
"Kapan kamu akan mempertemukan Nindy?"
Mata Dirga melebar sempurna mendengar ucapan Deri. Dia sangat terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Deri. Dirga hanya terdiam. Dia takut itu hanya halusinasinya saja.
"Kapan kamu akan membawa Nindy?" tanya Deri lagi.
Lagi-lagi Dirga masih membisu. Dia belum percaya dengan apa yang dikatakan oleh sang ayah. Dirga berdecak kesal. Dia melempar pulpen ke arah tubuh Dirga hingga Dirga sedikit terlonjak.
"Pa-pah gak bercanda 'kan?" sergah Dirga. Dia takut ayahnya hanya memberi harapan palsu. Padahal dia sudah sangat antusias.
"Sejak kapan Papah kamu ini suka bercanda?" balas Deri dengan tatapan tajam.
Deri adalah orang yang tidak Suak bercanda ketika ada orang yang berbicara serius dengannya. Namun, Dirga masih merasa takut dan ragu.
"Apa benar Papah mengijinkan? Kenapa dengan mudahnya?" Begitulah batinnya.
Deri terlihat sangat kesal ketika melihat putranya kembali diam tdan terbengong.
"Kapan kamu dan Nindy bertemu Mamah kalian?" tanya Deri dengan sorot mata meminta jawaban.
"Se-secepatnya," jawab Dirga terbata.
Dirga ingin tahu respon dari ayahnya. Ternyata sang ayah mengangguk pelan dengan seulas senyum. Sungguh hati Dirga merasa lega.
__ADS_1
"Sampaikan salam Papah kepada Mamah." Dirga mengangguk dengan mata yang sudah berlari. Sungguh hatinya bahagia sekali. Tidak ada penolakan ataupun negosiasi yang alot dengan sang ayah. Kali ini, Dirga hanya bisa mengangguk. Jika, dia tidak malu ingin rasanya dia menangis di hadapan sang ayah.
Setelah semuanya selesai dan ijin sudah didapat. Dirga pulang dengan hati yang sangat bahagia. Dia kira akan sulit untuk bernegosiasi dengan sang ayah. Nyatanya, ayahnya malah tidak mempermasalahkan semuanya. Haru bahagia yang Dirga rasakan. Dia benar-benar tidak menyangka.
Ketika dia tiba di rumah, Dirga segera memeluk tubuh sang istri dengan berlinang air mata. Niar sangat terkejut dengan ucapan sang suami.
"Kenapa Papih nangis?" tanya Niar. "Kalau Papah gak ngijinin nanti kita
usaha lagi." Niar sudah mengusap lembut punggung Dirga. Namun, Dirga masih tetap terisak. Isakannya malah semakin keras. Niar merasa sangat kasihan kepada Dirga, yang dia bisa lakukan hanya memeluk tubuh Dirga dan menguatkannya.
Tak lama Dirga mengurai pelukannya dan tersenyum ke arah sang istri tercinta.
"Papah ngijinin."
"Papah malah terlihat sangat bahagia," lanjutnya lagi. Senyum Niar semakin melebar.
"Alhamdulillah. Mamih udah takut duluan, takut Papah marah dengan rencana kita." Dirga menggeleng. Dia membalas erat pelukan sang istri.
"Makasih ya, sudah maafin Mamah," ucap tulus Dirga.
"Tidak perlu berterima kasih. Manusia seharusnya bisa saling memaafkan. Tuhan saja maha pemaaf," tukasnya. Dirga tersenyum mendengar ucapan sang istri tercinta.
"
__ADS_1
"Mamih sudan memaafkan Mamah dari sebelum Arshen lahir. Mamih ingat ucapan Bunda, ketika akan melahirkan hilangkan semuanya. Semua rasa benci dan dendam hilangkan. Mamih harus belajar memaafkan setiap kesalahan orang lain, supaya jalan Arshen lahir lancar."
Dirga semakin sayang dan cinta kepada istrinya ini. Dia selalu menuruti perintah ibunya selagi perintah itu untuk kebaikannya. Niar adalah anak yang sangat penurut. Tidak pernah membangkang ucapan sang ibu. Niar berpegang teguh bahwa surga berada di bawah telapak kaki ibu.
"Papih sangat beruntung memiliki istri seperti Mamih." Kecupan hangat Dirga berikan di kening Niar. Niar hanya salat tersenyum.
Di kediaman Deri, pria paruh baya itu tersenyum manis. Hatinya merasa sangat lega, yang dia takutkan ternyata tidak benar. Sesungguhnya anak-anaknya tidak membenci ibu mereka. Hanya rasa kecewa yang perlahan hilang. Sekarang, mereka malah merindukan ibunya. Wanita yang sudah merawat mereka dari semenjak mereka kecil. Kedua anak Deri adalah anak-anak luar biasa, mampu memaafkan kesalahan sang ibu dengan tulus ikhlas.
"Setiap orang pernah melakukan kesalahan, Pah. Aku sudah memaafkan kesalahan Mamah. Istri aku juga sudah memaafkan Mamah. Jangan selalu melihat seseorang itu dari sisi buruknya. Sisi buruk setitik diingat selalu, tetapi kebaikan yang pernah diukirkan tidak pernah diingat. Jangan seperti itu, Pah. Orang baik memiliki masa lalu dan orang jahat memiliki masa depan."
Penjelasan Dirga membuat hati Deri benar-benar bahagia. Putra yang sangat dia sayangi sudah sangat dewasa. Putra yang selalu dia bawa ke kantor hingga menjadi pergunjingan karyawan lain kini menjadi anak kebanggaannya. Meskipun, Dirga bukan darah dagingnya. Dari didikannya lah Dirga tumbuh menjadi anak yang hebat. Deri sangat bangga kepada putra pertamanya itu.
Anak yang dia temukan di dalam sebuah kardus tak jauh dari rumahnya. Anak yang sudah membiru karena kedinginan. Anak yang membawa rezeki yang sangat banyak untuknya. Tidak ada alasan untuk Deri tidak menyayangi Dirga. Dirga adalah alasannya untuk bangkit dari setiap keterpurukan yang ada. Dirga adalah sumber energi untuknya.
"Pa-pah."
Kata itu yang masih Deri sampai sekarang. Anak yang baru bisa merangkak sudah bisa memanggilnya dengan sebutan Papah. Padahal, dia mengajarkan Dirga untuk memanggilnya Papih, tetapi Dirga kecil malah memanggilnya dengan sebutan Papah. Rasa haru bercampur bahagia jadi satu.
"Makasih, Nak. Kamu selalu menjadi pelipur segala lara di hati Papah. Kamu adalah anugerah Tuhan yang dititipkan Tuhan kepada Papah. Tanpa kamu, hidup Papah tidak akan seperti ini. Tanpa kamu, perusahaan Papah tidak akan sebesar ini. Makasih, Dirga Anggara," ucap Deri dengan suara yang bergetar. Dia berbicara dengan menatap foto sang putra yang tengah tersenyum bahagia di hari pernikahannya dengan Niar.
"Papah juga yakin, Mamah Septi sangat menyayangi kamu dengan tulus."
Deri selalu berdoa agar Septi baik-baik di sana. Meskipun mereka sudah tidak bersama, ada anak-anak yang akan mengikat mereka berdua lagi.
__ADS_1