
Berhubung tidak satupun dari hasil masakan Biru yang benar-benar bisa dimakan, Fabian akhirnya memutuskan untuk mengorder makanan via aplikasi demi mengisi perut mereka yang meronta-ronta.
Usai mengisi perut, masakan milik Biru yang tak berbentuk itu, dengan berat hati dibuang ke tong sampah, dibiarkan teronggok bersama sampah-sampah lain yang sudah lebih dulu menjadi penghuni.
Biru, selaku orang yang bersusah payah memasak bahan-bahan makanan itu hingga menjadi hidangan yang jauh dari kata sempurna, tampak menggigit bibir bawahnya untuk menahan sesak yang diam-diam merambati dada. Rasanya seperti ia dipaksa melepaskan anak-anak tersayangnya untuk pergi ke tempat yang jauh, dibuang, terasingkan.
Oke, itu berlebihan. Biru memang hanya menjadi jauh lebih dramatis ketika mendekati periode bulanannya. Jangankan melihat masakan yang dia buat susah payah akhirnya dibuang, melihat nyamuk yang tidak sengaja ia tepuk hingga tewas saja bisa membuat air matanya mengalir deras. Padahal di hari-hari biasa, ia brutal sekali menghajar nyamuk-nyamuk tak berdosa yang hanya hendak mencari makan itu.
"Ini mubazir, gue tahu." Kata Fabian usai menumpuk piring-piring ke bak cuci setelah memastikan isinya berpindah ke tong sampah. "Tapi ini lebih baik daripada kita keracunan," sambungnya. Ia menatap Biru prihatin, sedikit iba mendapati gadis itu masih saja murung.
"Separah itu?" tanya Biru sedih.
Meskipun tidak tega, Fabian tetap menganggukkan kepala. "Nggak ada sejarahnya nasi goreng rasanya manis, Bi." Fabian bergidik ngeri kala mengingat rasa manis yang teramat menguasai lidahnya berkat nasi goreng buatan Biru. Rasa manisnya tidak berasal dari kecap, tetapi benar-benar rasa manis gula—yang Fabian sendiri tidak paham mengapa Biru memasukkannya.
Biru bersungut-sungut, berjalan gontai menuju meja makan dan langsung duduk di salah satu kursi. Kepalanya terkulai lemas di atas meja dalam waktu singkat, tatapannya begitu sayu, bagai manusia paling galau sedunia.
Sementara di tempatnya, Fabian cuma bisa menghela napas berkali-kali sebelum akhirnya menyusul Biru dan duduk di seberangnya.
Dengan keberanian yang minim, ia mencolek lengan Biru, berharap gadis itu mau menoleh ke arahnya barang sejenak. Akan tetapi, keras kepalanya Biru kembali menang. Jangankan menoleh, bergerak sedikit pun tidak.
"Lo kalau nggak nengok, gue *****, ya." Ancam Fabian.
Seketika itu juga, Biru mengangkat kepalanya dari meja, mendelik ke arah Fabian seolah hendak memangsa pemuda itu hidup-hidup. "Belum kurang tendangan gue yang waktu itu? Mau lagi?" tanyanya dengan nada yang super duper ketus.
Fabian meringis mengingat rasa ngilu yang pernah dia rasakan tempo hari. Lalu kepalanya praktis menggeleng dengan tatapan ngeri. "Bercanda, Bi. Bercanda." Katanya sambil terkekeh canggung.
Biru mengembuskan napas keras-keras. Tatapannya sejenak kembali pada tong sampah yang telah menelan hasil masakannya, kemudian beralih kepada Fabian dan sekali lagi ia menghela napas secara dramatis. "Lo tahu nggak rasanya, udah berusaha tapi ujung-ujungnya nggak membuahkan hasil?" adunya.
"Bukannya nggak membuahkan hasil," Fabian mengoreksi. "Cuma belum sempurna aja hasilnya. Next bisa coba lagi, kan gue udah janji buat ngajarin lo."
"Tapi tetap aja," suara Biru mulai kedengaran seperti sedang merengek. "Gue sedih banget ngeliat hasil masakan gue masuk ke tong sampah gitu aja." Sambungnya, dengan bibir yang melengkung ke bawah.
"Mau gue pungut lagi makanannya?" usul Fabian asal. Tentu saja, usulan itu mengantarkannya pada sebuah rasa sakit di kepala akibat pukulan yang mendarat sempurna.
"Kasar banget!" protesnya, tapi Biru sama sekali tidak menanggapinya. Gadis itu malah kembali meletakkan kepalanya di atas meja, seperti telah kehilangan semangat hidup sepenuhnya.
Oh, ya Tuhan... sampai kapan drama masakan gagal ini akan berlangsung? Sekarang sudah hampir jam sembilan, ia harus segera pulang kalau tidak ingin dipaksa menginap lagi oleh gadis biru yang cerewet ini. Tapi kalau dramanya saja belum berakhir, bagaimana ia bisa pulang dengan tenang?
__ADS_1
Sedang memutar otak untuk memikirkan bagaimana caranya membuat Sabiru berhenti menangisi masakannya, ponsel milik Fabian yang tertinggal di atas pantri berdering nyaring, membuatnya harus bangkit dari kursi.
Biru yang masih menggolekkan kepala di atas meja, cuma melirik sekilas ke arah Fabian yang kalang kabut menghampiri ponselnya. Sampai ketika pemuda itu kembali duduk di seberangnya sambil berbicara dengan seseorang di seberang telepon pun, ia hanya memberikan sedikit minat kepada pemuda itu.
"Sekarang banget?"
"Duh, gue lagi sama Biru."
"Kan, gue nggak ikutan."
"Baskara yang minta?"
Tunggu. Baskara?
Bagai sebuah kata kunci ajaib, nama itu berhasil membuat Biru menegakkan kembali tubuhnya. Semangat yang semula tergerus hingga nyaris tak bersisa kini mulai perlahan-lahan kembali memenuhi dadanya. Ia menatap Fabian serius, menajamkan indera pendengaran untuk menguping lebih banyak.
Sadar dirinya diperhatikan, Fabian menaikkan sebelah alisnya dalam keheranan. Seseorang yang masih mengoceh di seberang telepon ia acuhkan sebentar, ponsel juga sedikit dia jauhkan dari telinga. "Kenapa?" tanyanya penuh selidik.
Tapi, ia malah mendapati Biru menggeleng dengan senyum yang samar-samar muncul.
"Aneh, lo." Fabian mencibir.
"Satu jam lagi kita start, buruan ke sini deh." Titah seseorang, yang tidak lain adalah Juan.
"Masalahnya gue lagi sama Biru sekarang," Fabian berusaha ngeles. Sejujurnya, dia tidak berminat sama sekali untuk datang memenuhi undangan Juan.
"Ya emang kenapa? Lo ajakin aja sekalian," usul Juan dengan entengnya.
"Mana bisa?" Fabian menahan suaranya agar tidak meninggi. Ia sempat melirik Biru lagi, sebelum akhirnya telepon dimatikan secara sepihak oleh Juan yang agaknya sudah mulai lelah untuk melakukan negosiasi.
Fabian jelas kesal. Ia menatap layar ponselnya begitu lama, diam-diam mulai membangun skenario di dalam kepala seolah-olah ia sedang meninju wajah Juan hingga nyaris tak berbentuk.
"Kenapa?" tanya Biru, menginterupsi.
"Apanya?" Fabian balik bertanya.
"Itu telepon dari teman lo, kan?"
__ADS_1
"Ya terus?"
"Ya kenapa? Ada apa? Dia nyuruh lo ngapain? Kok lo bawa-bawa nama gue?" cerocos Biru, persis petasan di nikahan yang tidak kunjung berhenti sebelum rangkaiannya habis.
Cerocosan Biru serupa dengungan lebah yang menganggu. Bukan hanya menimbulkan pengang di telinga, tetapi juga pening yang perlahan-lahan merambati kepala. Ogah mendengar ocehan itu lebih lanjut, Fabian pun membuka mulutnya untuk menjelaskan secara rinci. Tentang siapa yang menelepon, dan apa saja yang disampaikan kepadanya.
"Itu tadi Juan," ia mengawali. "Ngajakin balapan," sambungnya. Punggungnya disandarkan ke kursi, tangannya terlipat di depan dada dengan ponsel yang masih ia genggam nyaman di satu tangan.
"Lo kan nggak ikut balapan?"
"Baskara minta gue datang, buat jadi suporter." Ia menjelaskan.
"Ya udah,"
"Apanya?" Fabian kebingungan.
Dan kebingungannya semakin menjadi-jadi saat Biru bangkit dari kursi, secepat kilat berlari menuju kamar untuk kemudian kembali dengan jaket kulit yang sudah melekat di tubuhnya. Celana training yang semula dikenakan oleh gadis itu juga sudah berganti menjadi celana jeans yang sobek-sobek di bagian lutut. Warna birunya yang telah pudar seolah menceritakan seberapa panjang perjalanannya hingga titik ini, menemani hari-hari sang empunya.
"Ayo," ajak Biru antusias. Ikatan yang asal dilepaskan, membuat helaian rambutnya yang halus terurai begitu cantik. Gerakan tangannya yang menyugar helaian rambut panjangnya juga berhasil membuat Fabian melongo selama beberapa saat, diam-diam mengagumi betapa perubahan kecil saja sudah bisa membuat sosok Biru kelihatan berkali-kali lipat lebih menarik.
Mungkin butuh sekitar delapan detik, sampai akhirnya Fabian sadar dari lamunan dan segera menegakkan kembali punggungnya.
"Ke mana?" tanyanya.
"Jadi suporter buat teman-teman lo yang ikut balapan." Jawab Biru.
"Nggak ada. Udah malam, emangnya besok lo nggak ada kelas?"
"Ada kelas pagi,"
"Nah, kan. Jangan."
"Tenang aja, sih. Salah satu keahlian gue itu tetap bisa bangun pagi walaupun habis bergadang sampai subuh hari." Kata Biru membanggakan dirinya sendiri. "Udah ah, ayo buruan jalan."
Tanpa menunggu persetujuan, gadis itu berlalu lebih dulu. Langkahnya terlihat ringan, samar-samar Fabian juga mendengar gadis itu bersenandung pelan.
Sampai kemudian, tubuh Biru menghilang di balik binti dan yang Fabian bisa lakukan hanyalah menghela napas kasar sebelum akhirnya bangkit menyusul gadis itu.
__ADS_1
"Tadi cemberut, sekarang excited banget kelihatannya. Emang labil tuh manusia," gerutunya sembari mempercepat langkah.
Bersambung