Tak Kan Kulepas Lagi

Tak Kan Kulepas Lagi
Kecurigaan Yang Terbukti


__ADS_3

Hari ini Dirga pulang masih sore. Jam lima sore dia sudah tiba di rumah. Dirga langsung naik ke lantai atas di mana kamarnya berada.


Dirga mengerutkan dahinya ketika melihat istrinya sedang asyik memakan cemilan dan juga minuman yang sudah tergelatak di atas meja.


"Yang," panggilnya.


Niar menoleh ke arah Dirga dengan tersenyum bahagia. "Udah pulang." Niar berhambur memeluk tubuh Dirga lalu mengecup pipi suaminya.


"Yang, semua makanan itu kamu yang habisin sendiri?" Niar mengangguk.


"Udah makan nasi?" Niar pun menggeleng.


"Makan nasi dulu dong, Yang. Nanti perut kamu sakit," ujar Dirga.


"Iya, nanti aku makan."


"Ay, mau mandi bareng." Dirga terkejut dengan permintaan Niar.


Tanpa berpikir panjang, Dirga segera membawa tubuh Niar ala bridal masuk ke dalam kamar mandi. Sungguh kebahagiaan untuk Dirga.


Dua jam sudah mereka melakukan ritual mandi bersama. Dan alunan suara kenikmatan saling bersahutan tiada henti.


Setelah selesai, mereka pun keluar dari kamar mandi dengan wajah yang terlihat sangat puas. "Sering-sering, ya, Yang," goda Dirga.


"Kayaknya akan sering deh, Ay. Hormon aku lagi aneh soalnya. Tiba-tiba suka kepengen gitu, mau telepon kamu takut ganggu," keluhnya.


Mata Dirga melebar dengan sempurna mendengar penuturan dari istrinya. Tidak biasanya Niar seperti ini. Biasanya, Niar menjadi wanita yang malu-malu. Tapi, permainan di dalam kamar mandi pun Niar yang memimpin. Sungguh keajaiban luar biasa untuk Dirga.


"Ya udah, aku kerjanya di rumah aja deh kalo gitu. Biar kalo kamu lagi kepengen bisa langsung aku iyain," sahut Dirga.


"Ih, apaan sih Ay," balas Niar dengan wajah memerah.


"Tadi enak banget loh, Yang." Dirga terus menggoda Niar membuat Niar menutup wajahnya malu.


Dirga tertawa seraya memeluk tubuh Niar. "Gak usah malu, kita udah hampir seratus kali melakukan ini. Aku juga suamimu, semuanya telah aku lihat."


"Tetap aja Ay, aku malu," keluhnya.

__ADS_1


"Ya udah, sekarang kamu pakai baju kita makan." Niad pun mengangguk patuh.


Piyama super pendek adalah piyama favorit Niar jika berada di rumah. Karena Niar jarang sekali keluar kamar jika, Dirga sudah berangkat ke kantor.


Baru duduk dan dihadapkan dengan banyaknya makanan yang telah si Mbok masak. Perut Niar terasa diaduk-aduk. Niat segera berlari ke wastafel dapur. Memuntahkan semua yang ada di dalam perutnya.


Dirga segera menyusul istrinya. Dan wajah Niar sudah terlihat sangat kacau.


"Kamu makan apa sih, Yang," ucap lembut Dirga sambil memijat tengkuk leher Niar.


"Ngeliat makanan dan nyium aroma makanan buat aku mual," sahutnya dengan wajah yang sudah pucat.


Dirga membawa Niar duduk di sofa dekat dapur. Niar masih merebahkan kepalanya di bahu sang suami.


"Ay, kamu gak apa-apa kan makan sendiri. Aku gak tahan baunya," kata Niar dengan suara lemah.


"Gak apa-apa." Sebelum Dirga makan, Dirga membopong tubuh istrinya ke kamarnya.


"Setelah aku makan, nanti aku bawa makanan buat kamu, ya." Niar mengangguk.


Niar masih membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Dan dia teringat akan sesuatu. Ini sudah memasuki bulan kedua dia tidak dapat menstruasi. Apakah dia hamil? Niar tidak mau terlalu berharap. Dia takut kecewa seperti dulu lagi.


Dengan telaten, Dirga menyuapi Niar. Tapi, disuapan kelima, Niar berlari ke kamar mandi dan memuntahkan semuanya lagi. Dirga merasa heran kepada istrinya. Sudah beberapa hari ini Dirga sedikit curiga akan tingkah Niar.


Apa istriku hamil?


Dirga tidak ingin menerka-nerka. Dia tahu, istrinya masih sedih lantaran beberapa bulan lalu kecewa akan hasil testpack yang mereka lakukan. Biarlah semuanya mengalir begitu saja.


"Periksa ke dokter, ya. Aku takut kamu kenapa-kenapa." Niar menggeleng.


Niar masih betah bersandar di bahu Dirga sambil memainkan ponselnya. Dirga menggelengkan kepalanya ketika Niar memesan makanan dan juga minuman yang aneh-aneh namanya.


"Yang, nanti kamu muntah lagi," ucap Dirga.


"Aku pengen, Ay."


Dirga pun menyerah. Tak berapa lama, si Mbok mengetuk pintu kamar Niar dan mengantarkan makanan yang Niar pesan. Dengan sangat antusias, Niar membuka bungkusan demi bungkusan yang dia pesan. Dan Niar pun mulai melahap semuanya.

__ADS_1


Dirga menelan ludahnya ketika melihat istrinya makan seperti orang kesetanan. Anehnya, Niar tidak merasa mual atau apapun.


"Yang, kamu gak mual?" Niar menggeleng.


"Ini enak loh, Ay." Niar menyuapi Dirga martabak manis yang topingnya tebal.


Semua pesanan yang dipesan Niar pun habis tak tersisa. Membuat Dirga menggeleng tak percaya.


"Ngantuk," ucap Niar.


Dirga mengusap lembut kepala Niar. Lalu membawanya ke tempat tidur. Tanpa menunggu lama, napas Niar pun mulai teratur. Dirga tersenyum dibuatnya. Kemudian, dia mengecup kening Niar sangat lama.


"Semoga terkaan aku benar. Kamu sedang mengandung anak kita," ucap pelan Dirga seraya mengusap lembut perut Niar yang sedikit tersingkap.


Pagi hari, sudah lebih dari setengah jam Niar berada di dalam kamar mandi. Membuat Dirga mulai lmerasa khawatir. Apalagi, kamar mandi itu dikunci dari dalam.


"Sayang, kamu lagi apa? Kenapa di kamar mandi lama banget," teriak Dirga sambil menggedor-gedor pintu kamar mandi.


Dirga menempelkan telinganya di pintu kamar mandi. Terdengar suara isakan tangis dari dalam kamar mandi. Dirga mulai panik. Dia pun tidak bisa tinggal diam lagi. Dirga mulai mendobrak pintu kamar mandi. Perlu beberapa kali dobrakan agar pintu itu terbuka. Setelah pintu itu terbuka, Dirga melihat Niar sedang menangis tersedu.


"Sayang kamu ke ...."


Niar menunjukkan hasil testpack ke arah Dirga membuat air mata Dirga terjatuh begitu saja. Dia pun langsung memeluk tubuh Niar dengan begitu eratnya.


"Makasih Sayang. Makasih," ucap Dirga sambil mengecup ujung kepala Niar.


Niar masih menangis, dia belum percaya dengan kehamilannya kali ini. Kekecewaannya di beberapa bulan lalu membuatnya seakan tidak mau terlalu berharap.


Tapi, pagi ini, Tuhan seakan memberikan kado spesial untuk Niar. Hadiah yang sungguh diluar dugaan Niar.


"Nanti kita cek ke dokter kandungan, ya." Niar pun mengangguk.


Setelah Dirga sarapan karena Niar tidak bisa memakan nasi dan mencium aroma masakan. Mereka menuju rumah sakit untuk memeriksakan kandungan. Hampir dua jam Dirga dan Niar menunggu, tapi mereka tidak mengeluh. Dirga terus menggenggam tangan Niar dan tidak membiarkan Niar untuk pergi sedikitpun darinya.


Sekarang, giliran Niar dan Dirga yang masuk ke ruangan dokter. Dokter menanyakan perihal kapan terakhir datang bukan serta kapan terakhir kali berhubungan. Setelah semuanya dijawab. Dokter meminta Niar untuk berbaring di atas brankar.


Dokter mulai menyingkap baju Niar dan mengoleskan gel di atas perut Niar. Terdengar suara detak bayi yang membuat Niar dan Dirga menitikan air mata.

__ADS_1


"Selamat, istri Anda memang hamil," ucap dokter dengan raut wajah gembira.


...----------------...


__ADS_2