
Nindy bersungut-sungut ketika tiba di rumah. Undangan sang kakak hanya untuk memamerkan kemesraan bersama istrinya saja. Sungguh membagongkan.
"Udah dong, Sayang. Jangan ngedumel terus," ujar Kenan sambil memegang bahu Nindy.
"Kesal aku, Mas."
Kenan tersenyum melihat Nindy marah seperti ini. Dia menarik Nindy ke dalam pelukannya.
"Sayang, kita juga 'kan sudah menikah. Kita juga bisa memamerkan kemesraan kepada kakak kamu. Kamu jangan sirik begitu," tutur Kenan.
"Mereka terlalu mesra," keluh Nindy.
"Kita bisa lebih mesra dari mereka," balas Kenan.
Dia mengecup kening Nindy sangat dalam. Kemudian, turun ke bawah ke bibir ranum milik Nindy. Sungguh kegiatan yang memabukkan.
"Kamu masih lama?" Nindy yang baru saja menghirup udara bebas tak mengerti apa yang dikatakan oleh Kenan. Dia malah menatap Kenan dengan penuh tanda tanya.
"Datang bulan kamu, Sayang."
Hati Nindy berdegup sangat kencang ketika mendengar ucapan dari suaminya. Apa itu artinya Kenan sudah akan meminta haknya? Nindy sudah ketar-ketir.
"Aku ingin mengajak kamu bulan madu. Menikmati liburan berdua sambil ...." Kenan menggantung ucapannya, tetapi kerlingan mata nakal Kenan membuat Nindy bergidik ngeri.
"Apa sih, Mas?" Wajah Nindy bak kepiting rebus, merona.
Lagi-lagi Kenan mengecup kening sang istri. Dia tersenyum dan mengajak Nindy untuk berbaring. Tangan Kenan sudah menuntun tangan Nindy menuju si Imin. Dada Nindy berdegup sangat cepat ketika merasakan sesuatu yang sangat hangat, jika diraba bentuknya seperti terong ungu.
"Dia sudah tidak tahan," bisik Kenan nakal.
Nindy hendak melepaskan tangannya dari si Imin. Namun, Kenan mencegahnya. Si Imin tahu sentuhan lembut seorang wanita..
__ADS_1
"Dia masih ingin dibelai oleh kamu, Sayang." Suara Kenan sudah mulai parai..
Sumpah Nindy tidak bisa berkata apa-apa. Si Imin mulai berdiri dan sungguh sangat besar. Tangan Nindy pun tak mampu menggenggamnya.
"Apa benda sebesar ini mampu menerebos dinding pertahananku?" tanyanya dalam hati.
Nindy menatap ke arah sang suami yang tengah memejamkan mata seraya merasakan lembutnya sentuhan Nindy. Menikmati usapan dan pijatan lembut yang Nindy berikan.
"Eung ...."
Sepertinya suaminya ini sudah tidak bisa membendung hasratnya. Nindy benar-benar tidak tega melihatnya. Dia sendiri bingung, apa dia harus melakukannya? Memuaskan suaminya dengan tangan serta hisapan lembutnya. Apa itu yang harus dia lakukan?
"Mas, sudah gak tahan, ya?" Nindy mulai bangkit dari posisi semula. Nindy kini berada di depan celana Kenan.
"Kamu mau apa, Sayang?"
Nindy tidak menjawab, dia hanya menjulurkan lidahnya. Namun. Kenan menggeleng dengan cepat.
Lengkungan senyum mengembang di wajah Nindy. Kenan benar-benar laki-laki penuh pengertian dan tidak egois.
"Sekarang kita tidur, ya." Kenan membaringkan tubuh Nindy di tempat tidur. Dia memeluk tubuh istrinya dan mencoba memejamkan mata. Sama halnya dengan Nindy. Lama kelamaan mata mereka terlelap sungguhan.
Apa yang dikatakan Dirga benar adanya. Kenan adalah pria yang baik dan benar-benar mencintainya. Jika, dia hanya menginginkan tubuhnya, sudah pasti dia menerima servisan Nindy meskipun hanya pakai tangan. Namun, Kenan malah menolaknya.
Hati Nindy semakin berbunga-bunga. Dia benar-benar bahagia sekarang. Kenan memang cinta sungguhan kepadanya. Dia akan mempersiapkan diri untuk berbulan madu bersama Kenan. Juga harus mempersiapkan bekal untuk menservis suaminya agar terikat kepada dirinya selamanya. Servis yang memuaskan adalah kunci keharmonisan berumah tangga. Mulai besok, Nindy harus mempelajari tutorial memanjakan suami dengan baik dan benar.
Banyak film yang meng-uwuwkan yang dia tonton agar dia bisa memberikan servis yang memuaskan untuk sang suami. Bulu kuduk yang terus meremang harus rela Nindy tahan. Kakinya bergerak gelisah ketika melihat adegan demi adegan yang membuatnya gelisah.
Sehari Nindy bisa menonton film seperti tiga sampai empat judul. Dari yang Asia hingga Eropa. Dia benar-benar mempelajarinya supaya suaminya ingin terus bermain bersamanya lagi dan lagi karena servis yang Nindy berikan.
"Apakah rasanya senikmat itu?" gumam Nindy.
__ADS_1
Alunan melodi yang membuat siapapun ikut meremang terdengar sangat jelas. Itu juga yang membuat dia merasa ikut terbawa suasana. Apalagi ketika melihat sang wanita yang tengah dipuaskan. Merasa dirinya yang berada di sana.
Nindy masih tersegel rapi. Dia tidak mengikuti pergaulan bebas yang teman-temannya lakukan. Dia gaya ingin mempersembahkan mahkotanya hanya untuk sang pemiliknya seutuhnya.
Suaminya pulang selalu malam karena pekerjaan yang menympuk karena sang kakak harus menjadi suami siaga. Setiap malam Nindy berusaha untuk menahan kantuknya hanya untuk menyambut sang suami pulang kerja. Namun, pada malam ini dia menyerah. Berniat untuk menunggu sang suami di sofa kamar, Nindy malah tertidur dengan tubuh yang meringkuk layaknya bayi.
Kenan menatap sang istri dengan sangat iba. Dia merasa belum memberikan banyak waktu untuk istri tercintanya. Waktunya hanya dihabiskan di kantor saja, sedangkan istrinya juga perlu quality time.
"Maafkan Mas, Sayang," gumamnya.
Kebab membawa tubuh Nindy ke tempat tidur. Dia letakkan hati-hati agar tak membangunkan istrinya. Kenan mencium hangat kening Nindy. Rasa bersalah kini menyelimuti hati Kenan. Helaan napas kasar keluar dari mulutnya. Kenan segera membersihkan tubuhnya dan setelah itu ikut berbaring di samping sang istri. Kenan memeluk erat tubuh Nindy yang terlelap.
Keesokan paginya, Nindy terkejut karena tubuhnya sudah ada di tempat tidur. Padahal semalam dia tidur di sofa. Sosok Kenan yang sudah berada di sampingnya dengan tangan yang memeluk erat tubuh Nindy. Lengkungan senyum terukir di wajah cantik Nindy. Tangannya menyentuh wajah Kenan yang bersih tanpa bulu. Terlihat ada pergerakan dari Kenan, dia segera menggenggam tangan Nindy yang tengah ada di pipinya.
"Maaf."
Satu kata yang terucap dari bibir Kenan. Dahi Nindy mengkerut karena tidak mengerti maksud dari ucapan Kenan.
"Maaf untuk apa?" tanyanya.
"Kamu pasti merasa kesepian karena Mas selalu menghabiskan waktu di kantor," tutyurnya.
Nindy melingkarkan tangannya di pinggang sang suami dan membenamkan wajahnya di dada Kenan.
"Mas 'kan kerja bukan kelayaban. Mas kerja keras untuk aku dan untuk keluarga kecil kita."
Jawaban yang membuat Kenan lega. Dia mengecup ujung kepala Nindy sangat lama.
"Sesibuk-sibuknya Mas, bisa 'kan kalau Mas ngluangin waktu dua hari aja untuk kita menikmati waktu di akhir pekan?" Kini Nundye dongakkan ke arah Kenan.
Anggukan dengan seulas senyum Kenan berikan. Sungguh istrinya ini sangatlah dewasa. Dia pikir Nindy akan marah karena tidak bisa menikmati waktu bersamanya. Namun, malah sebaliknya. Nindy bersikap sangat dewasa dan mengerti akan pekerjaan Kenan. Rasa cinta untuk Nindy semakin besar. Kenan tidak salah pilih istri.
__ADS_1