
"Gak usah sok manis lu, wanita murahan!"
Semua mata yang berada di ruang tamu pun menoleh ke asal suara. Wulan yang baru saja datang dengan kedua orangtuanya.
Entah kenapa wajah Niar berubah sendu, Dirga yang melihat perubahan wajah kekasihnya langsung menggenggam tangannya dan menariknya ke dalam pelukannya.
"Ada aku, Sayang." Hanya tiga kata yang keluar dari mulut Dirga. Namun, mampu membuat hati Niar cukup tenang.
"Tante." Wulan langsung memeluk tubuh Septi namun, Septi hanya terdiam. Tak membalas pelukan Wulan.
"Maksud kamu apa menyebut Niar wanita murahan?" tanya Septi kepada Wulan.
"Dia adalah wanita yang telah merebut suami Wulan," sahut Irma, ibunda Wulan.
Mata Septi pun melebar mendengar penuturan mantan besannya. Niar memeluk erat pinggang Dirga dan hanya bisa memejamkan matanya. Dirga hanya akan menyaksikan apa yang akàn keluarga Wulan perbuat.
"Dia juga sudah mengguna-guna anak Tante, hingga Dirga tidak mau dengan wanita lain," sinis Wulan.
Deri merasa tidak suka dengan ucapan Irma dan juga Wulan. Mereka terlalu menyudutkan Niar. Dan Deri melihat ke arah putranya dan juga Niar. Dirga selalu menjadi tameng untuk Niar. Deri sangat melihat betapa besar cinta putranya untuk Niar. Begitupun Niar yang juga mencintai Dirga.
"Septi, lebih baik kita menikahkan kembali anak-anak kita," ujar Irma.
Niar tersentak mendengar ucapan Irma. Dia mendongakkan kepala melihat pada Dirga. Dirga hanya menggelengkan kepala lalu mengecup kening Niar. Sikap Dirga tak luput dari penglihatan papahnya.
"Perusahaan kita bisa akan lebih maju lagi," tambah Edwin, ayah Wulan.
"Kalian masih penasaran dengan putraku?" tanya Deri.
Kedua orangtua Wulan hanya diam, tak bisa menjawab. "Kalian ingin pernikahan bisnis terjadi lagi?" timpal Deri lagi.
"Tentu, kalian pun tidak akan menolak kan? Perusahaan kalian akan menjadi perusahaan terbesar di negeri ini," jelas Edwin.
Dirga hanya berdecak kesal, Wulan menatap Dirga dan juga Niar dengan tatapan kesal. Dengan sengajanya Dirga terus mengecup ujung kepala Niar dan tangan Niar pun sangat erat memeluk Dirga.
"Apa keuntungannya buat saya jika saya menikahi putri kalian?" Kali ini Dirga bersuara.
__ADS_1
"Putri kalian masih berstatus istri Jicko yang tak lain adalah mantan calon suami Niar, CALON ISTRI SAYA." Mata Septi dan Deri pun menatap lekat ke arah Dirga. Dirga masih anteng duduk seraya mendekap tubuh Niar.
"Dan saya tidak suka BARANG BEKAS," tegasnya.
Kedua orangtua Wulan pun terdiam tidak menjawab ucapan Dirga. Wajah Wulan sudah merah padam, dia merasa dipermalukan di depan orangtua Dirga.
Wulan mendekat ke arah Dirga dan ingin menarik rambut Niar. "Berani kamu sentuh Niar, saya pastikan kamu ikut dengan suamimu masuk ke dalam jeruji besi," ancam Dirga.
Tangan Wulan pun mengapung di udara tak bisa meraih apapun. "Asal kalian semua tahu, Wulan mencoba untuk membakar cafe Niar di Malang. Dan dia juga mendukung Jicko, suaminya untuk memperkosa Niar."
Semua orang yang berada di sana syok dengan ucapan Dirga. "Ti-tidak mungkin," sangkal Irma.
"Apanya yang tidak mungkin? Calon istri saya pun hampir saja kehilangan mahkotanya dan juga banyak luka di wajah dan juga tangannya. Apa kalian perlu bukti?" Tantang Dirga.
Semuanya terdiam, wajah Dirga amat sangat serius. Membuat kegarangannya terlihat jelas.
"Saya masih memberikan toleransi kepada Wulan supaya tidak dijebloskan ke penjara. Karena saya masih menghargai kalian, MANTAN MERTUA saya."
"Tapi, apa yang kalian lakukan? Kalian malah menghasut orangtuanya saya. Dan asal kalian tahu, walaupun orangtua saya terhasut tapi, saya tidak akan mengurungkan niat saya untuk menikahi Niar," tegasnya.
Dirga bangkit dari duduknya, diikuti oleh Niar. "Jika Mamah dan Papah merestui kami, datanglah ke apartemenku bersama sopir ku yang aku tugaskan di sini sampai jam sembilan malam nanti. Tapi, jika tidak merestui pun aku tidak akan memaksa. Aku akan tetap melamar Niar dan menikahinya meskipun tanpa restu kalian." Ucapan Dirga mampu menampar keras hati Septi dan Deri.
Dirga dan Niar meninggalkan rumah itu dan menuju ke apartment milik Dirga. Tak satupun orang yang tahu apartment yang Dirga tinggali. Hanya Kenan yang tahu, dan dia pun menutup mulut rapat jika orang-orang menanyakan tentang Dirga.
Tangan Niar masih memeluk erat tangan Dirga. Dia membenamkan wajahnya pada dada Dirga. "Gak usah takut, Sayang. Aku tidak main-main dengan perkataan ku tadi kepada Wulan dan keluarganya," ucap Dirga.
"Aku takut, kalo kedua orangtuamu tidak merestui kita gimana?"
"Aku akan tetap menikahi mu, tidak penting restu mereka. Sejak lima tahun yang lalu aku sudah menganggap diriku sebatang kara," terangnya.
"Bagaimana dengan Bunda dan Ayah?"
"Aku akan berbicara jujur kepada mereka. Kamu jangan khawatir," imbuh Dirga.
Sesampainya di apartment, Niar memandang takjub ke unit apartment yang Dirga isi. Besar dan juga private.
__ADS_1
"Kamu tinggal pilih aja, setelah menikah mau tinggal di sini atau di rumah kita?"
"Ru-rumah?"
"Iya, ada satu unit rumah yang sudah aku persiapkan untuk kita tinggali bersama anak-anak kita nanti," ucapnya sambil memeluk tubuh Niar dari belakang.
Niar membalikkan badannya, menatap Dirga dengan penuh cinta. "Aku sangat bangga padamu, Ay. Kamu laki-laki hebat dan pekerja keras. Terimakasih atas perjuangan dan pengorbanan mu selama ini," ucap tulus Niar.
Dirga hanya tersenyum lalu menarik dagu Niar dan mengecup manisnya bibir Niar. Pagutan bibir itu penuh dengan cinta. Hingga bel berbunyi membuat mereka melepaskan pagutan bibir yang sedang terjadi. Dirga mengambil tisue mengelap lembut bibir Niar. "Love you," ucapnya sebelum keluar kamar untuk membukakan pintu.
Mata Dirga melebar ketika dia melihat Papa, Mamah dan juga Nindy datang ke unit apartmentnya.
"Ay, siapa?" tanya Niar yang baru keluar dari kamar.
Septi langsung memeluk tubuh Niar, dan Deri pun memeluk tubuh Dirga. Nindy hanya tersenyum melihatnya.
"Maafkan Tante, Niar. Maafkan Tante," ucap Septi. Niar pun membalas pelukan hangat dari Septi.
"Maafkan Papah, Nak. Kami merestui hubungan kamu dan juga Niar. Kami tahu, kalian tidak bisa dipisahkan."
Mendengar ucapan sang papah Dirga pun membalas pelukan hangat papahnya dan tak terasa air matanya pun menetes. Jujur, Dirga juga merindukan pelukan hangat Deri. Pria yang sangat dia banggakan dalam hidupnya.
Mereka sudah duduk di sofa, Dirga terus mendekap tubuh Niar membuat kedua orangtua Dirga tersenyum bahagia. Mereka merasakan Dirga putra mereka telah kembali lagi.
"Kapan kamu akan melamar Niar?" tanya sang papah.
"Besok."
"Besok?" ucap Septi dan juga Deri berbarengan.
****
Maap, up-nya telat karena badanku lelah. Pagi ngisi karya Bang Duda siang ngisi karya Elthasya. Lanjut nge-DJ dan baru sempet nulis Dirga dan Niar.
Jangan minta up lagi ya, ini udah 1000 kata. Jarang-jarang loh aku bikin part serebu kata di karya ini.
__ADS_1
Happy reading ....