
Kenan membawa Nindy pergi dari taman ketika Nindy sudah merasa tenang. Dia tidak boleh gegabah untuk hal ini. Dia harus berbicara tentang ini kepada mertua serta kakak iparnya.
Tibanya di rumah, Kenan membawa tubuh Nindy turun dari mobil. Nindy terlelap karena letih menangis. Dia meletakkan Nindy sangat hati-hati dan kemudian mengecup keningnya sangat dalam.
"Mas, akan memberikan kebahagiaan untuk kamu," gumamnya.
Keesokan paginya, wajah Nindy masih sembab. Dia tidak mau keluar kamar karena takut dapat pertanyaan dari sang papah. Kenan hanya tersenyum dan memeluk tubuh istrinya tersebut.
"Jangan lupa makan, ya. Kalau bosan pergi ke rumah Arshen aja." Nindy mengangguk mengerti.
Kecupan lembut di bibir Nindy Kenan berikan sebelum dia berangkat kerja. Setelah suaminya berangkat, Nindy kembali mendudukkan diri di bibir ranjang. Tidak dipungkiri dia sangat merindukan ibunya.
"Apa Mamah sehat di sana?"
Hal yang sama pun Septi rasakan. Dari semalam bayang wajah putrinya terus menari-nari di kepalanya. Rasa rindunya terhadap Dirga sudah terobati. Kini dia merindukan sosok Nindy, putri bungsunya.
"Masih marahkah kamu terhadap Mamah?" gumamnya lirih.
Ikatan hati antara ibu dan anak sangatlah kuat. Terbukti dengan Nindy dan juga Septi. Tidak ada orang tua yang membenci anaknya. Tidak ada juga anak yang membenci orang tuanya. Hanya ego dan kesalahpahaman yang membuat rasa benci itu hadir.
Semenjak berada di bui, Septi lebih banyak merenungi kesalahannya. Ketika Dirga ingin membebaskannya pun, Septi menolak.
"Mamah tidak pantas untuk keluar saat ini, Nak. Biarkan Mamah introspeksi diri Mamah di sini."
Jawaban yang membuat Dirga tidak bisa berbuat apa-apa. Sebenarnya, Septi malu kepada Deri. Dia sudah mengkhianati Deri, dia juga sudah menghancurkan putra angkat Deri. Padahal, Deri sudah sangat baik terhadapnya. Kini, yang dia miliki hanya Bunga.
Bunga yang sering menjenguknya. Bunga juga yang sering membawakannya makanan. Meskipun, hanya makanan ala kadarnya. Bunga hanya hidup di kontrakan kecil dan bekerja menjaga laundry.
Penyesalan selalu datang belakangan. Septi benar-benar menyesal sekarang. Namun, dia juga merasa bersyukur atas kejadian ini dia bisa belajar menjadi manusia yang lebih baik lagi.
Di kantor, Kenan maju-mundur ingin berbicara kepada Dirga. Dia sedikit ragu dan sungkan.
"Apa ada yang mau kamu katakan?" Dirga seolah tahu kegelisahan Kenan. Sedari tadi mimik muka Kenan berubah.
"Pak, saya mau membicarakan perihal Nindy dan juga Mamah."
Dirga menatap Kenan dengan tajam. Sorot matanya menyuruh Kenan untuk melanjutkan ucapannya kembali.
"Sepertinya, Nindy rindu sama Mamah. Saya ... bermaksud untuk membawa Nindy ke lapas di mana Mamah ditahan," terangnya dengan sedikit ragu.
Helaan napas kasar keluar dari mulut Dirga. Dia berpindah duduk, kini dia duduk di sofa.
"Semalam Niar pun berbicara seperti itu," balasnya.
__ADS_1
Kenan terus mendengarkan kalimat demi kalimat yang Dirga utarakan
"Aku juga sudah bertemu mamah." Mata Kenan membola mendengarnya.
"Kapan?" tanya Kenan penasaran.
"Ketika persalinan Niar. Mamah dirawat di rumah sakit yang sama."
Raut wajah Dirga seketika berubah. Sorot matanya menunjukkan kesedihan yang mendalam.
"Aku akan membawa Nindy ketika Niar sudah empat puluh hari. Aku ingin kita semua berkumpul dengan membawa Arshen," jelasnya.
"Papah gimana?" tanya Kenan.
"Papah tidak perlu tahu. Aku tidak ingin Papah sedih lagi. Kehadiran Arshen mampu membuat Papah ceria lagi." Kenan mengangguk mengerti.
Dia akui Dirga dan Nindy adalah anak yang sangat menyayangi kedua orang tuanya. Dia selalu memikirkan perasaan kedua orang tuanya dibandingkan perasaanya sendiri. Dirga juga terlihat sangat menyayangi papahnya. Pahlawan dalam hidupnya. Tanpa Deri, mungkin Dirga sudah mati atau juga menjadi pemulung di jalanan.
Kenan sudah merasa sedikit lega karena sudah menemukan titik terang perihal mamah dan juga Nindy. Dia hanya harus bersabar hingga masa empat puluh hari Niar terlewati.
Di kediaman Niar, Nindy sudah bermain dengan Arshen yang tengah terjaga. Nindy selalu mengabadikan foto Arshen. Baginya, Arshen adalah pelipur lara.
"Kak, kalau udah gedean dikit, Ndy bawa Arshen ke rumah, ya." Niar tertawa dan mengangguk.
Bu Sari dan juga Niar tertawa mendengar ucapan Nindy. Bu Sari mendekat dan mengusap punggung Nindy.
"Kamu gak akan keluar dari rumah Pak Deri 'kan?" tanya Bu Sari.
Seketika Nindy terdiam. Dia menatap Bu Sari penuh tanya.
"Ndy, kamu ini anak bungsu. Jangan tinggalkan orang tua kamu. Anak Pak Deri hanya dua. Kamu dan juga Dirga. Setidaknya ada yang bertahan di sana. Menemani Pak Deri agar tak kesepian."
Penuturan Bu Sari benar adanya. Kakaknya sudah keluar dari rumah. Jika, dia keluar dari rumah siapa yang akan menemani masa tua Papahnya, sedangkan mamahnya ada di penjara.
"Bunda sedikit nyindir aku, ya," tebak Niar.
"Nyindir gimana? Bunda hanya menasihati saja. Lagi pula, walaupun kamu keluar dari rumah Bunda masih ada Ara yang rumahnya dekatan sama Bunda. Berbeda dengan kamu dan Pak Deri. Rumahnya sangat jauh," jelas Bu Sari.
"Iya, Bun. Nanti Ndy bicarakan sama suami Ndy. Ndy juga gak mau meninggalakan rumah Papah," sahut Nindy.
Bu Sari tersenyum dan mengusap lembut kepala Nindy.
"Kalau kamu ingin Bunda masakin, bilang ya sama Bunda. Jangan sungkan, kamu sudah Bunda anggap seperti anak Bunda sendiri." Ucapan Bu Sari mampu membuat hatinya terenyuh. Matanya sudah nanar.
__ADS_1
"Makasih, Bunda."
Bu Sari memeluk tubuh Nindy. Tak terasa bulir bening pun menetes di pelupuk matanya.
"Kamu mau makan apa? Mumpung Bunda belum masak. Niar 'kan gak boleh makan makanan yang aneh dulu," ujarnya. Niar mencebikkan bibirnya.
"Ndy pengen bakwan sayur, Bun. Kalau beli udah dingin jadi gak enak. Sama tempe mendoan, 'kan kalau itu Kak Niar juga bisa makan."
Bu Sari tersenyum mendengar permintaan Ndy. Dia menuruti apa yang Nindy minta.
"Bunda buatkan dulu, ya."
"Ndy ikut, Bun. Sekalian belajar masak," balasnya.
Bu Sari tersenyum dan membawa Nindy pergi ke dapur. Meninggalakan Niar dan Arshen di kamar. Niar merasa sangat bahagia ketika adiknya bisa tersenyum seperti itu.
"Semoga kehadiran Bunda bisa mengisi kekosongan hati kamu ya, Ndy," gumamnya.
Di dapur, Nindy memperhatikan Bu Sari yang sangat cekatan menyiapkan sayur dan juga bumbu. Nindy hanya menggelengkan kepalanya.
"Bunda jago ya dalam hal masak memasak," ucap Nindy.
"Jago karena terbiasa," sahut Bu Sari.
"Awalanya juga Bunda gak bisa masak. Setelah punya suami, Bunda diharuskan menyiapkan makanan untuk suami Bunda. Pelan-pelan belajar, ada yang keasinan, gosong, hambar dan banyak lagi kegagalan yang Bunda lakukan. Namun, suami Bunda gak marah malah mensupport Bunda. Menyuruh Bunda untuk belajar lagi dan lagi. Akhirnya dari masakan yang tidak enak menjadi lezat," paparnya.
"Wah, Ndy boleh 'kan belajar masak sama Bunda?" tanya Nindy.
"Boleh dong," jawab Bu Sari.
"Makasih, Bunda." Nindy memeluk tubuh Bu Sari dari belakang.
Ada kebahagiaan yang Nindy rasakan. Dia seperti sedang bersama sang ibu tercinta.
Setelah gorengan yang diinginkan Nindy selesai dan tersaji. Mereka membawanya ke kamar Arshen. Menikmati bakwan sayur dan juga tempe mendoan bersama dengan gelak tawa yang tercipta.
Dirga tersenyum bahagia ketika tengah memantau cctv rumahnya. Apalagi melihat kedekatan sang adik dengan ini mertuanya.
"Semoga bisa mengobati kerinduan kamu ya, Ndy."
Ada rasa kasihan kepada Nindy. Akan tetapi, sekarang belum saatnya Nindy bertemu dengan ibunya.
"Sebentar lagi kamu akan bertemu Mamah."
__ADS_1