Tak Kan Kulepas Lagi

Tak Kan Kulepas Lagi
Alun-Alun


__ADS_3

Hari kedua di Malang, akhirnya Niar dan Dirga keluar rumah juga. Karena Niar sedang ingin memakan makanan khas Kota Malang. Akhirnya,mereka memutuskan untuk pergi ke alun-alun. Mata Niar berbinar karena banyak aneka makanan di sana. Dirga hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah Niar tak ubahnya anak kecil yang sedang dibawa ke tempat mainan. Semua makanan dia tunjuk, dan dengan senang hati Dirga membelikannya.


Namun, tiba-tiba aura kegarangan Niar muncul. Suaminya sedang dikerumuni beberapa ABG serta ibu-ibu beranak pinak yang dengan genitnya menggoda sang suami. Dengan menghentakkan kaki, Niar mendekat ke arah Dirga.


"Sayang, sudah belum?" Suara manjanya membuat para wanita yang sedang berkerumun seperti melihat pertunjukan topeng monyet pun beringsut bubar. Apalagi melihat penampilan Niar yang seperti gadis Korea. Membuat nyali mereka menciut.


"Belum, Sayang." Dirga merengkuh pinggang Niar. Kemudian mendaratkan kecupan di ujung kepala sang istri. Membuat para ABG serta ibu-ibu tak tahu malu menjerit di dalam hati melihat perlakuan manis Dirga kepada Niar.


Andai saja ....


Kalimat itulah yang sedang ada di kepala mereka semua. Setelah para wanita itu pergi, bibir Niar pun dimajukan semaju-majunya. Dirga semakin gemas kepada sang istri dan ingin sekali mencium bibirnya yang selalu menjadi candu untuknya.


"Kamu tunggu aja, di sana, ya. Kasian dedeknya," ucap lembut Dirga sambil mengelus perut Niar.


"Anterin," sahut manja Niar. Dengan senang hati Dirga mengantar Niar ke tempat duduk yang sudah ada aneka makanan pesanan Niar di sana. Dan Dirga kembali menunggu pesanan makanan yang diminta sang istri.


Dirga sedang asyik mengantri, dan Niar sedang asyik menikmati makanan yang sudah terjadi. Hingga suara pria yang memanggil namanya membuat Niar mendongak sebentar. Lalu, memicingkan matanya.


"Kamu Niar, kan?" Wajah orang itu pun berseri-seri. Seperi sedang bertemu artis idolanya.


"Kamu Riki, kan?"tanya Niar dengan tatapan datar.


"Kamu masih ingat aku?" Betapa bangganya Riki yang diingat oleh perempuan yang menjadi cinta pertamanya.


"Makin cantik aja," puji Riki.


"Ya aku kan cewek, wajar kalo cantik. Kalo ganteng baru gak wajar," acuh Niar yang fokus kepada makanan di depannya.


"Sifat kamu masih gak berubah, ya." Niar hanya menggedikkan bahunya.


"Kamu sudah menikah atau masih sendiri?" Pertanyaan yang langsung ke inti yang Riki lontarkan.


"Aku sudah bersuami dan sebentar lagi aku akan menjadi Ibu." Sungguh hancur hati Riki mendengarnya. Hatinya patah untuk kesekian kalinya. Kenapa cinta seakan tidak berpihak kepadanya?


"Siapa su-"

__ADS_1


"Aku, aku suami Niara." Suara yang penuh penekanan. Dan sudah berdiri seorang pria tampan nan gagah yang sedang membawa mangkuk makan beserta makanan yang lainnya.


"Lo?"


"Ya, gua yang berhasil mengalahkan lu dalam mendapatkan hati Niara yang sekarang jadi istri gua," ketus Dirga. Niar masih tetap cuek dengan apa yang sedang terjadi antara Riki dan Dirga.


"Bukannya lo udah nikah? Berita lo jadi trending topik di masa itu." Heran. Itulah yang Riki rasakan.


"Gua duda, tapi masih perjaka." Riki menganga mendengar ucapan Dirga. Saking risihnya melihat wajah melongo Riki. Dengan usilnya Niar memasukkan satu buah siomay panas ke dalam mulut Riki. Tujuannya agar tidak ada lalat atau nyamuk masuk.


Tanpa sadar, Riki pun mengunyahnya. "Kok bisa?" tanya Riki sambil mengunyah.


"Intinya, cinta kita itu kuat. Jarak dan waktu tidak menyurutkan cinta kita," ujar Niar dengan mulut penuhnya.


Dirga tersenyum bangga mendengar ucapan Niar. Dengan tidak tahu malunya, Dirga mengecup kening sang istri di depan Riki. Sehingga membuat Riki ingin. menerkam wajah Dirga.


"Sirik, bilang Bos," ejek Dirga.


Dengusan kesal keluar dari mulut Riki. Sedangkan Dirga dan Niar tidak mengindahkannya.


Tidak ada yang salah dengan apa yang dikatakan oleh Riki. Dulu, Dirga memang kalah harta oleh Riki. Karena di bangku SMA, Riki sudah membawa mobil mewah. Berbeda dengan Dirga yang hanya dibekali motor matic.


"Apa perlu dijawab sekarang?" Sungguh kejutekan Niar tak ada duanya kepada lelaki lain selain Dirga dan juga keluarganya.


"Perlu," sahut Riki.


Niar menghentikan kunyahannya. Lalu, menyeruput jus alpukat miliknya. Menatap tajam manik mata Riki yang penuh dengan rasa penasaran.


"Yang pertama, aku tidak ada rasa apa-apa sama kamu. Kebaikan kamu, aku anggap seperti kebaikan seorang sahabat."


"Kedua, aku bukan cewek matre yang memandang pria dari materi. Buktinya, sekarang suamiku ini adalah pemilik perusahaan D&N." Mata Riki membola mendengar ucapan Niar.


"Perusahaanmu adalah anak dari perusahaan besar milikku," terang Dirga.


Kalah telak, itulah yang dirasakan oleh Riki.

__ADS_1


"Yang ketiga, aku mencintai Dirga bukan dirimu." Oh, sungguh malang nasibku Riki sore hari ini. Seperti Kota yang sedang dia pijaki, Malang.


"Kenapa jawabanmu terdengar sangat jujur sekali," keluh Riki.


"Bukannya kamu yang minta aku untuk jujur." Niar membalikkan semua ucapan Riki.


"Intinya, lu tetap kalah dari gua," ledek Dirga kembali.


Lagi-lagi, Riki mendengus kesal. Ingin rasanya dia menggali tanah dan mengubur dirinya hidup-hidup karena telah direndahkan oleh dua sejoli ini.


Akhirnya, Riki pun menyerah dan memilih pergi meninggalkan pasangan bar-bar ini. Niar mendengus kesal dan membanting sendiri dengan keras sehingga Dirga terlonjak kaget.


"Kamu kenapa, Yang?" Dirga benar-benar panik melihat wajah Niar yang berubah drastis.


"Kenapa kamu harus setampan ini? Kenapa kamu gak memakai pakaian biasa aja, sih," oceh Niar.


"Kenapa dengan pakaianku, Yang?"


"Aku tidak suka ketika mereka semua menatapmu dengan tatapan kagum. Pokonya aku tidak suka," dengus Niar dan langsung meninggalkan Dirga.


Kali ini, Dirga harus banyak bersabar. Sudah sering Niar berperilaku seperti ini. Dan ketika dia cerita kepada Bunda dan juga Tiara, mereka hanya bilang itu hanya bawaan bayi saja. Emosi ibu hamil itu tidak stabil. Turun naik seperti roaller coaster. Jadi, Dirga harus ekstra sabar dalam menghadapi kehamilan Niar.


Dengan langkah cepat, Dirga menyusul Niar. Niar pun berjalan dengan langkah seribu. Hingga tidak sengaja, Niar menabrak tubuh seorang wanita.


"Maaf."


Sejurus kemudian, mata Niar melebar. Tubuhnya mundur sedikit karena dia takut melihat wajah itu. Sedangkan wanita itu menatap Niar dengan tatapan datar. Wanita itu mencoba mendekat, seketika Niar berteriak. "Jangan mendekat!"


Niar semakin mundur hingga dia dan wanita itu menjadi tontonan gratis para pengunjung alun-alun. Wanita itu semakin mendekat, dengan spontan Niar memeluk kandungannya dengan erat. Seolah dia mengatakan, "jangan sentuh anak saya."


Dan ketika wanita itu semakin mendekat dan ingin menyentuh Niar. "JANGAN!" teriaknya dengan suara keras.


...****************...


Kangen gak? Kalo kangen aku usahakan up tiap hari. Kalo gak kangen, gak akan aku UP sampe awal bulan Juni

__ADS_1


__ADS_2