
Septi terdiam mendengar ucapan dari Niar. Sedangkan Niar sudah siap dengan tas di tangannya untuk pergi meninggalkan Dirga dan rumah itu.
"Kenan, semua kartu bosmu tolong bekukan. Dan setelah pernikahan itu terjadi, tolong usir mereka dari rumah ini. Meskipun aku tidak akan tinggal di rumah ini, tetapi aku tidak mau rumah ini diinjak oleh wanita muka badak ini." Kenan pun mengangguk paham.
"Apa maksud kamu Niar?" bentak Septi.
"Apa kurang jelas apa yang aku ucapkan?" tanya balik Niar.
"Aku penasaran, sebenarnya ada hubungan apa antara Mamah dengan si Bunga bangkai ini hingga Mamah bersikeras ingin menikahkan anak laki-laki Mamah. Padahal anak laki-laki Mamah sudah memiliki seorang istri," sinisnya.
"Dan yang membuat aku lebih bertanya lagi. Kenapa Mamah terkejut ketika mengetahui semua harta anak Mamah atas namaku? Bukankah perusahaan DN pun nama pemiliknya adalah aku," jelasnya lagi.
"Apa jangan-jangan Mamah hanya mengincar harta suamiku dengan mengkambing hitamkan si Bunga bangkai ini," terka Niar lagi.
Mata Septi melebar begitu juga Deri dan juga Dirga. Dirga menatap sang papa yang dijawab anggukan kepala oleh Deri.
__ADS_1
"Pokoknya kamu harus menikah dengan Bunga," titah Septi kepada Dirga.
"Jika tidak, lebih baik Mamah mati dari pada harus hidup dalam rasa berdosa," ancamnya.
"Kenapa Mamah selalu mengancam aku seperti itu? Tidakkah Mamah kasihan terhadap anak yang berada di dalam kandungan istriku? Aku tidak menjanjikan apa-apa. Yang menjanjikan itu Mamah. Kenapa aku yang harus menerima getahnya?" terang Dirga dengan menggebu-gebu.
"Aku rela hidup miskin asalkan bersama istriku bukan dengan wanita lain. Dan malam ini aku sadar, aku hanya dijebak oleh Mamah. Jika, Mamah tetap memaksa. Aku lebih ikhlas kehilangan seorang ibu dari pada kehilangan istriku," ujar Dirga lagi.
"Dan kamu Bunga, minta pertanggung jawabanlah kepada mamahku. Jangan kepadaku. Karena aku tidak tahu apa-apa tentang perjanjian antara kamu dan Mamahku. Jika, terbukti kalian berdua sekongkol. Aku tidak segan-segan menghancurkan hidup kalian berdua. Meskipun itu Mamahku sendiri." Ucapan Dirga penuh dengan penekanan. Membuat Septi sedikit gemetar.
"Sayang," panggil Dirga ke arah Niar. Hati Niar mulai menghangat kembali. Apalagi ucapan Dirga itu pasti terealisasi.
Plak!
"Anak durhaka kamu, Dirga!" bentak Septi.
__ADS_1
"Tidak akan ada anak durhaka jika kedua orang tuanya mendidik anaknya dengan benar. Bukan malah menjerumuskan anaknya ke dalam kubangan dosa," jawab Dirga yang masih berani menatap ke arah Septi.
"Pah, lihat anakmu," adu Septi.
"Yang dilakukan oleh Dirga benar. Harusnya kamu yang sadar diri. Anak kamu sudah menemukan kebahagiaan. Harusnya kamu mempertahankan kebahagiaan anak kita. Bukan malah merusak kebahagiannya," sahut Deri.
Dahi Kenan mengkerut ketika melihat hasil laporan yang dia minta. Ada beberapa foto juga yang dikirim. Sontak matanya membola.
"Hari Pranoto," ucap Kenan.
Mata Bunga melebar tak terkecuali Septi.
"Itu Ayahku yang telah dibunuh oleh dia," tunjuk Bunga pada Dirga. Dirga hanya berdecak kesal.
"Ada hubungan apa antara Nyonya Septi dengan almarhum Hari Pranoto?"
__ADS_1
...****************...
Komen ya ....