Tak Kan Kulepas Lagi

Tak Kan Kulepas Lagi
3 Bulan


__ADS_3

Dirga benar-benar sangat bahagia. Dia segera menghubungi Kenan dan memintanya untuk datang ke rumahnya malam ini juga untuk membicarakan perihal pertemuan Nindy dengan mamahnya.


"Besok aja, Pak. Nindy lagi kurang sehat, ini habis saya pijat." Dirga mendengkus kesal mendengar jawaban dari Kenan.


"Alasan doang lu! Pasti lagi main pijat-pijatan 'kan," sergah Dirga.


Sambungan telepon pun Kenan matikan secara sepihak. Bosnya itu jika sudah di rumah akan menjelma menjadi kakak ipar menyebalkan sejagad raya.


"Papih mah kebiasaan," tegur Niar. Dirga sedikit terkejut ketika mendengar suara sang istri. Ternyata Niar sudah ada di ruangan kerja.


"Lagian sudah banget," gerutu Dirga.


Niar tersenyum dan melangkahkan kaki menuju arah suaminya. Dia memijat pundak sang suami dengan pingsan sangat lembut.


"Papih gak mau buka puasa?" bisik Niar.


Dirga mendongak ke atas menatap wajah sang istri tercinta. Kini, dia terlihat lebih sedikit berisi.


"Setelah Arshen berumur tiga bulan saja," jawab Dirga. Niar memanyunkan bibirnya. Dia terkadang heran dengan Dirga. Dulu dia sangat maniak, sekarang malah seperti ini.


"Papih udah gak mau sentuh Mamih?" sergah Niar.


Dirga sedikit kaget mendengar ucapan dari Niar. Dia menarik tangan Niar dan dia dudukkan di pangkuannya.


"Bukan begitu, Sayang. Mamih 'kan lahiran secara normal. Dijahit pula 'kan. Papih tahu lahiran normal itu lebih cepat pemulihannya, tetapi pada dasarnya sama saja. Di dalam perut Mamih serta segi tiga nagih Mamih itu masih terluka. Papih inginnya Mamih sembuh total barulah kita buat adonan lagi," terang Dirga seraya bercanda.


Niar memukul pundak Dirga dan dia pun tertawa puas. Dirga mengecup lembut bibir sang istri. Bohong jika dia tidak tergoda dengan kemolekan tubuh istrinya. Akan tetapi, dia masih bisa menahannya. Dia harus bisa mengerti keadaan istrinya.


"Pih, Mamih pakai alat kontrasepsi gak ya?" tanya Niar. Setelah empat hari seharusnya dia sudah memasang alat kontrasepsi jika ingin menunda momongan lagi.


"Kalau pakai, nanti ke Papihnya bakalan gak enak," lanjut Niar.


"Pakai saja dulu selama satu bulan, Sayang. Setelah itu baru dilepas," sahut Dirga.


Dirga merasa sangat beruntung karena sang istri masih memperhatikan kenikmatan yang akan Dirga rasakan. Namun, Dirga juga tidak ingin melihat Niar hamil lagi dalam waktu dekat. Melahirkan Arshen seperti menjadi trauma untuknya.


"Ya udah, besok antar Mamih ke dokter ya untuk Konsul perihal alat KB yang aman." Dirga mengiyakan sambil tangannya menggerayangi ke gunung gede.


"Mih, Papih ingin merasakan sumber asi dong." Mulut Dirga sudah menempel pada ****** yang bisa Arshen gunakan. Baru satu kali hisapan, banyak sekali asi yang keluar.


"Aneh rasanya." Niar pun tergelak. Dia mengusap lembut kepala sang suami.


"Ini tuh susu mahal. Pabrik besar pun tidak akan bisa memproduksi ini. Kandungan vitaminnya pun lebih lengkap," oceh Niar.


Dirga tidak mengindahkan. Malah dia tengah asyik membuat tato di gunung gede hingga Niat sedikit meringis. Niar memukul pundak Dirga lagi.


"Isinya 'kan milik Arshen. Papih mah cangkangnya juga gak apa-apa."


Niar tertawa terpingkal-pingkal mendengar ucapan dari Dirga. Dia malah membenamkan wajahnya di dada bidang sang suami.


"Makasih ya, Pih," ucap Niar.


"Untuk apa?" tanya Dirga sambil mengusap lembut kepala Niar.


"Sudah mencintai Mamih dengan sangat tulus. Mau menerima Mamih apa adanya dan selalu mengerti Mamih."


Dirga tersenyum.mendenagr ucapan manis sang istri. Rasa cintanya semakin hari semakin bertambah untuk sang istri tercinta.

__ADS_1


"Hanya pria bodoh yang akan menyia-nyiakan Mamih. Wanita yang sangat langka yang Papih temukan. Itulah alasan Papih untuk terus mencari Mamih," balasnya.


Niar tertawa dan dia memeluk tubuh suaminya dengan sangat erat. Tangan Dirga pun membalas pelukan sang istri tak kalah eratnya.


"Papih merasa sangat bahagia ketika Papih dikaruniai seorang putra yang sangat tampan. Papih tidak menyangka bahwa Papih akan memiliki keluarga yang sangat bahagia seperti ini. Keluarga yang sangat sempurna." Niar tersenyum.


Kebahagiaan itu bukan hanya milik Dirga. Niar malah merasa sangat bahagia karena bisa memiliki suami seperti Dirga. Suami yang sangat luar biasa. Selalu memprioritaskannya dalam hal apapun. Namun, dia juga bukan istri yang tidak tahu diri. Dia bukan wanita yang hanya senang menghabiskan uang suami dengan cara foya-foya.


Dari temannya yang bernama Echa dia dapat belajar tentang hidup sederhana. Membeli apa yang dibutuhkan dan memakai apa yang kita miliki. Tidak perlu terlihat wah, jika semuanya barang cicilan. Tidak perlu barang branded jika kita nyaman dengan barang murah dan lokal. Harga barang itu tergantung orang yang memakainya. Jika, orang itu terkenal juga cantik. Memakai barang murah pun akan terlihat mahal. Beda halnya Dnegan orang biasa, memakai barang semahal apapun pasti akan dipandang sebelah mata.


Niar sangat beruntung bisa mengenal Nesha serta Echa, menantu dari Addhitama.


"Pih, Mamih keluar dari arisan sebulan sepuluh juta bareng teman-teman istri rekan bisnis Papih," terang Niar.


Dirga menatap Niar dengan tatapan bingung. Kedua alisnya menukik menandakan dia ingin penjelasan lebih lagi.


"Mamih tidak merasa cocok berteman dengan mereka. Mamih bukan orang yang suka pamer harta. Pamer jabatan suami. Mamih tidak suka itu, Pih."


Dirga mengangguk mengerti, dia juga tidak akan memaksa istrinya. Apalagi dia melihat hanya Echa dan Nesha yang mampu membuat Niar seperti dirinya sendiri bukan menjadi orang v lain.


"Papih mah terserah Mamih aja. Kalau gak suka jangan dipaksa," tukasnya.


Mereka kembali ke kamar utama. Sebelum tidur, mereka terbiasa untuk melihat Arshen yang ada di boks bayinya. Mereka akan mencium Arshen bergantinya dan membisikkan kata-kata penuh cinta dan kasih sayang.


"Have a nice dream my little boy," ucap Niar.


Di tengah malam, Dirgs terbangun ketika mendengar Arshen menangis keras. Dia segera turun dari tempat tidur dan menuju boks bayi Arshen. Alangkah terkejutnya dia ketika tubuh Arshen sangat panas. dia segera membangunkan Niar dan mereka pun panik.


"Papih, ini gimana? Arshen belum bisa minum obat," ujar Niar dengan suara yang sudah bergetar.


"Kita ke rumah sakit aja, Mih."


"Jangan buat Mamih khawatir, Nak," kata Niar dengan suara yang sangat bergetar. Air matanya sudah membanjiri wajahnya. Niar dan Dirga sama-sama panik. Arshen adalah anak pertama, mereka masih awam dengan anak yang sakit.


Niar berlari menuju IGD dia meminta dokter untuk memeriksa putranya. Niar terus mendampingi Arshen dan tak mau jauh darinya. Cukup lama Niar berada di ruang IGD hingga Arshen terbangun, sedangkan Dirga hanya menunggu anak istrinya di depan IGD dengan hati yang cemas. Dia pergi ke rumah sakit pun hanya dengan menggunakan piyama tidur. Untungnya di dalam dashboard mobilnya selalu ada uang. Dia benar-benar lupa membawa dompet.


Selang satu jam, barulah Niar keluar dengan wajah tanpa ekspresi.


"Bagaiman dengan Arshen?" tanya Dirga cemas.


"Dia harus dirawat, Pih," lirih Niar.


"Lakukan yang terbaik. Papih ingin Arshen sembuh lagi," jawabnya.


Dirga akan melakukan apapun demi sang buah hati. Apapun akan dia berikan termasuk nyawanya demi Arshen, anak pertamanya.


Malam ini Arshen dirawat di rumah sakit. Tak sedetik pun Dirga meninggalkan Niar. Dia ingin selalu mendampingi istri serta anaknya.


Hati Dirga sangat sakit ketika melihat punggung tangan Arshen ditusuk jarum infus. "Pasti sakit ya, Nak," ucap Dirga sambil mengusap rambut Arshen.


Arshen sama sekali tidak ingin turun dari gendongan Niar. Dia masih terus saja menangis karena jarum infus yang tertusuk di punggung tangannya.


"Hati Mamih sakit banget melihat Arshen seperti ini," lirih Niar. Dirga tidak bisa berucap, mulutnya kelu melihat Arshen yang terus menangis.


Tangan Dirga merangkul mesra pundak Niar. Dia sedikit memberikan ketenangan kepada sang istri. Bukan hanya ibu yang melahirkan Arshen yang merasa sakit. Dia juga sangat sakit dan sedih melihat Arshen seperti ini.


Niar dan Dirga sama sekali tidak tertidur malam ini. Mereka terjaga untuk menjaga Arshen yang sering menangis ketika sakit melanda.

__ADS_1


"Ya Tuhan, lebih baik aku saja yang sakit. Jangan siksa Arshen seperti ini," batin Dirga lirih, ketika melihat Niar yang tengah duduk menggendong Arshen dengan mata yang terpejam. Arshen pun terpejam, tetapi tidak ingin diturunkan dari gendongan sang ibu.


Hati Dirga sangat teriris melihat kedua makhluk kesayangannya seperti ini. Dia sangat tidak tega. Tak terasa bulir bening pun membasahi wajahnya. Begitu besar perjuangan seorang ibu untuk anaknya. Dia jadi teringat akan mamahnya.


Dirga mencium kening sang istri serta Arshen bergantian. Dia membiarkan istrinya beristirahat sejenak. Dia duduk di lantai sambil menatap ke arah istri dan anaknya. Dia akan menjaga Arshen dari bawah. Jaga-jaga jika Arshen terlepas dari gendongan Niar.


Jam lima pagi, Arshen terbangun. Sontak Niar pun terbangun. Ternyata anaknya haus. Niar segera mengeluarkan sumber asi miliknya dan Arshen Mimi dengan rakusnya.


"Papih mending tidur aja. Mata Papih udah merah itu," sergah Niar. Dirga hanya tersenyum, dia mengusap lembut rambut sang istri.


"Papih akan menjaga Mamih juga Arshen," tukasnya.


Niar merasa sangat bahagia mendengar ucapan dari Dirga. Dirga pun sangat perhatian, dia memesan bubur ayam via aplikasi online untuk sarapan mereka.


Ketika sarapan pun Dirga menyuapi Niar yang masih menggendong Arshen. Dia tidak mau wanita kesayangannya ini kelelahan berlanjut pada sakit.


"Mamih harus makan banyak, ya. Kalau ingin makan apa-apa akan Papih pesankan." Niar mengangguk dengan menahan haru.


Jam tujuh pagi barulah Arshen terlelap. Perlahan Niar meletakan putranya di dalam boks bayi. Dari arah luar ada seorang pria paruh baya yang tengah berjalan dengan langkah lebar menuju ruang perawatan Arshen. Wajahnya terlihat sendu ketika melihat cucunya terbaring lemah dengan jarum infus di punggung tangannya.


"Kamu anak kuat. Kamu cucu Opa yang sangat kuat," ucapnya lirih seraya mencium kening Arshen.


Hati Niar terenyuh ketika mendengar Deri berbicara. Kalimat dengan penuh ketulusan yang dia dengar.


"Kenapa kamu gak bilang sama Papah?" sergah Deri kepada Niar dan Dirga.


"Ketika Arshen panas tinggi pikiran aki blank, yang aku mau hanya cepat datang ke rumah sakit dan menyerahkan Arshen kepada dokter yang berkompeten," terang Dirga.


Sangat terlihat jelas wajah Dirga yang kurang tidur dengan gadis hitam di bawah matanya. Juga dengan matanya yang memerah.


"Kalian lebih baik istirahat," titah Deri. "Arshen biar Papah yang jagain," lanjutnya.


Niar menatap ke arah Dirga, suaminya itu hanya terdiam. "Kalian gak boleh sakit. kalian harus tetap sehat untuk Arshen," tukasnya.


Sepasang suami-istri itu mengangguk. Mereka berdua tidur di sofa panjang. Derilah yang akan menjaga bayi usia dua bulan itu. Menatap Arshen yang tengah memejamkan matanya, membuat hati Deri teriris perih. Dia teringat ketika Dirga bayi.


Ketika Dirga bayi, baru dua bulan Dirga diasuh oleh Deri. Ke manapun Deri selalu membawa Dirga. Hati-hati Dirga bayi selalu dihabiskan di dalam ruangan kerja sang ayah. Ketika Deri tengah sibuk dengan pekerjaan, Dirga bayi yang sedang tertidur menjerit kencang. Deri panik sekaligus kaget dan ternyata Dirga kejang-kejang. Teriakan demi teriakan Deri lakukan hingga orang seisi kantor datang ke ruangannya.


"Panggil ambulance!" teriak Deri lagi.


Hanya rasa panik yang ada ketika melihat anak yang sangat dicintai juga disayangi sakit seperti ini. Tak lama ambulance datang, Deri menggendong Dirga kecil dan masuk ke dalam ambulance. Wajah pucat Dirga bayi bagai mayat hidup. Deri benar-benar dilanda ketakutan malam itu.


Tibanya di rumah sakit, Deri tidak diperbolehkan masuk ke dalam Instalasi Gawat Darurat. Dia hanya menunggu di depan IGD dengan mulut yang terus merapalkan doa.


Setengah jam berlalu, dia masih menunggu. Hatinya sungguh tidak karuhan. Jantungnya sudah beredar lebih cepat dari yang tadi. Satu jam kemudian, dokter membuka pintu ruang IGD dan menghampiri Deri. Menatap wajah dokter itupun Deri sangat takut. Dia takut ada kalimat yang akan membuatnya sedih.


"Putra Bapak harus dirawat," ujar sang dokter.


"Lakukan yang terbaik. Berapapun akan saya bayar."


Tidak orang tua yang akan kehilangan putranya, lebih baik kehilangan harta dari pada kehilangan anaknya hanya dicinta. Meskipun Dirga bukan anak kandung dari Deri, ternyata dia sangat menyayangi serta mencintai Dirga melebihi anak kandungnya sendiri. Nyawa pun pasti akan Deri berikan untuk Dirga.


Malam itu, Deri merasakan kesedihan yang berlipat ganda. Tidak tega melihat Dirga bagi menangis keras menahan sakit di tangan. Belum lagi, dia yang merawat Dirga seorang diri. Ingin rasanya dia menangis, tetapi dia harus kuat di depan Dirga bayi. Walaupun Dirga bayi belum mengerti apa-apa, tetapi Deri tidak mau terlihat rapuh di depan putrinya. Biarlah dia dikenal dengan sosok seorang figur ayah yang kuat, tangguh dan mampu mengurus Dirga Sorang diri. Meskipun pada kenyataannya dia sangat terseok-seok merawat Dirga seorang diri.


Walaupun begitu, Deri tidak pernah menyesal mengangkat Dirga bayi sebagai anaknya. Dia malah menganggap Dirga sebagai sebuah keberuntungan yang Tuhan berikan. kehadiran Dirga mampu memberi warna hidupnya yang terlihat monokrom. Kehadiran Dirga juga membuatnya mengerti akan kasih sayang dan cinta yang tulus. Tidak ada alasan untuk menyesal.


#off.

__ADS_1


Deri menatap cucunya kembali. "Kenapa kamu bernasib sama dengan ayah kamu?" gumam kecil Deri.


Arshen bagai duplikat Dirga kecil. Derilah yang sangat tahu bagaimana dengan Dirga kecil. Arshenlah Dirga kecil itu.


__ADS_2