
Tangan kekar mendekap hangat tubuh Niar dari belakang. "Ay kamu kembali?" tanyanya.
Namun, itu hanya khayalan Niar saja. Tidak ada siapa-siapa di belakang Niar. Membuat Niar menjatuhkan air matanya lagi dan lagi. Ketika sudah lelah menangis, dia membaringkan tubuhnya di atas kasur. Niar mengambil foto yang terpajang di atas nakas. Foto candid mereka yang Kenan ambil tanpa sengaja.
"Ay, aku hanya berharap ini cuma mimpi buruk. Ketika besok aku bangun, kamu sudah ada di sampingku lagi."
Di lain tempat.
"Sial banget sih?" gerutunya.
"Hape lu mana?" Dia meminta ponsel temannya.
"Mati, lupa gua charger."
"Shit!" umpatnya.
***
Bu Sari dan Ara pulang dengan wajah cukup kecewa. Belum ada kabar tentang Dirga dan juga Kenan. Mereka hanya berdoa supaya Dirga baik-baik saja.
Bu Sari langsung masuk ke kamar Niar. Dilihatnya putrinya sudah tertidur dengan memeluk erat bingkai foto. Bu Sari tidak bisa membayangkan, jika Dirga termasuk ke dalam salah satu korban kecelakaan pesawat itu. Bagaimana dengan putrinya?
__ADS_1
"Bunda gak tega melihat kamu seperti ini Nak. Hati Bunda sakit," ucapnya pelan.
Bu Sari pun meninggalkan Niar, dia tidak sanggup jika harus melihat putrinya depresi lagi.
"Aku kembali, Sayang. Aku kembali ...."
Suara yang sangat Niar rindukan, suara yang mampu menenangkan hati Niar. Namun, matanya enggan terbuka. Dia takut ini hanya sekedar mimpi. Pada nyatanya, Dirga memang tidak akan kembali.
Genggaman hangat yang Niar rasakan membuat Niar tidak ingin bangun dari tidurnya. Dia ingin terus merasakan mimpi ini. Tak terasa bulir bening pun menetes di ujung matanya.
Malam ini adalah malam yang begitu memilukan untuk Niar. Namun, tidurnya amat nyenyak karena dia merasa ada yang sedang mendekap hangat tubuh ringkihnya.
"Apakah aku masih bisa melanjutkan hidup tanpa kamu?" Tak terasa bulir bening pun jatuh lagi.
Niar menyalakan shower, membasuh tubuhnya. Tangisnya pecah beriringan dengan gemercik air.
"Ay, tubuhku seakan tidak bernyawa tanpa kamu." Niar pun tersungkur ke lantai. Dia terus membiarkan tubuhnya basah sampai dia merasa tenang. Hanya ini yang bisa dia lakukan.
Setengah jam berlalu, Niar mematikan shower. Dia kembali menatap cermin. Kali ini, wajahnya teramat pilu. Niar mengambil handuk kimono lalu, keluar dari kamarnya.
Niar membuka jendela kamar yang menyajikan pemandangan pagi yang sangat indah. Awan cerah berwarna biru dan matahari yang sudah memancarkan sinarnya.
__ADS_1
"Pagi ini tak seindah dan sebahagia ketika kamu ada di sampingku," gumamnya.
"Ay, tolonglah kembali. Tetaplah di sampingku dan jangan pernah pergi tinggalkan aku." Niar menutup matanya sejenak. Merasakan semilir angin pagi yang seakan menyambut kesedihannya.
Dua tangan melingkar di pinggang Niar, membuat Niad terperanjat. Dia melihat ke arah tangan itu dan matanya nanar.
"Aku kembali Sayang, aku akan tetap di sini, bersamamu."
Mendengar suara itu membuat air mata Niar menetes. Dia takut jika ini halusinasinya saja. Namun, kedua tangan itu semakin erat melingkar di pinggangnya. Niar pun memberanikan diri untuk berbalik.
Air matanya luruh melihat senyuman manis itu. "Aku di sini, Sayang."
Niar langsung memeluk erat tubuh Dirga, sangat erat. "Aku sangat takut, Ay. Takut ...."
***
Segini dulu, ya.
Sore atau malam up lagi insya Allah.
Happy reading ...
__ADS_1