Tak Kan Kulepas Lagi

Tak Kan Kulepas Lagi
Anak Kuat


__ADS_3

Teman-teman Mamah Septi berdatangan ke rumah Dirga. Membuat riuh rumah yang biasanya sepi. Mbok Sum sedikit kewalahan dengan kedatangan tiba-tiba dari geng sosialita ibu dari majikannya ini.


Mendengar kegaduhan, Niar keluar kamar. Dahinya mengerut ketika melihat banyak orang di rumahnya.


"Nyonya, maaf. Kalo Nyonya mau buah, tolong ambil sendiri saja, ya. Saya mau ngasih minuman ini dulu ke Ibu." Mbok Sum pun meninggalkan Niar. Dan Niar memilih ke dapur mengambil buah-buahan kesukaannya.


Banyak tumpahan air di sana. Membuat Niar harus menghindari genangan-genangan air tersebut. Naasnya, Niar tidak sengaja menginjak serpihan es batu yang terjatuh.


Brugh!


Tubuh Niar jatuh dengan posisi terlentang. Mbok Sum dan Mamah Septi yang mendengar suara terjatuh segera menuju dapur. Mereka melihat ada darah yang mengalir di kaki Niar. Hingga Mbok Sum berteriak histeris. Terlebih Niar meringis kesakitan memegang perutnya.


"Ibu, tolong bantu saya," pinta Mbok Sum. Mamah Septi masih mematung di tempatnya melihat ke arah kaki Niar terus menerus.


"Perut aku sakit, Mbok." Tanpa berpikir panjang, Mbok Sum segera menghubungi Dirga.


Dengan segala kepanikan dan kehawtiran, Dirga menuju rumahnya dengan terus mengumpat kesal kepada Kenan. Sesampainya di rumah, dia melihat Mamahnya yang sedang asyik bercengkrama dengan banyak teman-temannya. Padahal, istrinya sedang mengalami pendarahan.


"Bubar!" seru Dirga dengan amarah yang membuncah.


Dirga segera berlari mencarinya istrinya. Dengan cepat Dirga membopong tubuh Niar yang sudah pucat menuju mobilnya. Dan Kenan sudah membereskan ibu-ibu sosialita itu dengan mengusir mereka secara tidak hormat.


"Harusnya Anda lebih menyayangi menantu Anda dibanding teman-teman Anda itu." Kenan berkata tepat di wajah Mamah Septi. Dan kemudian, dia menyusul bosnya yang sudah ke rumah sakit bersama sopir kantor yang baru Kenan hubungi.


Dirga terus berteriak di dalam mobil. Jalanan sedang macet-macetnya.


"Bertahan ya, Yang."


Setengah jam kemudian mereka baru tiba di rumah sakit. Niar sudah ditangani oleh dokter dan Dirga hanya bisa berpasrah. Apalagi melihat celana dan kemejanya ada bercak darah.


Sentuhan lembut dari Kenan membuat Dirga menghembuskan napas berat. Dia merutuki kebodohannya karena telah meminta sang mamah untuk menemani Niar di rumah. Jika, Dirga tidak meminta itu. Hal yang tidak diinginkan seperti ini pastinya tidak akan terjadi.


"Saya sudah memberi tahu Pak Deri. Dan menyuruh Pak Deri untuk membawa Ibu pergi jauh. Karena saya tahu, Anda tidak ingin bertemu dengan ibu Anda sendiri, kan." Tidak ada jawaban dari Dirga. Matanya masih menatap ke ruang IGD.

__ADS_1


Pintu ruangan pun terbuka. Seorang perawat memanggil nama Dirga. Dengan langkah takut, Dirga mengikuti langkah perawat itu. Niar masih terbaring lemah di ranjang pesakitan.


"Bapak suaminya?" Dirga mengangguk sambil menggenggam tangan Niar.


"Alhamdulillah, kandungan istri Anda sangat kuat. Pendarahan ini tidak mengakibatkan apa-apa. Hanya saja, istri Bapak harus bed rest. Jangan terlalu banyak gerak." Sungguh lega hati Dirga. Ternyata ketakutannya tidak terjadi. Tuhan masih baik kepadanya dan juga Niar.


"Baik dok. Saya akan lebih menjaga istri saya." Dokter pamit dan untuk hari ini Niar harus istirahat di rumah sakit untuk peninjauan berkala kandungannya.


"Makasih, Nak. Kamu telah menjadi anak kuat," ucapnya lembut sambil mengusap perut Niar.


"Ay," panggil lemah Niar.


"Iya, Sayang. Masih ada yang sakit?" Niar menggeleng.


"Hari ini kamu dirawat di sini dulu, ya. Besok baru kamu boleh pulang."


"Ma-mah."


"Mamah sudah Papa bawa entah ke mana. Dan dia tidak akan mengganggu kamu lagi. Maaf, telah membawa orang yang salah untuk menjaga kamu." Niar hanya tersenyum mendengarnya.


"Alhamdulillah, dia masih ada di sini," tunjuknya pada perut Niar.


Niar tak kuasa menahan harunya. Padahal, Niar sudah berkecil hati karena melihat darah yang terus mengalir di kakinya.


"Jangan banyak pikiran. Aku akan selalu berada di samping kamu."


Hari-hari Niar dilewati dengan penuh kebahagiaan. Masa-masa ngidam pun berganti ke masa balas dendam. Dirga tidak bisa berucap, ketika melihat istrinya yang tengah mengandung lima bulan makan semua makanan yang dihidangkan dengan sangat lahap. Belum lagi, beberapa makanan yang dia beli di pinggiran jalan setelah mereka selesai periksa kandungan.


"Yang, kamu masih sanggup?" Baru saja Niar menghabiskan satu mangkuk sop buah. Kini, sudah membuka pentol kuah yang dia beli. Belum lagi seblak yang sangat menyengat hidung.


"Masih lapar." Dua kata itulah yang selalu menjadi andalan Niar.


Dirga yang melihat istrinya makan saja sudah merasa kenyang. Berbeda dengan Niar yang belum juga merasa kenyang. Dirga tidak akan pernah melarang Niar memakan apapun. Karena itu juga adalah anjuran dokter. Yang terpenting ada asupan vitamin dan mineral yang masuk ke dalam tubuh Niar. Hormon ibu hamil memang berbeda-beda. Alhasil dalam waktu 1 bulan berat badan Niar naik lima kilo.

__ADS_1


"Aaa!" teriak Niar.


Dirga yang baru saja masuk ke kamar mandi segera keluar tanpa mengenakan sehelai benang pun. "Kenapa, Yang?" Teriakan Niar lah yang menjawab pertanyaan Dirga membuat Dirga semakin khawatir.


"Jangan mendekat! Aku geli liat belalai kamu," ucap Niar sambil menutup matanya.


Dirga mencerna apa yang dikatakan oleh istrinya. Belalai? Dirga melihat ke arah bawah dan dia tertawa terbahak-bahak.


"Kamu kira punyaku ini gajah," ucap Dirga sambil tertawa.


"Udah masuk sana," titah Niar yang tidak mau melihat tubuh polos suaminya. Sudah dipastikan Niar akan meminta jatah kepada suaminya. Dikehamilan ini tidak dipungkiri, libido Niar meningkat.


Bukannya masuk ke dalam kamar mandi, Dirga semakin menggoda Niar. Memeluknya dan menggesekannya ke tubuh bawah Niar.


"Ay," keluhnya.


"Kenapa, Yang? Mau, ya?" goda Dirga.


Niar terus memejamkan matanya dan mengatur napasnya. Dia tidak boleh tergiur akan sentuhan belalai Dirga. Tidak boleh.


Hingga lenguhan terdengar membuat Dirga tersenyum nakal. Kini Dirga membuka telapak tangan Niar dan mendekatkan wajahnya ke wajah Niar. Menempelkan bibirnya ke bibir merah cherry milik Niar. Menyesapi dan juga meresapi yang Dirga dan Niar lakukan.


Sentuhan sana-sini sudah Dirga berikan hingga Niar merasa terbang ke awang-awang. Dirga sangat suka ketika melihat wajah istrinya yang sedang horny seperti ini. Tiba-tiba ide jahil muncul di kepala Dirga.


"Aduh, mules Yang." Wajah penuh kenikmatan pun berubah menjadi wajah kemarahan. Sedangkan Dirga sudah berlari masuk ke dalam kamar mandi dan menguncinya dari dalam. Terdengar tawa sangat puas dari dalam sana.


"Dirga!"


"Tanggung jawab, kamu!"


"Hahahaha, ntar lah Yang. Aku masih capek. Kan kita baru aja selesai lima ronde. Masa iya mau nambah lagi."


...----------------...

__ADS_1


Semoga terhibur ....


__ADS_2