Tak Kan Kulepas Lagi

Tak Kan Kulepas Lagi
Malu


__ADS_3

Niar terkekeh jika mengingat kejahilan yang dia lakukan kepada Dirga.


"Jahat tau kamu, Yang. Kamu hampir buat aku mati," ucap Dirga dengan nada sedih.


"Lebay," cibir Niar.


"Cih, tapi aku bisa balas perbuatan kamu, kan," ujar Dirga membanggakan dirinya.


Tatapan kesal yang Niar berikan. Bagaimana tidak, itu adalah kenangan yang sangat memalukan untuk Niar.


"Norak tau, Ay," delik Niar. Dirga memeluk tubuh Niar dan mulai mengenang hal apa yang membuat Niar malu setengah mati.


#flashback on.


Sakitnya Dirga menimbulkan kebahagiaan untuknya. Kenapa bisa begitu? Karena dia bisa dekat dengan seorang Niara uang juteknya tiada tanding. Dari mengobrol bersama, ke kantin bersama hingga Dirga mulai berani mengantarkan Niar pulang.


Awalnya Dirga ragu, tapi dia tetap berusaha.


Yang penting mencoba dulu. Hasilnya urusan belakangan. Begitulah moto hidup Dirga Anggara semasa sekolah.


"Ni, nanti malam aku boleh main ke rumah gak?"


Deg.


Jantung Niar terasa berhenti berdetak. Niar memaki Dirga dalam hatinya. Sudah diberi hati minta jantung, begitulah batin Niar.


"Aku mau pergi malam ini sama keluargaku." Pupus sudah harapan Dirga.


Ketika malam menjelang, dengan hati penuh kerinduan Dirga datang ke rumah Niar. Awalnya dia hanya memperhatikan rumah Niar dari jarak beberapa meter. Tidak ada aktifitas yang terlihat di rumah itu.


"Apa benar Niar pergi?" gumam Dirga.


Baru saja Dirga akan meninggalkan rumah Niar. Wanita paruh baya yang masih terlihat cantik keluar dari rumahnya dengan membawa kantong keresek berisi sampah. Dirga segera melompat dari motornya dan menyapa wanita itu yang tak lain adalah bunda dari Niar.


"Tante." Sapaan Dirga membuat Bu Sari memegang dadanya karena terkejut.


"Kamu tuh udah kayak medi aja. Nongol gak tahu tempat," omel Bu Sari. Dirga hanya cekikikan mendengar omelan bakal mertuanya ini. Sungguh percaya diri sekali Dirga pada waktu itu.


"Tante, Tante belum jawab pertanyaan aku loh. Niar ada gak?" tanya Dirga lagi.


"Ada, lagi nonton tv."


Dirga mendengus kesal karena Niar mencoba untuk membohonginya. "Ajak main gih sesekali. Biar dia tahu malam Minggu." Lampu hijau untuk Dirga. Sehingga terukir senyuman yang sangat menawan di wajahnya.

__ADS_1


"Aku boleh masuk, dong," ucap Dirga.


"Masuk aja, gak ada yang larang. Wong kamu itu cuma teman Niar," sahut Bu Sari santai.


"Eh?"


Dirga segera menjabat tangan Bu Sari. Tak peduli tangannya bau sampah atau apalah. "Kenalin calon pacar Niar. Insha Allah besok jadian."


"Hahahaha, percaya diri sekali kamu," ujar Bu Sari sambil menepuk pundak Dirga.


Semangat 45 Dirga berubah menjadi semangat cuma lima. Bukannya mendukung, malah dijatuhkan oleh calon mertua.


"Kenapa diam di situ? Katanya mau jadiin Niar pacar," goda Bu Sari.


Dirga pun mengusap dadanya, harus banyak bersabar menghadapi ibu dari Niar. Dirga berjalan di belakang Bu Sari.


"Ni, ada teman kamu."


"Jangan bohong, Bun. Mana ada teman aku yang datang ke sini malam-malam. Mereka sibuk malam mingguan."


"Makanya ayo malam mingguan sama aku." Suara yang Niar kenali. Dengan cepat Niar melihat ke asal suara. Cengiran kuda terpampang nyata di wajah Dirga.


"Ngapain kamu ke sini?"


"Anak perawan gak boleh judes-judes. Jauh jodoh loh," imbuh Bu Sari.


Niar melemparkan bantal ke arah wajah Dirga hingga dia mengaduh. "Rasain." Niar bergegas ke kamarnya untuk berganti celana.


"Ngapain sih dia ke sini?" gerutu Niar.


Tak lama kemudian, Niar bergabung dengan sang bunda dan Dirga di ruang televisi. "Udah siap?" tanya Dirga.


Niar hanya terdiam mendengar ucapan Dirga. Dan dia malah mengacuhkan pertanyaan Dirga yang sama sekali tidak dia mengerti.


"Kok malah duduk, ayo," ajak Dirga yang kini sudah mengulurkan tangan kepada Niar.


"Apaan sih!" Bukannya menyambut uluran tangan Dirga, Niar malah memukul telapak tangan Dirga.


"Bunda yang nyuruh Dirga untuk ajak kamu malam mingguan. Biar gak bulukan," timpal Bu Sari.


Dengan cepat dan sedikit memaksa, Dirga menarik tangan Niar. "Tante, aku ajak anaknya main dulu, ya. Pulangnya nanti aku bawain martabak," pamit Dirga dan disambut dengan acungan ibu jari oleh Bu Sari.


"Cepetan naik." Dirga sudah sangat antusias sedangkan Niar masih mematung di tempatnya.

__ADS_1


"Aku ambil jaket dulu." Baru saja Niar akan berbalik arah, Dirga sudah terlebih dahulu menarik tangan Niar. Tidak sengaja bibir mereka pun beradu.


Hati keduanya bergemuruh seakan memberikan sinyal masing-masing.


"Kelamaan, kamu pake jaket aku, aja," kata Dirga dengan ucapan sangat lembut. Dan memakaikan jaketnya ke tubuh Niar.


"Terus kamu?" tanya Niar yang masih berdiri di samping motor Dirga. Sedangkan Dirga sudah duduk manis di atas jok motor.


"Kamu naik dulu," pinta Dirga. Niar pun mengikuti ucapan Dirga.


Dengan lembut, Dirga menarik kedua tangan Niar agar melingkar di pinggangnya. "Aku gak akan kedinginan selama tangan kamu memeluk aku dari belakang."


Wajah Niar memerah seketika mendengar gombalan dari Dirga. Dan Dirga hanya tersenyum melihat wajah Niar dari kaca spion.


Malam Minggu pertama antara Dirga dan Niar. Hanya keheningan yang ada dengan tangan Niar yang semakin erat memeluk pinggang Dirga. Seakan Niar pun merasakan kenyamanan jika sedang bersama Dirga. Dan yang membuat Dirga aneh, Niar tidak banyak bertanya dan protes. Meskipun Dirga hanya berkeliling jalan tanpa adanya tujuan. Dirga hanya menikmati pelukan erat tangan perempuan yang kini dia cintai.


Hari Senin tiba, semua siswa wajib mengikuti upacara bendera. Begitu juga Dirga dan Niar. Setelah upacara selesai, para siswa tidak diperbolehkan untuk masuk ke dalam kelas. Karena akan ada pengumuman. Begitulah yang disampaikan oleh guru bimbingan konseling.


Bukan hanya para siswa yang dilarang masuk, para guru pun belum diperbolehkan meninggalkan lapangan. Hingga seroang siswa dengan beraninya mengangkat microphone.


"Maaf sebelumnya, saya mengganggu kegiatan belajar mengajar sebentar. Saya ingin meminta waktu kalian sepuluh menit saja."


"Hari ini, di mana saya ingin menyampaikan sesuatu yang penting kepada salah satu siswi dari sekolah ini. Bagi yang namanya saya panggil, harap maju."


Para guru dan murid yang lain hanya menatap aneh ke arah siswa tersebut. Tetapi, ada juga yang bangga pada siswa itu. Berani, satu kata untuknya.


"Niara Andhiny." Sontak mata Niar melebar. Dan murid yang mengenal Niar langsung menatap ke arahnya.


"Cepet ke depan, panas nih," titah Bila.


Hingga teriakan seorang siswa membuat Niar akhirnya maju ke depan. Niar berada di tengah-tengah lapangan ditonton semua warga sekolah.


Tiba-tiba, siswa itu bersimpuh di hadapan Niar dan mengeluarkan kotak kecil berwarna merah.


"Niara Andhiny, sudah cukup lama aku memendam rasa ini sendirian. Pada akhirnya aku yakin dengan sebuah keputusan. Mengungkapkan isi hatiku di depan teman-teman dan para guru-guru di sekolah ini."


"Niara, apa kamu mau menjadi kekasih Dirga Anggara?"


Perempuan mana yang tidak malu mendapatkan sebuah ungkapan cinta yang harusnya dilakukan secara romantis malah terlihat miris. Malu, satu kata yang Niar rasakan pada waktu itu. Apalagi sorakan demi sorakan yang Niar dapatkan. Dan pada akhirnya. Niat tidak bisa membohongi perasaan. Niar juga mencintai Dirga.


#flashback off.


"Malu banget, Ay. Malu," ucap Niar yang sudah menenggelamkan wajahnya ke dada bidang Dirga.

__ADS_1


...****************...


Kangen gak nih? Komen dong ...


__ADS_2