Tak Kan Kulepas Lagi

Tak Kan Kulepas Lagi
Cinta Yang Kuat


__ADS_3

"Sayang ...."


Seorang perempuan cantik berdiri di ambang pintu dengan air mata yang telah membasahi pipinya. Semua mata tertuju kepada sosok wanita yang tengah berjalan ke arah kedua mempelai pengantin.


Acara ijab kabul pun terhenti seketika. Bisik-bisik tamu undangan dan suasana yang mencekam sangat teras di dalam ruangan.


Plak!


Tamparan keras mendarat sempurna di pipi Jicko. "Tega kamu, pantas saja aku kamu kurung di apartment. Ternyata kamu mau menikah lagi," teriak sang wanita.


Para tamu undangan terlihat kaget mendengar ucapan dari wanita itu. "Bohong, Sayang. Ayah, Bunda, wanita ini berbohong," elak Jicko.


"Kamu bilang aku bohong. Kamu sudah lupa atau amnesia, hah? Kita baru saja menikah belum lama ini. Belum ada seminggu ini. Aku menyerahkan kesucian ku kepadamu, dan kamu juga telah menerima hadiah dari Papa aku," jelas si wanita.


Televisi yang tersedia di ruangan itu pum menyala. Satu buah video diputar entah oleh siapa. Di dalam video itu, sedang diadakan ijab kabul sepasang anak Adam dengan wajah yang sangat berbahagia. Hingga para saksi mengucapakan kata sah, dua insan itu terus saja melengkungkan senyum. Terlebih bulan madu mereka berdua amat sangat romantis.


Pak Khorun yang menyaksikan video itu hanya terdiam dan Bu Sari tak kuasa menahan tangis. Sedangkan Niar hanya menonton dengan tatapan datar dan tidak terbaca. Kedua orangtua Niar malu terhadap tamu undangan.


Ayah Niar dengan paksa menyeret Jicko keluar. Satu tamparan mendarat sempurna di pipinya. Bekas tamparan Wulan saja masih teramat sakit. Ditambah tamparan dari batal calon ayah mertua. Jicko sudah kalah telak.


Di dalam rumah Niar masih mematung di tempatnya. Semua orang menyangka jika, Niar syok karena batalnya pernikahan mereka. Namun, bukan itu yang Niar rasakan. Niar merasakan ada yang aneh dari kejadian hari ini.


"Nak ...."


Niar menatap ke arah sang ayah yang memanggilnya. Mata ayahnya menyiratkan akan penyesalan yang sangat mendalam.


"Nona Niar," panggil seorang pria berpakaian rapi.


Niar menatap pria itu, hanya seulas senyum yang pria itu berikan. "Bisa ikut saya," pinta si pria.


Niar menatap tajam wajah pria di depannya, dia pernah melihat wajah ini. Tapi, lupa di mana.


"Saya Kenan, Nona. Yang kemarin minta bantuan kepada Nona."


"Dirga?"

__ADS_1


Wajah Kenan berubah sendu, raut wajahnya menyiratkan kesedihan. "Dimana Dirga Pak Kenan?" teriak Niar.


"Nak, sabar," ucap Bu Sari.


"Nona ikut saya, dan kita akan bertemu dengan Pak Dirga."


Niar pun mengikuti Kenan dan kedua orangtua Niar pun turut serta dengan alasan kedua orangtuanya Niar takut jika, ini hanya tipu daya Kenan.


Selama perjalanan hanya keheningan yang tercipta. Berkali-kali Niar bertanya tentang Dirga, namun tak pernah ada jawaban dari mulut Kenan.


Mereka berhenti di salah satu rumah sakit besar di Malang. Mata Niar melebar dan dia menatap Kenan dengan tajam.


"Jangan bilang kalo ...."


"Mari kita masuk, Nona."


Niar dan kedua orangtuanya mengikuti langkah kaki Kenan. Semua mata tertuju kepada penampilan Niar, tapi tak Niar hiraukan.


Langkah Kenan terhenti disalah satu kamar VVIP. Dibukanya pintu kamar tersebut. Mata Niar melebar dengan sempurna dan air matanya terjatuh.


Kedua orangtua Niar hanya diam membeku melihat Dirga di depan mata mereka. Apa yang dikatakan Niar bukanlah halusinasi. Memang benar putrinya sudah bertemu dengan kekasih lamanya.


"Bangun, Ay, bangun," ucap Niar dengan berlinang air mata.


"Pak Dirga akan baik-baik saja, Nona. Beliau hanya terkena benturan ringan," balas Kenan.


"Bagaimana ini bisa terjadi, Pak?" tanya Bu Sari.


"Pak Dirga mengendarai kendaraan dengan kecepatan tinggi. Karena ada motor yang menyalip tak terduga, akhirnya Pak Dirga membanting stir dan menabrak pembatas jalan."


"Kenapa dia seperti itu?" tanya Niar.


"Karena Anda, Nona. Demi Anda beliau bekerja keras untuk menyelesaikan masalah kurang dari 24 jam. Dan setelah itu beliau langsung mencari tahu tentang calon suami Anda, Nona. Ternyata benar dugaan Pak Dirga, calon suami Anda telah menikah dengan mantan istri Pak Dirga."


"Ja-jadi, wanita yang tadi itu ...."

__ADS_1


"Iya, itu mantan istri Pak Dirga yang umur pernikahan mereka kurang dari 24 jam."


Bu Sari dan Pak Khorun membelalakkan matanya tak percaya mendengar ucapan Kenan. Namun, tidak ada kebohongan di mata Kenan.


"Setelah Pak Dirga berhasil mencari tahu tentang calon suami Anda, dia juga mengajak Nyonya Wulan untuk menghadiri pernikahan Anda dan suaminya. Hanya saja, saya yang ditugaskan untuk menjemput Nyonya Wulan dan Pak Dirga mengendarai mobilnya sendiri. Naasnya, celaka yang menimpanya."


"Ketika mendengar kabar itu, saya langsung menuju TKP. Wajah Pak Dirga sudah berlumuran darah namun, beliau masih sedikit sadar dan beliau hanya bilang, 'Tunjukkan kebenarannya untuk Niar ku' dan ternyata beliau menjaga barang bukti itu dengan segenap jiwa dan raganya. Dan dia menyuruh saya untuk terus melanjutkan perjalan saya ke acara pernikahan Anda. Beliau sangat mencintai Anda, Nona. Beliau tidak ingin Anda direbut oleh orang lain."


"Saya harap, Anda jangan pernah sakiti Pak Dirga. Sudah banyak yang Pak Dirga korbankan untuk Anda. Pergi dari rumah, diremehkan oleh orang lain hingga dis sukses seperti ini karena Anda, Nona. Beliau ingin memantaskan diri bersanding dengan Anda dengan usahanya sendiri dan tidak mau memakai embel-embel kedua orangtuanya."


Hati Niar menjerit dan air matanya luruh seketika hingga membasahi tangan Dirga yang dia genggam. Orangtua Niar membisu mendengar penjelasan Kenan. Bukan hanya putri mereka yang tersakiti hingga depresi, Dirga pun sama dan lebih memilih kabur dari rumahnya demi untuk mendapatkan Niar.


Tangan Dirga mulai bergerak pelan dan matanya mengerjap pelan. Senyuman manis melengkung dari bibir Dirga, Niar langsung memeluk tubuh Dirga dengan eratnya.


"Makasih, Ay," ucap Niar sambil terisak.


Dirga menghapus jejak air mata di pipi Niar. "Aku sudah berjanji kepada diriku sendiri bahwa aku akan memperjuangkan cinta kita. Bagaimana pun caranya," ujar Dirga.


"Makasih Ay," lirih Niar kembali.


Mata Dirga terasa kabur dan kepalanya sakit, rintihan keluar begitu saja dari mulut Dirga. Niar sangat panik dan Kenan pun langsung memanggilkan dokter.


"Pasien mengalami cedera kepala sedang, salah satu gejalanya yakni sakit kepala dan pusing. Untuk lebih jelas lagi kita akan melakukan Rontgen, CT scan dan MRI. Dan untuk pereda nyeri sementara saya kasih obat anti kejang," jelas dokter.


Setelah selesai melakuka pemeriksan dan penjelasan, dokter pun meninggalkan ruangan Dirga. "Masih sakit?" tanya Niar yang sedang mengusap kepala Dirga.


Dirga meraih tangan Niar lalu mengecupnya lembut. "Jangan tinggalin aku," ucap Dirga.


"Tidak akan, Ay. Aku tidak akan pernah meninggalkan kamu," balas Niar.


Kedua orangtua Niar hanya saling tatap. Cinta Dirga dan Niar sangatlah kuat. Meskipun jarak dan waktu telah memisahkan namun, cinta mereka tidak berubah dan mereka tidak bisa berpaling ke hati yang lain.


Di tempat lain, seseorang mengerang kesal. "Aku tidak akan pernah melepaskanmu," teriaknya.


***

__ADS_1


Happy reading ...


__ADS_2