Tak Kan Kulepas Lagi

Tak Kan Kulepas Lagi
Garis Satu


__ADS_3

Testpack itu sudah mulai menunjukkan hasilnya. Dan semuanya menunjukkan garis satu. Ada raut kecewa di wajah Niar begitu juga Dirga.


Dirga merangkul pundak sang istri dan menguatkan hati sang istri yang sudah pasti dilanda kecewa.


"Tidak apa-apa, Sayang." Niar memeluk tubuh Dirga tak terasa air matanya menetes.


"Maafkan aku," lirihnya.


Dirga mengusap lembut punggung Niar dan mengecup puncuk kepala Niar. Dia memejamkan matanya sejenak untuk menghilangkan rasa kecewa di hatinya.


Hari ini Niar benar-benar murung. Tidak ada gairah kebahagiaan di wajahnya. Jika, tidak ada meeting penting sudah dipastikan dia tidak akan berangkat ke kantor.


Setelah meeting selesai ingin rasanya Dirga pulang menemui istrinya. Namun, jadwal hari ini sangat padat. Dia juga harus meninjau anak perusahaannya yang berada di Bandung.


"Pak, sepertinya kita harus menginap di sana," ujar Kenan.


Mata Dirga menatap tajam ke arah asistennya ini. Selama dia menikah tidak pernah dia meninggalkan Niar untuk pergi ke luar kota.


"Jika bermalam, saya akan ajak istri saya," tukasnya. Kenan hanya menghela napas kasar. Kenapa suami-istri ini begitu bucin.


Jam satu siang Dirga sampai di rumah. Rumah tampak sepi. Dirga langsung naik ke lantai atas dan masuk ke dalam kamarnya. Dia melihat Niar yang sedang meringkuk dengan mata yang sembab.


"Sayang," panggil Dirga lembut setelah mencium kening sang istri.


Mata Niar mengerjap dan menatap Dirga dengan sendu. "Kita ke Bandung, ya. Malam ini aku ada meeting di sana. Tapi, aku gak bisa ninggalin kamu."


Niar pun tersenyum seraya menggeleng. "Tidak Sayang, kamu harus ikut kemana pun aku pergi. Tidak ada bantahan," tegasnya. Sikap pemaksaan Dirga kini muncul lagi.


"Aku tunggu kamu di bawah. Jangan bawa apa-apa karena Kenan sudah menyiapkan semuanya."


Niar pun menuruti semua perkataan Dirga. Dia juga membutuhkan pundak Dirga untuk melepaskan segala sedih dan kecewanya.


Penampilan yang sangat santai namun tetap berkelas membuat Dirga tersenyum puas. Dirga langsung menggandeng tangan Niar dan menuju mobilnya. Selama diperjalanan, tangan Dirga tak pernah lepas dari tubuh Niar. Begitu juga Niar yang terus membenamkan wajahnya di dada Dirga.


Laporan di tangan Dirga tak membuat Niar melepaskan dekapannya kepada Dirga. Suaminya pun tak merasa keberatan ataupun risih. Yang terlihat nampak risih adalah Kenan. Dia terus mengumpat kesal dengan kata-kata kasar di dalam hatinya.

__ADS_1


Sore menjelang Maghrib mereka tiba di salah satu hotel di Bandung. Meeting pun diundur menjadi besok pagi. Karena Dirga melihat wajah istrinya yang sangat tidak bersinar. Membuat mood-nya menjadi berantakan.


Lagi-lagi Kenan yang disusahkan. Sebagai asisten yang dibayar mahal dia harus profesional dan menuruti semua kemauan Bossnya yang terkadang membuatnya pusing tujuh keliling.


Niar memandangi langit malam Kota Bandung yang sangat indah. Kerlap-kerlip lampu di bawah sana menambah keindahan malam ini.


Sepasang tangan memeluk pinggangnya. Dan meletakkan dagunya di bahu Niar. Mengecup bahu Niar yang terbuka. Malam ini Niar hanya menggunakan mini dress tidur tanpa lengan.


"Jangan sedih lagi," ucap Dirga yang kini mengecup leher jenjang Niar. Tubuh Niar menggelinjang geli.


Niar meletakkan kepalanya di dada bidang Dirga. Memejamkan matanya menikmati angin malam yang sejuk. "Pasti kamu kecewa," ujar Niar.


Dirga membalikkan tubuh Niar dan menatap dalam manik mata Niar. "Aku memang ingin sekali punya anak. Tapi, aku juga tidak mau membebanimu. Kita ikuti alur saja, yang penting kita tetap harus berusaha dan juga berdoa."


Sungguh lega hati Niar mendengar ucapan dari Dirga. Yang membebani hatinya kini telah hilang. Meskipun. Niar tahu Dirga juga kecewa sama seperti dirinya.


"Dan sekarang, kita akan berusaha lagi." Dirga pun langsung membopong tubuh Niar masuk ke dalam kamar.


Deru napas yang sudah penuh dengan napsu semakin menggairahkan keduanya. Makan malam pun mereka lewatkan begitu saja. Mereka sedang asyik menjelajahi surga dunia yang membuat mereka tidak akan pernah menemukan titik lelah. Semuanya terasa indah dan nikmat.


"Cepat tumbuh ya, Nak. Papih menunggumu." Tangan Dirga mengusap lembut perut Niar lalu mengecupnya penuh cinta. Tak lupa dia mengecup kening Niar. "Makasih Sayang."


Pagi harinya, Dirga sudah siap untuk pergi ke anak perusahaan. Niar sedang menyuapi Dirga yang sedang melihat laporan demi laporan yang dikirimkan Kenan.


"Mungkin siang aku baru kembali ke hotel. Kamu jangan ke mana-mana. Ada beberapa orang yang berjaga di luar," ucap Dirga.


"Iya," sahut Niar yang sedang merapihkan dasi Dirga.


"Aku berangkat ya," pamit Dirga seraya mengecup kening Niar.


"Ay, sorenya jalan-jalan dulu ya sebelum kembali ke Jakarta." Dirga pun tersenyum lalu memeluk tubuh istrinya.


"Apapun yang kamu minta pasti akan aku turutin."


Kegiatan Niar hanya rebahan dan juga bermain ponsel. Terkadang dia jenuh, tapi dia juga harus menuruti perkataan suaminya. Segalanya sudah Dirga penuhi. Dirga hanya memberikan tugas untuk menjaga dan merawat tubuhnya saja.

__ADS_1


"Aku kangen buka cafe," gumamnya.


Meeting Dirga pun berjalan dengan baik. Meskipun, Dirga sangat risih dengan kelakuan sekretaris di perusahaan cabang miliknya. Seperti parasit yang mengekori dirinya kemana pun dia pergi.


"Pak mau makan siang apa? Biar saya yang pesankan," ucap sekretaris itu.


"Kenan, kita harus kembali ke hotel." Kenan pun mengangguk. Dirga berdiri dan meninggalkan sekretaris itu seorang diri. Sedangkan si sekretaris itu menarik tangan Kenan. "Pak Bos menginap di hotel mana?"


"Gak usah kepo kalo kamu masih ingin tetap bekerja di tempat ini." Ucapan Kenan sungguh membuat nyali sekretaris itu menciut.


Sesampainya di hotel, Dirga tersenyum ke arah sang istri yang sedang terlelap di sofa dengan tv yang menyala.


"Kamu pasti bosan," gumamnya.


Dirga memindahkan tubuh Niar ke tempat tidur. Membenarkan anak rambut yang menutupi sebagian wajahnya. "Ketika kita memiliki anak pasti kamu gak akan kesepian lagi," ucapnya seraya tersenyum.


Dirga masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Dirga tersenyum ke arah Niar yang sedang bersandar di kepala ranjang.


"Enak tidurnya?" Dirga langsung mengecup bibir Niar.


"Ayo jalan-jalan," rengeknya.


Setelah Niar bersiap dan Dirga juga sudah rapi, mereka menuju salah satu mall yang ingin sekali Niar kunjungi. Mereka hanya pergi berdua dan Kenan diberikan waktu untuk istirahat sejenak.


Tangan mereka berdua selalu bertautan seperti sepasang kekasih yang sedang dimabuk asmara. Penampilan Niar yang sangat santai dan Dirga yang sangat tampan membuat semua mata tertuju pada mereka berdua.


"Ay, aku ke toilet bentar ya," Dirga pun mengangguk. Karena mereka sudah berada di food court.


Sapaan dari seseorang membuat Dirga menoleh. Dengan tidak tahu dirinya, dia duduk di depan Dirga tanpa Dirga persilahkan terlebih dahulu. Membuat Dirga semakin kesal.


"Ternyata kita ditakdirkan bersama, Pak."


****


Happy reading

__ADS_1


__ADS_2