Tak Kan Kulepas Lagi

Tak Kan Kulepas Lagi
Merah


__ADS_3

Dirga dan Niar menjalani hari-hari dengan sangat bahagia. Apalagi mereka berdua sudah pindah ke hunian mewah yang Dirga belikan untuk Niar. Rumah yang begitu luas tapi, hanya dihuni oleh dua orang.


"Ay, kalo kamu kerja rumah ini sepi banget loh. Aku bosen sendirian di sini," imbuhnya


"Kamu bisa ke kantor Sayang kalo bosan, atau juga pergi jalan-jalan," ucap Dirga.


Niar tidak menjawab, dia masih fokus kepada kancing kemeja suaminya dan juga dasi Dirga.


"Jangan cemberut dong." Dirga langsung mengecup bibir merah Cherry milik Niar.


"Cepat pulang."


"Iya, Sayang." Mereka turun ke bawah untuk sarapan. Setelah sarapan Niar mengantarkan Dirga sampai ke teras depan.


"Aku berangkat, ya." Dirga mengecup kening Niar sangat dalam. Dan Niar mencium tangan Dirga.


Setelah kepergian Dirga rumah ini sangat sepi, Niar hanya berada di dalam kamar. Karena dia tidak ingin keluar jika seorang diri.


Sore pun tiba, Dirga sudah kembali ke rumahnya. Namun, di ruang depan nampak sepi.


"Bi, istriku di mana?" tanyanya kepada pembantu.


"Nyonya di kamarnya terus Tuan, seharian ini Nyonya tidak turun ke bawah. Melewati makan siang juga," jelasnya.


Dirga langsung naik ke atas, dia melihat Niar sedang tidur meringkuk layaknya orang menhan sakit.


"Sayang," ucap Dirga seraya membelai pipi Niar.


Niar mencoba untuk bangun, dengan memegangi perutnya. "Kamu kenapa?" tanya Dirga sangat panik.


"Perut aku sakit, Ay. Biasa kalo lagi dapet suka kayak gini."

__ADS_1


"Mau ke dokter?" Niar menggeleng. "Nanti juga sembuh."


Dirga membersihkan tubuhnya dulu. Lalu menghampiri Niar di atas tempat tidur.


"Masih sakit?" Tangan Dirga sudah menelusup ke perut Niar.


"Boleh minta tolong gak, Ay. Masukin air agak panas ke dalam botol." Dirga pun mengangguk.


Tak lama dia membawa botol berisi air panas, ramuan pereda nyeri haid dan juga buah-buahan.


Niar meletakkan botol itu di perutnya yang sakit. Sedangkan Dirga menyuapi Niar buah-buahan yang dia bawa.


"Tadinya aku mau ngajak kamu honeymoon minggu ini. Tapi, kamu lagi merah begitu kita undur aja, ya." Niar pun mengangguk.


"Aku ingin setelah honeymoon di perut kamu tumbuh benih aku," Niar pun tersenyum lalu mengecup singkat bibir Dirga.


"Kata orang kalo habis haid itulah masa-masa subur wanita. Siapa tahu usaha kita membuahkan hasil," tutur Niar.


"Kata Bibi kamu belum makan dari siang. Makan dulu, yuk," ajak Dirga.


"Aku ingin makan yang pedas-pedas Ay."


"Mau makan apa?" tanya Dirga.


"Ponselmu," pinta Niar.


Dirga menyerahkan ponselnya, jari lihai terlihat menscroll layar. Dirga membiarkannya saja. Setelsh selesai Niar pun memberikan ponselnya kepada Dirga.


"Kita tunggu di bawah, ya." Niar pun setuju. Tak lupa dia mencepol rambutnya. Ya, inilah kebiasaan Niar jika di rumah.


Hot pants dan juga kaos yang sedikit longgar adalah baju kebesarannya. Bagaimana Dirga tidak betah di rumah jika setiap hari selalu melihat keindahan tubuh istrinya. Dirga hanya tersenyum tipis ketika melihat tanda cinta yang hampir memenuhi leher istrinya.

__ADS_1


"Gak usah senyum-senyum Ay, kebuasan kamu meninggalkan jejak yang mengerikan di leher aku." Dirga pun tertawa dan memeluk tubuh istrinya dari samping.


"Abisnya kamu selalu memberikan servis memuaskan, makanya aku kasih hadiah itu."


"Tapi kamu harus puasa dulu, selama seminggu ini," goda Niar.


"Masih ada ini kamu yang bisa memuaskan kamu," ujar Dirga sambil memegang bibir Niar.


"Ay," teriak Niar. Dirga pun tertawa.


Mereka sudah berada di ruang keluarga. Mereka sedang menonton drama Korea kesukaan Niar. Sedangkan Niar sedang menyuapi bayi gedenya, Dirga sangatlah manja jika di rumah. Apalagi, jika keinginan Niar sudah dipenuhi. Pasti kemanjaannya berlipat ganda.


Bibi membawakan beberapa bungkusan ke ruang keluarga. Itu semua pesanan Niar. Dirga sudah tidak heran, karena istrinya memang doyan makan. Apalagi makan makanan pedas.


Setelah selesai menyuapi Dirga, Niar mengambil alat makan ke dapur. Dan menuangkan apa saja yang dia pesan.


"Yang, itu merah semua loh. Gak panas apa perut kamu."


"Gak pedas kok, Ay. Mau?" Dirga dengan cepat menggelengkan kepala.


Melihat cara makan Niar masih sama dengan dulu. Apa yang Niar makan terlihat sangat enak. Dirga mengelap ujung bibir Niar karena ada saus yang menempel.


Niar pun tersenyum, lalu mengecup singkat bibir Dirga. "Pedes Yang," Niar pun tertawa karena Dirga langsung mengusap bibirnya yang terasa panaa. Dirga tidak suka makan-makanan pedas.


Ada lengkungan senyum di bibir Bibi pembantu, melihat Dirga yang sangat pengertian dan juga perhatian bersanding dengan Niar yang sangat penurut dan juga tidak suka jalan seorang diri. Meskipun, semua kartu yang jumlah nolnya tak terhingga sudah ada di tanganNiar tapi, tidak akan pernah dia gunakan. Dia akan menggunakannya ketika dia ingin membeli sesuatu itu pun harus jalan berdua dengan Dirga.


***


Pada kangen gak sama Dirga dan Niar. Maaf ya baru bisa isi bab karya ini lagi. Lagi sibuk ngejar target di karya yang lain.


Kalo banyak yang kangen aku akan usahakan up tiap hari, kalo gak ada ya sudah ...

__ADS_1


Happy reading ....


__ADS_2