Tak Kan Kulepas Lagi

Tak Kan Kulepas Lagi
Putra


__ADS_3

Teriakan Dirga membuat dokter dan juga perawat yang berada di IGD berhambur ke arah Niar. Mereka Sera membawa tubuh Niar masuk ke dalam ruang IGD dan memeriksa Niar. Raut penuh ketenangan terlihat dari wajah dokter dan juga perawat itu. Berbeda dengan Dirga yang menampakkan wajah tak bershabat.


"Tenang ya, Pak. Ibu Niar hanya kelelahan saja. Dia hanya pingsan. Wajar mengalami hal ini."


Bidan yang bertugas untuk menutup robekan pun segera mengerjakan tugasnya. Dirga terus menggenggam erat tangan istrinya. Membiarkan anaknya yang tengah menangis dan sedang dibersihkan.


Maafkan Papih ya, Nak. Papih akan menemani Mamih kamu dahulu.


Lima belas menit berselang, Niar kembali sadar. Namun, dia mengerang kesakitan karena tusukan jarum dan tarikan benang.


"Sabar ya, Sayang." Dirga terus menggenggam erat tangan Niar. Sesekali dia mengecup kening sang istri tercinta.


Aku janji, aku tidak akan pernah menyakitimu, Sayang.


Perjuangan seorang ibu untuk melahirkan seorang anak ternyata sangat sulit. Rela menahan kesakitan demi sang buah hati, cahaya untuk keluarga mereka.


Setelah selesai semua, seorang perawat membawa bayi laki-laki itu kepada Dirga dan Niar. Sungguh wajahnya mirip sekali sang ayah.

__ADS_1


Air mata mereka menyewa begitu saja. Apalagi melihat ikatan batin antara Niar dan juga sang putra yang membuat Dirga bahagia. Putranya itu seolah sedang mencari makanan.


Adzan dan Iqamah dikumandangkan di telinga putra dari Dirga. Setelah itu mereka dipindahkan ke ruang rawat. Bukan orang tua baru ini yang bahagia, Deri dan Nindy pun ikut menitikan air mata.


"Cucu Opa." Suara Deri bergetar saking bahagianya.


Nindy tak hentinya memainkan pipi gembil sang keponakan yang tengah didorong di boks bayi oleh Dirga.


Di ruang perawatan, Niar dan Dirga tersenyum sangat bahagia karena Deri dan juga Nindy tak hentinya memainkan putra mereka. Dirga mengecup kening Niar untuk kesekian kalinya.


"Maaf ya, Sayang. Udah buat kamu kesakitan."


"Sudah kodratku sebagai seorang wanita seperti ini, Ay. Kesakitan itu akan hilang ketika suara tangis putra kita terdengar, dan aku sungguh sangat bahagia."


Deri dan Nindy yang mendengarnya pun ikut melengkungkan senyum. Terlebih Dirga yang tak pernah henti melayangkan kata cinta.


Satu jam sudah berada di ruang perawatan. Seorang perawat datang dan mengangkat bayi Niar.

__ADS_1


"Ibu, belajar menyusui, ya. Awal-awalnya pasti sakit," ujar sang perawat.


Deri memilih untuk pergi. Dia takut menantunya itu malu. Dirga membantu Niar untuk membuka pembungkus makanan untuk putra mereka. Sungguh membuat mata Dirga tak berkedip. Sangat besar dan keras.


Mulut putranya dia arahkan ke dot alami itu. Dia benar-benar membuka mulut dan terlihat rakus hingga membuat Niar kesakitan. Ringisan kesakitan terdengar dari bibir Niar.


"Sakit banget?" tanya Dirga. Niar mengangguk.


"Jika, pertama pasti begini, Pak. Jangan khawatir. Nanti juga akan terbiasa. Saya sarankan jangan menggunakan susu formula ya, Pak. Asi sangat bagus untuk bayi."


Dirga dan Niar mengangguk. Putra mereka masih asyik meminum asi.


"Jatah Papih malah diambil kamu, Nak."


Nindy yang mendengarnya memukul punggung sang kakak dengan keras. Begitu juga Niar yang sudah mendelik kesal. Perawat itu hanya dapat mengulum senyum. Putranya yang semula tengah asyik meminum asi malah berhenti ketika ayahnya mengatakan hal yang menjijikan.


"Tuh 'kan, jadi berhenti," keluh Niar.

__ADS_1


Dirga terkekeh dan mengusap lembut rambut sang putra.


"Papih bercanda, Nak. Minum sesuka hati kamu, tapi sisain sedikit untuk Papih."


__ADS_2