Tak Kan Kulepas Lagi

Tak Kan Kulepas Lagi
Kebahagiaanku Bersamanya


__ADS_3

Dirga membersihkan dirinya, setelah itu naik ke atas tempat tidur. Mengusap lembut rambut istrinya dan mengecup kening Niar dengan sangat mesra. Lagi-lagi, Dirga mendengar suara perut Niar yang berbunyi.


"Sayang, kamu lapar?" ucap lembut Dirga sambil mengusap lembut pipi Niar.


Merasa pipinya disentuh, perlahan Niar membuka matanya. Dilihatnya, Dirga sudah ada di hadapannya.


"Kamu gak makan?" Hanya gelengan kepala yang menjadi jawaban dari Niar.


"Sekarang makan yuk. Kamu mau dimasakin apa?" tanya Dirga.


Niar hanya terdiam. Ucapan mamah mertuanya masih menari-nari di kepalanya.


"Sayang," ucap lembut Dirga.


"Biar aku aja, Ay yang masak. Aku cuma mau mie rebus kok," sahut Niar seraya tersenyum.


Padahal dalam benaknya, dia ingin cumi pedas manis. Karena tadi pagi Niar meminta Mbok Sum untuk membeli cumi dan membersihkannya. Supaya nanti malam, Dirga bisa langsung memasaknya. Tapi, perkataan mamah mertuanya membuat dada Niar terasa sesak.


Manja. Satu kata yang membuat Niar sedikit tersinggung. Bukan tanpa sebab, Niar bukanlah anak yang manja. Niar pekerja keras. Hanya saja bersuamikan pengusaha kaya raya membuat Niar sedikit menjadi wanita pemalas. Karena Dirga memang melarangnya untuk melakukan aktifitas membersihkan rumah ataupun sekedar memasakan makanan untuknya. Dirga hanya ingin Niar selalu ada waktu untuknya, menemaninya dan memuaskannya di ranjang.


"Gak sehat, Yang, makan mie rebus untuk ibu hamil," larang Dirga.


"Sekali-kali gak apa-apa, Ay," sahutnya.


Dirga pun mengalah, dia membantu istrinya untuk turun dari tempat tidur. Menggandengnya hingga ke dapur.


"Kamu duduk aja, ya. Biar aku yang bikinin." Niar pun tersenyum dan mengangguk.


"Mau rasa apa?"


"Ayam bawang, tapi nanti kuahnya dikasih gula putih sedikit, ya, Ay."


"Siap Mamih," sahut Dirga.


Niar mengusap-usap perutnya yang masih rata melihat siaganya sang suami. Tidak mengenal lelah, dan selalu menuruti apa yang dimintanya.

__ADS_1


Dari lantai atas, ada seseorang yang menatapnya dengan tatapan tidak suka.


"Manja, lama-lama ngelunjak," gerutunya.


Mie untuk Niar pun sudah terhidang. Tak lupa, Dirga berikan sayuran, seafood, ayam dan juga telur. Agar asupan makanan untuk bayinya terpenuhi.


Dirga juga menyiapkan jeruk peras dingin untuk Niar. Hanya minuman buah itu yang masuk ke dalam mulut Niar.


"Makasih, Ay."


"Aku suapin, ya."


"Papih kamu adalah Ayah yang siaga, Nak." Dirga pun tersenyum mendengarnya. Kemudian mengecup singkat bibir Niar.


"Enak," puji Niar.


Tentu saja enak, mie instan kan sudah ada bumbunya. Sudah pasti enak. Mereka sedang tertawa dengan Dirga yang sedang menyuapi Niar.


"Kayak tuan putri aja," sindir Mamah Septi yang masuk ke dapur untuk mengambil minum.


"Lama-lama kamu gak punya harga diri di depan istri kamu. Harga diri kamu tuh udah diinjak-injak sama istri kamu," ujar Mamah Septi.


Wajah Dirga sudah memerah. Tapi, dia tidak mungkin marah kepada sang mamah di hadapan Niar. Dia lebih memilih untuk menenangkan Niar. Dirga tahu, bulir bening sudah membasahi wajah istrinya.


Ini alasan kamu belum makan dan tidak mau mengambil buah-buahan di dapur.


"Kita ke kamar, ya." Tanpa persetujuan Niar, Dirga menuntun Niar untuk ke kamarnya. Meninggalkan mamahnya seorang diri yang sedang mendengus kesal.


Setelah di dalam kamar, Dirga memeluk hangat tubuh Niar. Mengusap lembut punggungnya dan memberikan kecupan yang menenangkan.


"Jangan dengarkan apa kata orang. Meskipun itu Mamah aku sendiri. Yang harus kamu dengarkan itu, aku. Aku tulus mencintai kamu, dan aku ikhlas merawat kamu. Lelahku, tidak ada artinya dibandingkan perjuanganmu yang harus menghadapi calon bayi kita yang manja." Ucapan yang sangat tulus Dirga keluarkan dari mulutnya. Kehamilan Niar membawa pelajaran baru untuknya. Belajar memasak, belajar sabar dan belajar untuk mengerti keinginan istri dan anaknya.


"Kamu mau makan cumi?" Niar menatap ke arah suaminya. Dirga hanya tersenyum melihat pandangan Niar.


"Kamu gak akan bisa bohongi aku, Yang. Aku bikinin ya, nanti kalo udah selesai aku bawa ke kamar."

__ADS_1


Niar pun mengangguk, sebelum pergi ke dapur Dirga mengecup kening Niar terlebih dahulu.


"Tunggu di sini aja, ya." Niar mengangguk patuh.


Niar mengambil benda pipih miliknya di atas nakas. Dibukanya sosial media miliknya. Suaminya menge-tag akun miliknya. Di sana ada sebuah foto candid mereka berdua dengan saling tatap dan tersenyum bahagia.


Lima tahun bukan waktu yang singkat. Memisahkan hati yang masih saling terikat. Namun, cinta yang kuat membuat perpisahan itu kembali menjadi cerita yang menyenangkan. Kisah cinta yang manis dibumbui badai kehancuran dan berakhir dengan pernikahan. Begitulah JODOH. Jika, Tuhan telah menakdirkan kita bersama. Sejauh dam selama apapun kita berpisah pada akhirnya akan dipertemukan kembali. Seperti kisah kita ini. I love you so much my wife ~Niara Andhiny~


Senyum lebar pun tersungging di bibir merah cherry Niar. Dan dipostingan tersebut banyak yang berkomentar. Mereka hanya bilang hatinya sakit membaca postingan dari pria tampan dan kaya. Ada yang bilang juga patah hati berjamaah.


Kebahagiaan Niar berbanding terbalik dengan Dirga. Dirga sedang menatap tajam ke arah sang mamah. Raut kemarahan dan kebencian yang sedikit demi sedikit pudar, kini hadir kembali.


"Mau Mamah apa? Apa pantas seorang mertua berbicara seperti itu di hadapan menantunya? Apalagi menantunya sedang hamil," sentaknya.


"Tidak usah samakan kehamilan Mamah dulu dengan kehamilan Niar. Karena setiap orang itu berbeda-beda."


"Mau harga diri diinjek-injek, istri aku manja. Itu gak masalah untuk aku. Selagi aku masih bisa membahagiakan istri dan calon anakku. Apapun akan aku lakukan. Meskipun nyawaku adalah taruhannya."


"Kamu itu udah dibutakan oleh cinta, Dirga," ucap Mamah Septi.


"Iya, mataku memang sudah buta. Di mataku hanya ada Niar, istriku." timpalnya.


"Ingat ya, Mah. Kebahagiaan ku adalah bersama Niar. Dan hartaku adalah milikku sendiri bukan dari warisan Papah. Jadi, tidak usah ikut campur dalam rumah tanggaku. Satu hal lagi, jangan pernah menyakiti Niar dengan ucapan-ucapan tidak berkelas yang Mamah katakan." Dirga pun meninggalkan Mamah Nina di kamarnya seorang diri.


Dirga melangkahkan kakinya ke dapur. Di mana semua bahan telah Mbok Sum siapkan sedari siang. Ada sebuah kotak makan sedang yang berisi cumi serta bahan-bahannya yang lain untuk membuat cumi pedas manis. Itu semua Mbok Sum lakukan untuk mempermudah majikannya.


Setelah berkutat dengan wajah dan spatula. Masakan Dirga pun sudah tersaji. Tinggal menambahkan nasi. Dia pun membawanya ke dalam kamar. Niar menyambutnya dengan senyum penuh kebahagiaan. Dia pun merentangkan tangannya. Membuat Dirga semakin mempercepat langkahnya. Kemudian, meletakkan makanan itu di atas nakas. Dirga berhambur memeluk tubuh Niar.


"I love you more, Ay."


...----------------...


Mohon maaf, telat UP karena badan lagi kurang sehat. Tiba-tiba drop setelah buka puasa.


Semoga kalian terhibur ...

__ADS_1


__ADS_2