Tak Kan Kulepas Lagi

Tak Kan Kulepas Lagi
Direstui Atau Tidak


__ADS_3

Setelah pengecekan laporan selesai, Dirga mengajak Niar untuk makan terlebih dahulu sebelum ke rumah orangtuanya.


"Ya ampun, Yang ... aku kangen banget restoran ini," ujar Niar dengan wajah yang sangat bahagia.


"Kamu suka?"


"Banget." Niar memeluk pinggang Driga.


Setelah selesai makan, Dirga menggenggam tangan Niar. "Apa kamu siap bertemu dengan orangtua ku?" Niar mengangguk.


Padahal dalam hati Niar, ada kegugupan dan juga ketakutan yang tersimpan di dalam hatinya. Sebenarnya direstui atau tidak, tidak akan mempengaruhi niat Dirga. Dirga ke rumah orangtuanya hanya meminta orangtuanya untuk melamar Niar secara langsung kepada kedua orangtua Niar.


Tibalah mereka di sebuah hunian mewah bercat putih. Seorang security membukakan pintu gerbang. Dirga menghela napas kasar ketika mobilnya sudah berhenti di halaman depan.


"Ay ...."


Dirga memeluk tubuh Niar. "Jangan pernah pergi lagi dari aku. Aku akan tetap menikahi mu, terlepas mereka merestui atau tidak." Niar mengusap punggung Dirga.


"Iya, Ay. Aku juga tidak ingin kamu pergi dari hidup aku."


Mereka berdua turun, Dirga terus menggenggam tangan Niar. Dirga menatap Niar karena tangan Niar terasa dingin. "Kamu takut?" Hanya anggukan kecil yang menjadi jawaban Niar.


"Aku tidak akan melepaskan genggaman ini." Niar pun tersenyum.


Dirga menekan bel, tak lama kemudian seorang asisten rumah tangga membukakan pintu dan menutup mulutnya tak percaya. "Den Dirga," teriaknya.


"Mamah sama Papah ada?"


"A-ada Den, silahkan masuk." Asisten rumah tangga itu langsung berlari dan memanggil majikannya.

__ADS_1


"Ada apa Bi?" tanya Septi, ibunda Dirga.


"A-ada Den Dirga, Nyonya," ucap asisten itu dengan terbata.


"Dirga?" Si asisten itu mengangguk.


Hati Septi berdetak sangat kencang, matanya sudah berkaca-kaca. Langkah kakinya menuju ruang tamu. Air matanya jatuh, ketika putra yang sangat dia rindukan selama lima tahun ini ada di hadapannya.


"Dirga," panggil Septi dengan air mata yang sudah membanjiri wajahnya.


Niar langsung berdiri, namun tidak dengan Dirga. Karena tatapan tajam Niar lah, akhirnya Dirga berdiri.


"Dirga, a-nak Ma-mah." Septi memeluk tubuh Dirga dengan Isak tangis yang sangat keras. Namun, tangan Dirga menggenggam tangan Niar dengan begitu eratnya. Tak membalas pelukan mamahnya. Rasa bencinya masih ada.


"Mamah kangen kamu, Nak. Kangen sekali," lirihnya.


Deri yang mendengar ada kegaduhan di ruang tamu pun melangkahkan kakinya ke ruang tamu. Senyumnya tersungging ketika melihat putra satu-satunya berada di depannya.


"Pah, anak kita, Pah," ucap Septi.


Deri pun memeluk tubuh Dirga. Beribu kata maaf yang Deri ucapakan kepada Dirga. Namun, Dirga tidak bergeming.


Ketika semuanya sudah tenang, Dirga langsung membuka suara dan berbicara ke intinya. "Aku ke sini, untuk meminta kalian melamarkan aku kepada kedua orangtua Niar."


Mata Septi dan juga Deri melihat ke arah wanita yang sedari tadi berada di samping putra mereka. Dan mereka tidak menyangka, jika wanita itu adalah Niar. Kekasih anaknya semasa sekolah.


"Di-dia Niar?" tanya Septi.


"Iya Tante, saya Niar." Niar menyalimi tangan Septi dan juga Deri.

__ADS_1


"Ja-jadi selama ini kamu ...."


"Iya, aku mencari kekasihku yang telah pergi meninggalkan aku karena kalian. Lima tahun aku mencarinya dan sekarang aku mendapatkannya. Aku tidak peduli, kalian mau merestui ataupun tidak. Aku hanya mencintai Niar dan selamanya akan mencintai Niar."


Ucapan Dirga sangat menusuk ulu hati Septi. "Ma-maafkan Mamah, Nak. Maafkan Mamah," sesalnya.


"Andaikan Papa tidak memaksa mu dan mengorbankan mu, pasti kamu sudah bahagia," imbuh Deri dengan nada yang berat.


"Semuanya sudah berlalu, Om, Tante. Kami saling mencintai dan cinta kami sangat kuat. Setelah lima tahun berpisah tapi takdir mempertemukan kami kembali."


Wajah kedua orangtua Dirga malu mendengar ucapan Niar. Dengan tak punya hatinya, mereka telah memisahkan Dirga dan Niar. Sepasang insan yang saling mencintai namun, dengan sengaja dan paksa dipisahkan tanpa adanya alasan.


"Maafkan Tante Niar," ucap tulus Septi kepada Niar dengan menggenggam hangat tangan Niar.


"Sudah aku lupakan, Tante. Bukan hanya aku yang menjadi korban di sini, Dirga lebih terluka akan hal ini," sahutnya dengan menunjukkan senyum hangat.


"Gak usah sok manis lu, wanita murahan ...."


****


Hayo-hayo ....😁


Curhat dikit boleh dong, ya.


Ini nopel yang sudah lama banget tidak aku urus, makanya aku rombak total dari judul sampai isi. Awalnya mau aku End di episode 30 karena sudah nyerah duluan, pasti gak ada yang baca, begitulah pikirku. Tapi, ternyata alhamdulilah banyak yang suka dan sayang kepada Dirga dan Niar.


Kenapa babnya pendek-pendek, aku bikin minim 500 kata tapi aku selalu berusaha up 2x jadi serebu kata. Sama aja kan sebenarnya ...


Mon maap, sehari aku ini harus ngisi 3 karya yang 2karya itu harus berisi 1k kata, belum yang ini. Bisa kalian bayangin, betapa lelahnya otakku Mikir ...

__ADS_1


Jadi, boleh dong ya aku minta jempol kalian, komen kalian supaya ide makin ngalir. Dan kalo ada notif up langsung baca ya, jangan ditimbun-timbun.


Lope you 😘


__ADS_2