Tak Kan Kulepas Lagi

Tak Kan Kulepas Lagi
Meminta Hak


__ADS_3

"Ay," panggil Niar.


"Kenapa Yang?" Dirga yang sedang mengecek kesiapan resepsi malam ini pun beranjak dari duduknya. Menghampiri istrinya di kamar mandi.


"Ini." Niar menunjuk tanda merah di leher putihnya. Dirga hanya tersenyum dan memeluk Niar dari belakang.


"Itu tanda kalo kamu milik aku, hanya milik aku," ujarnya.


"Aku tau, Ay. Kita kan mau ke tempat resepsi masa aku kayak gini," ucap Niar.


"Gak apa-apa, Sayang."


"Ay ...."


"Kita udah sah ngapain malu, Yang." Niar enggan sekali berdebat dengan Dirga. Hanya kekalahan yang dia dapatkan.


"Ya udah aku mandi dulu, kamu keluar," usir Niar. Dirga semakin mempererat pelukannya..


"Mandi bareng, ya."


"Nggak," tolak Niar.


Bukannya pergi, Dirga malah menggendong tubuh Niar dan memasukkannya ke dalam bath up. Mereka pun melakukan ritual mandi bersama. Apakah mereka melakukan apa yang biasa suami-istri lakukan? Tentu tidak, seorang Dirga Anggara akan berpegang teguh pada ucapannya. Pagi ini mungkin tidak, tapi tidak tahu jika nanti malam.😁


Setelah selesai mandi, Niar dan Dirga sarapan terlebih dahulu dengan rambut Niar yang masih dililit handuk. Dirga senyum sendiri melihat hasil karyanya di leher Niar. Dia menambah tanda merah di leher Niar lagi. Jadi ada sepasang tanda merah di leher jenjang istrinya.


"Jangan senyum-senyum," dengus Niar.


Dirga mengecup singkat bibir Niar. "Leher kamu makin cantik, ada aksesorisnya," canda Dirga.


Niar menatap jengah ke arah Dirga sedangkan Dirga tersenyum penuh kemenangan.

__ADS_1


Setelah selesai, mereka sudah beraiap menuju ke tempat diadakannya resepsi. Niar menggunakan kemeja yang longgar dan juga celana jeans di atas lutut dengan rambut yang digerai.


Dirga mencekal tangan Niar ketika Niar sudah beranjak dari meja riasnya. "Ada apa Ay?" tanyanya.


"Rambut kamu dicepol aja, Yang. Biar makin cantik," ujar Dirga.


"Nggak mau, Ay. Di leher aku kan ada ...."


"Kita tidak akan pergi ke sana jika kamu menggerai rambutmu, kita perginya nanti saja dua jam sebelum acara," tegas Dirga.


Niar menghela napas kasar dan dia pun mengikuti kemauan suaminya. Karena sedari tadi keluarganya sudah berkumpul di tempat resepsi. Dan Ara sudah mengirimkan gambar tentang dekorasi tempat resepsi Niar dan Dirga untuk nanti malam. Sungguh mewah dan ellegant. Membuat Niar semakin penasaran.


"Ayo," ajak Niar yang sudah mencepol rambutnya dan terlihat dua tanda merah di lehernya. Dirga tersenyum bahagia dan langsung menggandeng tangan Niar.


Sepasang suami-istri ini menjadi pusat perhatian orang-orang. Bagaimana tidak, ketamapanan Dirga Anggara dan juga kecantikan sesungguhnya Niara Andhiny sungguh membuat semua orang takjub. Apalagi semua orang menatap tajam ke arah sepasang tanda merah di leher Niar.


Ketika sampai di tempat resepsi, Niar sangat takjub dengan dekorasi yang ada. "Kamu suka?" tanya Dirga.


Resepsi yang dia inginkan akhirnya terwujud. Niar memeluk tubuh Dirga. "Makasih, Ay." Dirga mengecup puncuk kepala Niar sebagai jawabannya.


Niar dan Dirga menghampiri keluarga mereka. Nindy yang sedang menengguk air mineral tersedak karena melihat leher kakak iparnya.


"Berapa ronde Kak?" goda Nindy pada Dirga.


"Akhirnya gol juga, ya," timpal Kenan.


"Udah gak perawan dong," bisik Ara pada Niar.


Niar menatap Dirga dengan wajah menahan malu. Sedangkan Dirga hanya tertawa mendengar ucapan demi ucapan yang yang dilontarkan semua orang. Belum ada yang gol dan Niar pun masih tersegel.


Resepsi pun sudah dimulai. Niar dan Dirga bak ratu dan raja berada di atas pelaminan. Senyum bahagia nampak terlihat jelas di wajah pasangan pengantin baru ini. Terlebih para sahabat Niar datang dan mereka benar-benar melepas rindu.

__ADS_1


Niar benar-benar bangga pada Dirga. Selama lima tahun ini dia benar-benar membangun bisnisnya dengan sangat baik. Terbukti para rekan sejawatnya dari kalangan pengusaha besar hadir di acara resepsi itu.


Acara pun selesai, keluarga Niar dan juga Dirga sudah kembali ke kamar hotel mereka masing-masing. Dan sepasang suami-istri ini sudah kembali ke kamar mereka.


"Ay, tolong bantu aku mencopot aksesoris di rambutku," pinta Niar.


Dirga yang sudah bertelanjang dada dan hanya mengenakan boxer menghampiri istrinya. Dia membantu istrinya yang kesulitan mencopot berbagai macam aksesori di rambutnya. Ditambah gaunnya yang ngepas ditubuhnya, membuatnya sulit bergerak.


"Ay, resleting belakangnya," ucap Niar.


Dirga pun membantu membuka resleting gaun Niar. Punggung mulus Niar terlihat sangat jelas. "Makasih Ay, aku mau berendam dulu," ucapnya dan mengecup sekilas bibir Dirga.


Dirga hanya menghela napas kasar. Di bawah sana sudah ada yang mendesak ingin keluar.


Tiga puluh menit sudah Niar berada di kamar mandi. Akhirnya, dia keluar dengan hanya memakai handuk. Sedangkan Dirga masih fokus dengan ponselnya. Niar membuka paper bag yang ada di sana. Dia membuka satu per satu paper bag. Hanya sebuah kain tipis seperti jaring dan g-string yang berada di dalam paper bag tersebut.


"Ay," panggil Niar.


"Ada apa?" Niar menunjukkan lingerie yang sangat sangat keterlaluan di matanya.


Dirga menghampiri Niar seraya tersenyum. "Ini sama aja kayak aku gak pake baju," gerutu Niar.


Dengan cepat Dirga menggendong Niar dan menjatuhkannya di atas tempat tidur. Mencium lembut bibir Niar dengan tangan yang sudah tidak bisa dikendalikan. Niar yang awalnya tidak siap, sekarang menikmati permainan Dirga.


Dirga melepaskan pagutan bibirnya, menatap Niar dengan mata yang menuju dengan napsu. "Bolehkan sekarang aku meminta hak ku?"


***


Ketika ada notif up langsung baca ya ...


Jangan ditimbun-timbun, akunya sedih kalo kalian nimbun bab-nya.

__ADS_1


__ADS_2