
"Aku sungguh mencintai kamu, Sayang. Sungguh."
Mata Nindy membelalak dengan sempurna. Mata mereka seakan terkunci. Kenan sudah mulai mendekatkan wajahnya ke arah sang istri. Bibirnya sudah bermain di bibir ranum milik Nindy. Sungguh pagi yang memabukkan. Andai saja Nindy tak datang bulan. Sudah Kenan serang tanpa ampun.
Wajah berseri Kenan tunjukkan, apalagi dia mendengar balasan dari sang istri.
"Aku juga mencintai kamu, Mas."
Sungguh membuat hati Kenan merasa lega. Tinggal menunggu beberapa hari lagi untuk mereka belah duren. Rasanya enggan sekali Kenan melepaskan pelukannya di tubuh Nindy. Seperti memiliki magnet Yaang gak memperbolehkannya untuk menjauh. Hati Kenan sangat bahagia. Perasaannya terbalas oleh wanita yang sangat dia sayangi.
Di kantor, Dirga sudah mengerang kesal karena asistennya belum datang juga. Padahal waktu sudah menunjukkan pukul delapan.
"Ke mana sih nih orang?" kesalnya. Dirga terus menghubungi Kenan. Akan tetapi, panggilan itu tak Kenan jawab.
Umpatan demi umpatan kekesalan keluar dari mulut Dirga. Selang lima belas menit, pintu ruangannya terbuka. Kenan datang dengan wajah yang berbunga. Tak dia hiraukan sang atasan sudah mengeluarkan tanduk kemurkaan.
"Dari mana kamu? Emang ini perusahaan bapak moyang kamu?" hardik Dirga.
Kenan seakan tuli, dia tidak akan meladeni ocehan sang bos yang tengah murka. Lebih baik diam, tak menimpali ucapan Dirga. Lebih baik mendengarkan umpatan demi umpatan yang keluar dari mulut Dirga karena jika diladeni, bosnya akan semakin kesetanan.
Ponsel Dirga berdering, ocehannya pun terhenti. Kenan bisa menebak pasti istri dari bosnya lah yang menelepon.
"Hem."
Kenan menatap ke arah Dirga. Biasanya bosnya akan berkata lembut jika berbicara dengan sang istri.
"Iya. Makan siang aja."
Awalnya Kenan penasaran, tetapi dia membiarkannya saja. Masih banyak pekerjaan yang harus dia selesaikan agar bisa pulang cepat dan menonton drama Korea yang banyak adegan silat lidahnya bersama Nindy. Lebih asyik lagi drama Korea yang ada adegan ehem-ehemnya agar sedikit demi sedikit istrinya belajar.
Seperti biasa ketika makan siang tiba, Dirga pulang ke rumah. Sudah ada adiknya di sana dengan senyum yang merekah.
"Udah belah duren?"
Pertanyaan yang membuat Niar tertawa, berbanding terbalik dengan Nindy yang mendengus kesal. Dirga malah mendudukkan diri di samping sang istri dan ikut mengusap lembut perut Niar yang sudah sangat besar.
"Nindy lagi datang bulan. Bagaimana bisa belajar duren?" sahut Niar.
"Kak, apa Mas Kenan benar-benar mencintai Ndy?"
Dirga dan Niar menatap Nindy yang masih merasa ragu. Kenan pun sudah menceritakan semuanya kepada Dirga perihal hatinya sekarang ini. Kenan juga sudah berjanji akan menjadi suami yang akan mengerti istrinya .
"Ndy, Kenan itu bukan pria yang mudah untuk jatuh cinta. Selama Kakak mengenal dia, dia tidak pernah tertarik dengan wanita manapun. Banyak wanita yang mendekatinya, tetapi dia dengan terang-terangan menolak para wanita tersebut. Untuk hal kemiripan kamu, Kakak juga baru tahu bahwa kamu mirip dengan mendiang istrinya. Lebih dari lima tahun Kakak bekerja sama dengan dia, berahabat dengannya, Kenan sangat tertutup akan hal pribadi. Baru beberapa ini Minggu ini Kakak tahu akan sosok mendiang istrinya."
Nindy dan Niar masih setia mendengarkan ucapan Dirga. Bukan hanya mereka berdua yang tidak tahu aslinya Kenan. Kakak dan suami mereka pun tidak terlalu mengenal Kenan ya g sesungguhnya.
"Jika, dia sudah mengataka kata cinta kepada kamu. Sudah dipastikan dia memang benar-benar mencintai kamu. Apalagi jika dia sudah banyak berkorban untuk kamu. Tidak ada yang harus kamu ragukan lagi. Kenan itu adalah pria yang sangat setia," terangnya.
Dirga berbicara seperti itu karena selama bekerja dengan Kenan, Kenan tidak terpengaruh dengan wanita di luaran sana. Ketika ditanya kenapa, jawabannya hanya satu. "Saya masih mencintai almarhumah istri saya."
Nindy terdiam, kata cinta selalu Kenan ucapkan. Pengorbanan pun sudah dia lakukan, dari mencari makan tengah malam. Membelikan obat pereda nyeri haid, membeli pembaloet, sudah Kenan lakukan. Apalagi kata-kata cinta itu sangat tulus Kenan katakan. Hanya helaan napas kasar yang Nindy keluarkan. Dia belum merasa yakin bahwa Kenan benar-benar mencintainya. Nindy masih bingung dengan perasaannya.
Melihat kemesraan sang kakak dengan istrinya membuat Nindy iri dan memilih untuk pergi. Dia memilih untuk menghampiri suaminya di kantor. Dia ingin menikmati makan siang bersama sang suami.
Ketukan pintu terdengar dari balik ruangan Kenan. Suara Kenan yang menyuruh masuk pun terdengar. Mata Kenan melebar ketika dia melihat siapa yang baru saja masuk.
"Kok gak bilang?"
"Biar surprise," jawab Nindy.
Kenan tersenyum dan bangkit dari kursi kebesarannya. Dia menghampiri sang istri dan mengecup kening Nindy. Membawa Nindy duduk di sofa.
__ADS_1
"Mas, udah makan siang?" tanya Nindy.
"Udah." Wajah lesu Nindy tunjukkan.
"Memangnya kamu belum makan?" Nindy pun menggeleng.
"Ya udah, mau makan di mana?" Kenan rela meninggalkan pekerjaan demi menemani istrinya makan siang.
"Nanti aja deh, Mas. Takut ganggu pekerjaan Mas."
Kenan tersenyum dan mengusap lembut kepala sang istri. "Apapun akan Mas lakukan untuk kamu, Sayang." Kalimat yang penuh dengan ketulusan
Nindy menggeleng, dia memilih menyandarkan kepalanya di pundak Kenan.
"Pesankan makanan aja, mau makan di sini, tapi ... suapin."
Kenan pun terkekeh dan mengangguk pelan. Kenan membuka aplikasi ojek online dan dia membiarkan Nindy memilih makanan apa yang dia inginkan.
"Ini, Mas." Nindy menyerahkan ponsel suaminya. Nindy mulai jahil, dia malah duduk di pangkuan suaminya di kursi kebesarannya. Merangkul leher Kenan dan mengecup pipinya dengan mesra.
"Sayang, jangan buat Mas bernapsu dong," keluh Kenan. Nindy hanya tertawa. Nindy juga merasakan ada yang sudah meninggi di bawah sana.
"Mas serius banget," ujarnya sambil meletakkan wajahnya di dada bidang sang suami. Mata Kenan masih terfokus pada layar segiempatnya.
"Mas harus selesaikan pekerjaan ini supaya bisa pulang cepat dan berduaan sama kamu." Kecupan hangat Kenan berikan di puncak kepala Nindy.
Rasa bahagia dirasakan oleh Nindy. Suaminya tidak marah memangkunya hampir setengah jam. Malah sesekali mengecup ujung kepala Nindy berulang. Ketika Nindy hendak turun pun malah dilarang oleh Kenan.
Ketukan pintu memaksa Nindy untuk bangun dari pangkuan Kenan dan beralih ke sofa. Ternyata seorang office boy mengantarkan pesanan yang dipesan oleh Nindy.
Kenan menghampiri Nindy dan meletakkan semua makanan yang Nindy pesan di atas meja. Mata Nindy berbinar ketika melihat sei sapi kesukaannya, ekstra sambal super pedas.
"Sayang, itu biji cabe semua. Nanti perut kamu sakit," ucap Kenan sambil mengusap lembut perut sang istri.
"Mas, ini ada es cappuchino. Biar otak Mas adem," kelakar Nindy.
Kenan mencubit hidung Nindy dengan gemas karena berani mengejeknya. Kenan merasa sangat senang bisa menikmati makan siang bersama dengan sang istri tercinta. Walaupun hanya di tempat kerja.
Kenan melihat ada martabak manis isi ekstra keju kesukaannya. Nindy menyuapi sang suami tercinta. Mengambil tisu karena di sudut bibirnya ada sisa keju.
"Makasih ya, Sayang." Kecupan hangat Kenan berikan lagi.
"Sama-sama, Mas." Senyum Nindy merekah dan membuat Kenan merasa sangat bahagia.
Kenan melanjutkan pekerjaannya kembali. Membiarkan Nindy menghabiskan makanan yang dia pesan. Satu jam berselang, Kenan melihat ke arah sang istri yang ternyata sudah tertidur di sofa. Posisi yang sangat tidak nyaman Nindy rasakan membuat Kenan harus membenarkannya. Dia mengangkat kepala Nindy kemudian meletakkan di atas bantal.
Kaki jenjang Nindy pun Kenang tutup dengan jasnya. Dia tidak ingin ada orang yang melihat kemolekan tubuh istrinya selain dia sendiri.
"Mimpi indah, Sayang." Kenan sangat senang mengecup kening Nindy. Apalagi melihat Nindy yabg terpejam membuat rasa sayangnya semakin membuncah.
Kenan sibuk dengan pekerjaannya. Tak terasa sudah dua jam berlalu. Nindy masih tertidur nyenyak, efek kekenyangan. Kenan hanya tertawa melihat sang istri.
Jam empat barulah Nindy terbangun. dia langsung menghampiri sang suami dan duduk di pangkuannya kembali.
"Mas, ingin bakso."
Kenan pun terkekeh mendengar ucapan Nindy. Baru bangun tidur sudah ingin bakso.
"Pulang kerja ya, Sayang." Kenan mengecup kening Nindy sangat dalam.
Nindy merasa nyaman duduk di pangkuan sang suami dan memeluk pinggang Kenan. Membenamkan wajahnya di dada bidang Kenan.
__ADS_1
"Manja banget sih."
Nindy tidak menggubris ucapan Kenan. Dia masih nyaman dengan posisi seperti ini. Tangan dan mata Kenan masih terfokus pada layar laptopnya.
Satu jam berselang, semua tugas Kenan sudah selesai. Nindy tersenyum dan mengecup pipi sang suami tercinta.
"Mau makan bakso?" Nindy pun mengangguk.
Kenan mengecup gemas bibir ranum sang istri. Kemudian, mereka keluar dari kantor dengan tangan Nindy yang melingkar di lengan Kenan dan membuat bibir Kenan melengkung dengan sempurna. Mobil yang Kenan kendarai berhenti di sebuah kedai bakso yang cukup terkenal.
Dua mangkuk bakso Nindy pesan, tak dia hiraukan para anak remaja yang menatap ke arah sang suami. Malah Nindy melingkarkan tangannya dan bergelayut manja.
"Kamu mau apa, Sayang?" tanya Kenan. Tidak biasanya istrinya seperti ini. Padahal banyak pengunjung lain di sini.
"Aku gak suka Mas dilihatin sama bocah-bocah itu," sungut Nindy.
"Ya ampun, mau lihatin Mas sampai mata mereka keluar pun Mas gak akan pernah tertarik sama mereka, Sayang."
Dua mangkuk bakso disajikan di meja, Nindy sudah menambahkan sambal yang banyak sekali ke dalam mangkuk baksonya.
"Sayang, itu makan sambal namanya." Nindy hanya menatap Kenan dengan penuh harap. Akhirnya Kenan menyerah juga.
Namun, melihat sang istri makan dengan sangat lahapnya membuat Kenan tersenyum bahagia. Apalagi seharian ini Nindy sangat manja kepadanya seperti memberikan kode alam.
"Mau langsung pulang atau keliling lagi?" tanya Kenan, setalah selesai makan bakso.
"Pulang aja, Mas. Aku ingin mandi." Kenan menuruti apa yang dikatakan oleh sang istri.
Setelah keduanya membersihkan tubuh mereka, dering ponsel Kenan berbunyi.
"Baik, Pak. Saya dan istri saya akan ke rumah Bapak."
Meskipun sudah menjadi adik ipar dari Dirga, bahasa baku masih Kenan ucapkan jika berbincang dengan Dirga.
"Ada apa, Mas?" tanya Nindy yang baru saja masuk ke dalam kamar setelah membuatkan kopi untuk sang suami.
"Kita disuruh ke rumah kakak kamu," ujarnya.
"Ada apa?" tanya Nindy bingung.
"Mas gak tahu, Sayang."
Kenan mengajak Nindy untuk bersiap, tetapi Kenan melarang Nindy untuk memakai pakaian terbuka.
"Mulai sekarang jangan pakai pakaian yang mini-mini, ya. Mas gak mau tubuh kamu dilihat pria lain." Nindy pun tersenyum dan mengangguk patuh.
"Belanja baju berarti, ya." Kenan tertawa mendengarnya.
"Bilang aja mau shoping." Kenan mencubit hidung sang istri penuh kegemasan.
Tibanya di rumah Dirga, Kenan dan Nindy mendengkus kesal ketika melihat kemesraan pasangan ini. Kenan pun tak mau kalah, dia sudah mulai berani memeluk dan mencium istrinya di depan Dirga. Seperti sedang adu kemesraan.
"Kalau tahu begini, mending gak kesini," dengkus Nindy.
"Mau pulang?" tanya Kenan. Nindy pun mengangguk.
Dirga dan Niar pun tertawa, ternyata Kenan memang benar-benar mencintai adiknya. Tanpa malu dia mencium kening serta puncak kepala Nindy berkali-kali. Ya, Dirga hanya ingin melihat kesungguhan Kenan. Sekarang dia sudah yakin, tinggal hanya menunggu Nindy tersadar akan cinta tulus yang dimiliki oleh Kenan untuknya.
"Untungnya kita sama-sama cinta," ujar Niar.
Dirga tertawa dan memeluk erat tubuh istrinya. "Cinta kita sangat kuat. Kita memang ditakdirkan untuk bersama. Apalagi, sudah ada Dirga junior di dalam sana," imbuh Dirga.
__ADS_1
Kebahagiaan Niar dan Dirga sudah tidak bisa dikatakan dengan kata-kata. Sekarang, tinggal menunggu giliran adik Dirga serta asistennya yang berbahagia.