
"Lepaskan aku, Dirga. Lepaskan aku!" seru Niar.
"Aku tidak akan pernah melepaskan kamu. Apapun itu alasannya," jawab Dirga yang semakin erat memegang kaki Niar.
Niar menghela napas kasar. Kemudian, dia membawa tubuh Dirga untuk berdiri. Niar menatap lekat manik mata Dirga. Sorotan mata mereka masih memancarkan rasa cinta. Namun, ada juga rasa kecewa.
"Ijinkan aku pergi. Aku janji, aku akan merawat anak kita dengan baik. Aku yakin, hidupku tanpa dirimu akan bahagia. Tolong, lepaskan aku. Dan berbahagialah dengan wanita pilihan ibumu. Karena aku sudah tidak sanggup terus-terusan menjadi keset welcome yang hanya diinjak-injak oleh ibumu," terang Niar.
Dirga berubah menjadi pria lemah sekarang ini. Yang bisa dia lakukan hanya menangis dan menangis.
"Semoga kamu bahagia dengan wanita pilihan ibumu. Dan jangan pernah mencariku serta anakku. Ketika aku keluar dari rumah ini, berarti kamu dan keluarga kamu sudah tidak memiliki hak untuk melihat anakku lagi. Karena aku tidak ingin anakku terluka dan tersiksa batinnya sama sepertiku. Apalagi, memiliki seorang ayah yang plin plan. Seolah anak yang aku kandung ini tidaklah berharga. Dan lebih berharga wanita yang tiba-tiba dibawa masuk oleh ibumu."
Semua orang menunduk dalam mendengar ucapan Niar. Tidak ada air mata yang menetes di pelupuk matanya. Tidak dipungkiri, dadanya teramat sesak saat ini.
"Baguslah jika kamu pergi," ucap seseorang yang baru saja datang. Niar hanya tersenyum miring ke arah orang itu.
"Pernikahanku akan secepatnya terselenggara," imbuhnya lagi.
"Diam kamu, Bunga!" bentak Dirga.
__ADS_1
"Kenapa Kak Dirga membentakku? Bukankah kita memang akan menikah secepatnya. Apalagi jika, istri Kak Dirga ini pergi. Kita lebih bebas melakukan kegiatan suami-istri tanpa harus sembunyi-sembunyi." Bukan hanya Dirga yang mengepalkan tangannya. Deri dan Kenan pun sudah menatap tajam ke arah Bunga.
"Sekali lagi Anda bicara, tak segan-segan saya merobek mulut Anda," ancam Kenan dengan wajah murkanya.
"Siapa kamu? Kacung dari calon suamiku saja belagu," cibir Bunga.
Kesabaran Kenan sudah habis. Dia mendekat ke arah Bunga. Tangannya sudah hampir mencekik Bunga. "Mau langsung ke liang lahat atau masuk rumah sakit dulu?"
"Jangan sentuh dia, Kenan!" pekik Septi.
"Tidak ada yang bisa mencegah saya. Karena saya bekerja untuk Pak Dirga dan Bu Niar. Anda tidak memiliki wewenang apa-apa."
Nyali Septi pun ciut apalagi Bunga yang sudah terbatuk-batuk karena cekikan dari Kenan.
"Hentikan Kenan," titah Niar.
Kenan pun melepaskan tangannya di leher Bunga. Menatap aneh kepada istri dari bosnya.
"Biarkan saja dia bahagia dengan suamiku. Menjadi penghancur rumah tanggaku. Karena aku yakin, hidup seorang wanita penggoda itu tidak akan pernah bahagia. Apalagi ibu yang durhaka terhadap anaknya," terang Niar.
__ADS_1
"Jaga ucapan kamu, Niar!" Septi benar-benar tersinggung dengan apa yang dikatakan oleh Niar. Sedangkan Niar hanya tertawa kecil.
Niar mendekat ke arah Bunga. Menatapnya dengan tatapan tajam.
Plak!
Satu tamparan mendarat di pipi Bunga. "Itu untuk ucapanmu yang menghinaku," ucap Niar.
Septi sudah ingin mendorong tubuh Niar. Namun, dicekal oleh Dirga.
"Ketika kamu menikah dengan suamiku. Jangan harap kamu bisa tinggal di rumah mewah ini. Memakai semua fasilitas yang ada. Serta keluar masuk perusahaan seenaknya." Niar menyerahkan beberapa lembar kertas kepada Bunga. Dan mata Bunga terbelalak ketika melihat semua harta Dirga Anggara atas nama Niara Andhiny.
"Sudah jelaskan. Siapa yang harus angkat kaki dari rumah ini."
...****************...
Maaf ya, dikit dulu.
Badan akunya lagi drop.
__ADS_1
Jangan lupa komennya banyakin