Tak Kan Kulepas Lagi

Tak Kan Kulepas Lagi
Kembalilah


__ADS_3

"Niar," teriak Ara dan juga Bu Sari.


Mereka segera membawa Niar ke puskesmas terdekat. Wajah Niar sangat pucat dan mereka takut jika terjadi apa-apa dengan Niar.


"Bagaiman dok?" tanya Bu Sari setelah dokter keluar dari IGD.


"Pasien hanya syok berat, sekarang dia sudah sadar. Hanya saja kondisinya masih lemah."


"Boleh saya menemui putri saya?" Dokter mengangguk pelan.


Mata Bu Sari melihat wajah putrinya yang terus menitikan air mata. "Nak ...."


"Bunda, Dirga gimana Bun?" tanya Niar.


"Keluarga Dirga sudah menyerahkan sample DNA ke pihak yang berwajib. Mereka juga syok terlebih Bu Septi yang sedari tadi tak sadarkan diri."


"Bun, jika Dirga tiada, izinkan aku untuk menyusulnya. Aku tidak ingin hidup diselimuti kesedihan terus menerus," lirihnya.


Bu Sari memeluk erat tubuh Niar. "Jangan. Bicara seperti itu, Nak. Kamu harus melanjutkan hidupmu meskipun tanpa Dirga di sampingmu."


"Separuh nyawaku telah hilang, Bun. Dan itu sangat sakit ... teramat sakit," imbuhnya.

__ADS_1


Ara tidak bisa berbuat apa-apa, yang bisa dia lakukan hanya mengerahkan anak buahnya untuk mencari keberadaan Dirga. Dan memastikan jika potongan jenazah yang ditemukan bukanlah Dirga.


Namun, usaha Ara gagal. Jejak Dirga dan juga Kenan tidak bisa terlacak. Dan Kenan pun sama seperti Dirga tidak bisa dihubungi sama sekali.


"Bunda, aku ingin pulang."


Bu Sari pun menuruti permintaan Niar, padahal dokter menyarankan agar Niar dirawat untuk beberapa hari ke depan.


Sesampainya di rumah, sudah banyak keluarga yang berdatangan ke rumah Niar. Namun, Niar malah mengusir mereka karena Niar yakin Dirga masih hidup.


Bu Sari sangat takut, dia takut jika depresi Niar kambuh lagi dan bisa lebih parah.


"Bun, aku sudah menyuruh untuk menjaga Niar di sini. Sebaiknya kita ke posko, kita mencari info tentang Dirga lagi." Bu Sari pun menyetujuinya. Karena Bu Sari sangat berharap Dirga masih hidup dan Dirga bukan termasuk ke dalam daftar korban pesawat naas tersebut.


"Ay, itu di berita bukan kamu, kan."


"Balas chat aku, Ay."


"Ay, harusnya tadi kamu ngizinin aku ikut. Supaya kita pergi bersama-sama." Niar menelusupkan kepalanya ke atas lututnya. Isak tangisnya terdengar sangat lirih.


"Kamu tega Ay, kata kamu kamu gak akan pergi lama. Tapi nyatanya?" Niar terus bergumam sendiri dengan mata yang sudah membengkak.

__ADS_1


Niar bangkit dari duduknya, dia membuka jendela kamarnya menatap lurus ke depan. Bayang-bayang wajah Dirga melintasi kepalanya. Dadanya terasa sesak apalagi jam tangan yang ditemukan oleh tim evakuasi membuat tangis Niar kembali pecah


"Jangan tinggalin aku, Ay."


"Kembalilah padaku Ay, kembalilah ...."


"Kita lanjutkan rencana kita ... apa kamu lupa? Sebentar lagi kita akan menikah."


"Ay, aku mohon pulanglah dengan selamat. Peluk aku dan katakan ini hanya mimpi."


"Ini hanya mimpi ...."


Tubuh Niar pun luruh, air matanya sudah membanjiri wajahnya. Dia terus menunduk meratapi nasibnya yang selalu menderita. Asisten rumah tangga Niar tak kuasa menahan tangisnya melihat kondisi Niar seperti ini.


"Ay, aku di sini menunggu kamu ... pulanglah Ay ...."


Niar bersimpuh di lantai dengan air mata yang sudah menetes ke lantai. Suara isakan tangisnya membuat hati siapapun yang mendengarnya merasa sakit.


Tangan kekar mendekap hangat tubuh Niar dari belakang ....


****

__ADS_1


Happy reading ....


Kalo besok aku gak up jangan dicariin ya 😁


__ADS_2