Tak Kan Kulepas Lagi

Tak Kan Kulepas Lagi
Orang Pertama


__ADS_3

Hari ini Dirga dan keluarganya terbang ke Malang. Hanya Retna yang tidak ikut karena dia lebih senang menyendiri.


Dirga terus menggenggam tangan Niar dan sesekali menciumi tangannya. Meskipun di depan keluarganya, dia tidak merasa malu. Dia ingin memberitahukan kepada keluarganya jika dia sangat mencintai Niar.


"Ay, malu," bisik Niar.


"Mau aku cium kamu di depan keluarga aku?" jawabnya. Dengan cepat Niar menggeleng.


Dirga pun tertawa dan menarik tangan Niar untuk masuk ke dalam dekapannya. Selama di udara, Dirga terus mendekap tubuh Niar dan sesekali mencium puncuk kepala Niar. Kedua orangtua Dirga hanya dapat tersenyum bahagia. Putra mereka kembali dengan wanita yang dia sayangi.


Setelah sampai di Bandara, Niar sudah dijemput oleh sopir Dirga dan akan diantarkan ke rumah Niar. Karena malam ini acara pertemuan dua keluarga itu berlangsung.


"Kamu istirahat ya, jangan ke mana-mana. Tunggu aku dan keluargaku datang." Niar hanya tersenyum melihat keposesifan Dirga.


"Iya, aku pergi dulu ya." Sebelum pergi dia mencium tangan calon mertuanya dan juga Dirga.


Sedangkan Dirga dan keluarganya diajak ke apartment miliknya. Septi dan Deri sangat takjub dengan apartment milik putranya di Malang. Lebih besar dari apartment Dirga di Jakarta.


Tak lama, ada orang yang mengantarkan dua kardus besar ke apartment Dirga.


"Nak, ini apa?" tanya Septi.


"Buka aja," sahut Dirga santai yang fokus ke layar ponselnya.


"Ini semua buat lamaran nanti malam?" tanya Septi takjub.


"Kan udah aku bilang, aku sudah menyiapkan semuanya," jawab Dirga.


Mata Nindy melebar dengan sangat sempurna melihat barang yang akan kakaknya bawa ke rumah calon istri kakaknya.


"Kak, ini merk Di*r semua?" Dirga pun menjawab dengan anggukan kepala.


"Ini? Kunci mobil dan ini? Kunci rumah." Dirga hanya tersenyum.


"Alasan aku bangkit dan memiliki perusahaan sendiri adalah Niar. Dan apa yang telah aku capai akan aku berikan untuk Niar." Deri benar-benar bangga pada putranya.


Diusia yang baru menginjak 28 tahun tapi, bisa lebih sukses darinya adalah hal yang menakjubkan. Apalagi sukses dengan usahanya sendiri.


Malamnya, Niar sudah dirias sangat cantik. Dia mengenakan dress selutut merk ternama yang Dirga belikan untuknya. Rambut disanggul indah menambah kecantikannya. Apalagi riasan yang natural menambah kesempurnaan wajah Niar.


"Dek, cantik sekali kamu," ucap Ara yang sudah berada di belakang Niar.


"Makasih, Mbak."


"Maafkan Mbak, ya. Dulu pernah ikut campur dalam masalah kamu sama Dirga. Tapi, Mbak sadar, sekuat apapun kamu dipisahkan tapi, jika takdirnya harus bersatu pasti kalian akan bertemu lagi." Niar pun tersenyum ke arah Ara.


"Aku sudah melupakan semuanya, Mbak. Aku ingin menata masa depanku dengan orang yang sangat-sangat aku sayangi." Ara memeluk tubuh Niar dengan eratnya.

__ADS_1


"Semoga kalian bahagia selalu." Doa yang terucap dari bibir Ara.


Rombongan keluarga Dirga sudah sampai di halaman rumah Niar. Rumah yang sederhana berbeda dengan rumah keluarga Dirga.


Orangtua Dirga pun menyambut mereka dengan hangat. "Kamu bawa apa Dirga?" tanya Sari.


"Hanya sedikit untuk Niar, Bunda."


Septi menatap ke arah Deri, putra mereka sudah sangat dekat dengan keluarga Niar.


"Sebentar, Bunda panggilkan Niar dulu."


Mata Dirga tak berkedip ketika melihat calon istrinya sangat cantik. Niar terus berjalan dan menghampiri kedua orangtua Dirga. Mencium tangan mereka satu per satu.


"Kamu sangat cantik," ucap Septi. Hanya seulas senyum yang menjadi jawaban Niar.


Setelah keluarga Dirga dan Niar berkumpul semua, Deri mengutarakan maksud dan tujuannya datang ke rumah Niar.


"Saya selaku ayah dari Dirga Anggara ingin melamar putri Bapak dan Ibu untuk anak saya. Saya mohon maaf, karena selama ini saya dan istri telah membuat putri Bapak dan Ibu menderita. Memisahkan Niar dari Dirga karena keegoisan kami," ungkapnya.


"Dan kami sungguh menyesal, tanpa kami sadari tindakan kami ini pun membuat kami kehilangan putra kami satu-satunya. Dirga pergi dari rumah tanpa membawa apapun."


"Setelah lima tahun, kami teramat bahagia ketika Dirga membawa Niar ke rumah kami. Hati kami yang kosong kini telah terisi kembali. Anak kami telah kembali lagi bersama wanita yang sangat dia sayangi." Para wanita yang mendengar penjelasan Deri menyeka ujung mata mereka. Kisah Dirga dan Niar teramat pilu.


"Saya tidak bisa memutuskan, semua jawaban ada ditangan Niar. Bagaimana Nak?" tanya Pak Khorun.


Septi langsung memeluk tubuh Niar dan terus mengucapakan kata maaf dan terimakasih kepada Niar. Lalu, dia memeluk calon besannya, Sari.


"Maafkan saya, Bu. Saya telah membuat Niar tersiksa dulu," imbuhnya.


"Saya sudah ikhlas, Bu. Lagi pula sekarang Dirga dan Niar sudah bersatu."


"Kapan pernikahan ini akan dilaksanakan?" tanya Pak Khorun.


"Lebih cepat lebih bagus," jawab Deri.


"Kamu Dirga?"


"Kapanpun saya pasti siap." Dirga menjawab pertanyaan calon mertuanya dengan sangat mantap.


"Bagaimana jika dua minggu lagi?"


Keluarga Dirga pun menyetujuinya, dan mereka sepakat akad nikah akan diadakan di Malang dan resepsi akan diadakan di Jakarta.


"Ini apa Dirga?" tanya Sari melihat dua kotak yang berisi kunci.


"Yang sebelah kiri kunci mobil dan yang sebelah kanan kunci rumah untuk Niar." Septi dan Khorun saling tatap. Ara sudah melebarkan matanya tak percaya.

__ADS_1


"Tapi maaf, aku beli mobil dan rumahnya di Jakarta."


"Ay ...."


"Itu sudah aku persiapkan dari jauh-jauh hari. Aku sukses karena mu," ucapnya.


Setelah selesai makan malam, keluarga Dirga pun pulang. Dirga langsung memeluk tubuh Niar di hadapan keluarga mereka masing-masing.


"Aku sayang kamu."


"Love you more."


Semua orang yang berada di sana tersenyum bahagia melihat Niar dan Dirga. Cinta mereka akhirnya bisa bersatu.


Niar masuk ke kamarnya dan membersihkan wajah dan tubuhnya. Dia menatap kagum pada semua pemberian Dirga. Tidak ada yang murah di sana.


"Yang, besok aku harus ke Jakarta. Banyak yang harus aku di sana untuk resepsi kita." Pesan yang dikirimkan Dirga untuk Niar. Jika Dirga menelepon, pasti Niar akan terus merengek meminta ikut.


"Aku ikut, Ay."


"Tidak, Sayang. Kamu di sini aja. Paling lama aku tiga hari di sana."


"Ya udah."


"Kamu jangan ke mana-mana, kamu hanya boleh pergi ke cafe itupun dengan sopir dan pengawal yang akan menjaga kamu dari jauh."


"Iya."


"Night Sayang, mimpi indah."


"Night too."


Niar hanya menghela napas kasar. Sebenarnya dia tidak ingin jauh dari Dirga. Tapi, dia juga tidak boleh egois.


Pagi harinya, Niar masih betah berada dibawah selimut tebal. Niar menggeliat ketika dia bermimpi Dirga sedang menciumi wajahnya.


Matanya perlahan membuka, ternyata itu bukan mimpi. Dirga sudah menjadi orang yang pertama Niar lihat ketika dia membuka mata.


****


Sebagai permohonan maaf aku karena gak up kemarin aku tulis serebu kata ya ...


Semoga kalian suka ...


oiya, kalo Dirga dan Niar up langsung dibaca ya. Jangan ditimbun-timbun bab-nya.


Love you ...

__ADS_1


__ADS_2