
Dirga terus menggenggam tangan sang istri. Niar sudah benar-benar mengalami kesakitan luar biasa.
"Tahan ya, Sayang." Dirga mengusap lembut perut Niar.
"Nak, sabar dulu, ya. Jangan buat Mamih kesakitan. Sebentar lagi kita sampai ke rumah sakit."
Bukan hanya Niar yang bermandikan keringat. Peluh di kening Dirga pun berjatuhan. Hawa panik, takut jadi satu.
"Ay, gak kuat."
"Jangan bilang begitu, Sayang. Kamu ibu yang kuat. Kamu ibu yang hebat," ujar Dirga.
Bukan hanya Dirga dan Niar yang mengalami ketegangan, Nindy pun merasakan hal yang sama. Kekhawatiran dan kesakitan Dirga dan Niar terasa ke sekujur tubuh Nindy.
Mobil terus berjalan perlahan, hingga berhenti di sebuah rumah sakit. Dirga sudah berteriak layaknya orang gila. Dua perawat pun membawa brankar rumah sakit dan Niar diletakkan di atas sana dengan tangan Dirga yang menggenggam erat tangan Niar.
"Bertahan ya, Sayang."
Dirga boleh masuk ke ruang persalinan. Dokter memeriksa keadaan Niar.
"Pembukaannya sudah sangat bagus. Kita tunggu aja, ya," terang dokter.
"Dok, istri saya kesakitan," ucap Dirga panik.
__ADS_1
"Bapak yang tenang, ya. Wanita diberikan keistimewaan oleh Tuhan untuk melahirkan. Jadi, Bapak tenang saja dan terus doakan istri Bapak."
Ringisan terus keluar dari mulut Niar. Namun, Dirga terus setia mendampingi sang istri. Dia mengelap peluh yang mengucur deras di wajah Niar. Tangannya yang terus menjadi incaran Niar ketika dia tengah kesakitan. Rasa sakit atas cakaran dan cengkeraman Niar tak dia hiraukan. Dia lebih kasihan kepada istrinya yabg tengah menahan sakit tak tertahankan itu.
Niar terus merintih kesakitan. Dia terus mencoba menarik napas, kemudian dihembuskan kembali untuk meminimalisir kesakitannya. Ketika rasa sakit itu datang, Dirgalah yang menjadi sasarannya.
"Sakit, Ay," rintihnya lagi. Kini, air mata sudah membasahi wajah Niar. Dirga mengecupnya dan membisikkan sesuatu di telinga Niar.
"Kamu pasti bisa, Sayang. Ada aku di sini." Air mata terus mengalir deras menahan sakit. Dirga terus mengusap lembut air mata yang membasahi pipi Niar.
Setetes bulir bening pun terjatuh di pelupuk mata Dirga. Dia sangat melihat perjuangan.seorang wanita untuk melahirkan teramatlah menyakitkan.
Di manapun kamu berada ibu. Aku sangat berterima kasih atas perjuangan kamu melahirkan aku.
Setengah jam berselang, dokter kembali lagi dan dia sudah menyuruh bidan dan juga perawat untuk mendekat.
"Tarik napas, lalu keluarkan. Ketika saya bilang dorong, langsung ibu dorong, ya."
Niar mengangguk, Dirga masih setia di samping sang istri. Menggenggam tangan Niar dengan sangat erat.
"Kamu pasti bisa, Sayang," ujarnya.
"Ayo Bu kita mulai."
__ADS_1
Di sini Dirga yang gemetar. Apalagi, tangannya dicengkeram hebat oleh sang istri.
Di luar ruangan, Nindy terus merapalkan doa. Suara langkah kaki terdengar membuat Nindy menoleh. Deri datang dengan sedikit berlari.
"Papah."
Nindy segera memeluk tubuh papahnya dengan sangat erat. Sungguh tubuhnya ikut bergetar.
"Bagaimana dengan Niar?" tanya Deri sedikit panik.
"Masih di dalam, Pah," jawab Nindy.
Deri dan Nindy terus menunggu. Jujur mereka sangat ketakutan. Apalagi sudah hampir satu jam kedua kakaknya di dalam.
Di dalam ruang persalinan, Dirga ikut menitikan air mata ketika istrinya mulai mendorong bayi mereka untuk keluar. Berhenti lagi dengan napas yang terengah-engah. Wajah yang sudah sangat pucat. Pikiran jelek sudah menari-nari di kepalanya.
"Sekali lagi, Bu. Tarik napas dalam lalu keluarkan. Tarik lagi hembuskan lagi dan dorong."
Kepala sang bayi sudah mulai keluar dan Niar diminta untuk mendorong lagi dan akhirnya suara tangisan bayi itu pecah. Bukan hanya anak yang suci itu yang menangis keras, Dirga dan Niar juga menitikan air mata mereka. Merasakan kebahagiaan tak terkira.
"Selamat Pak, anak Anda laki-laki."
Air mata kebahagiaan tumpah lagi. Dirga mengecup kening Niar tak henti. Wajah pucat sang istri masih mendominasi, tetapi lengkungan senyum terukir di wajahnya.
__ADS_1
Tiba-tiba perut Niar kembali sakit. Ternyata teman si bayi akan keluar kembali. Tubuh Niar seketika lemah tak berdaya, dia pun tak sadarkan diri membuat Dirga panik setengah mati.
"Dokter, tolong istri saya!" seru Dirga.