
Dirga membopong tubuh Niar hingga ke dalam IGD. Hatinya benar-benar marah saat ini. Dua orang yang sangat cocok, cocok untuk Dirga beri pelajaran sekaligus lenyapkan.
Dirga menyandarkan tubuhnya ke dinding. Untuk sekarang, dia harus segera melamar Niar. Berada di samping Niar dan menjaganya.
"Kemarin saya dan Nona Niar yang di sini menunggu Bos. Sekarang, saya dan Bos yang menunggu Nona Niar di sini. Takdir yang membingungkan," ucap Kenan yang ikut menyandarkan tubuhnya.
"Gua harus cepat lamar Niar."
"Emang Bos udah siap ketemu sama orangtua Bos?"
Pertanyaan Kenan membuat Dirga terdiam. Rasa marah dan benci masih menyelimuti hatinya. Hidupnya sudah tenang karena kedua orangtuanya tidak mengganggunya lagi. Bukan tidak mengganggunya, Dirga lah yang menutup diri dan tidak ingin bertemu dengan kedua orangtuanya dan juga adik pertamanya.
"Itu jalan satu-satunya biar gua cepet halalin Niar. Selalu menjaga dia dan gak kecolongan kayak gini," ujarnya.
"Maaf, Pak Dirga. Ibu Niar mencari Anda."
Dirga masuk ke dalam IGD dan menatap sedih ke arah Niar. Wajah cantiknya banyak dihiasi luka. Begitu pun juga mentalnya.
Dirga tersenyum dan mengecup kening Niar. "Kamu dirawat, ya. Biar cepet sembuh." Niar menggeleng.
"Aku ingin pulang, Ay." lirih Niar.
__ADS_1
Dirga mendekap hangat tubuh Niar, air mata Niar pun menetes lagi. "Aku akan ke Jakarta, menemui orangtuaku." Niar menatap lekat mata Dirga.
"Aku ikut," ucapnya.
"Tidak, Sayang. Kamu masih sakit. Lagi pula aku hanya meminta restu lalu kembali lagi ke Malang."
"Jangan tinggalin aku, Ay. Aku takut ... dia datang lagi." Dirga mengusap lembut rambut Niar. Dia menatap manik mata Niar yang menyiratkan trauma yang mendalam.
"Aku akan selalu menemani kamu, Sayang. Aku akan meminta izin kepada Bunda supaya menjaga kamu di kamarmu."
Dirga menuruti permintaan Niar untuk kembali ke rumah orangtuanya. Bu Sari sangat terkejut ketika melihat wajah dan tangan Niar.
"Kamu kenapa, Nak?" Air mata Bu Sari meluncur begitu derasnya.
"Kenapa dengan Niar?" ucapnya dengan suara teramat pilu. Sedangkan Niar masih memeluk tubuh bundanya dari samping.
"Itu perbuatan Jicko, Bun." Bu Sari melebarkan matanya mendengar jawaban Dirga.
"Maksud ka-mu, Jicko melukai Niar?" Dirga mengangguk. Wajahnya penuh guratan amarah.
"Bukan hanya melukai, malah hampir memperkosa Niar,"ucapnya dengan tangan yang sudah terkepal keras.
__ADS_1
"Astaghfirullah, Nak." Tangisan Bu Sari pun pecah membuat Niar tak berhenti menangis.
"Bun, bolehkah aku menjaga Niar? Tidur di kamar ini, aku janji aku tidak akan macam-macam," ucapnya dengan mengangkat kedua jarinya hingga membentuk huruf V.
Bu Sari menatap Niar, dan wajah Niar mengatakan jika dia juga masih takut dan hanya Dirga yang mampu menemaninya.
"Baiklah, tapi kamu tidur di sofa." Dirga pun menganggukkan kepalanya. Tak masalah dia harus tidur di sofa ataupun di lantai. Yang terpenting, Niar ada didekatnya.
Bu Sari meninggalkan Niar yang sudah mulai membaik. Niar pun menatap Dirga dengan penuh ketakutan. "Ada aku, Sayang. Aku tidak akan meninggalkanmu." Dirga langsung memeluk tubuh Niar yang sangat ketakutan.
"Aku takut, Ay. Sangat takut ...."
Bu Sari hanya bisa menangis mendengar perkataan Niar. Karena Bu Sari masih berada di belakang pintu memperhatikan putrinya dan juga Dirga.
"Kamu masih menjadi anak yang baik, Dirga. Selalu menjadi tempat untuk Niar berkeluh kesah. Dan juga selalu menjadi pelindung untuk Niar," gumamnya.
****
Mau aku up lagi gak? Atau cuma 1 bab aja hari ini 😁
Maaf, setor naskah dari semalam tapi lolosnya entah kapan.
__ADS_1
Happy reading ...