Tak Kan Kulepas Lagi

Tak Kan Kulepas Lagi
Perhiasan Dan Daster


__ADS_3

Setelah selesai makan dan drama Niar cemburu. Dirga mengajak Niar ke sebuah pusat perbelanjaan di Kota Malang. Dengan posesifnya Dirga terus menggenggam erat tangan Niar karena banyak mata yang mencuri pandang ke arah Niar.


"Aku gak suka kamu jadi pusat perhatian," imbuh Dirga.


"Apalagi aku," balas Niar dengan sengit.


Dirga sangat gemas dengan sikap Niar yang seperti ini. Sejak zaman sekolah hingga sekarang dewasa marahnya Niar tetap sama. Masih menggemaskan.


"Seneng tau dicemburuin sama kamu," katanya sambil mencolek hidung Niar.


"Aku mah gedek liatnya." Dirga pun tertawa dan merengkuh pinggang Niar.


"Aku gak akan bisa berpaling dari kamu, Sayang. Gak akan bisa, pelet kamu sudah terlalu kuat dan mendarah daging mengenai aku," candanya.


"Cih." Niar pun meninggalkan Dirga dan dengan cepat Dirga mengejar Niar dan menggenggam tangannya kembali.


Dirga membawa Niar ke sebuah toko perhiasan terkenal di mall tersebut. Niar mengerutkan dahinya. Namun, tangan Dirga terus membawanya masuk ke dalam toko tersebut.


"Selamat datang Tuan," sapa sopan salah seroang karyawan. Dirga hanya mengangguk pelan.


"Keluarkan model terbaru dan juga termahal." Para karyawan pun mengeluarkan berbagai macam perhiasan dari model terbaru hingga termahal.


"Pilihlah, kamu mau yang mana, Yang." Niar menatap ke arah Dirga. Hanya anggukan kepala yang menjadi jawabannya.


"Tapi, Ay ...."


"Pilih saja, Sayang. Kamu terlalu plontos tanpa aksesoris di tubuhmu."


Aksesories katanya? Ini berlian bukan batu akik.

__ADS_1


Niar masih diam membisu membuat Dirga tak sabaran dan memilih satu buah kalung untuk Niar. Dirga memakaikan kalung tersebut kepada Niar. Kalung emas putih dan berliontinkan hati kecil bermahkota kan berlian.


"Cantik," ucapnya.


Niar melihat ke arah kaca dan bibirnya tersungging dengan sempurna. "Makasih, Ay." Dirga mengangguk pelan. Dan sekarang dia memilihkan gelang untuk Niar.


"Ay, udah ini aja. Kalo gelang gitu jarang aku pake," imbuhnya.


Dirga tetaplah Dirga, dia memilihkan gelang untuk Niar dan juga cincin. Niar hanya menggelengkan kepalanya.


Setelah selesai dibayar, Niar berdecak kesal. "Itu cincin banyak amat sampe sepuluh," ujar Niar.


"Biar ganti-ganti pas kamu pake," kata


Dirga.


"Lah emang aku mau ke mana? Palingan juga kerjaan aku mah di kasur, sumur, dapur."


"Mesum," sentaknya.


"Ay, mending beliin daster tuh buat di rumah nanti," pinta Niar sambil menunjuk ke arah toko yang menjual daster bermotif batik.


"Ya ampun, Nyonya Dirga Anggara dasteran." Dirga pun menggelengkan kepalanya tak percaya.


"Kenapa emangnya Ay?"


"Kamu itu harus dandan cantik untuk suami, ketika di rumah pun harus terlihat cantik supaya aku makin cinta sama kamu."


"Dan jadi istri seorang Dirga Anggara itu harus berkelas Sayang. Tegakkan kepalamu ketika kamu bertemu siapapun." Niar tertawa mendengar wejangan dari seorang pemilik perusahaan yang ternyata arogan.

__ADS_1


"Mau ke mana lagi?"


"Aku ngantuk, Ay."


"Langsung pulang, ya." Niar pun mengangguk dengan membawa paper bag dari toko perhiasan ternama tersebut.


"Ay, bisakah kita menunda resepsi kita dulu?"


"Maksudnya?"


"Kita persiapkan ketika kita sudah di Jakarta saja. Aku gak mau kamu pergi lagi. Aku takut terjadi apa-apa sama kamu," ujarnya.


"Resepsi di Jakarta sudah Mama dan Papa yang urus. Jadi, setelah acara akad nikah. Kita dan keluarga kamu langsung terbang ke Jakarta."


Niar pun mengangguk. "Jangan pergi tanpa aku," ucapnya. Dirga menatap Niar dan mencium keningnya.


"Aku gak akan ke mana-mana, Sayang. Aku akan pergi hanya bersama kamu."


Sesampainya di basement apartment Dirga. Dia menggandeng tangan Niar menuju lift dan menekan tombol angka 17 di mana unitnya berada.


Langkah mereka terhenti ketika seseorang memanggil Dirga. Dan langsung menghampiri Dirga dan menyentuh setiap bagian tubuh Dirga.


"Pak Dirga gak apa-apa, kan ...."


****


Note.


Cerita DN ini adalah cerita fiktif jadi jangan disamakan dengan dunia nyata. So, jangan mempermasalahkan ketika aku membuat part Dirga menginap di rumah Niar ataupun sebaliknya dan mereka dalam satu ranjang bersama. Yang terpenting sudah aku tekankan di dalam setiap kalimat yang Dirga katakan. CINTAKU LEBIH BESAR DARI NAFSUKU, jadi tidak terjadi apa-apa dengan Mereka. Di dunia nyata malah ada yang lebih parah dari pasangan DN kan, nginep di rumah pasangannya hanya untuk 'kenikmatan'

__ADS_1


So, nikmati saja alurnya dan ceritanya. jangan buat aku down, Karena menulis cerita itu tidak semudah kalian membacanya.


__ADS_2