
Di balik kabar bahagia Dirga dan Niar ada kabar duka yang tengah menyelimuti ibu kandung Nindy. Septi terbaring lemah di rumah sakit. Pihak kepolisian membawa Septi ke rumah sakit untuk menjalani perawatan. Itupun atas permintaan Deri. Dalam diam Deri masih memperhatikan Septi.
Kabar itu sengaja tidak Deri beri tahu kepada anak-anaknya. Apalagi kedua anaknya tengah berbahagia. Dirga dengan kelahiran putranya dan Nindy dengan suaminya.
Keluarnya Deri dari ruang perawatan Niar, bukan karena dia tidak ingin membuat Niar canggung. Namun, dia mendapat kabar dari pengacaranya bahwa Septi dirawat di rumah sakit yang sama dengan Niar.
Deri menyandarkan kepalanya di dinding. Menunggu pengacaranya datang. Hati kecilnya ingin memberi tahu anak-anaknya. Akan tetapi, Deri tidak ingin mengganggu kebahagiaan mereka.
Tak berselang lama, pengacara Deri datang dan mengantar Deri menuju ruang perawatan Septi. Hanya melihat dari sela kaca pintu, hati Deri sangat sakit. Apalagi dia tahu Septi sangat menyayangi Dirga seperti putra kandungnya sendiri.
"Masuklah, Pak."
Deri membeku dan mengurungkan niatannya untuk menemui Septi.
"Laporkan perkembangannya saja," tukasnya.
Andre, pengacara Deri hanya dapat mengiyakan ucapan kliennya ini. Dia tahu, perceraian Deri dengan Septi sedikit mengguncang jiwanya. Namun, Deri juga tidak ingin melihat anak-anaknya tidak bahagia karena ulah ibunya.
Deri kembali ke kamar perawatan Niar, lengkungan senyum terukir di wajahnya ketika sang putra tengah menggendong cucunya. Penerus perusahaannya serta perusahaan Dirga.
"Kak Niar, kok mukanya gak ada miripnya sama Kakak sih," ujar Nindy.
"Dihabisin semua sama papihnya," sahut Niar, seraya tertawa.
"Itu tandanya cinta aku itu sangat besar untuk kamu, Sayang," timpal Dirga.
"Saking cintanya sekarang jadi Papih bucin," ejek Nindy.
"Kayak si Kenan gak bucin aja," balas Dirga.
Nindy kalah telak oleh Dirga, dia tidak bisa menjawab dan membuat Niar tertawa.
"Kalau laki-laki itu bucin sama kita berarti dia sangat menyayangi kita," jelas Niar.
"Dengar tuh," balas Dirga.
Dari kejauhan Deri tertawa kecil mendengar perdebatan antara Dirga dan Nindy. Keduanya sudah bahagia, tugas Deri sebagai ayah sudah selesai. Dia menghampiri kedua anaknya. Mengusap lembut rambut sang cucu.
"Siapa nama cucu Papah?" tanyanya.
"Dinar Arshen Anggara," jawab Dirga.
"Namanya bagus banget. Semoga jadi anak yang Soleh. Cukup contoh yang baik-baik aja dari Papih kamu ya, Dek, yang jelek-jeleknya mah buang ke laut aja," ucap Nindy.
Dirga bersungut-sungut pelan dan membuat semuanya tertawa. Deri sangat merasakan kebahagiaan kedua anaknya ini. Suasana yang jarang terjadi.
Niar menyuruh Dirga untuk meletakkan Dinar di dalam boks bayi. Dia tidak ingin anaknya ini bau tangan.
"Jangan dibiasain, ya. Nanti akunya gak bisa ngapa-ngapain." Dirga dan Niar mengangguk.
"Om bucinnya gak ingin nengok keponakannya apa?" tanya Dirga.
"Banyak kerjaan. Bosnya terlalu kejam ngasih pekerjaan gak kira-kira. Udah kayak kerja rodi aja." Nindy sedang meluapkan segala unek-unek hatinya. Dirga dan Niar pun terkekeh.
"Kerjaan banyak, gaji juga gak sedikit. Itu berimbang," bela Dirga.
Lagi-lagi Nindy terdiam. Apa yang dikatakan oleh Dirga benar adanya. Bukannya yang Kenan berikan untuk Nindy pun tak sedikit.
"Ay, ingin ke kamar mandi," ucap Niar.
Dirga membantu sang istri turun dari tempat tidur dan memapah istrinya menuju kamar mandi. Dia pun ikut masuk ke dalam kamar mandi karena Niar masih terlihat sangat kesakitan. Nindy bertugas untuk menjaga Dinar yang terlelap di dalam boks bayi.
"Sakit banget?" tanya Dirga.
"Iya. Kamu gak keberatan 'kan kalau aku meminta bantuan terus ke kamu sebelum aku Pulih sepenuhnya?" Dirga mengusap lembut rambut sang istri, dia mengecup kening Niar dengan penuh cinta.
"Tentu, Sayang. Aku gak akan pernah keberatan," jawabnya.
"Nanti aku akan tanya dokter, obat atau makanan apa yang dapat nembantu memulihkan keadaan kamu secara cepat," ujar Dirga.
Ketika Dirga dan Niar keluar dari kamar mandi, Kenan sudah di dalam kamar perawatan Niar dan tengah memandang putra pertama dari bosnya itu.
"Ke sini gak bawa apa-apa?" sergah Dirga.
"Enggak," jawabnya seperti orang yang tak merasa bersalah.
"Beliin kopi gih, sama jus alpukat tanpa es," titah Dirga.
__ADS_1
"Kakak mah kejam banget sih. Baru aja suami Ndy nyampe, udah disuruh-suruh," umpat Nindy.
"Gak apa-apa, Sayang. Pasti kamu juga lapar 'kan," sahut Kenan.
"Aku beli makanan dulu," pamitnya.
"Adik teladan," puji Dirga. Tak ada jawaban dari Kenan, dia hanya menatap jengah ke arah Dirga.
"Kamu senang banget sih godain Kenan," omel Niar.
"Lucu lihat mukanya kalau udah marah," kekeh Dirga. Nindy menatap kesal ke arah sang kakak.
Kenan datang dengan membawa makanan. Mereka menikmati makanan yang dibawa Kenan. Tidak dengan Niar, dia lebih memakan makanan yang diberikan oleh rumah sakit.
Dirga menyuruh Nindy dan Kenan untuk pulang. Biarlah dia saja yang menjaga Niar di rumah sakit. Namun, Nindy tidak mau.
"Enggak Kak, Ndy mau di sini aja. Pasti Kakak akan kerepotan nanti. Kak Niar 'kan belum boleh banyak gerak," balas Nindy.
Dirga tersenyum ke arah adiknya. Dia menatap ke arah adik iparnya. Hanya seulas senyum yang Kenan berikan. Kenan tidak akan mempermasalahkanya, hitung-hitung istrinya belajar menjadi seorang ibu.
Kenan dan Nindy menginap di rumah sakit. Apa yang dikatakan Nindy benar adanya. Malam hari anak Dirga buang air besar dan menangis kencang. Baru membuka popoknya saja Dirga sudah mual dan ingin muntah, membuat Nindy tertawa. Kenan masih bergelut di dalam selimut. Rasa lelahnya membuat dia tertidur dengan pulas.
"Kenapa dengan Dinar, Ndy?" tanya Niar panik.
"Gak usah khawatir, Kak. Dinar hanya buang air saja. Kakak memang tidak bisa berurusan dengan hal seperti ini," ungkap Nindy.
Niar bisa bernapas lega, sungguh dia takut dan cemas karena suaminya tiba-tiba berlari ke kamar mandi.
Nindy mengambil tisu basah, mengelap bokong Dinar dengan lembut. Sensasi tisu basah membuat Dinar sedikit menggigil.
"Sebentar lagi selesai ya," ucap Nindy.
Nindy memasangkan popok dan segera membedong Dinar kembali. Terlihat Dinar masih mengantuk. Dia timang-timang Dinar dan tak lama dia terlelap dengan damainya.
"Keponakan anteu pintar banget," ucapnya sambil mengecup pipi Dinar.
Niar tersenyum bahagia melihat Nindy yang benar-benar membantunya dan juga Dirga, sedangkan Dirga belum keluar dari kamar mandi.
"Makasih ya, Ndy."
Nindy tertawa dan duduk di samping ranjang pesakitan Niar. Dia menggenggam tangan Niar dengan hangat.
Ada kehangatan yang Niar rasakan. Dia merasa benar-benar dicintai oleh adik iparnya. Apalagi, terdengar kalimat yang sangat tulus yang Nindy katakan.
Tak lama Dirga keluar dengan wajah yang pucat, Nindy malah menertawakannya.
"Begitu aja payah," ejek Nindy.
Dirga tak menghiraukan ucapan Nindy. Dia meraih air putih di atas nakas dan meneguknya. Niar mencoba untuk duduk dibantu oleh Nindy. Dia memijat tengkuk Dirga.
"Ndy, tolong ambilkan minyak telon di sana," pinta Niar. Nindy pun mengambilkannya.
Niar membalur tengkuk leher dan juga perut Dirga dengan minyak telon. Dia juga perlahan memijat tengkuk sang suami.
"Kamu istirahat, ya. Kalau Dinar terbangun pasti dia nangis." Dirga mengangguk. Dia mengecup kening Niar sebelum membaringkan tubuhnya di atas sofa.
Seperti yang Niar katakan, ketika Dinar haus pasti dia akan menangis. Dirga yang akan sigap untuk membuka mata. Dia mengangkat tubuh Dinar dan meletakkan di tangan Niar.
"Tidur yang nyenyak ya, Nak. Ijinkan Mamih dan Papih tidur sebentar," ucapnya.
Niar tersenyum dan mengusap lembut pipi Dirga. "Makasih Ay, sudah menjadi suami dan ayah siaga," ujar Niar.
"Sama-sama, Sayang." Dirga mencium kening Niar dengan penuh cinta.
Nindy melihat kebahagiaan yang sempurna yang kakaknya miliki sekarang. Istri yang sangat dia cintai serta anak yang pastinya akan menjadi pelengkap untuknya
Sebenarnya Dirga enggan untuk pergi ke kantor. Akan tetapi, rapat penting harus dilaksanakan dan tidak bisa diwakilkan.
"Sayang, gak apa-apa ya aku tinggal sebentar," imbuh Dirga.
"Gak apa-apa, Ay. Ada Nindy kok di sini," jawabnya.
Berat rasanya meninggalakan istrinya. Dia takut istrinya kenapa-kenapa ketika dia tak ada di samping Niar.
"Udahlah Kak, jangan lebay. Ada Ndy di sini. Adikmu ini bisa diandalkan kok. Asalkan belikan nasi Padang aja," ucap Nindy seraya mengedipkan mata.
"Gampang itu mah. Jaga Kakak dan keponakan kamu, ya. Kalau ada apa-apa langsung hubungi Kakak." Nindy mengangkat dua jempolnya.
__ADS_1
Dirga mencium kening Dinar yang sudah dimandikan oleh perawat. Dia tersenyum karena wajah Dinar sangat mirip dengannya.
"Jagoan Papih, jangan nakal, ya. Jangan buat Mamih kecapek-an," imbuhnya.
Mendengar suara sang ayah Dinar yang sudah terlelap tersenyum membuat Niar dan Dirga ikut tersenyum bahagia. Dirga meninggalakan rumah sakit dan terlebih dahulu menuju rumahnya untuk berganti pakaian. Namun, dia melihat ada pengacara papahnya yang tengah tergesa ke sebuah ruang perawatan tak jauh dari kamar Niar.
Dirga sedikit curiga, tetapi dia mengabaikannya. Dia bukanlah orang yang ingin tahu urusan orang lain. Urusannya sendiri pun sudah sangat banyak dan menyita waktu.
Kalimat yang diucapkan oleh Dirga menjadi kalimat pamungkas untuk Dinar. Setengah hari ini dia terlelap, jadi Niar bisa tertidur karena semalam dia begadang bersama sang suami karena Dinar yang tak ingin lepas dari dekapannya.
"Andai Mamah masih bersama Papah," gumamnya pelan.
Nindy tahu pasti ibunya akan sangat bahagia apalagi cucu laki-lakinya sangat tampan seperti sang kakak. Namun, Niar tidak ingin memikirkan perihal itu. Dia tidak ingin membuat papahnya bersedih kembali.
Nindy menghampiri boks bayi Dinar. Banyak sekali gambar Dinar yang dia ambil. Malah Nindy jadikan foto profil aplikasi chat-nya.
"Sangat tampan sekali kamu, Sayang." Nindy benar-benar merasa gemas kepada Dinar. Ingin sekali dia menggigit pipi gembil Dinar yang berwarna merah.
Mata Dinar sedikit terbuka, tetapi dia tidak menangis. Nindy segera menepuk-nepuk lembut kaki Dinar agar tertidur kembali. Benar saja, matanya mulai menutup kembali.
"Sholeh banget kamu, Nak."
Lengkungan senyum terukir di wajah Nindy. Dinar menjadi kebahagiaan bukan hanya untuk Dirga dan Niar, tetapi untuk keluarga Deri.
Sesuai dengan janji Dirga, setelah pulang meeting dia membelikan Nindy nasi Padang dengan semua lauk yang ada di sana. Dirga sangat berterima kasih karena Nindy telah menikah anak dan istrinya dengan baik.
Ketika Dirga panik karena Niar tak kunjung menjawab panggilannya. Dirga melakukan panggilan video ke ponsel Nindy. Nindy menunjukkan keadaan anak dan istrinya. Sungguh hati Dirga sangat lega.
Ketika dia masuk ke dalam rumah sakit. Dia melihat sang papah berjalan tergesa. Namun, Dirga tak kunjung menghampirinya. Dia hanya mengikuti Deri dari belakang. Langkahnya terhenti ketika Deri mematung di depan kamar perawatan. Dia hanya melihat dari kaca pintu. Tidak masuk ke dalam. Rasa penasaran memenuhi hatinya.
"Siapa yang sedang Papah pantau?" gumamnya.
Dirga memilih bersembunyi terlebih dahulu. Rasa penasarannya membuatnya lupa akan tujuannya.
Tak lama, pengacara Andre menghampiri Deri. Akan tetapi, Dirga tidak bisa mendengar apa yang dikatakan oleh mereka berdua. Dirga masih bersembunyi, ketika papah dan pengacaranya pergi Dirga segera melihat ke ruang perawan tersebut.
Dirga mencoba melihat dari kaca yang berada di tengah pintu. Matanya memicing karena dia mengenal sosok yang tengah terbaring di sana.
"Mamah," gumam Dirga.
Dirga mencoba masuk ke dalam kamar tersebut, matanya nanar ketika melihat tubuh lemah dan pucat yang terbaring di brankar rumah sakit.
Langkahnya membawa Dirga mendekat ke arah ranjang pesakitan itu. Mata pasien itu sedikit terbuka. Mata pasien itu pun berkaca-kaca.
"Di-Dirga," ucapnya sangat pelan.
"A-anak Ma-mah," lanjutnya lagi.
Dirga memeluk tubuh Septi. Dia tidak bisa benci kepada wanita ini. Wanita yang sudah mengurusnya dari kecil dan memberikan kasih sayang yang sangat tulus kepada Dirga.
"Ma-maafkan Mamah, Nak. Maafkan Mamah." Bulir bening sudah membasahi wajah Septi.
"Ma-mah sangat menyayangi kamu," terangnya.
"Aku tahu, Mah," jawab Dirga.
Ada kehangatan yang tak terkira yang Septi rasakan. Ketakutannya terhempas seketika karena sang putra tidak membencinya atau menyimpan dendam.
"Ma-mah ingin meminta maaf kepada istrimu, Nak."
Dirga mengurai pelukannya. Dia menatap wajah ibunya yang sudah bermandikan air mata.
"Mamah sudah punya cucu."
Wajah Septi sedikit terkejut dan ada rona bahagia di sana. Dirga mengeluarkan ponselnya dan memperlihatkan foto anak pertamanya.
"Tampannya putra kamu, Nak. Seperti kamu waktu kecil."
Dirga mengangguk, semua orang mengatakan hal yang sama.
"Bagaimana dengan Niar? Dia baik-baik saja 'kan?" Setelah rona bahagia, sekarang ada kecemasan yang wajah Septi tunjukkan.
"Dia baik-baik saja. Hanya sedang dalam pemulihan."
"Syukurlah, maafkan Mamah yang tidak bisa mendampingi kamu dan istri kamu dalam proses persalinan," sesalnya.
"Gak apa-apa, Mah. Ketika Mamah sudah sembuh Mamah boleh jenguk cucu dan menantu Mamah. Aku akan ijin ke pihak kepolisian karena tidak mungkin aku membawa anakku ke sana." Septi mengangguk bahagia.
__ADS_1
Dirga memang tahu penyakit apa yang sedang diderita Septi, dia tidak akan menanyakannya kepada Septi karena mamahnya tidak akan berterus terang tentang penyakit yang dideritanya.