Tak Kan Kulepas Lagi

Tak Kan Kulepas Lagi
Wanita Sempurna


__ADS_3

Dirga terus menggenggam erat tangan Niar. Di sepanjang perjalanan, Dirga terus mengecup tangan Niar. Sungguh bahagia hatinya mendengar kabar kehamilan istrinya.


"Sayang, kamar kita untuk sementara waktu pindah ke lantai bawah dulu, ya. Aku gak mau kamu kelelahan naik-turun tangga." Niar hanya menjawab dengan senyuman.


Tibanya di rumah, dengan sigap Dirga membopong tubuh Niar naik ke lantai atas. Dan meletakkan tubuh Niar dengan sangat hati-hati di atas tempat tidur.


"Mau makan apa?" tanya Dirga.


"Pesen aja, aku gak mau makan nasi. Enek." Dirga tersenyum seraya mengangguk.


"Ay," panggil Niar.


"Apa Sayang?" tanya Dirga.


"Em ... aku mau ...."


Dirga masih menunggu lanjutan dari ucapan Niar.


"Aku mau kamu nengokin anak kita," ucapnya pelan.


Sungguh kebahagiaan luar biasa untuk Dirga. Tanpa dia meminta, istrinya sudah meminta terlebih dahulu.


Dirga menghampiri Niar, lalu menangkup wajah Niar. "Aku bahagia jika kamu meminta seperti ini." Perlahan bibir Dirga mengecup lembut bibir Niar. Kelembutan itu berubah menjadi keganasan sepertj tubuh mereka yang semakin panas.


"Ay, pelan-pelan." Dirga mengangguk dan mematuhi apa yang dikatakan istri tercintanya.


Satu jam berlalu, alunan suara nan syahdu masih mengiringi aktifitas suami-istri ini. Alunan suara itu bersahut-sahutan menandakan kenikmatan yang tak terkira. Ketika semuanya sudah melemah dan bermandikan keringat. Baru lah mereka menuntaskan apa yang seharusnya dituntaskan.


"Makasih, Sayang." Dirga mengecup bibir Niar yang masih dengan napas tersengal.


Dirga merangkak ke bawah. Mencium perut istrinya yang masih rata.


"Jangan buat Mamih susah, ya, Nak. Papih akan berusaha membuat kamu dan Mamih mu bahagia. Papih sayang kalian."


Sungguh bahagia hati Niar mendengar ucapan tulus dari seorang calon ayah untuk calon anaknya. Dan dia sangat bersyukur bisa mengandung buah cintanya bersama orang yang memang dia sayangi dan juga cintai.


Setelah badan mereka segar. Niar mulai memesan makanan yang dia mau. Sedangkan Dirga memilih makan di ruang makan seorang diri. Karena Dirga tidak terlalu suka dengan makanan aneh-aneh seperti itu.


Dirga sudah menghubungi Mamah dan mertuanya tentang kehamilan Niar. Membuat kedua orangtua Dirga dan Niar sangat senang mendengarnya. Dan Dirga juga meminta bantuan kepada Mamahnya untuk menemani Niar di rumah ketika dia sedang meeting di luar. Dan sepertinya Kenan yang akan direpotkan oleh Dirga. Karena Dirga memilih untuk bekerja di rumah sambil menemani istrinya yang sedang memiliki hormon tinggi di masa-masa kehamilan muda.


"Mbok, bawakan buah-buahan ke kamar, ya," pintanya.


Dirga kembali ke kamar, dilihatnya Niar sudah terlelap membuat Dirga tersenyum puas. Dia belai pipi sang istri dan Dirga kecup kening Niar sangat dalam.


Keesokan paginya, Mamah Septi sudah ada di rumah Dirga. Namun, sang penghuni rumah belum turun juga. Membuat Mamah Nina harus menunggu cukup lama.

__ADS_1


Selang satu jam, sepasang suami-istri ini barulah turun. Dengan Niar berada dalam gendongan Dirga.


"Niar kenapa, Ga?" tanya Mamah Nina panik.


"Loh Mamah udah datang?"


"Niar kenapa?"


"Gak apa-apa, Dirga yang gak mau Niar kecapean. Hari ini, baru ada tukang untuk renovasi kamar bawah untuk Dirga dan Niar tempati."


Mamah Septi memandang Niar dari atas sampai bawah.


"Pantas aja Dirga betah di rumah," celetuk Mamah Septi sambil melihat tubuh Niar yang sangat sempurna dibalut dengan baju tidur super minim.


"Iyalah Mah, punya istri sempurna begini," pujinya pada Niar yang sudah bersandar di pundak Dirga.


"Kamu mau makan apa, Ni? Biar Mamah buatin." Niar menggeleng.


Wajahnya hari ini nampak pucat sekali. Dan Niar hanya ingin berada di dekat Dirga. Sungguh manjanya ibu hamil ini.


Setelah selesai makan, mereka berbincang di ruang keluarga dengan Niar yang berbaring berbantalkan paha Dirga. Niar menelusupkan wajahnya ke perut Dirga.


"Mah, emang wanita hamil kayak gini, ya?" tanyanya sambil mengusap lembut rambut Niar.


"Gak mau makan?" Dirga mengangguk.


"Jangan biarkan istrimu stres, itu akan mempengaruhi janin di dalam kandungannya," tambah Mamah Nina.


"Istrimu sudah minum susu hamil?" Dirga menggeleng.


"Langsung dimuntahin lagi. Apalagi semalam parah banget muntah-muntahnya," adu Dirga pada sang mamah.


"Kamu harus bisa rawat istri kamu. Sekarang dia membutuhkan perhatian kamu, kasih sayang kamu."


"Ketika kamu berniat untuk berpaling dari istri kamu, lihatlah perjuangannya ketika mengandung anak kamu. Dia rela tidak makan karena anak di dalam kandungannya menolak. Dan nanti lihatlah dia ketika dia hendak melahirkan. Peluh yang dia keluarkan, kesakitan yang dia teriakan akan terganti dengan senyuman yang terukir dengan indah ketika melihat anakmu terlahir ke dunia."


Dirga menatap wajah Niar yang sudah terlelap. Wajah pucatnya sangat terlihat jelas, badannya terlihat lebih kurus. Hari ini baru hari pertama. Bagaimana jika kondisi Niar masih seperti ini untuk beberapa Minggu bahkan beberapa bulan ke depan? Sungguh Dirga akan merasa bersalah akan hal ini.


"Jangan khawatir, setelah usia kandungannya menginjak empat bulan baru Niar kembali normal."


"Apa itu tidak akan berpengaruh pada bayiku?" Terlihat kekhawatiran di wajah Dirga.


"Tidak akan apa-apa, yang penting kamu rutin periksakan kandungan dan beri vitamin kepada istrimu."


"Sekarang, bawalah istrimu ke kamar. Kasihan istrimu."

__ADS_1


Dengan hati-hati, Dirga membawa tubuh Niar naik ke lantai atas. Dan membaringkannya dengan sangat hati-hati.


"Maafkan aku, Sayang," sesalnya.


Dirga lebih memilih untuk menemani istrinya di dalam kamar dari pada harus turun ke bawah bersama Mamahnya. Toh, mamahnya pun tidak akan lama karena harus menghadiri arisan para istri pengusaha.


Dirga teringat kejadian malah hari tepat di jam satu malam.


"Huek! Huek!"


Dirga yang mendengar suara dari kamar mandi segera bangun. Istrinya sudah tidak ada di sampingnya. Ketika Dirga ke kamar mandi, tubuh Niar sudah terkulai lemas di lantai kamar mandi.


"Sayang." Dirga benar-benar panik. Dan membopong tubuh Niar ke atas tempat tidur.


"Yang, kita ke rumah sakit aja, ya."


Niar hanya tersenyum lalu menjawab, "inilah yang akan dirasakan oleh hampir semua wanita di dunia ini ketika hamil muda. Dan aku merasa menjadi wanita sempurna karena merasakan hal ini."


Bulir bening jatuh begitu saja dari mata Dirga. Ucapan tulus Niar membuat hati Dirga terenyuh. Dirga segera memeluk tubuh Niar dan terus mengucapkan terimakasih.


"Makasih, sudah mau mengandung anakku."


"Aku yang makasih. Karena kamu sudah menjadi ayah dari anak-anakku. Mimpiku semenjak awal hubungan kita di bangku sekolah terwujud. Aku selalu meminta kepada Tuhan agar terus dijodohkan denganmu, Dirga Anggara."


"Aku mencintaimu Niara Andhiny," ucap Dirga sambil mengecup kening Niar.


...----------------...


Setuju gak kalo cerita ini aku bikin cerita minim konflik seperti cerita rumah tangga pada umumnya?


Yang setuju tunjuk tangan ...


Kita berbucin ria aja ya, di sini. Sambil menghilangkan stres di kepala.


Jadwal UP.


Pagi : Bang Duda


Siang : Yang Terluka


Malam : Tak Kan Kulepas Lagi


Aku berharap sih kalian baca juga karyaku yang selain ini, ya ...


Demi kalian aku masih di sini dan gak jadi mindahin cerita ini ke apk sebelah. Gak apa-apa gak dapat duit juga di sini, yang penting dapat komenan positif kalian dan kesetiaan kalian yang gak pernah melewatkan bab per bab yang aku update. Syukur-syukur kalian ngasih Tips ke authornya, tapi harus dengan ikhlas ya ...

__ADS_1


Sisipkan komen kalian agar aku semangat up tiap harinya.


__ADS_2