
Di kamar yang berbeda, sepasang suami istri yang tengah menanti kelahiran anak pertama malah yang terlebih dahulu menyelam ke dalam lautan yang memabukkan. Suara khas yang keluar membuat suasana semakin memanas. Mereka seolah sedang berpacu untuk mencapai kemenangan. Namun, belum juga sampai pada garis finish rintihan kesakitan keluar dari mulut Niar.
"Sa-kit," ucap Niar.
Dirga segera menghentikan kegiatannya. Dia menatap iba kepada sang istri.
"Sayang, kita ke dokter, ya." Niar menggeleng.
Dirga segera mengenakan pakaiannya kembali. Sudah tidak ada napsu yang menggebu. Dipikirannya hanya ada kecemasan yang luar biasa. Dia pun membantu Niar untuk memakai pakaiannya kembali.
"Maafkan aku ya, Sayang." Dirga mengelap peluh yang membasahi wajah Niar. Dia benar-benar menjadi suami siaga.
Ketika kesakitan seperti ini, Dirga akan terus mengusap lembut perut sang istri. Selama apapun itu tidak masalah, yang terpenting istrinya tidak kesakitan lagi.
"Anak kamu sepertinya posesif banget. Papihnya gak boleh sentuh Mamihnya."
Dirga pun tertawa mendengar ucapan Niar. Dia mengecup hangat kening sang istri.
"Dia akan menjadi pelindung kamu," tukas Dirga.
Jenis kelamin anak Dirga dan Niar memang sudah diketahui. Namun, mereka masih menutup mulut. Takutnya, hasilnya tidak sesuai apa yang diperlihatkan alat USG. Jadi, apapun yang Tuhan beri akan mereka terima dengan bahagia.
Setelah Niar terlelap, Dirga turun ke lantai bawah untuk membuat kopi. Ternyata ada sang papah yang sedang menikmati kopi juga di meja makan.
"Istrimu mana?" tanya Deri.
"Tidur, Pah. Tadi sakitnya kambuh lagi," terang Dirga.
"Bawa ke rumah sakit, Ga. Papah takut terjadi apa-apa dengan kandungan Niar."
Dirga mendudukkan diri di samping sang papah. "Apa seperti ini menjelang persalinan?" tanya Dirga.
"Iya, kamu harus menjadi suami siaga. Kalau bisa, satu Minggu sebelum HPL kamu kerja dari rumah saja. Papah takut Niar melahirkan tanpa ada kamu," ungkap Deri.
Dirga pun mengangguk menuruti perintah sang papah. Semenjak hamil besar, istrinya banyak mengeluh.
"Ay," panggil Niar.
Deri dan Dirga menoleh ke arah Niar yang tengah berjalan pelan ke arah mereka sambil mengusap perutnya uang buncit.
"Kok udah bangun?" Dirga bangkit dari duduknya dan menuntunnya untuk duduk.
"Pengen rujak, Ay." Dirga dan Deri pun tertawa.
"Kamu masih ngidam?" tanya Deri kepada Niar.
"Lagi pengen aja, Pah. Mumpung cuacanya lagi panas begini," jawab Niar, sambil mengusap perutnya.
"Biar Papah yang beli aja. Sekalian Papah mau keluar."
"Makasih, Pah," ucap Niar.
"Untuk cucu pertama Papah apa sih yang enggak?" Niar dan Dirga pun tertawa.
Setengah jam kemudian, Deri sudah membawa rujak pesanan sang menantu. Ukiran senyum melengkung indah di wajah tak mudanya. Dia melihat Dirga yang duduk di bawah sofa sambil mengajak bicara anaknya yang masih ada di dalam perut.
"Semoga kamu selalu dilimpahkan kebahagiaan," ucap Deri dalam hati.
Deri memindahkan rujak tersebut ke dalam piring. Ada rujak ulek dan juga rujak cocol. Minumnya sengaja Deri belikan jus alpukat. Ada juga jajanan yang lain yang Deri berikan untuk membantunya.
"Ya ampun, Pah. Banyak banget," ucap Niar.
"Takut kamu gak kenyang," kelakar Deri.
Dirga membantu istrinya untuk bangun. Mencuci tangan sebelum makan itu sudah menjadi kewajiban. Niar sudah mengambil mangga muda dan mencocolnya dengan sambal yang terlihat menggugah selera. Wajahnya berbinar ketika memakannya.
"Sayang, jangan banyak-banyak. Kelihatannya itu pedas banget." Dirga mengingatkan istrinya karena sedari tadi Niar tak henti memakan rujak yang sangat pedas itu.
"Ih aku mau dong."
Deri, Dirga dan Niar menoleh ke arah suara. Nindy sudah turun dengan wajah yang berseri.
"Ciye ... yang pengantin baru. Berbunga banget kayaknya," sindir Niar.
"Suami kamu mana, Ndy?" tanya Deri.
"Lagi tidur, Pah. Kelelahan dia."
Pikiran Dirga, Niar dan Deri sudah berkelana. Merkea tersenyum mengejek.
"Dia kecapean abis mijitin aku," lanjut Nindy lagi, sambil menyuapkan rujak ke dalam mulutnya.
Ketiga orang yang berada dengan Nindy menganga tak percaya, sedangkan Nindy hanya tertawa.
Di kamar, Kenan tengah tertidur pulas. Tangannya sangat pegal karena Nindy tak ingin berhenti dipijat dibagian punggung, yang awalnya bernapsu malah kalah sebelum berperang.
Malam pun tiba, rumah Deri nampak ramai karena kehadiran dua anaknya serta dua menantunya.
"Kamu akan tinggal di sini 'kan, Ndy?" tanya Deri.
__ADS_1
Nindy menatap ke arah Kenan. Dia dan Kenan belum membahas hal ini.
"Nanti Ndy bicarain sama Mas Kenan ya, Pah."
"Mas?" ulang Dirga.
"Udah kayak tukang bakso," lanjut Dirga seraya terkekeh.
Kenan menatap tajam Dirga. Ingin rasanya dia menimpali ucapan kakak iparnya itu. Namun, dia masih waras. Dirga adalah atasannya.
Di kamar pengantin, Nindy berbicara serius dengan Kenan perihal di mana mereka akan tinggal.
"Mas inginnya membawa kamu ke apartment, Mas," jawab Kenan yang kini sudah melingkarkan tangannya di perut Nindy.
"Aku belum ingin pindah ke sana, Mas. Pasti masih ada kenangan Mas bersama ...."
"Sudah aku simpan semua kenangan dia, Sayang. Sudah tidak ada lagi foto dia di sana. Mas sudah menyuruh orang untuk memasang foto pernikahan kita."
Nindy masih bergeming, dia tidak dapat mempercayai begitu saja.
"Aku belum bisa, Mas. Aku belum yakin dengan perasaan Mas kepadaku," jelasnya.
Kali ini Kenan tidak bisa menjawab. Jika, dia keras kepala sudah pasti Nindy akan lebih keras kepala.
"Setidaknya, selama aku belum yakin dengan perasaan Mas. Kita tinggal di sini dulu. Mas, mau 'kan?" tanya Nindy.
Kenan harus mengalah terlebih dahulu. Setidaknya Nindy tidak marah kepadanya pun dia sudah sangat bersyukur.
"Ya udah, tapi nanti kamu 'kan pindah ke sana?" Nindy pun mengangguk.
"Sayang, bolehkah aku meminta hakku?" tanya Kenan.
"Aku lagi datang bulan, Mas."
Pupus sudah harapan Kenan yang sedari siang menunggu hal yang memabukkan. Hanya helaan napas kasar yang dapat Nindy dengar. Di dalam hati, Nindy tertawa keras.
Sabar dulu ya, Mas. Sebelum aku tahu perasaanmu yang sesungguhnya. Aku tidak akan memberikan mahkotaku.
Pagi menjelang, Kenan tersenyum melihat wajah Nindy yang masih terlelap dengan damainya. Tangannya memeluk erat pinggang Kenan dan wajahnya dia tempelkan di dada.
"Aku yakin, kamu tidak sedang berhalangan. Kamu hanya ingin melihat pembuktian cintaku." Seulas senyum Kenan sunggingkan. Rasanya berbeda ketika dia dipeluk oleh Nindy.
Mata Nindy mengerjap, dia melihat Kenan sedang memandangnya. "Kok gak bangunin aku," ucap Nindy dengan suara parau.
Dia hendak bangkit dari tidurnya, tetapi Kenan tahan dengan memeluk tubuh istrinya sangat erat.
Nindy pun tercengang, dan dia pun menggeleng. "Mas, aja yang mandi duluan. Biar aku yang beresin tempat tidur dan menyiapkan kopi buat, Mas."
Kenan dapat merasakan jantung Nindy yang berdebar sangat hebat. Kenan hanya memancing, tetapi Nindy sudah gelagapan.
"Baiklah."
Kenan mengecup bibir Nindy dengan sangat lembut. Sengaja dia memberikan kecupan yang memabukkan agar Nindy terangsang. Sayang seribu sayang, Nindy melepaskannya. Menyuruh Kenan untuk segera mandi. Helaan napas kasar pun terdengar.
Nindy sudah mengikat rambutnya hingga ke atas. Terlihat leher jenjang yang Nindy miliki. Tubuhnya agak sedikit membungkuk hingga kaki bagian dalam Nindy terlihat. Kenan memeluknya dari belakang membuat Nindy tersentak.
"Sayang, kamu merasakan ada yang sudah mengeras 'kan."
Kenan sengaja berbisik dan mampu membuat bulu kuduk Nindy meremang.
"Ya Tuhan, tolong aku," teriaknya dalam hati.
Nindy membalikkan tubuhnya tanpa melepaskan lingkaran tangan Kenan. Dia menangkup wajah Kenan dan menatapnya penuh dengan cinta.
"Sabar ya, Mas ku Sayang."
Ingin sekali Kenan menerjang Nindy sekarang juga. Akan tetapi, dia tidak ingin membuat Nindy malah membencinya. Biarlah dia mengikuti permainan sang istri. Tersiksa terlebih dahulu bahagia kemudian.
Kenan sudah rapi dengan pakaian kerjanya, begitu juga dengan Dirga.
"Emangnya pengantin baru gak kamu kasih libur?" tanya Deri.
"Enggak, nanti malah ngelunjak," jawab Dirga sekenanya.
Niar memukul pundak sang suami, ucapan sang suami kepada Kenan selalu ketus.
"Masih banyak pekerjaan, Pah. Jadinya, gak bisa libur. Lagi pula kakak ipar juga 'kan dua mingguan lagi mau kerja dari rumah. Jadi, saya yang harus mengurus perusahaan," terang Kenan.
Niar menatap aneh ke arah Dirga. Suaminya itu tidak pernah berbicara perihal kerja dari rumah kepadanya.
"Sengaja aku lakukan itu. Bunda 'kan ke sininya seminggu sebelum HPL. Aku gak bisa ninggalin kamu sendirian," terangnya.
"Lebih baik begitu, Ni. Lahiran kamu itu bisa maju atau mundur. Jadi, belum pasti. Papah gak mau terjadi apa-apa sama menantu dan cucu Papah."
Hati Niar sangat bahagia memiliki suami seperti Dirga dan juga mertua seperti Deri. Di kelilingi dua pria yang sangat perhatian membuat hatinya menghangat.
Di rumah hanya ada Nindy dan juga Niar. Mereka berbincang tentang malam pertama Nindy. Nindy menjelaskan tanpa terkecuali dan mampu membuat Niar tertawa terbahak-bahak.
"Parah kamu, Ndy."
__ADS_1
"Biarin lah, Kak. Ndy, masih ragu akan perasaannya," keluh Nindy.
Kisah Nindy dan Niar memang berbeda. Malam pertama Niar memang terlaksana dengan sempurna karena mereka memang sama-sama cinta. Berbeda dengan Nindy, sehari sebelum menikah dia merasakan keraguan karena mengetahui bahwa wajahnya mirip dengan mendiang istri Kenan. Nindy takut, jika dia hanya dijadikan fantasi liar Kenan.
Ketika makan siang tiba, Dirga pulang dan disambut hangat oleh Niar.
"Manis banget, sih," ucap Nindy, ketika melihat kakaknya tengah mengecup lembut perut Niar.
Nindy hanya bisa menjadi penonton atas kemesraan yang dipertontonkan oleh Dirga. Dia juga mendapat pelajaran dari apa yang dilihatnya. Suatu saat nanti, dia ingin seperti Niar dan juga Dirga. Mesra setiap saat tanpa ada rekayasa.
"Suami kamu masih banyak kerjaan. Setiap hari Kakak hanya bekerja setengah hari," imbuh Dirga.
"Gak masalah, Kak. Ndy juga gak mau terjadi apa-apa sama keponakan Ndy," balasnya.
Kakaknya ini adalah panutan bagi Nindy. Dia berharap Kenan akan siaga seperti itu.
"Masih sering sakit?" Niar menggeleng.
Dia sudah menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang. Kakinya tengah dipijat lembut oleh Dirga.
"Mau makan di luar?" tanya Dirga.
"Aku pengen mie instan, tapi nanti aja. Aku ngantuk."
Dirga tersenyum mendengar ucapan sang istri. Menjadikan Niar ratu dalam rumah tangganya adalah tujuan utama dia menikahi Niar. Selagi Dirga masih bisa memenuhi kenapa tidak.
Istrinya sudah terlelap, Dirga mulai membuka laptopnya. Banyak pekerjaan yang menantinya. Namun, demi istri dan sang buah hati dia rela menundanya dan rugi puluhan juta bahkan ratusan juta tiap hari.
"Jangan khawatir, Nak. Rezeki mu yang telah hilang akan diganti dengan rezeki yang berlimpah oelh anakmu. Percayalah."
Dirga masih ingat akan ucapan sang ayah. Dia lah yang selalu meyakinkan Dirga agar terus mengutamakan keluarga dibanding perusahaan.
"Waktu adalah hal yang tidak bisa terulang. Nikmati momen-momen langka seperti ini."
Lengkungan senyum terukir jelas di wajah Dirga. Dia malah bahagia bersama keluarganya daripada memikirkan perusahaan yang membuatnya stres sendiri. Untung saja ada Kenan yang membantunya.
Ketika ada telepon masuk, Dirga segera keluar dari kamar. Dia tidak ingin mengganggu istri tercintanya. Setelah selesai, barulah dia menemani sang istri kembali.
Gerakan bayi mereka di dalam perut Niar membuat Dirga tersenyum bahagia. Anak itu terlihat sangat aktif dan terkadang membuat ibunya meringis.
"Jangan nakal dong, Nak. Biarkan Mamih istirahat, ya." Dirga mengecup perut buncit Niar. Gerakan itupun seolah berhenti, mengerti akan apa yang diucapkan oleh sang papih.
Nindy masih menunggu suaminya pulang. Sudah jam sembilan malam, Kenan belum juga kembali. Ingin bertanya kepada sang kakak, ternyata mereka berdua sudah pulang.
"Sebentar lagi Mas pulang."
Itulah pesan yang dibalaskan oleh Kenan. Ada ketakutan di hati Nindy. Apalagi, ponsel sang suami tidak bisa dihubungi. Waktu terus bergulir, Nindy pun terlelap di sofa. Kenan melebarkan matanya ketika membuka pintu kamar. Dia melihat jam yang melingkar di tangannya.
"Jam sebelas malam."
Hanya hembusan napas penuh penyesalan yang Kenan keluarkan.
Sebentar menurut Kenan adalah dua sampai tiga jam. Dia benar-benar merutuki kebodohannya.
"Sayang."
Kenan mencoba membangunkan sang istri. Sentuhan tangan Kenan membuat mata Nindy terbuka. Seketika dia langsung memeluk tubuh sang suami.
"Mas, ke mana aja?" Ada raut kekhawatiran di wajahnya.
"Maaf, Sayang. Mas banyak kerjaan."
Nindy melepaskan pelukannya. Dia hendak meninggalkan Kenan, tetapi Kenan cekal. "Mau ke mana?" tanya Kenan.
"Mau menyiapkan makan malam untuk Mas." Kenan menggeleng.
"Mas, sudah makan." Raut kecewa terlihat jelas di wajah Nindy.
"Kamu udah makan?" Nindy menggeleng. Lagi-lagi Kenan merutuki kebodohannya.
"Mau makan di luar?"
"Mas, 'kan udah makan," jawab Nindy.
"Gak apa-apa, perut Mas masih mampu menampungnya kok." Nindy memeluk tubuh Kenan. Dia merasakan ada sedikit cinta yang Kenan miliki kepadanya. Meskipun, dia lelah masih mau mengajak dirinya kulineran tengah malam.
Kenan dan Nindy berkeliling Kota Jakarta malam hari. Suasana yang lengang memberikan suasana yang berbeda.
"Mas, makan di angkringan aja," tunjuk Nindy kepada angkringan pinggir jalan.
Tanpa menjawab, Kenan menepikan mobilnya. Mereka turun dan memesan berbagai macam sate-satean yang dibakar.
Kenan melepaskan jaketnya dan dia pakaikan ke tubuh Nindy. Nindy menatap bingung ke arah Kenan.
"Biar gak kedinginan," usapan lembut Kenan berikan di kepala Nindy.
"Beginikah rasanya pacaran setelah menikah?" batin Kenan.
Melihat Nindy yang dengan lahap menyantap makanan angkringan membuat Kenan bahagia. Hal sederhana, tapi mampu membuat pasangannya bahagia.
__ADS_1