
Merek bertiga tiba di lapas khusu perempuan. Hati Niar berdegup sangat kencang karena sudah beberapa bulan ini tidak bertemu dengan ibu mertuanya.
"Mamih gugup?" tanya Dirga. Dia merasakan tangan istrinya sangat dingin.
"Sedikit," jawab Niar.
Dirga tersenyum dan mengusap lembut kepala Niar. "Jangan takut, Mamih. Mamah sudah berubah," ujarnya.
Langkah Niar terasa berat, ada kegugupan serta rasa takut yang menjalar di hati Niar. Dia takut ditolak oleh ibu mertuanya. Septi terkadang baik dan terkadang juga bisa menyeramkan.
"Pih, Mamih tunggu di sini dulu, ya." Niar menghentikan langkahnya ketika hendak masuk ke ruang besuk.
"Loh? Kenapa?" tanya Dirga.
"Biar kejutan aja untuk Mamah," kilahnya. Padahal, Niar tengah bergelut dengan rasa gugupnya.
Suaminya mengiyakan ucapan Niar. Dirga memberikan ruang untuk Niar supaya tenang. Lima menit menunggu di dalam, Septi keluar dengan menggunakan baju tahanan seperti biasa. Dirga tersenyum ke arahnya. Begitu juga Septi, sebagai seorang anak dia bersikap sopan kepada ibunya. Dia mencium tangan ibunya serta memeluk tubuhnya.
"Ini untuk Mamah." Dirga menyerahkan paper bag toko baju ternama. Mata Septi berkaca-kaca karena dia tahu toko ini menjual barang-barang yang mahal.
"Apa ini?" tanya Septi dengan suara yang bergetar.
"Buka saja, Mah," ucap Dirga.
Tangan Septi terlihat begitu gugup ketika membuka paper bag tersebut. Air matanya menetes begitu saja ketika melihat isi di dalamnya.
"Nak ...."
"Itu buat Mamah. Itu Niar yang memilihkan," potong Dirga.
Septi sudah tidak bisa membendung air matanya. Dirga memeluk tubuhnya mamahnya yang semakin kurus.
"Aku punya hadiah satu lagu untuk Mamah," ucap Dirga.
Septi menatap ke arah putranya dengan tatapan penuh tanda tanya. Seketika pintu ruangan terbuka. Dirga menunjuk ke arah pintu, Septi pun mengikuti arah telunjuk putranya. Mata Septi melebar dan mulutnya terbungkam.
Matanya tertuju pada sosok bayi laki-laki yang tengah tersenyum ke arahnya. Wajahnya mengingatkannya pada putranya ketika bayi. Perenluan yang menggendong bayi itu pun tersenyum ke arahnya.
"Niar," ucap Septi.
Niat semakin mendekat dan meraih tangan Septi kemudian mencium tangan ibu mertuanya denah sangat lembut. Hati Septi mencelos diperlakukan seperti ini oleh Niar. Orang yang pernah dia sakiti dengan sengaja.
"Makasih, Mah."
Septi kini menangis sesenggukan atas perkataan Niar. Dia malah bersujud di depan Niar dengan Isak tangis yang terdengar. Niar panik sendiri dan meminta Dirga untuk mengangkat tubuh Septi. Niar tidak ingin melihat Septi seperti ini.
"Mah, bangun, Mah," pinta Dirga. Dia sudah meraih pundak Septi dan mengajaknya berdiri. Septi sudah bermandikan air mata.
Dirga mengambil alih Arshen dari tangan Niar. Dia memebiarkannya ibunya untuk mengeluarkan segala unek-uneknya. Begitu juga dengan Niar.
"Maafkan Mamah," sesal Septi dengan suara yang tersengal.
Niar mengajak duduk ibu mertuanya. Dia menggenggam erat tangan Septi.
"Aku sudah memaafkan Mamah sedari aku hendak melahirkan. Aku sudah melupakan semua perbuatan Mamah," terangnya. Septi terkejut mendengar penuturan dari menantunya ini.
"Kata Bunda, ketika mau lahiran aku harus melepaskan semuanya. Memaafkan semau kesalahan orang lain yang pernah menyakiti aku supaya lahiran aku lancar. Ketika aku melakukan itu semua, alhamdullah lahiran Arshen lancar dan tanpa hambatan." Air mata Septi menetes kembali mendengar ucapan dari menantunya ini. Dia tidak menyangka bahwa Niar akan mudah memaafkannya.
Hari ini Dirga tidak ingin mengecewakan sang istri. Ketika makan siang tiba, dia segera pulang dan menyuruh sekretarisnya untuk membatalkan semua jadwalnya. Niar yang masih memakai baju rumahan terkejut ketika Dirga masuk ke dalam rumah.
"Loh? Kok udah pulang?" tanya Niar heran. Bagaimana tidak, suaminya mengatakan bahwa dia akan pulang ketika jam dua. Sekarang baru jam dua belas kurang.
"Papih gak mau ngecewain Mamih juga Arshen," jawabnya. Niar tersenyum bahagia dan dia menemani sang suami untuk berganti pakaian.
"Pih, Mamih gak masak makan siang," sesalnya. Dirga malah tertawa dan mencubit gemas pipi sang istri.
"Itu di meja makan apa?" tanya Dirga. Dia melihat sudah ada aneka makanan yang tersaji.
"Itu buatan Mbok Sum," sahutnya.
Dirga tergelak, suaminya ini sungguh menggemaskan.
"Itu makanan juga Mamih Sayang," balas Dirga.
"Iya, tapi itu bukan masakan Mamih," keluhnya.
__ADS_1
Dirga merengkuh pinggang Niar dan mengecup puncak kepalanya. "Gak apa-apa, Mamih," balas Dirga.
Dirga terkadang heran, padahal sudah ada asisten yang membantunya di rumah, tetapi untuk masakan sang suami Niar tidak mengijinkan asistennya yang memasak.
Mereka menikmati makan siang terlebih dahulu sebelum ke lapas tempat Septi dihukum. Dirga mengerutkan dahinya ketika melihat menu makanan yang sangat sederhana. Hanya ada sayur bayam, tahu dan tempe bacem juga perkedel kentang serta kerupuk udang yang menjadi pendamping makanan wajib untuk Niar.
"Kalau makan siang Mamih hanya makan ini?" tanya Dirga.
Niar mengangguk sambil menyuapkan makanan ke mulutnya. Menu makanan yang sangat sederhana. Padahal Dirga memberikan uang belanja yang tak sedikit untuk istrinya.
"Mih, ini ...."
"Bukannya Mamih hemat, Pih. Mamih hanya ingin merasakan masakan Bunda. Masakan mbok Sum yang sederhana ini mengingatkan Mamih sama Bunda," tuturnya.
Dirga mengusap lembut rambut istrinya. Dia tahu Niar masih merindukan ibunya. Namun, ibunya harus kembali ke Malang setelah Arshen berusia empat puluh lima hari. Ingin pergi ke Malang pun Arshen belum diperbolehkan untuk ikut terbang menggunakan pesawat.
"Sabar ya, Mih. Nanti kita akan ke rumah Bunda setelah dokter mengijinkan Arshen untuk terbang menggunakan pesawat." Niar pun tersenyum mendengar ucapan suaminya.
Setelah selesai makan siang, mereka kembali ke kamar dan ternyata putra mereka sudah terbangun dan tengah menghisap empeng yang ada di sampingnya.
"Soleh banget anak Mamih," puji Niar.
Arshen menoleh dan tertawa ke arah Niar. Tangannya sudah meminta untuk digendong. Ketika Niar hendak menggendongnya Arshen malam menangis. Ternyata dia meminta papihnya untuk menggendongnya.
"Kangen Papih, ya," ujar Dirga sembari menggembung Arshen.
Bayi laki-laki itu nampak nyaman berada di atas dada Dirga. Perlahan matanya mulai terpejam kembali.
"Eh, tidur lagi," ucap Niar seraya terkekeh. Dirga pun ikut tertawa melihat tingkah Arshen.
Namun, Niar tetap mengganti pakaian Arshen karena mereka akan pergi menemui Septi di lapas. Dirga sudah memasukkan barang bawaan mereka ke dalam mobil. Ketika dia masuk ke kamar, ternyata putranya sudah tampan dengan baju yang senada dengan kedua orang tuanya.
"Ganteng sekali anak Papih," ucapnya. Arshen pun tertawa seperti bahagia sekali.
"Mau ketemu Oma, ya," ucap Dirga. Putranya semakin tertawa keras.
"Oma pasti senang bertemu dengan cucunya yang tampak ini," lanjut Dirga lagi.
Niar tersenyum bahagia melihat Arshen yang nampak sekali bahagia bersama Dirga.
Hari ini Dirga tidak ingin mengecewakan sang istri. Ketika makan siang tiba, dia segera pulang dan menyuruh sekretarisnya untuk membatalkan semua jadwalnya. Niar yang masih memakai baju rumahan terkejut ketika Dirga masuk ke dalam rumah.
"Loh? Kok udah pulang?" tanya Niar heran. Bagaimana tidak, suaminya mengatakan bahwa dia akan pulang ketika jam dua. Sekarang baru jam dua belas kurang.
"Papih gak mau ngecewain Mamih juga Arshen," jawabnya. Niar tersenyum bahagia dan dia menemani sang suami untuk berganti pakaian.
"Pih, Mamih gak masak makan siang," sesalnya. Dirga malah tertawa dan mencubit gemas pipi sang istri.
"Itu di meja makan apa?" tanya Dirga. Dia melihat sudah ada aneka makanan yang tersaji.
"Itu buatan Mbok Sum," sahutnya.
Dirga tergelak, suaminya ini sungguh menggemaskan.
"Itu makanan juga Mamih Sayang," balas Dirga.
"Iya, tapi itu bukan masakan Mamih," keluhnya.
Dirga merengkuh pinggang Niar dan mengecup puncak kepalanya. "Gak apa-apa, Mamih," balas Dirga.
Dirga terkadang heran, padahal sudah ada asisten yang membantunya di rumah, tetapi untuk masakan sang suami Niar tidak mengijinkan asistennya yang memasak.
Mereka menikmati makan siang terlebih dahulu sebelum ke lapas tempat Septi dihukum. Dirga mengerutkan dahinya ketika melihat menu makanan yang sangat sederhana. Hanya ada sayur bayam, tahu dan tempe bacem juga perkedel kentang serta kerupuk udang yang menjadi pendamping makanan wajib untuk Niar.
"Kalau makan siang Mamih hanya makan ini?" tanya Dirga.
Niar mengangguk sambil menyuapkan makanan ke mulutnya. Menu makanan yang sangat sederhana. Padahal Dirga memberikan uang belanja yang tak sedikit untuk istrinya.
"Mih, ini ...."
"Bukannya Mamih hemat, Pih. Mamih hanya ingin merasakan masakan Bunda. Masakan mbok Sum yang sederhana ini mengingatkan Mamih sama Bunda," tuturnya.
Dirga mengusap lembut rambut istrinya. Dia tahu Niar masih merindukan ibunya. Namun, ibunya harus kembali ke Malang setelah Arshen berusia empat puluh lima hari. Ingin pergi ke Malang pun Arshen belum diperbolehkan untuk ikut terbang menggunakan pesawat.
"Sabar ya, Mih. Nanti kita akan ke rumah Bunda setelah dokter mengijinkan Arshen untuk terbang menggunakan pesawat." Niar pun tersenyum mendengar ucapan suaminya.
__ADS_1
Setelah selesai makan siang, mereka kembali ke kamar dan ternyata putra mereka sudah terbangun dan tengah menghisap empeng yang ada di sampingnya.
"Soleh banget anak Mamih," puji Niar.
Arshen menoleh dan tertawa ke arah Niar. Tangannya sudah meminta untuk digendong. Ketika Niar hendak menggendongnya Arshen malam menangis. Ternyata dia meminta papihnya untuk menggendongnya.
"Kangen Papih, ya," ujar Dirga sembari menggembung Arshen.
Bayi laki-laki itu nampak nyaman berada di atas dada Dirga. Perlahan matanya mulai terpejam kembali.
"Eh, tidur lagi," ucap Niar seraya terkekeh. Dirga pun ikut tertawa melihat tingkah Arshen.
Namun, Niar tetap mengganti pakaian Arshen karena mereka akan pergi menemui Septi di lapas. Dirga sudah memasukkan barang bawaan mereka ke dalam mobil. Ketika dia masuk ke kamar, ternyata putranya sudah tampan dengan baju yang senada dengan kedua orang tuanya.
"Ganteng sekali anak Papih," ucapnya. Arshen pun tertawa seperti bahagia sekali.
"Mau ketemu Oma, ya," ucap Dirga. Putranya semakin tertawa keras.
"Oma pasti senang bertemu dengan cucunya yang tampak ini," lanjut Dirga lagi.
Niar tersenyum bahagia melihat Arshen yang nampak sekali bahagia bersama Dirga.
Hari ini Dirga tidak ingin mengecewakan sang istri. Ketika makan siang tiba, dia segera pulang dan menyuruh sekretarisnya untuk membatalkan semua jadwalnya. Niar yang masih memakai baju rumahan terkejut ketika Dirga masuk ke dalam rumah.
"Loh? Kok udah pulang?" tanya Niar heran. Bagaimana tidak, suaminya mengatakan bahwa dia akan pulang ketika jam dua. Sekarang baru jam dua belas kurang.
"Papih gak mau ngecewain Mamih juga Arshen," jawabnya. Niar tersenyum bahagia dan dia menemani sang suami untuk berganti pakaian.
"Pih, Mamih gak masak makan siang," sesalnya. Dirga malah tertawa dan mencubit gemas pipi sang istri.
"Itu di meja makan apa?" tanya Dirga. Dia melihat sudah ada aneka makanan yang tersaji.
"Itu buatan Mbok Sum," sahutnya.
Dirga tergelak, suaminya ini sungguh menggemaskan.
"Itu makanan juga Mamih Sayang," balas Dirga.
"Iya, tapi itu bukan masakan Mamih," keluhnya.
Dirga merengkuh pinggang Niar dan mengecup puncak kepalanya. "Gak apa-apa, Mamih," balas Dirga.
Dirga terkadang heran, padahal sudah ada asisten yang membantunya di rumah, tetapi untuk masakan sang suami Niar tidak mengijinkan asistennya yang memasak.
Mereka menikmati makan siang terlebih dahulu sebelum ke lapas tempat Septi dihukum. Dirga mengerutkan dahinya ketika melihat menu makanan yang sangat sederhana. Hanya ada sayur bayam, tahu dan tempe bacem juga perkedel kentang serta kerupuk udang yang menjadi pendamping makanan wajib untuk Niar.
"Kalau makan siang Mamih hanya makan ini?" tanya Dirga.
Niar mengangguk sambil menyuapkan makanan ke mulutnya. Menu makanan yang sangat sederhana. Padahal Dirga memberikan uang belanja yang tak sedikit untuk istrinya.
"Mih, ini ...."
"Bukannya Mamih hemat, Pih. Mamih hanya ingin merasakan masakan Bunda. Masakan mbok Sum yang sederhana ini mengingatkan Mamih sama Bunda," tuturnya.
Dirga mengusap lembut rambut istrinya. Dia tahu Niar masih merindukan ibunya. Namun, ibunya harus kembali ke Malang setelah Arshen berusia empat puluh lima hari. Ingin pergi ke Malang pun Arshen belum diperbolehkan untuk ikut terbang menggunakan pesawat.
"Sabar ya, Mih. Nanti kita akan ke rumah Bunda setelah dokter mengijinkan Arshen untuk terbang menggunakan pesawat." Niar pun tersenyum mendengar ucapan suaminya.
Setelah selesai makan siang, mereka kembali ke kamar dan ternyata putra mereka sudah terbangun dan tengah menghisap empeng yang ada di sampingnya.
"Soleh banget anak Mamih," puji Niar.
Arshen menoleh dan tertawa ke arah Niar. Tangannya sudah meminta untuk digendong. Ketika Niar hendak menggendongnya Arshen malam menangis. Ternyata dia meminta papihnya untuk menggendongnya.
"Kangen Papih, ya," ujar Dirga sembari menggembung Arshen.
Bayi laki-laki itu nampak nyaman berada di atas dada Dirga. Perlahan matanya mulai terpejam kembali.
"Eh, tidur lagi," ucap Niar seraya terkekeh. Dirga pun ikut tertawa melihat tingkah Arshen.
Namun, Niar tetap mengganti pakaian Arshen karena mereka akan pergi menemui Septi di lapas. Dirga sudah memasukkan barang bawaan mereka ke dalam mobil. Ketika dia masuk ke kamar, ternyata putranya sudah tampan dengan baju yang senada dengan kedua orang tuanya.
"Ganteng sekali anak Papih," ucapnya. Arshen pun tertawa seperti bahagia sekali.
"Mau ketemu Oma, ya," ucap Dirga. Putranya semakin tertawa keras.
__ADS_1
"Oma pasti senang bertemu dengan cucunya yang tampak ini," lanjut Dirga lagi.
Niar tersenyum bahagia melihat Arshen yang nampak sekali bahagia bersama Dirga.