
"Ngaku, siapa yang udah telepon mereka?" Baskara berbisik kepada tiga kawannya yang berdiri di samping kanan dan kiri ranjang.
Reno dan Juan yang berdiri di sisi kiri, serempak menunjuk ke arah Fabian yang berdiri di sisi kanan. Sedangkan yang ditunjuk hanya menatap datar tanpa punya niat untuk membela diri.
Di sofa, ada Sera dan Jeffrey yang duduk bersebelahan. Dua orang dewasa itu tadi datang ke rumah sakit dengan kepanikan yang sampai di ujung kepala, berlarian tergopoh-gopoh menuju UGD demi mencari putra semata wayang mereka yang dikabarkan mengalami kecelakaan tunggal.
Sebagai orang tua, wajar saja bila mereka merasa khawatir. Baskara tahu itu. Ia jelas memahaminya. Tapi, kekhawatiran orang tuanya begitu berlebihan, hingga berakhir lah ia di ruang rawat inap Super VVIP atas permintaan sang ibunda. Padahal, Baskara jelas-jelas mendengar dari dokter bahwa cedera yang ia alami tidak terlalu parah, dan bisa langsung pulang untuk menjalani perawatan di rumah.
Kehebohan juga tidak berhenti hanya sampai ketika ibunya memesan ruang rawat inap yang biaya per-malam bisa mencapai jutaan. Sera juga meminta dokter untuk melakukan pemeriksaan ulang, untuk memastikan kalau kondisi Baskara memang baik dan tidak ada yang perlu diperhatikan secara berlebihan. Kepanikan telah menelan Sera, hingga membuat perempuan itu bahkan meragukan kemampuan analisa dari dokter-dokter yang bekerja di rumah sakit paling top di Jakarta ini.
"Mereka berhak tahu," ucap Fabian setelah sekian lama bungkam. Awalnya dia tidak ingin mengatakan apa-apa, tapi karena Baskara terus saja memicing ke arahnya, Fabian akhirnya buka suara juga.
Baskara berdecak sebal. Ingin protes, tapi sudah terlanjur. Bahkan, memukul wajah Fabian untuk melampiaskan kekesalannya juga tidak akan merubah apa-apa. Ibunya yang super protektif itu tidak akan merubah keputusan untuk rawat inap hanya karena ia merasa keberatan.
Mungkin, hanya satu hal yang kemudian tidak Baskara sesali atas keputusan ibunya untuk membuatnya dirawat inap. Yaitu kehadiran Biru yang masih bersedia tinggal meskipun sedari tadi gadis itu hanya bungkam, bahkan sama sekali tidak membalas tatapannya.
Adanya Biru di sana membuat sakit di punggungnya tidak lagi terasa, tergantikan dengan letupan-letupan manja di dalam dada kala memori indah tentang kisah mereka yang telah lalu kembali mampir di kepala.
Baskara ingat, dulu saat mereka masih berpacaran sewaktu SMA, Biru adalah orang pertama yang akan langsung berlari menghampiri dirinya ketika mendapat kabar bahwa ia terluka. Kini, meksipun gadis itu tidak lagi secara terang-terangan menunjukkan kekhawatirannya, Baskara tetap merasa lega karena setidaknya masih ada satu sisi Biru yang tidak berubah setelah sekian lama.
"Anyway," Baskara membuka mulutnya, dengan tatapan yang masih terus tertuju kepada Biru yang berdiri di samping Fabian. "Udah malam, lo harus pulang." Sambungnya.
Tiga kawannya jelas tahu kalau kalimat itu ditujukan untuk Biru. Karena tidak ada dalam sejarah, seorang Baskara akan mengusir mereka pulang entah apapun yang terjadi. Malahan, pemuda itu akan cenderung membuat mereka tinggal lebih lama, untuk kemudian menikmati kesepian mereka bersama-sama.
__ADS_1
Satu-satunya yang tidak paham kalau Baskara sedang bicara dengannya adalah Biru. Di mana gadis itu malah asyik menggulir layar ponsel yang sebetulnya hanya menampilkan deretan story acak dari orang-orang yang ia ikuti di Instagram.
Tak ditanggapi, Baskara justru mengulas senyum tipis. "Gue ngomong sama lo, Sabiru." Ucapnya.
Begitu namanya dipanggil, barulah Biru mengangkat pandangan. Tatapannya seketika terkunci pada manik Baskara yang menatap lekat ke arahnya. Lalu senyum yang pemuda itu sunggingkan menimbulkan perasaan tidak enak yang campur aduk di dalam dada.
Biru berusaha keras mengingatkan dirinya sendiri bahwa ia dan Baskara tidak saling mengenal. Bahwa mereka telah lama usai dan kini bertemu kembali sebagai dua orang yang sepenuhnya asing.
Akan tetapi, ia gagal.
Biru tidak bisa membohongi dirinya sendiri bahwa ia merasa khawatir. Ketika tadi Fabian menerima telepon dan mengabarkan kepada dirinya kalau Baskara mengalami kecelakaan, Biru sudah hampir gila. Ia sudah membayangkan banyak sekali skenario buruk yang terjadi pada pemuda itu. Dan meskipun akhirnya ia mendengar sendiri dari dokter bahwa tidak ada yang perlu dikhawatirkan secara berlebihan, ia masih saja merasa khawatir.
"Atau ... lo mau menginap di sini?" goda Baskara. Iseng, siapa tahu saja, kan, Biru kesambet setan penunggu rumah sakit sehingga mengiyakan permintaannya?
Hahaha ... halu!
"Lah, ngapain pesan ojol? Kan lo datang ke sini bareng gue? Ayo, balik sama gue." Fabian menyela. Tangannya refleks menarik lengan Biru, dan hal itu tentu saja membuat Baskara langsung menelan kembali senyum tipis yang sedari tadi hendak ia muntahkan.
Diam-diam, Baskara menatap tangan Fabian yang memegang pergelangan tangan Biru itu lekat-lekat. Lalu, ia melirik ke arah Biru, menemukan gadis itu juga tengah menatap ke arahnya.
Tatapan mereka saling terkunci selama tiga detik penuh. Sebelum akhirnya Baskara berhasil menguasai diri dan kembali menjalani peran sebagai orang asing.
"Hati-hati kalau bawa anak gadis orang, nggak usah ngebut." Katanya kepada Fabian. Tak lupa juga ia menyunggingkan senyum tipis kepada pemuda itu, walaupun sebenarnya ia ingin sekali menepis tangan yang telah lancang menyentuh gadisnya.
__ADS_1
"Aman." Jawab Fabian. Tidak merasa ada yang aneh, ia malah menurunkan tangannya, tanpa rasa berdosa menautkan jemari panjangnya dengan jemari lentik milik Sabiru.
"Besok gue ke sini lagi sehabis kelas. Kalau lo butuh apa-apa, bilang aja." Kata Fabian lagi.
Baskara hanya menganggukkan kepala. Lalu ia berusaha menguatkan hati saat Fabian membawa gadisnya pergi dari sana, meninggalkan ruang yang terasa hampa di salah satu bagian di hatinya.
...****************...
Sekitar pukul setengah satu dini hari, Baskara beringsut bangun dari posisi tidur meskipun harus sambil meringis menahan sakit di punggungnya. Ia duduk bersandar di ranjang setelah meraih ponsel yang tergelak di atas nakas.
Sebelum memulai aktivitasnya dengan ponsel tersebut, Baskara melirik ke arah ranjang lain yang ada di sampingnya. Di sana lah sang ibu terlelap, sedangkan ayahnya lebih memilih untuk tidur di sofa panjang meskipun harus menekuk kakinya demi bisa muat.
Baskara tidak tahu apakah kedua orang tuanya sudah benar-benar berbaikan. Yang jelas, saat ia kembali dari rumah Fabian tempo hari dan ayahnya berkata bahwa tidak akan ada perceraian, Baskara telah memutuskan untuk percaya saja pada apapun yang coba diperlihatkan oleh kedua orang tuanya. Ia tidak mau lagi ikut campur, sok menjadi pahlawan kesiangan untuk pernikahan kedua orang tuanya di saat ia sendiri tidak tahu alasan mengapa mereka memutuskan untuk tetap bersama sampai sekarang.
Sebagai anak, Baskara hanya akan selalu mendoakan yang terbaik untuk mereka berdua.
Selesai merenungi soal keluarganya, Baskara mengembalikan fokusnya pada ponsel di tangan. Tujuannya lagi-lagi adalah galeri ponsel, demi melihat foto-foto Biru yang menjadi satu-satunya objek yang tersimpan di sana.
Satu persatu foto koleksinya ia lihat. Senyumnya juga semakin lebar seiring dengan munculnya foto-foto lawas milik Biru, yang ia ambil ketika gadis itu pertama kali menjadi kekasihnya. Sebuah foto yang menampakkan gadis itu tengah tersenyum cerah ke arah kamera, sembari memegang sebuket bunga matahari yang ia persembahkan khusus untuknya. Bunga matahari itu ia tanam sendiri di halaman rumahnya, kemudian ia panen untuk diberikan kepada Sabiru sebagai bentuk tanda cinta.
Hubungan mereka memang sudah berakhir, dan hal-hal manis itu kini hanya menjadi kenangan yang sesekali akan ia ingat kembali kala rindu membumbung tinggi melampaui hal lain yang ia rasa. Tapi, hanya dengan berbekal kenangan itu saja, Baskara bisa merasa lebih baik.
Sedari dulu sampai sekarang, senyum Sabiru masih menjadi obat terbaik untuk menyembuhkan segala luka yang ia derita.
__ADS_1
Maka sebelum ponselnya ia matikan kembali dan matanya perlahan-lahan ia bawa terpejam, Baskara berbisik di dalam hati, sedikit mengemis kepada Tuhan agar ia diberi kesempatan satu kali lagi untuk bisa memiliki senyum Sabiru kembali.
Bersambung