Tak Kan Kulepas Lagi

Tak Kan Kulepas Lagi
Sangat Takut


__ADS_3

"Hentikan semua omong kosong mu!" teriak seseorang yang baru saja datang.


Tubuh Niar bergetar ketika mendengar suara itu, Niar pun beringsut mundur melihat badan kekarnya mendekat ke arah Niar.


"Jangan takut, Sayang. Aku akan melindungi mu."


Ucapan itu seperti ancaman untuk Niar. Rasa takut kini, berkecamuk di benaknya. Sedangkan wajah Wulan sudah sangat emosi.


"Kamu anggap aku apa?" bentaknya pada Jicko.


"Hahahaha ...."


Tertawa Jicko sangatlah menakutkan untuk Niar. Perlahan Niar mundur dan menjauhi Jicko dan juga Wulan.


Namun, pergerakan Niar terbaca oleh Jicko dan dia menahan tangan Niar dengan begitu eratnya.


"Lepaskan!" teriak Niar dan berusaha melepaskan cengkraman tangan Jicko.


"Sampai kapan pun, aku tidak akan pernah melepaskan mu, Sayang."


Plak!


Tamparan keras mendarat di pipi Jicko. Wajah Wulan merah padam mendengar ucapan dari Jicko.


Jicko memegangi pipinya yang terasa panas, dia menatap tajam ke arah Wulan. "Kamu adalah alat untuk membuatku terbebas dari hukum, dan sekarang aku akan MENCERAIKAN MU,"tegasnya.

__ADS_1


Bukan hanya Wulan yang tercengang, Niar pun ikut melebarkan matanya. Ternyata pria yang dia anggap baik selama dua tahun ini memiliki sifat jahat yang dia tutupi dengan sempurna dengan kelembutannya.


Air mata Wulan menetes begitu saja, kata cerai adalah momok yang menakutkan untuknya. Dan kini, laki-laki yang dia cintai mengatakan kata itu lagi. Laki-laki yang sudah mengambil mahkotanya dan kini, dengan ringannya mengucapkan kata cerai.


Cengkraman tangan Jicko sedikit longgar, dengan cepat dan keras Niar mengibaskan tangannya dan lari menuju lantai atas.


Jicko mengejar Niar dan membiarkan Wulan yang sedang mematung di tempatnya dengan linangan air mata.


Beberapa karyawan pria mencoba menghalangi Jicko namun, tenaga Jicko lebih kuat dari mereka. Hingga mereka terpental dan terjatuh.


Jicko menggedor-gedor pintu ruangan Niar. Sedangkan Niar benar-benar ketakutan sekarang ini. Dia mencoba untuk menghubungi Dirga sialnya, ponselnya mati.


"Apa yang harus aku lakukan? Lindungi aku Ya Allah," gumamnya.


Tubuh Niar mulai bergetar hebat, dia sangat takut dan teramat takut. Karena tidak ada jawaban dari dalam, dan kesabaran Jicko pun sudah habis, Jicko mendobrak pintu ruangan Niar. Senyum menyeringai terlihat menakutkan untuk Niar.


"Jangan mendekat, atau aku akan terjun ke bawah," ancam Niar dengan suara yang bergetar.


"Hahahaha, jangan dulu, Sayang. Aku belum sempat menikmati tubuhmu. Setelah aku puas, bolehlah kamu mati, sahut Jicko.


Niar terus mundur dan mencoba menjauhi Jicko. Hingga badannya sudah membentur tembok, dan Jicko mengunci tubuh Niar yang kecil dengan kedua tangan Jicko yang sudah menempel di dinding.


"Aku ingin menikmati mu, Sayang." Ucapan yang sangat menjijikan yang pernah Niar dengar.


Jicko mendekatkan bibirnya ke wajah Niar namun, Niar terus saja menghindar. Melihat wajah Jicko seperti melihat kotoran.

__ADS_1


Dengan kasar Jicko menarik dagu Niar dan menciuminya dengan ganas. Niar mencoba memberontak namun, tubuh Jicko lebih kuat darinya.


"Buka mulut mu," titah Jicko dengan mata yang sudah penuh dengan nafsu.


Perlahan Niar membuka mulutnya, ketika lidah Jicko mengabsen isi mulutnya dengan kerasnya Niar menggigit lidah Jicko hingga berdarah.


Tak Niar sia-siakan kesempatan ini untuk kabur dari Jicko. Dengan mulut yang berdarah, Jicko mengejar Niar yang sudah keluar dari ruangannya dan hendak turun dari tangga. Memanggyl tubuh Niar seperti karung beras membuat para karyawannya ketakutan. Ditambah Niar terus memberontak dan berteriak minta tolong. Mereka tidakbjsa berbuat apa-apa, mereka semua diancam oleh Wulan. Jika, mereka berani menolong Niar maka cafe ini akan dibakar oleh Wulan.


Itu bukan hanya sekedar ancaman. Wulan sudah menyiramkan bensin di lantai bawah cafe Niar. Inilah pembalasan Wulan untuk Niar, agar dia merasakan bagaimana diambil kehormatannya lalu ditinggalkan.


Jicko membanting tubuh Niar di atas sofa, dan dia pun mengunci pintu ruangan Niar dan memasukkan kunci itu ke dalam sakunya.


Niar benar-benar takut, apalagi Jicko sudah membuka satu per satu kancing kemejanya. "Ma-mau apa kamu?" teriak Niar.


"Aku ingin menikmati tubuh kamu ini, Sayang."


"Tolong ...."


Namun, Jicko telah menindih tubuh Niar dan membungkam mulut Niar dengan bibirnya.


Ya, Tuhan. Tolong aku. Air matanya pun menetes.


*****


Happy reading ....

__ADS_1


__ADS_2