Tak Kan Kulepas Lagi

Tak Kan Kulepas Lagi
Temu Kangen


__ADS_3

Dirga yang baru saja tiba di rumah disambut hangat oleh mertuanya. Bu Sari tidak memperbolehkan Niar dan putranya menemui Dirga. Bagaimana pun Dirga baru sampai. Bu Sari tidak ingin Arshen ketakutan.


Dirga menuruti perintah Bu Dari begitu juga dengan Niar. Maklum, Arshen adalah anak pertama. Mereka harus banyak belajar dari Bu Sari. Beliau lebih berpengalaman dari Dirga dan Niar.


Selang setengah jam barulah Bu Sari mengijinkan Dirga untuk masuk ke dalam kamar.


"Papih!" Dirga berhambur memeluk tubuh Niar. Arshen yang tengah terlelap, kini malah terbangun. Seakan dia mengerti akan kedatangan sang ayah.


"Lama banget," keluh Niar.


Dirga tertawa dan mengusap lembut puncak kepala Niar. "Tiga hari doang, Sayang."


Wajah Niat merengut kesal. Tiga hari bagai tiga Minggu baginya. Apalagi Arshen yang tak mau terlelap ketika malam tiba. Biasa tidur di gendongan sang ayah, tiga malam kemarin ayahnya tidak ada. Sungguh membuat Niar kewalahan.


"Mata panda Mamih," keluhnya.


"Setelah empat puluh hari, Papih dan Arshen akan menemani Mamih perawatan."

__ADS_1


Niar pun tertawa mendengar ucapan sang suami. Tangannya terus melingkar di pinggang sang suami.


"Jangan bikin Papih pengen dong, Sayang. Mamih 'kan masih berdarah-darah," tukasnya.


Niar tertawa mendengar ucapan dari Dirga. Suara tangisan Arshen terdengar. Dirga segera menghampiri putranya.


"Anak Papih jangan nangis dong."


Kalimat yang mampu membuat Arshen berhenti menangis. Dia malah tertawa ke arah Dirga.


"Ya ampun, ganteng sekali anak Papih." Arshen malah tertawa.


"Kenapa nakal, jagoan Papih." Dirga mencium gemas pipi Arshen.


Niar keluar dari kamarnya. Dia akan membuatkan kopi untuk Dirga. Dirga selalu mengeluh karena kopi pun harus dia buat sendiri. Niar tidak ingin suaminya merasa diabaikan. Apalagi dia sadar diri, Niar sudah tidak secantik dulu. Bobot tubuhnya yang melonjak membuat Niar terlebih chubby. Dirga malah senang akan istrinya seperti itu. Akan tetapi. berbeda dengannya.


Pikiran jelek menggelayuti isi kepala Niar. Di luaran sana pasti banyak wanita yang cantik. Dia takut posisinya tergantikan oleh wanita yang senang menjadi penyebab retaknya rumah tangga seseorang.

__ADS_1


Niar membawa secangkir kopi panas ke dalam kamar. Dirga menoleh dan tersenyum. Tak lama dahinya mengernyit ketika istrinya membawakan secangkir kopi untuknya.


"Tumben banget," ucapnya.


Niar duduk di samping sang suami. Kepalanya dia letakkan di atas pundak Dirga.


"Pasti Papih melirik cewek ya di sana. Apalagi, badan Mamih sekarang seperti beruang kutub," lirihnya.


Dirga malah terbahak mendengar ucapan Niar. Dia merengkuh pinggang Niar. Mengecup ujung kepalanya dengan penuh cinta.


"Bukankan beruang kutub itu lucu?"


Tatapan tajam Niar berikan kepada Dirga. "Tuh 'kan aku memang gendut," ujarnya.


Dirga hanya menghela napas kasar. Dia tidak menyangka istrinya memiliki pikiran jelek.


"Wajar lah, Mih. Namanya juga wanita habis melahirkan," jawab Dirga.

__ADS_1


"Gendut atau tidak, yang jelas Papih sayang banget sama Mamih. Wajah boleh banyak yang cantik, tetapi yang tulus itu yang susah," terangnya.


Dirga mengusap lembut ujung kepala Niar. "Jangan berpikiran jelek. Papih tidak mau Mamih kepikiran tentang berita di luaran sana. Apalagi harus melihat Mamih stres. Papih tidak mau," pungkasnya.


__ADS_2