
Kelegaan tengah menyelimuti hati Dirga. Akhirnya, dia bisa bertemu dengan ibunya. Meskipun bukan ibu kandung, Septi tetap menjadi wanita yang sangat spesial bagi Dirga. Wanita pertama yang mampu menyayanginya dengan sangat tulus. Wanita yang dia panggil mamah. Pengorbanannya tidak akan pernah bisa Dirga balas.
"Ga, bagaimana dengan Nindy? Apa dia bahagia dengan suaminya?"
Dirga tersenyum dan mengangguk. Dia tahu bahwa sang papaph akan memberitahu istrinya tentang pernikahan Nindy. Bagaimanapun Septi adalah ibu kandung Nindy. Lengkungan senyum pun terukir di wajah Septi.
"Salam untuknya ya, Nak."
"Pasti, Mah."
Dirga melihat ke arah jam tangannya. Dia harus cepat menemui sang istri dan juga adiknya.
"Mah, aku pamit, ya. Niar sudah menunggu."
Septi mengangguk dan memeluk tubuh Dirga dengan sangat erat.
"Mamah sangat menyayangi kamu, Nak."
"Aku juga sangat sayang sama Mamah," jawabnya.
Dirga keluar dari ruangan Septi. Dia melangkahkan kaki menuju kamar perawatan sang istri. Kedatangannya disambut oleh Nindy. Apalagi Dirga membawa bungkusan yang dia pesan.
"Udah bangun, Sayang?" tanyanya pada Niar.
"Baru bangun, soalnya anak kita bangun," sahutnya.
Dirga meletakkan barang bawaanya di atas nakas. Dia mengecup kening Niar sangat dalam.
"Ay, panggilan anak kita jangan Dinar, ya," pinta Niar.
__ADS_1
Dirga menarik kursi yang ada di samping ranjang pesakitan. Dia menggenggam tangan istrinya seraya mengecupnya, sedangkan Nindy sedang asyik makan nasi Padang yang dibawa oleh Dirga.
"Mau panggil anak kita apa?" tanya Dirga.
"Arshen."
Dirga pun tersenyum, dia mengangguk setuju dengan keinginan sang istri.
"Lebih macho," ujar Dirga.
"Emak-emak online pada protes, katanya namanya kayak nama anak perempuan." Dirga pun tertawa.
"Aku akan ikutin apa maunya kamu. Apalagi menyangkut anak kita," jelasnya.
"Terima kasih, Sayang."
Sebelum menyentuh Arshen, Dirga mencuci tangan terlebih dahulu sekaligus mencuci wajah. Dia tersenyum ketika melihat Arshen yang tengah terlelap dengan nyamannya.
"Hai Arshen!" panggil Dirga.
Bagi laki-laki yang tengah terlelap pun tersenyum mendengar ucapan Dirga.
"Sepertinya kamu senang dengan nama baru kamu ya, Nak." Lagi-lagi Arshen tersenyum.
Tangan Dirga sudah menyentuh pipi merah Arshen. Duplikat dari Dirga Anggara.
"Tampan sekali sih kamu, Nak." Tangan Dirga tidak henti menyentuh pipi Arshen hingga dia menggeliat-geliat lucu. Dirga tergelak melihat putranya.
"Ay, jangan gangguin dong. Baru juga tidur," tegur Niar.
__ADS_1
"Aku kangen sama Arshen, Sayang,* jawabnya.
Niar yang mendengar ucapan Dirga tertawa. Suaminya seperti menemukan mainan baru.
"Kak, kalau lagi Mimi susu tuh lucu tahu. Rakus banget, kalau diganggu langsung marah," kata Nindy.
"Iyakah?" tanya Dirga tidak percaya.
"Serius, kasihan tahu Kak Niar kesakitan. Ganas banget mentang-mentang cowok," lanjutnya lagi.
"Sama kayak papihnya," gumam Niar. Dirga malah tertawa.
"Itu pria sejati namanya."
Nindy menatap Dirga malas. Kakaknya ini semakin hari semakin bar-bar. Kata-katanya pun tak pernah disaring mentang-mentang dia sudah menikah.
"Ay, udah dong jangan diganggu Arshennya. Mending kita berduaan mumpung anak kita lagi tidur."
Mendengar ucapan Niar, Dirga menatap ke arah sang istri yang sudah tersenyum.
"Pijitin."
Nindy tertawa terbahak-bahak mendengarnya. Dirga melirik tajam ke arah sang adik. Dirga mendekat ke arah sang istri.
"Masih sakit?" tanya Dirga.
"Udah mendingan." Dirga mulai memijat lembut kaki sang istri.
Dirga tidak akan pernah menolak apa yang diinginkan sang istri. Apalagi dia melihat sendiri Niar berjuang di antara hidup dan mati untuk melahirkan Dinar Arshen Anggara.
__ADS_1