Tak Kan Kulepas Lagi

Tak Kan Kulepas Lagi
Memaafkan


__ADS_3

Dirga sedikit ragu untuk mengatakan perihal ibunya kepada Niar. Dia takut, Niar masih menyimpan marah kepada wanita yang telah merawatnya sedari kecil.


Kekhawatiran Dirga dapat dibaca oleh Niar. Suaminya itu tidak bisa menyembunyikan apapun kepadanya. Dia bukan pria yang pandai berbohong.


Disela pijatan Dirga, Niar menggenggam tangan sang suami. Menatapnya penuh tanya. Hanya seulas senyum kecil yang Dirga berikan. Itu sangat menandakan bahwa suaminya memang tengah menyembunyikan sesuatu.


"Kak, Ndy keluar dulu, ya. Mau beli minuman dingin," pamitnya.


Dirga dan Niar mengangguk. Ini kesempatan Niar untuk bertanya lebih dalam lagi kepada suaminya. Niar mencoba bangun dari posisi tidurannya. Dia dibantu oleh Dirga.


"Ay, kamu tidak bisa menyembunyikan apapun dari aku," ujarnya.


Dirga menatap Niar dengan tatapan sendu. Helaan napas kasar pun keluar dari mulutnya.


"Apa kamu akan memaafkan orang yang sudah menyakiti hati kamu?"


Pertanyaan yang tiba-tiba keluar dari mulut Dirga. Niar mengerutkan dahinya tak mengerti. Otaknya tengah berpikir keras apa maksud dari ucapan suaminya ini.


"Ay, aku sedang tidak ingin bermain teka-teki," tuturnya.


Dirga terdiam, dia takut Niar akan marah. Apalagi keadaan Niar yang baru saja melahirkan.

__ADS_1


"Ayang," panggil Niar.


"Aku ... bertemu dengan Mamah," terangnya.


Niar tidak menimpali ucapan Dirga. Dia tahu ucapan Dirga masih belum selesai.


"Mamah sedang sakit, dan dirawat di rumah sakit ini."


Mata Niar sedikit melebar mendengar ucapan sang suami. Namun, dia masih terdiam.


"Mamah menyesali perbuatannya dan dia ingin bertemu dengan kamu, Sayang," ucapnya sedikit ragu.


Dirga tidak dapat menatap sang istri. Dia takut istrinya masih marah dan tidak suka dengan ucapannya.


"Aku tahu kamu hanya marah sesaat kepada ibu kamu. Bagaimana pun dia adalah orang yang telah mengenalkanmu dengan arti kasih sayang yang tulus," terang Niar.


Dirga mulai menegakkan kepalanya, menatap sang istri dengan wajah sendu. Seulas senyum Niar berikan kepada Dirga.


"Aku sudah memaafkan Mamah. Aku juga tidak ingin mengingat hal itu lagi. Namun, jika Mamah kamu melakukan hal seperti itu lagi aku bisa lebih gila dan kejam dari Mamah," jelasnya.


Meskipun perkataan Niar terdengar sangat tulus, tetapi masih ada sedikit ketakutan di hatinya.

__ADS_1


"Apa kamu mau bertemu dengannya? Mamah juga ingin bertemu dengan putra kita." Ucapan Dirga nampak terdengar penuh keraguan.


Hati Dirga bergemuruh dengan cepat. Apalagi belum ada jawaban dari istrinya.


"Jika, kamu belum siap. Aku gak masalah. Aku mengerti perasaan kamu," jelasnya. Dirga mengukirkan senyum penuh kekecewaan.


"Ayang, kenapa kamu malah menduga-duga begitu seperti Mbah mijon?" kekehnya.


Dirga menatap Niar dengan tatapan bingung. Istrinya malah tertawa di hadapannya. Niar makin terkekeh ketika melihat Dirga semakin terbengong-bengong.


"Ayang, kenapa kamu seperti orang linglung begitu?" tanya Niar.


Niar menangkup wajah sang suami. Dia tersenyum penuh ketenangan dan sorot matanya menunjukkan keteduhan.


"Aku aku bertemu Mamah bersama Arshen juga. Namun, setelah kondisi aku pilih dan Arshen sudah sedikit besar."


Sungguh ucapan yang tidak Dirga sangka. Dia benar-benar terkejut dengan ucapan sang istri.


"Sayang ... kamu serius?" Sorot mata Dirga seolah tak percaya.


"Iya, Ay."

__ADS_1


Dirga memeluk tubuh Niar dengan sangat erat. Tak lupa kecupan hangat di kening sang istri.


"Makasih, Sayang."


__ADS_2