Taruhan

Taruhan
Datang dan Pergi


__ADS_3

Taksi online yang Biru dan Fabian pesan tiba di waktu yang hampir bersamaan. Keduanya pun segera masuk ke dalam taksi tersebut, dan kendaraan itu segera membawa mereka melaju ke arah yang berlawanan.


Di dalam taksi yang dia pesan, Biru duduk di bangku penumpang sebelah kiri. Tatapannya terlempar jauh ke luar jendela, pada apa saja yang dia temui di sepanjang perjalanan.


Kemudian, di tengah-tengah pikirannya yang semrawut, Biru menemukan wajah pemuda yang tadi bersamanya di klub. Yang mengaku sebagai pacarnya, yang berbagi rokok dengannya, dan yang berlalu pergi tanpa sepatah kata perpisahan.


Sepanjang hidupnya, Biru telah bertemu banyak orang dengan sifat dan karakter yang berbeda. Hampir semuanya bisa dia baca di pertemuan pertama, sehingga dia bisa menyiapkan diri untuk membangun tembok pertahanan agar tidak terluka selagi berinteraksi dengan orang tersebut.


Tetapi pemuda tadi (yang dia tidak ingat siapa namanya), agak lain. Di satu titik, ketika dia pertama kali mendengar suara tawanya yang renyah, Biru pikir dia adalah pemuda yang easy going dan memang semudah itu untuk berbaur dengan orang-orang di sekitar.


Tapi di titik lain ketika dia menceritakan tentang teman-temannya, Biru merasa pemuda itu punya satu benteng pertahanan yang kokoh, yang tidak akan bisa semudah itu untuk ditembus oleh orang-orang yang ditemuinya.


Lalu di titik yang lain lagi, ketika pemuda itu berusaha memberi tahu tentang pemantik yang katanya di-desain sendiri, Biru merasa pemuda itu adalah seseorang yang kesepian, sama seperti dirinya.


Pemuda itu seperti memiliki banyak sisi, yang datang silih berganti dan terlalu sulit untuk ditebak kapan sisi itu akan muncul.


"Menarik," gumamnya, tepat sebelum di satu bagian otaknya, dia mengingat kembali ada satu nama yang sempat pemuda itu sebut di tengah obrolannya dengan Gerlad.


Baskara. Itu nama yang umum. Di seluruh dunia, bisa saja ada banyak manusia yang bernama Baskara. Bahkan, nama belakang atau nama depannya pun bisa jadi sama dengan Baskara yang dia kenal.


Meksipun demikian, Biru tetap merasakan pedih yang teramat setiap kali nama itu disebut, bahkan oleh orang-orang asing yang tidak sengaja dia temui selama di perjalanan.


Seiring dengan taksi yang melaju semakin jauh, pikiran Biru juga berangsur menjadi keruh. Mulai kembali penuh dengan nama Baskara dan hal-hal yang terjadi di antara mereka bertahun-tahun sebelumnya.


...****************...


Seperti biasa, tidak ada yang menyambut kepulangan Fabian ketika kakinya menapak di halaman rumah mewah empat lantai ini.


Gerbang yang tinggi menjulang itu dia buka sendiri, kemudian dia tutup lagi tanpa bantuan siapa-siapa. Sejak satpam yang ditugaskan untuk menjaga rumah ini meninggal dunia karena kecelakaan enam bulan yang lalu, tidak ada lagi yang dipekerjakan untuk menggantikan posisinya.


Alasannya cuma satu, ibunya tidak percaya pada siapa pun lagi, dan satpam terakhir yang mereka pekerjakan adalah satu-satunya orang yang dia percaya di rumah ini.


Iya, sang ibu bahkan tidak percaya pada dirinya. Berkata bahwa dia dan ayahnya (yang entah siapa) sama-sama tidak bisa dipercaya dan hanya selalu membawa nasib buruk ke dalam hidupnya.

__ADS_1


Kalau sudah begitu, Fabian akan kembali bertanya-tanya. Lantas, mengapa dia dilahirkan ke dunia? Bukankah lebih baik jika dia dihilangkan sejak masih dalam kandungan?


Fabian pernah menanyakan itu secara langsung kepada sang ibu, tetapi ujung-ujungnya dia tidak mendapat jawaban karena sang ibu hanya akan berlalu begitu saja dari hadapannya, pergi ke gudang penyimpanan bir yang terletak di bawah tanah dan mulai menenggak berbotol-botol bir sampai pingsan.


Langkah kaki Fabian berhenti di depan pintu masuk. Sejenak menimbang apakah dia harus melanjutkan langkah, atau putar balik dan menginap saja di hotel seperti yang biasa dia lakukan ketika suasana rumah terasa di titik paling tidak nyaman.


Tapi pada akhirnya, Fabian memutuskan untuk tetap melanjutkan langkah dengan pertimbangan bahwa ini sudah hampir pagi dan pergi ke hotel memerlukan terlalu banyak energi.


Fabian melangkah hati-hati, sembari memeriksa adakah tanda-tanda keberadaan ibunya di ruangan yang akan dia lewati.


Dan setelah memastikan ruangan-ruangan itu steril dari keberadaan sang ibu, Fabian melangkah santai ke kamarnya di lantai dua dengan kewaspadaan yang menurun drastis


Namun, baru sampai kakinya di depan pintu kamar, Fabian dibuat terlonjak karena suara benda pecah belah begitu nyaring menyambangi telinga. Suaranya berasal dari kamar paling ujung, yang merupakan kamar ibunya.


Tanpa perlu memeriksa, Fabian sudah tahu kalau ibunya pasti sedang meluapkan emosinya kepada benda-benda tak berdosa di dalam kamarnya. Beberapa hari yang lalu, lampu tidur dan vas bunga menjadi sasaran, malam ini, entah benda apa lagi yang dibanting ke tembok untuk membantu menyalurkan kemarahannya.


Fabian bukannya tidak peduli, tetapi dia memutuskan untuk tidak menghampiri ibunya karena jika dia melakukannya, emosi sang ibu akan semakin memburuk. Wanita itu akan selalu menyakiti dirinya sendiri, kapan pun Fabian datang dengan maksud untuk membantu.


Di kamar, Fabian merebahkan dirinya di atas kasur dengan posisi telungkup dan kedua kaki panjangnya menjuntai. Dia meraih bantal, menggunakannya untuk menutupi kepala dan berharap hal itu bisa sedikit membantunya meredam suara bising yang ada.


Seperti yang sudah dia katakan sebelumnya, dunianya memang sudah kiamat, dan beberapa kali sepanjang hidupnya, Fabian berharap tidak akan membuka mata lagi keesokan hari setelah dia memejamkan matanya dengan paksa di malam sebelumnya.


...****************...


Dari hotel, Baskara tidak pulang ke rumah. Dia membelokkan mobilnya menuju klub tempat dia biasa nongkrong dengan anggota Pain Killer. Dia butuh asupan alkohol untuk membantunya meredakan sedikit pening yang dia derita di kepala.


Mobil terparkir apik di sebelah mobil-mobil lain yang sudah lebih dulu mengisi slot. Baskara berjalan menuju pintu masuk dan bisa langsung melenggang tanpa hambatan karena dua penjaga yang berdiri di sisi kanan dan kiri pintu klub sudah mengenalnya dengan baik.


Di balik meja bar, Gerald tampak sibuk meracik minuman untuk seorang perempuan yang duduk sendirian. Dari kejauhan saja, Baskara tahu kalau perempuan itu sudah mabuk dan nyaris ambruk.


"Give it to me," kata Baskara, sekonyong-konyong meraih gelas berisi Vodka yang baru saja Gerald sodorkan kepada si perempuan.


Sang empunya Vodka mendelik tidak suka, menatap tajam ke arah Baskara dan berusaha merebut kembali apa yang seharusnya menjadi miliknya.

__ADS_1


Namun Baskara tampak tidak peduli dan langsung menenggak Vodka sampai tandas.


Gerald yang sebenarnya terkejut karena kedatangan Baskara yang tiba-tiba, tetap berusaha bersikap tenang sembari membujuk pelanggan perempuan yang tadi agar tidak mengamuk atas sikap Baskara yang seenak jidatnya.


"Saya buatkan yang baru," kata Gerald. Namun, sebelum tangannya berhasil meraih gelas untuk mulai meracik minuman yang baru, Baskara sudah lebih dulu mencekal pergerakannya.


"Dia udah mabok, jangan ditambahin lagi." Jelas Baskara ketika Gerald bertanya melalui pandangan matanya.


Gerald beralih menatap pelanggan perempuan di samping Baskara. Benar saja, perempuan itu memang sudah terlihat hampir pingsan dengan mata yang memerah dan tatapan yang sudah tidak lagi fokus.


"Panggilin taksi, Ger, kasihan." Kata Baskara lagi, setelah melepaskan cekalannya di lengan Gerald.


Gerald menghela napas pelan, kemudian mengikuti apa yang Baskara katakan dengan langsung mengeluarkan ponsel lalu menelepon layanan taksi langganannya. Dia biasanya hanya menelepon jika yang teler adalah anggota geng Pain Killer, pada pelanggannya yang lain, Gerald tidak pernah sepeduli ini.


"Taksinya udah on the way," ucapnya kepada Baskara.


Memanggil taksi untuk pelanggan perempuan itu sepertinya adalah langkah yang tepat, karena hanya sesaat setelah Gerald berkata demikian kepada Baskara, perempuan itu jatuh pingsan dengan tubuh tertelungkup di atas meja bar.


"Nanti lo anterin dia ke depan, ya," pinta Baskara.


Gerald mendengus. "Gue harus jaga di belakang meja, takutnya ada pelanggan."


"Sebentar doang, biar gue yang jaga di sini." Kekeuh Baskara.


"Kalau lo sepeduli itu, kenapa bukan lo aja yang anterin dia ke depan?" tanya Gerald, tidak habis pikir kenapa Baskara selalu saja menyuruhnya untuk melakukan hal-hal semacam ini.


"Kalau gue yang anterin dia ke depan, yang ada bukannya gue masukin taksi, ini cewek malah gue masukin ke kamar hotel." Gurau Baskara, terkekeh sendirian sebab Gerald tidak menangkap ada yang lucu.


"Transfer ke gue kayak biasa," ucap Gerald sebelum berjalan keluar dari meja bar dan menggotong tubuh perempuan yang pingsan itu kemudian segera berjalan menuju pintu keluar klub.


Baskara terkekeh melihat Gerald yang mengerjakan tugas sembari menggerutu. Gerald itu ... lucu. Badannya saja yang gede dan berotot, padahal aslinya tukang ngambek dan suka sekali mengomel, persis emak-emak.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2