
Nindy masih keras pada keputusannya, akhirnya Niar yang mengambil keputusan. Namun, dia mencari waktu yang pas untuk berbicara dengan sang suami.
Hari ini, tidak biasanya Dirga pulang cepat. Dirga segera memeluk tubuh istrinya karena sang putra tengah terlelap.
"Mandi dulu gih," titah Niar.
Dirga tersenyum dan mengecup bibir merah cherry milik istrinya. Dia pun mengikuti ucapan istrinya. Setelah selesai mandi, dia mengajak Niar untuk duduk di sofa kamarnya. Tak membiarkan Niar memasak makan malam untuknya.
"Kenapa Pih?" tanya Niar sambil mengusap lembut wajah sang suami.
Hanya helaan napas kasar yang keluar dari mulut Dirga. Niar tersenyum dan mengecup lembut bibir suaminya. Di saat suamianya seperti ini, Niar harus mampu memberikan kehangatan juga kenyamanan untuk sang suami tercinta agar Dirga tidak mencari selimut tetangga.
"Nindy," jawabnya singkat.
"Biarkan Nindy berpikir dulu, Pih. Nindy bukan orang yang mudah terbuka, meskipun pada orang terdekatnya." Dirga mengerti itu, tetapi sampai kapan Nindy akan bersikap seperti ini kepada ibu kandungnya sendiri.
"Mamah sangat merindukan Nindy. Jika, berbicara perihal Nindy Mamah selalu menangis," tuturnya dengan nada yang lirih.
"Itulah seorang ibu, Pih. Ibu manapun pasti akan selalu merindukan anaknya, beliau juga pasti akan sedih jika berbicara perihal anak-anaknya karena mereka selalu merasa belum memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya. Apalagi, Mamah memang telah membuat Nindy kecewa. Sudah pasti Nindy akan sulit menerimanya," terang Niar.
Dirga tidak menyahuti ucapan Niar. Dia hanya memejamkan matanya dan terus membayangkan wajah ibunya yang sudah terlihat kerutan di wajahnya. Wajah yang dulu selalu terlihat cantik, semakin hari semakin menua. Wajah sendunya pun terlihat sangat jelas. Apalagi jika melihat ibunya menangis, hati Dirga akan sangat teriris.
"Tidak semua orang bisa memaafkan kesalahan orang lain dengan cepat, walaupun kesalahan ibu kandung sendiri. Jadi, jangan samakan maaf kita dengan maafnya Nindy. Pasti berbeda, Pih."
Ucapan Niar membuka hati dan pikiran Dirga. Semua yang dikatakan oleh istrinya itu memang benar. Dia tidak boleh menyamakan dirinya dengan Nindy. Dirga tersenyum ke arah istrinya dan mengecup hangat kening sang istri.
"Makasih, sudah memberikan pencerahan kepada Papih," ujarnya.
Niar mengangguk dan memeluk tubuh suaminya. Inilah saat yang tepat untuknya berbicara kepada sang suami perihal keinginan Niar.
"Papih ...." Niar berucap sedikit ragu. Dirga masih menukikkan kedua alisnya. Menatap Niar dengan tatapan bingung. Apalagi raut wajah Niar yang terlihat berbeda.
"Ada apa, Mih?" tanya Dirga.
"Em ... kenapa gak Mamih dan Arshen duku yang ... bertemu dengan Mamah."
Ucapan Niar mampu membuat Dirga terkejut. Dia menatap istrinya tak percaya.
"Mamih serius?" tanya Dirga.
Niar mengangguk dengan cepat dan senyum pun melengkung di wajahnya.
"Siapa tahu Arshen bisa menjadi pelipur lara untuk Mamah."
Dirga tidak bisa berkata apa-apa mendengar ucapan istrinya. Sungguh istrinya adalah menantu yang sangat baik.
"Mamih ingin bertemu Mamah. Mamih ingin mengucapkan terima kasih karena telah merawat Papih dan membesarkan Papih dengan penuh cinta hingga Papih bisa seperti ini." Dirga tersenyum dan menarik tangan Niar agar masuk ke dalam pelukannya.
"Papih sangat beruntung memiliki istri seperti Mamih," ujarnya.
Mereka adalah sepasang suami istri yang saling melengkapi dan saling memahami. Saling mencintai tanpa syarat apapun. Tetap mempertahankan cinta mereka meskipun cobaan terjal menghadang mereka.
Hari ini Dirga tidak ingin mengecewakan sang istri. Ketika makan siang tiba, dia segera pulang dan menyuruh sekretarisnya untuk membatalkan semua jadwalnya. Niar yang masih memakai baju rumahan terkejut ketika Dirga masuk ke dalam rumah.
"Loh? Kok udah pulang?" tanya Niar heran. Bagaimana tidak, suaminya mengatakan bahwa dia akan pulang ketika jam dua. Sekarang baru jam dua belas kurang.
"Papih gak mau ngecewain Mamih juga Arshen," jawabnya. Niar tersenyum bahagia dan dia menemani sang suami untuk berganti pakaian.
"Arshen tidur?" Niar mengangguk.
"Itu di meja makan apa?" tanya Dirga. Dia melihat sudah ada aneka makanan yang tersaji.
"Itu buatan Mbok Sum," sahutnya.
Dirga tergelak, suaminya ini sungguh menggemaskan.
"Itu makanan juga Mamih Sayang," balas Dirga.
"Iya, tapi itu bukan masakan Mamih," keluhnya.
Dirga merengkuh pinggang Niar dan mengecup puncak kepalanya. "Gak apa-apa, Mamih," balas Dirga.
Dirga terkadang heran, padahal sudah ada asisten yang membantunya di rumah, tetapi untuk masakan sang suami Niar tidak mengijinkan asistennya yang memasak.
__ADS_1
Mereka menikmati makan siang terlebih dahulu sebelum ke lapas tempat Septi dihukum. Dirga mengerutkan dahinya ketika melihat menu makanan yang sangat sederhana. Hanya ada sayur bayam, tahu dan tempe bacem juga perkedel kentang serta kerupuk udang yang menjadi pendamping makanan wajib untuk Niar.
"Kalau makan siang Mamih hanya makan ini?" tanya Dirga.
Niar mengangguk sambil menyuapkan makanan ke mulutnya. Menu makanan yang sangat sederhana. Padahal Dirga memberikan uang belanja yang tak sedikit untuk istrinya.
"Mih, ini ...."
"Bukannya Mamih hemat, Pih. Mamih hanya ingin merasakan masakan Bunda. Masakan mbok Sum yang sederhana ini mengingatkan Mamih sama Bunda," tuturnya.
Dirga mengusap lembut rambut istrinya. Dia tahu Niar masih merindukan ibunya. Namun, ibunya harus kembali ke Malang setelah Arshen berusia empat puluh lima hari. Ingin pergi ke Malang pun Arshen belum diperbolehkan untuk ikut terbang menggunakan pesawat.
"Sabar ya, Mih. Nanti kita akan ke rumah Bunda setelah dokter mengijinkan Arshen untuk terbang menggunakan pesawat." Niar pun tersenyum mendengar ucapan suaminya.
Setelah selesai makan siang, mereka kembali ke kamar dan ternyata putra mereka sudah terbangun dan tengah menghisap empeng yang ada di sampingnya.
"Soleh banget anak Mamih," puji Niar.
Arshen menoleh dan tertawa ke arah Niar. Tangannya sudah meminta untuk digendong. Ketika Niar hendak menggendongnya Arshen malam menangis. Ternyata dia meminta papihnya untuk menggendongnya.
"Kangen Papih, ya," ujar Dirga sembari menggembung Arshen.
Bayi laki-laki itu nampak nyaman berada di atas dada Dirga. Perlahan matanya mulai terpejam kembali.
"Eh, tidur lagi," ucap Niar seraya terkekeh. Dirga pun ikut tertawa melihat tingkah Arshen.
Namun, Niar tetap mengganti pakaian Arshen karena mereka akan pergi menemui Septi di lapas. Dirga sudah memasukkan barang bawaan mereka ke dalam mobil. Ketika dia masuk ke kamar, ternyata putranya sudah tampan dengan baju yang senada dengan kedua orang tuanya.
"Ganteng sekali anak Papih," ucapnya. Arshen pun tertawa seperti bahagia sekali.
"Mau ketemu Oma, ya," ucap Dirga. Putranya semakin tertawa keras.
"Oma pasti senang bertemu dengan cucunya yang tampak ini," lanjut Dirga lagi.
Niar tersenyum bahagia melihat Arshen yang nampak sekali bahagia bersama Dirga.
Hari ini Dirga tidak ingin mengecewakan sang istri. Ketika makan siang tiba, dia segera pulang dan menyuruh sekretarisnya untuk membatalkan semua jadwalnya. Niar yang masih memakai baju rumahan terkejut ketika Dirga masuk ke dalam rumah.
"Loh? Kok udah pulang?" tanya Niar heran. Bagaimana tidak, suaminya mengatakan bahwa dia akan pulang ketika jam dua. Sekarang baru jam dua belas kurang.
"Papih gak mau ngecewain Mamih juga Arshen," jawabnya. Niar tersenyum bahagia dan dia menemani sang suami untuk berganti pakaian.
"Arshen tidur?" Niar mengangguk.
"Itu di meja makan apa?" tanya Dirga. Dia melihat sudah ada aneka makanan yang tersaji.
"Itu buatan Mbok Sum," sahutnya.
Dirga tergelak, suaminya ini sungguh menggemaskan.
"Itu makanan juga Mamih Sayang," balas Dirga.
"Iya, tapi itu bukan masakan Mamih," keluhnya.
Dirga merengkuh pinggang Niar dan mengecup puncak kepalanya. "Gak apa-apa, Mamih," balas Dirga.
Dirga terkadang heran, padahal sudah ada asisten yang membantunya di rumah, tetapi untuk masakan sang suami Niar tidak mengijinkan asistennya yang memasak.
Mereka menikmati makan siang terlebih dahulu sebelum ke lapas tempat Septi dihukum. Dirga mengerutkan dahinya ketika melihat menu makanan yang sangat sederhana. Hanya ada sayur bayam, tahu dan tempe bacem juga perkedel kentang serta kerupuk udang yang menjadi pendamping makanan wajib untuk Niar.
"Kalau makan siang Mamih hanya makan ini?" tanya Dirga.
Niar mengangguk sambil menyuapkan makanan ke mulutnya. Menu makanan yang sangat sederhana. Padahal Dirga memberikan uang belanja yang tak sedikit untuk istrinya.
"Mih, ini ...."
"Bukannya Mamih hemat, Pih. Mamih hanya ingin merasakan masakan Bunda. Masakan mbok Sum yang sederhana ini mengingatkan Mamih sama Bunda," tuturnya.
Dirga mengusap lembut rambut istrinya. Dia tahu Niar masih merindukan ibunya. Namun, ibunya harus kembali ke Malang setelah Arshen berusia empat puluh lima hari. Ingin pergi ke Malang pun Arshen belum diperbolehkan untuk ikut terbang menggunakan pesawat.
"Sabar ya, Mih. Nanti kita akan ke rumah Bunda setelah dokter mengijinkan Arshen untuk terbang menggunakan pesawat." Niar pun tersenyum mendengar ucapan suaminya.
Setelah selesai makan siang, mereka kembali ke kamar dan ternyata putra mereka sudah terbangun dan tengah menghisap empeng yang ada di sampingnya.
__ADS_1
"Soleh banget anak Mamih," puji Niar.
Arshen menoleh dan tertawa ke arah Niar. Tangannya sudah meminta untuk digendong. Ketika Niar hendak menggendongnya Arshen malam menangis. Ternyata dia meminta papihnya untuk menggendongnya.
"Kangen Papih, ya," ujar Dirga sembari menggembung Arshen.
Bayi laki-laki itu nampak nyaman berada di atas dada Dirga. Perlahan matanya mulai terpejam kembali.
"Eh, tidur lagi," ucap Niar seraya terkekeh. Dirga pun ikut tertawa melihat tingkah Arshen.
Namun, Niar tetap mengganti pakaian Arshen karena mereka akan pergi menemui Septi di lapas. Dirga sudah memasukkan barang bawaan mereka ke dalam mobil. Ketika dia masuk ke kamar, ternyata putranya sudah tampan dengan baju yang senada dengan kedua orang tuanya.
"Ganteng sekali anak Papih," ucapnya. Arshen pun tertawa seperti bahagia sekali.
"Mau ketemu Oma, ya," ucap Dirga. Putranya semakin tertawa keras.
"Oma pasti senang bertemu dengan cucunya yang tampak ini," lanjut Dirga lagi.
Niar tersenyum bahagia melihat Arshen yang nampak sekali bahagia bersama Dirga.
Hari ini Dirga tidak ingin mengecewakan sang istri. Ketika makan siang tiba, dia segera pulang dan menyuruh sekretarisnya untuk membatalkan semua jadwalnya. Niar yang masih memakai baju rumahan terkejut ketika Dirga masuk ke dalam rumah.
"Loh? Kok udah pulang?" tanya Niar heran. Bagaimana tidak, suaminya mengatakan bahwa dia akan pulang ketika jam dua. Sekarang baru jam dua belas kurang.
"Papih gak mau ngecewain Mamih juga Arshen," jawabnya. Niar tersenyum bahagia dan dia menemani sang suami untuk berganti pakaian.
"Arshen tidur?" Niar mengangguk.
"Itu di meja makan apa?" tanya Dirga. Dia melihat sudah ada aneka makanan yang tersaji.
"Itu buatan Mbok Sum," sahutnya.
Dirga tergelak, suaminya ini sungguh menggemaskan.
"Itu makanan juga Mamih Sayang," balas Dirga.
"Iya, tapi itu bukan masakan Mamih," keluhnya.
Dirga merengkuh pinggang Niar dan mengecup puncak kepalanya. "Gak apa-apa, Mamih," balas Dirga.
Dirga terkadang heran, padahal sudah ada asisten yang membantunya di rumah, tetapi untuk masakan sang suami Niar tidak mengijinkan asistennya yang memasak.
Mereka menikmati makan siang terlebih dahulu sebelum ke lapas tempat Septi dihukum. Dirga mengerutkan dahinya ketika melihat menu makanan yang sangat sederhana. Hanya ada sayur bayam, tahu dan tempe bacem juga perkedel kentang serta kerupuk udang yang menjadi pendamping makanan wajib untuk Niar.
"Kalau makan siang Mamih hanya makan ini?" tanya Dirga.
Niar mengangguk sambil menyuapkan makanan ke mulutnya. Menu makanan yang sangat sederhana. Padahal Dirga memberikan uang belanja yang tak sedikit untuk istrinya.
"Mih, ini ...."
"Bukannya Mamih hemat, Pih. Mamih hanya ingin merasakan masakan Bunda. Masakan mbok Sum yang sederhana ini mengingatkan Mamih sama Bunda," tuturnya.
Dirga mengusap lembut rambut istrinya. Dia tahu Niar masih merindukan ibunya. Namun, ibunya harus kembali ke Malang setelah Arshen berusia empat puluh lima hari. Ingin pergi ke Malang pun Arshen belum diperbolehkan untuk ikut terbang menggunakan pesawat.
"Sabar ya, Mih. Nanti kita akan ke rumah Bunda setelah dokter mengijinkan Arshen untuk terbang menggunakan pesawat." Niar pun tersenyum mendengar ucapan suaminya.
Setelah selesai makan siang, mereka kembali ke kamar dan ternyata putra mereka sudah terbangun dan tengah menghisap empeng yang ada di sampingnya.
"Soleh banget anak Mamih," puji Niar.
Arshen menoleh dan tertawa ke arah Niar. Tangannya sudah meminta untuk digendong. Ketika Niar hendak menggendongnya Arshen malam menangis. Ternyata dia meminta papihnya untuk menggendongnya.
"Kangen Papih, ya," ujar Dirga sembari menggembung Arshen.
Bayi laki-laki itu nampak nyaman berada di atas dada Dirga. Perlahan matanya mulai terpejam kembali.
"Eh, tidur lagi," ucap Niar seraya terkekeh. Dirga pun ikut tertawa melihat tingkah Arshen.
Namun, Niar tetap mengganti pakaian Arshen karena mereka akan pergi menemui Septi di lapas. Dirga sudah memasukkan barang bawaan mereka ke dalam mobil. Ketika dia masuk ke kamar, ternyata putranya sudah tampan dengan baju yang senada dengan kedua orang tuanya.
"Ganteng sekali anak Papih," ucapnya. Arshen pun tertawa seperti bahagia sekali.
"Mau ketemu Oma, ya," ucap Dirga. Putranya semakin tertawa keras.
__ADS_1
"Oma pasti senang bertemu dengan cucunya yang tampak ini," lanjut Dirga lagi.
Niar tersenyum bahagia melihat Arshen yang nampak sekali bahagia bersama Dirga.