istri sudah memakai jaket karena dia hanya memakai baju tidur tanpa lengan. Bawahannya celana panjang.
Kenan membawanya ke aneka bebek dan ayam bakar. Ada juga seafood dan teman-temannya.
__ADS_1
"Kita pesan semua aja, ya." Nindy mengangguk.
Selama menunggu pesanan mereka, Kenan terus menatap Nindy dengan tatapan intens.
"Kenapa lihatin akunya begitu banget, Mas?" tanya Nindy.
Kenan tidak menjawab, dia menggenggam tangan Nindy dengan sangat erat.
"Jangan ada yang kamu sembunyikan ya, Sayang. Kalau ada apa-apa bilang sama Mas."
Hati Nindy mencelos mendengar ucapan Kenan yang terdengar sangat tulus. Matanya nanar menatap sang suami. Kenan menangkup wajah Nindy yang terlihat sendu. Dia mengusap lembut pipi Nindy.
"Kamu punya, Mas. Mas akan slalu ada untuk kamu, Sayang."
Tes.
Air mata Nindy pun menetes begitu saja mendengar ucapan Kenan. Kenan segera menghapus air mata sang istri dengan lembut. Dia menarik tangan Nindy untuk masuk ke dalam pelukannya.
"Makasih, Mas."
Ucapan yang terdengar sangat lirih di telinga Kenan. Dia mengecup ujung kepala Nindy dengan penuh cinta.
Makanan yang Kenan pesan pun tiba, Kenan menyuapi istrinya. Mata Nindy melebar ketika merasakan kelezatan makanan yang suaminya pesan.
"Enak banget, Mas." Kenan pun tersenyum.
"Mau nambah apa lagi?" tanya Kenan.
"Cumi bakar dan gurita bakar, Mas. Enak banget soalnya."
Kenan tertawa dan memesan kembali apa yang istrinya inginkan.
"Ini perut apa karet?" candanya sambil mengusap lembut perut Nindy.
"Perut yangl ada Dedek bayinya," jawab Nindy dengan tawanya.
"Benarkah?" Kenan meletakkan telinga di perut Nindy.
"Hai, Dedek!" Nindy tertawa mendengar Kenan berbicara seperti itu.
"Semoga saja esok atau lusa ada sepupu Arshen di sini."
Kenan tersenyum dan ikut mengusap lembut perut Nindy. "Amin."
__ADS_1
Cinta yang berbalas sangatlah bahagia. Namun, Nindy belum bisa terbuka kepada Kenan. Ada hal yang masih Nindy sembunyikan rapat.
Ketika mereka puas makan malam, Kenan tidak membawa Nindy pulang. Dia malah membawa Nindy ke sebuah taman terbuka. Nindy menatap bingung ke arah sang suami.
"Kapan lagi menikmati waktu berdua seperti ini?" ucap Kenan dengan senyum yang menawan.
Kenan membukanya pintu mobil sang istri. Dia menggenggam tangan Nindy dengan sangat erat. Angin sudah mulai berhembus. Kenan merangkul pundak sang istri agar tidak merasakan kedinginan.
Mereka duduk di kursi taman yang sudah disediakan di sana. Mereka saling memandang dan tersenyum senang. Nindy mulai meletakan kepalanya di pundak Kenan.
"Apa kamu bahagia menikah dengan Mas?" tanya Kenan.
Sebuah anggukan yang menjadi jawaban Nindy. Kenan pun tersenyum dan mengecup ujung kepala Nindy.
"Sayang, apa Mas boleh bertanya sesuatu?" tanya Kenan.
Nindy yang hendak menjalankan matanya kini menegakkan kepalanya. Dia menatap bingung ke arah sang suami yang sudah menatapnya dalam.
"Apa kamu merindukan Mamah?"
Deg.
Jantung Nindy seakan berhenti berdetak. Dia menatap tajam ke arah Kenan yang sudah meminta jawaban. Nindy memalingkan wajahnya, dia tidak ingin suaminya melihat kesedihannya.
"Sayang," panggil Kenan. Tangannya mulai menyentuh pundak Nindy. Perlahan dia mengarahkan pundak sang istri ke arahnya.
Bulir bening sudah membasahi wajah Nindy. Mendengar nama ibu membuat hatinya sangat teriris karena rindu yang tidak pernah bertemu.
Kenan menghapus jejak air mata Nindy. Dia menangkup wajah Nindy.
"Kalau kamu rindu, kita bisa menemui Mamah," ujar Kenan.
Nindy menggeleng dan mencoba untuk tersenyum. Kini, Kenan memeluk tubuh rapuh istrinya.
"Sayang, jangan bohongi hati dan diri kamu. Asal kamu tahu, sebelum Mas meminang kamu Mas meminta restu terlebih dahulu kepada mamah."
Mendengar ucapan Kenan, Nindy mengurai pelukannya. Meminta penjelasan lebih lagi kepada Kenan.
"Mas menikahi kamu karena restu dari Papah dan Mamah. Mas tidak akan berani menikahi kamu tanpa restu mereka. Malah, Mamah menangis ketika Mas meminta restu. Dia ingin sekali melihat pernikahan kita secara langsung."
Hati Nindy semakin sesak dan air matanya tak henti berjatuhan.
"Setelah acara ijab kabul. Mas, mengirimkan video kepada salah seorang penjaga lapas agar diberikan kepada Mamah. Setelah itu Mamah video call dan menangis haru. Mamah sangat bahagia dan terus mendoakan yang baik-baik untuk rumah tangga kita."
__ADS_1
Isak tangis semakin kencang, tubuh Nindy bergetar. Kenan memeluk tubuh istrinya kembali. Membiarkan Nindy menumpahkan semuanya.
Mah, aku janji akan membawa Nindy bertemu Mamah. Aku yakin, Nindy tidak membenci Mamah.