Tak Kan Kulepas Lagi

Tak Kan Kulepas Lagi
Calon Suami


__ADS_3

Kehadiran Nindy di kantor membuat Kenan sedikit bersemangat. Dirga sedikit menaruh kecurigaan kepada Kenan. Tidak biasanya manusia dingin seperti Kenan sering tersenyum sekarang. Namun, jika ditanya Kenan selalu mengelak.


Setiap pagi, Kenan selalu datang lebih awal. Dia sedang menunggu seseorang yang sudah mulai bisa mengusik ke dalam hatinya. Turun seorang wanita dengan menggunakan ojek online. Dia tersenyum ramah kepada security yang berjaga. Senyum wanita itu bagai mood booster untuk Kenan.


"Ndy, ke ruangan saya sekarang." Dirga menghubungi Nindy dan tak lama dia masuk ke dalam ruangan Dirga dengan membawa tablet khusus.


"Jadwal hari ini."


Nindy menjabarkan semuanya. DIrga hanya menyimak dengan mata yang masih fokus ke laptop.


"Baiklah. Kosongkan jadwal setelah makan siang sampai jam tiga sore. Saya mau ke rumah sakit menemani isteri cek kandungan."


"Baik."


Semenjak magang di sini, Nindy banyak berubah. Dia terlihat lebih dewasa dan cara bicaranya tertata rapih. Dalam diam, ujung mata Kenan sesekali melirik ke arah Nindy.


"Siapkan semuanya, dan kamu harus ikut," titah Dirga.


Baru saja Nindy hendak membuka suara, Dirga sudah mencelanya.


"Tidak ada penolakan."

__ADS_1


Akhirnya, Nindy mengangguk pelan sambil menggerutu di dalam hati. Kakaknya yang kejam dan bermulut pedas benar adanya. Setiap kali Nindy mendapat perkataan pedas, dia hanya bisa mengelus dada.


Mereka berangkat bertiga. Sudah pasti Kenan tidak ketinggalan. Dia bagai bayangan Dirga. Di manapun Dirga berada pasti di sana ada Kenan. Pertemuan mereka diadakan di sebuah restoran cukup private. Di sana sudah menunggu dua orang pria dan satu orang wanita.


Mereka menyambut kedatangan Dirga, Kenan serta Nindy. Namun, tubuh Nindy membeku ketika melihat orang yang tidak ingin dia temui ada di hadapannya sekarang ini.


"Nindy," sapa Rico.


Hanya wajah datar yang Nindy tunjukkan. Apalagi, wanita yang berada di samping Rico terus saya merapatkan tubuhnya ke arah Rico. Pembicaraan kesepakatan kerja sama berjalan dengan cukup lancar. Meskipun, ada beberapa hal yang terbilang alot untuk mencapai kesepakatan yang saling menguntungkan.


"Bagaimana jika kita sekalian makan siang. Lagi pula sekarang sudah menunjukkan pukul dua belas tiga puluh," ujar Pak Jodi.


"Baiklah. Setelah makan siang pun saya harus pulang terlebih dahulu ke rumah," terang Dirga.


"Dia Nindy, Pah," balas Rico.


"Nindy pacar kamu, Rico?"


Dirga menatap ke arah Nindy dan juga Kenan. Memastikan ekspresi keduanya seperti apa.


"Mantan, Om. Bukan pacar," sangkal Nindy.

__ADS_1


Hati Kenan bersorak gembira mendengar ucapan dari Nindy. Sudut bibirnya terangkat sedikit, memamerkan senyum yang sangat tipis.


"Sayang sekali, padahal Om sangat berharap kalian berdua berjodoh," ujar Pak Jodi.


"Nindy ini adik saya." Dirga membuka suaranya.


Pak Jodi dan Rico terkejut akan apa yang dikatakan oleh Dirga. Wajah tidak percaya terlihat jelas dari mata keduanya.


"Adik Pak Dirga?" Dirga hanya menganggukkan kepala.


"JIka, kita besanan pasti perusahan kita akan tumbuh pesat, Pak," tutur Pak Jodi.


Dirga hanya tersenyum tipis, sedangkan Nindy ingin sekali pergi dari ruangan ini. Kenan, dia masih menjadi pendengar yang baik dengan ekspresi datar seperti biasa.


"Rico, Papah harap kamu kembali lagi kepada Nindy. Dia wanita yang cocok untuk kamu. Bibit, bebet dan bobotnya sudah jelas," tukas Pak Jodi.


"Tapi, Pah. Nindy sudah memiliki calon suami," kata Rico.


"Baru calon, belum ...."


"Saya calon suami Nindy. Masih berani Anda melanjutkan ucapan Anda?"

__ADS_1


Nyali Pak Jodi seketika menciut. Kenan lebih sadis dari pada Dirga. Di balik wajahnya yang dingin, dia juga manusia berdarah dingin. Siapa saja bisa dia lenyapkan.


__ADS_2