Tak Kan Kulepas Lagi

Tak Kan Kulepas Lagi
Menyayangi Kamu


__ADS_3

Asal usul Dirga memang sudah Niar ketahui. Tetapi, itu tidak jadi masalah untuk Niar. Karena semua orang pasti memiliki masa lalu. Masa lalu orang harus dia hormati. Meskipun masa lalunya buruk.


"Mau 'kan besok kamu temuin Papah?" tanya Niar.


"Nanti aku tanya Kenan dulu. Aku ngantuk, Yang," ucap Dirga yang malah meletakkan wajahnya di depan perut Niar. Merasakan tendangan demi tendangan dari anaknya yang masih di dalam perut.


Pagi harinya, kaki Niar kram karena Dirga yang terlelap di pangkuan Niar. Hingga Dirga terus saja mengucapkan kata maaf. Terlalu nyaman, itulah yang Dirga rasakan.


"Kita ke dokter, ya. Aku takut kaki kamu kenapa-kenapa," ucap Dirga sedikit panik.


"Enggak usah, Ay. Pijit lembut aja, ya. Biar aku rebahan sebentar." Dirga menuruti ucapan Niar.


Bibir Dirga terangkat ketika melihat istrinya terlelap. Dia memilih untuk menghubungi Kenan dan menanyakan kabar sang papah.


Dirga menghela napas kasar ketika mendengar kabar Deri dari Kenan. Dia ingin segera menemui papahnya. Namun, istrinya baru saja terlelap. Dirga harus bersabar sejenak. Menunggu istrinya terbangun.


Satu jam sudah, Niar mulai membuka matanya. Dia mencari sosok suaminya. Ternyata sedang berada di sofa sambil memainkan ponsel.

__ADS_1


"Ayo," panggil Niar dengan suara khas bangun tidur.


Senyuman lembut tersemai di bibirnya. Dia menghampiri Niar, membantunya untuk bangun,


"Mau sarapan apa, Yang?" Dengan cepat Niar menggeleng. Kemudian, memeluk tubuh Dirga. "Maaf, aku ketiduran," sesal Niar.


"Tidak apa-apa, Sayang. Mau berangkat sekarang?" Niar mengangguk dan Dirga membantu istrinya menuju kamar mandi. Setelah selesai bersiap, Dirga dan Niar menuju kediaman Deri.


Tibanya di sana, asisten rumah tangga menyambut kedatangan Dirga dengan wajah sendu.


Niar menggenggam tangan Dirga, memberi kekuatan kepada sang suami. Niar tahu, Dirga sangat khawatir dengan kondisi sang papah.


"Semalam Ibu ke sini. Tapi, Bapak sama sekali tidak mau menemui Ibu. Dan malah mengusir Ibu," adu si asisten.


Dirga tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Dia tahu di mana papahnya sekarang. Kakinya melangkah menuju ruang kerja sang papah. Yang menjadi kamar kedua untuknya. Tanpa mengetuk pintu dirga masuk ke ruang kerja Deri dengan terus menggenggam tangan istrinya.


"Pah," panggil Dirga. Deri yang sedang menundukkan kepalanya di atas meja mendongak. Menatap Dirga dengan penuh kesedihan. Dirga segera menghampiri Deri dan memeluk tubuh papah angkatnya.

__ADS_1


"Maaf, aku tidak memberi tahu Papah tentang Mamah," ujar Dirga. Deri mengurai pelukannya dan menatap Dirga dengan tatapan penuh tanda tanya.


Dirga menceritakan semuanya tentang Septi ketika ditinggal Deri. Rahang Deri mengeras. Dan terlihat dia sangat marah.


"Dini hari tadi, Mamah juga menemui aku di hotel. Meminta aku untuk berbicara kepada Papah. Katanya, jangan ceraikan Mamah," terangnya.


Dengan cepat, Deri menggeleng. "Papah akan tetap menceraikan wanita itu. Papah paling tidak suka dengan yang namanya pengkhianatan," tegas Deri dengan nada yang sangat serius.


"Bagaimana dengan Nindy, Pah? Dia yang akan menjadi korban. Dan pastinya dia yang akan sangat kecewa," tutur Dirga.


"Nindy sudah dewasa. Dia bisa menilai mana yang salah dan yang benar. Jika, dia ingin ikut Mamahnya silahkan. Dari dulu, Papah hanya mempunyai kamu. Anak laki-laki pembawa rezeki untuk Papah. Walaupun kamu bukan anak kandung Papah. Tetapi, Papah sangat menyayangi kamu."


Dirga sangat tersentuh mendengar ungkapan hati sang papah. Benar kata NIar, Deri sangat membutuhkan Dirga di sampingnya. Terbukti, wajah sendunya berangsur pudar.


...****************...


Mana komennya?

__ADS_1


__ADS_2