
Hari ini Dirga tidak ingin mengecewakan sang istri. Ketika makan siang tiba, dia segera pulang dan menyuruh sekretarisnya untuk membatalkan semua jadwalnya. Niar yang masih memakai baju rumahan terkejut ketika Dirga masuk ke dalam rumah.
"Loh? Kok udah pulang?" tanya Niar heran. Bagaimana tidak, suaminya mengatakan bahwa dia akan pulang ketika jam dua. Sekarang baru jam dua belas kurang.
"Arshen tidur?" Niar mengangguk.
"Pih, Mamih gak masak makan siang," sesalnya. Dirga malah tertawa dan mencubit gemas pipi sang istri.
"Itu di meja makan apa?" tanya Dirga. Dia melihat sudah ada aneka makanan yang tersaji.
"Itu buatan Mbok Sum," sahutnya.
Dirga tergelak, suaminya ini sungguh menggemaskan.
"Itu makanan juga Mamih Sayang," balas Dirga.
"Iya, tapi itu bukan masakan Mamih," keluhnya.
Dirga merengkuh pinggang Niar dan mengecup puncak kepalanya. "Gak apa-apa, Mamih," balas Dirga.
Dirga terkadang heran, padahal sudah ada asisten yang membantunya di rumah, tetapi untuk masakan sang suami Niar tidak mengijinkan asistennya yang memasak.
Mereka menikmati makan siang terlebih dahulu sebelum ke lapas tempat Septi dihukum. Dirga mengerutkan dahinya ketika melihat menu makanan yang sangat sederhana. Hanya ada sayur bayam, tahu dan tempe bacem juga perkedel kentang serta kerupuk udang yang menjadi pendamping makanan wajib untuk Niar.
"Kalau makan siang Mamih hanya makan ini?" tanya Dirga.
Niar mengangguk sambil menyuapkan makanan ke mulutnya. Menu makanan yang sangat sederhana. Padahal Dirga memberikan uang belanja yang tak sedikit untuk istrinya.
"Mih, ini ...."
"Bukannya Mamih hemat, Pih. Mamih hanya ingin merasakan masakan Bunda. Masakan mbok Sum yang sederhana ini mengingatkan Mamih sama Bunda," tuturnya.
Dirga mengusap lembut rambut istrinya. Dia tahu Niar masih merindukan ibunya. Namun, ibunya harus kembali ke Malang setelah Arshen berusia empat puluh lima hari. Ingin pergi ke Malang pun Arshen belum diperbolehkan untuk ikut terbang menggunakan pesawat.
"Sabar ya, Mih. Nanti kita akan ke rumah Bunda setelah dokter mengijinkan Arshen untuk terbang menggunakan pesawat." Niar pun tersenyum mendengar ucapan suaminya.
Setelah selesai makan siang, mereka kembali ke kamar dan ternyata putra mereka sudah terbangun dan tengah menghisap empeng yang ada di sampingnya.
"Soleh banget anak Mamih," puji Niar.
Arshen menoleh dan tertawa ke arah Niar. Tangannya sudah meminta untuk digendong. Ketika Niar hendak menggendongnya Arshen malam menangis. Ternyata dia meminta papihnya untuk menggendongnya.
"Kangen Papih, ya," ujar Dirga sembari menggembung Arshen.
Bayi laki-laki itu nampak nyaman berada di atas dada Dirga. Perlahan matanya mulai terpejam kembali.
"Eh, tidur lagi," ucap Niar seraya terkekeh. Dirga pun ikut tertawa melihat tingkah Arshen.
Namun, Niar tetap mengganti pakaian Arshen karena mereka akan pergi menemui Septi di lapas. Dirga sudah memasukkan barang bawaan mereka ke dalam mobil. Ketika dia masuk ke kamar, ternyata putranya sudah tampan dengan baju yang senada dengan kedua orang tuanya.
"Ganteng sekali anak Papih," ucapnya. Arshen pun tertawa seperti bahagia sekali.
"Mau ketemu Oma, ya," ucap Dirga. Putranya semakin tertawa keras.
"Oma pasti senang bertemu dengan cucunya yang tampak ini," lanjut Dirga lagi.
Niar tersenyum bahagia melihat Arshen yang nampak sekali bahagia bersama Dirga.
Hari ini Dirga tidak ingin mengecewakan sang istri. Ketika makan siang tiba, dia segera pulang dan menyuruh sekretarisnya untuk membatalkan semua jadwalnya. Niar yang masih memakai baju rumahan terkejut ketika Dirga masuk ke dalam rumah.
"Loh? Kok udah pulang?" tanya Niar heran. Bagaimana tidak, suaminya mengatakan bahwa dia akan pulang ketika jam dua. Sekarang baru jam dua belas kurang.
"Arshen tidur?" Niar mengangguk.
"Pih, Mamih gak masak makan siang," sesalnya. Dirga malah tertawa dan mencubit gemas pipi sang istri.
"Itu di meja makan apa?" tanya Dirga. Dia melihat sudah ada aneka makanan yang tersaji.
"Itu buatan Mbok Sum," sahutnya.
Dirga tergelak, suaminya ini sungguh menggemaskan.
"Itu makanan juga Mamih Sayang," balas Dirga.
"Iya, tapi itu bukan masakan Mamih," keluhnya.
__ADS_1
Dirga merengkuh pinggang Niar dan mengecup puncak kepalanya. "Gak apa-apa, Mamih," balas Dirga.
Dirga terkadang heran, padahal sudah ada asisten yang membantunya di rumah, tetapi untuk masakan sang suami Niar tidak mengijinkan asistennya yang memasak.
Mereka menikmati makan siang terlebih dahulu sebelum ke lapas tempat Septi dihukum. Dirga mengerutkan dahinya ketika melihat menu makanan yang sangat sederhana. Hanya ada sayur bayam, tahu dan tempe bacem juga perkedel kentang serta kerupuk udang yang menjadi pendamping makanan wajib untuk Niar.
"Kalau makan siang Mamih hanya makan ini?" tanya Dirga.
Niar mengangguk sambil menyuapkan makanan ke mulutnya. Menu makanan yang sangat sederhana. Padahal Dirga memberikan uang belanja yang tak sedikit untuk istrinya.
"Mih, ini ...."
"Bukannya Mamih hemat, Pih. Mamih hanya ingin merasakan masakan Bunda. Masakan mbok Sum yang sederhana ini mengingatkan Mamih sama Bunda," tuturnya.
Dirga mengusap lembut rambut istrinya. Dia tahu Niar masih merindukan ibunya. Namun, ibunya harus kembali ke Malang setelah Arshen berusia empat puluh lima hari. Ingin pergi ke Malang pun Arshen belum diperbolehkan untuk ikut terbang menggunakan pesawat.
"Sabar ya, Mih. Nanti kita akan ke rumah Bunda setelah dokter mengijinkan Arshen untuk terbang menggunakan pesawat." Niar pun tersenyum mendengar ucapan suaminya.
Setelah selesai makan siang, mereka kembali ke kamar dan ternyata putra mereka sudah terbangun dan tengah menghisap empeng yang ada di sampingnya.
"Soleh banget anak Mamih," puji Niar.
Arshen menoleh dan tertawa ke arah Niar. Tangannya sudah meminta untuk digendong. Ketika Niar hendak menggendongnya Arshen malam menangis. Ternyata dia meminta papihnya untuk menggendongnya.
"Kangen Papih, ya," ujar Dirga sembari menggembung Arshen.
Bayi laki-laki itu nampak nyaman berada di atas dada Dirga. Perlahan matanya mulai terpejam kembali.
"Eh, tidur lagi," ucap Niar seraya terkekeh. Dirga pun ikut tertawa melihat tingkah Arshen.
Namun, Niar tetap mengganti pakaian Arshen karena mereka akan pergi menemui Septi di lapas. Dirga sudah memasukkan barang bawaan mereka ke dalam mobil. Ketika dia masuk ke kamar, ternyata putranya sudah tampan dengan baju yang senada dengan kedua orang tuanya.
"Ganteng sekali anak Papih," ucapnya. Arshen pun tertawa seperti bahagia sekali.
"Mau ketemu Oma, ya," ucap Dirga. Putranya semakin tertawa keras.
"Oma pasti senang bertemu dengan cucunya yang tampak ini," lanjut Dirga lagi.
Niar tersenyum bahagia melihat Arshen yang nampak sekali bahagia bersama Dirga.
Hari ini Dirga tidak ingin mengecewakan sang istri. Ketika makan siang tiba, dia segera pulang dan menyuruh sekretarisnya untuk membatalkan semua jadwalnya. Niar yang masih memakai baju rumahan terkejut ketika Dirga masuk ke dalam rumah.
"Loh? Kok udah pulang?" tanya Niar heran. Bagaimana tidak, suaminya mengatakan bahwa dia akan pulang ketika jam dua. Sekarang baru jam dua belas kurang.
"Arshen tidur?" Niar mengangguk.
"Pih, Mamih gak masak makan siang," sesalnya. Dirga malah tertawa dan mencubit gemas pipi sang istri.
"Itu di meja makan apa?" tanya Dirga. Dia melihat sudah ada aneka makanan yang tersaji.
"Itu buatan Mbok Sum," sahutnya.
Dirga tergelak, suaminya ini sungguh menggemaskan.
"Itu makanan juga Mamih Sayang," balas Dirga.
"Iya, tapi itu bukan masakan Mamih," keluhnya.
Dirga merengkuh pinggang Niar dan mengecup puncak kepalanya. "Gak apa-apa, Mamih," balas Dirga.
Dirga terkadang heran, padahal sudah ada asisten yang membantunya di rumah, tetapi untuk masakan sang suami Niar tidak mengijinkan asistennya yang memasak.
Mereka menikmati makan siang terlebih dahulu sebelum ke lapas tempat Septi dihukum. Dirga mengerutkan dahinya ketika melihat menu makanan yang sangat sederhana. Hanya ada sayur bayam, tahu dan tempe bacem juga perkedel kentang serta kerupuk udang yang menjadi pendamping makanan wajib untuk Niar.
"Kalau makan siang Mamih hanya makan ini?" tanya Dirga.
Niar mengangguk sambil menyuapkan makanan ke mulutnya. Menu makanan yang sangat sederhana. Padahal Dirga memberikan uang belanja yang tak sedikit untuk istrinya.
"Mih, ini ...."
"Bukannya Mamih hemat, Pih. Mamih hanya ingin merasakan masakan Bunda. Masakan mbok Sum yang sederhana ini mengingatkan Mamih sama Bunda," tuturnya.
Dirga mengusap lembut rambut istrinya. Dia tahu Niar masih merindukan ibunya. Namun, ibunya harus kembali ke Malang setelah Arshen berusia empat puluh lima hari. Ingin pergi ke Malang pun Arshen belum diperbolehkan untuk ikut terbang menggunakan pesawat.
"Sabar ya, Mih. Nanti kita akan ke rumah Bunda setelah dokter mengijinkan Arshen untuk terbang menggunakan pesawat." Niar pun tersenyum mendengar ucapan suaminya.
__ADS_1
Setelah selesai makan siang, mereka kembali ke kamar dan ternyata putra mereka sudah terbangun dan tengah menghisap empeng yang ada di sampingnya.
"Soleh banget anak Mamih," puji Niar.
Arshen menoleh dan tertawa ke arah Niar. Tangannya sudah meminta untuk digendong. Ketika Niar hendak menggendongnya Arshen malam menangis. Ternyata dia meminta papihnya untuk menggendongnya.
"Kangen Papih, ya," ujar Dirga sembari menggembung Arshen.
Bayi laki-laki itu nampak nyaman berada di atas dada Dirga. Perlahan matanya mulai terpejam kembali.
"Eh, tidur lagi," ucap Niar seraya terkekeh. Dirga pun ikut tertawa melihat tingkah Arshen.
Namun, Niar tetap mengganti pakaian Arshen karena mereka akan pergi menemui Septi di lapas. Dirga sudah memasukkan barang bawaan mereka ke dalam mobil. Ketika dia masuk ke kamar, ternyata putranya sudah tampan dengan baju yang senada dengan kedua orang tuanya.
"Ganteng sekali anak Papih," ucapnya. Arshen pun tertawa seperti bahagia sekali.
"Mau ketemu Oma, ya," ucap Dirga. Putranya semakin tertawa keras.
"Oma pasti senang bertemu dengan cucunya yang tampak ini," lanjut Dirga lagi.
Niar tersenyum bahagia melihat Arshen yang nampak sekali bahagia bersama Dirga.
Hari ini Dirga tidak ingin mengecewakan sang istri. Ketika makan siang tiba, dia segera pulang dan menyuruh sekretarisnya untuk membatalkan semua jadwalnya. Niar yang masih memakai baju rumahan terkejut ketika Dirga masuk ke dalam rumah.
"Loh? Kok udah pulang?" tanya Niar heran. Bagaimana tidak, suaminya mengatakan bahwa dia akan pulang ketika jam dua. Sekarang baru jam dua belas kurang.
"Arshen tidur?" Niar mengangguk.
"Pih, Mamih gak masak makan siang," sesalnya. Dirga malah tertawa dan mencubit gemas pipi sang istri.
"Itu di meja makan apa?" tanya Dirga. Dia melihat sudah ada aneka makanan yang tersaji.
"Itu buatan Mbok Sum," sahutnya.
Dirga tergelak, suaminya ini sungguh menggemaskan.
"Itu makanan juga Mamih Sayang," balas Dirga.
"Iya, tapi itu bukan masakan Mamih," keluhnya.
Dirga merengkuh pinggang Niar dan mengecup puncak kepalanya. "Gak apa-apa, Mamih," balas Dirga.
Dirga terkadang heran, padahal sudah ada asisten yang membantunya di rumah, tetapi untuk masakan sang suami Niar tidak mengijinkan asistennya yang memasak.
Mereka menikmati makan siang terlebih dahulu sebelum ke lapas tempat Septi dihukum. Dirga mengerutkan dahinya ketika melihat menu makanan yang sangat sederhana. Hanya ada sayur bayam, tahu dan tempe bacem juga perkedel kentang serta kerupuk udang yang menjadi pendamping makanan wajib untuk Niar.
"Kalau makan siang Mamih hanya makan ini?" tanya Dirga.
Niar mengangguk sambil menyuapkan makanan ke mulutnya. Menu makanan yang sangat sederhana. Padahal Dirga memberikan uang belanja yang tak sedikit untuk istrinya.
"Mih, ini ...."
"Bukannya Mamih hemat, Pih. Mamih hanya ingin merasakan masakan Bunda. Masakan mbok Sum yang sederhana ini mengingatkan Mamih sama Bunda," tuturnya.
Dirga mengusap lembut rambut istrinya. Dia tahu Niar masih merindukan ibunya. Namun, ibunya harus kembali ke Malang setelah Arshen berusia empat puluh lima hari. Ingin pergi ke Malang pun Arshen belum diperbolehkan untuk ikut terbang menggunakan pesawat.
"Sabar ya, Mih. Nanti kita akan ke rumah Bunda setelah dokter mengijinkan Arshen untuk terbang menggunakan pesawat." Niar pun tersenyum mendengar ucapan suaminya.
Setelah selesai makan siang, mereka kembali ke kamar dan ternyata putra mereka sudah terbangun dan tengah menghisap empeng yang ada di sampingnya.
"Soleh banget anak Mamih," puji Niar.
Arshen menoleh dan tertawa ke arah Niar. Tangannya sudah meminta untuk digendong. Ketika Niar hendak menggendongnya Arshen malam menangis. Ternyata dia meminta papihnya untuk menggendongnya.
"Kangen Papih, ya," ujar Dirga sembari menggembung Arshen.
Bayi laki-laki itu nampak nyaman berada di atas dada Dirga. Perlahan matanya mulai terpejam kembali.
"Eh, tidur lagi," ucap Niar seraya terkekeh. Dirga pun ikut tertawa melihat tingkah Arshen.
Namun, Niar tetap mengganti pakaian Arshen karena mereka akan pergi menemui Septi di lapas. Dirga sudah memasukkan barang bawaan mereka ke dalam mobil. Ketika dia masuk ke kamar, ternyata putranya sudah tampan dengan baju yang senada dengan kedua orang tuanya.
"Ganteng sekali anak Papih," ucapnya. Arshen pun tertawa seperti bahagia sekali.
"Mau ketemu Oma, ya," ucap Dirga. Putranya semakin tertawa keras.
__ADS_1
"Oma pasti senang bertemu dengan cucunya yang tampak ini," lanjut Dirga lagi.
Niar tersenyum bahagia melihat Arshen yang nampak sekali bahagia bersama Dirga.