
Dirga merasakan ada yang memeluknya sangat erat. Membuat perutnya sakit kembali. Dia membuka matanya dan tersenyum ke arah wanita di sampingnya. Rasa sakit pun hilang ketika melihat Niar tertidur dengan damainya.
Pagi harinya, ketika Niar membuka mata dilihatnya Dirga sudah tersenyum manis ke arahnya. Niar yang baru menyadari tangannya berada di atas perut Dirga yang terluka, Niar pun menarik tangannya.
"Maafkan, aku Ay," lirihnya.
Dirga mengecup kening Niar sangat dalam, menatap manik cantik Niar. "Tidak apa-apa, Sayang."
"Kamu ketakutan semalam?" Niar mengangguk cepat.
"Semalam Kenan yang mengetuk pintu, ponselku mati jadi dia khawatir. Makanya dia langsung ke sini."
"Aku takut dia, Ay. Takut kalo sewaktu-waktu dia memisahkan kita lagi," ucapnya dengan air mata yang sudah menganak.
"Dia sudah berada di dalam jeruji besi dan tidak mudah untuknya keluar begitu saja."
"Kenapa dia bisa ditangkap?"
__ADS_1
"Terlalu banyak penggelapan uang yang dia lakukan. Dan baru sekarang semuanya terbongkar. Setelah temanku yang adalah pemilik perusahaan tempat dia bekerja, turun tangan sendiri mencari tahu tentang Jicko. Dan ternyata dana yang digelapkan cukup besar, 10,5 M."
"Aku tidak ingin membahasnya," ucap Niar.
"Baiklah, bantu aku bangun, Sayang." Niar pun membantu Dirga dan memapahnya ke kamar mandi.
Seminggu sudah Niar dan Dirga tinggal di apartment. Keadaan Dirga sudah cukup membaik. Dan kali ini, Niar diminta pulang oleh sang Bunda. Karena ada sesuatu hal yang harus mereka bicarakan.
Awalnya Niar menolak, tapi Dirga meyakinkan jika semuanya akan baik-baik saja. Dan Dirga pun akan ikut Niar menemui orangtuanya.
"Ay, lebih baik kamu jangan ikut. Aku takut ...."
Niar pun akhirnya menuruti keinginan Dirga. Hanya keheningan yang tercipta di dalam mobil. Dirga menggenggam tangan Niar dan merangkul pundaknya. Mereka duduk di kursi penumpang sedangkan Kenan yang membawa mobil.
"Tenang, Sayang. Aku akan baik-baik, saja."
Niar melingkarkan tangannya ke pinggang Dirga. Memejamkan matanya sejenak untuk menenangkan hatinya. Tibalah mereka di rumah Niar. Rumah yang cukup mewah dan juga asri.
__ADS_1
Dirga terus menggenggam tangan Niar. Ketika masuk ke dalam rumah, sudah ada anggota keluarga Niar di dalam sana. Tak terkecuali, Ara. Kakak Niar yang membenci Dirga karena dulu telah menyakiti adiknya.
"Duduk, Nak," titah Bu Sari kepada Niar dan juga Dirga.
Tangan Dirga terus menggenggam tangan Niar yang sudah terasa dingin. Hawa ruangan ini terasa sesak dan panas, namun Dirga masih bersikap biasa saja. Padahal hatinya juga sudah tak karuhan.
"Bunda dan Ayah sudah membatalkan rencana pernikahanmu dengan Nak Jicko," imbuh Bu Sari.
Bukannya lega malah hati Niar semakin takut. Tangan Dirga mengusap lembut punggung tangan Niar. Menyalurkan ketenangan dan kehangatan kepada Niar.
"Dia tidak sebaik yang Ayah pikir. Ternyata dia sudah menikahi Wulan dan juga dia sudah menggelapkan dana perusahaan sehingga dia dipenjara. Untung saja pernikahanmu batal sebelum kalian sah menjadi suami istri. Jika, tidak ... Ayah yang akan sangat menyesal," terang Pak Khorun.
"Aku sudah tidak mempermasalahkannya lagi, dan aku sudah memaafkan Ayah dan juga Bunda. Dan aku juga minta maaf, telah membuat malu anggota keluarga dengan batalnya pernikahan ini."
"Rasa malu kami tidak sebanding dengan pengorbanan mu selama ini untuk kami. Kamu sudah menjadi anak yang sangat penurut," sahut Bu Sari.
"Bunda, Ayah, Mbak Ara, untuk kali ini bolehkah aku menjadi anak pembangkang? Aku ingin ...."
__ADS_1
***
Happy reading ....