Taruhan

Taruhan
Birthday Party


__ADS_3

Dari apartemen Biru, Fabian pulang dulu ke rumah, hanya untuk mandi dan berganti pakaian lalu kembali melajukan mobilnya menyusuri jalanan yang licin sehabis hujan. Tujuannya adalah Mega, di mana Gerald telah secara khusus mengundangnya dan anggota Pain Killer yang lain untuk datang ke sana demi mereyakan ulang tahun pemuda itu.


Awalnya, Fabian berniat menyambangi Baskara ke rumahnya agar mereka bisa berangkat bersama. Tetapi karena Baskara mengatakan dia masih memiliki hal lain untuk diurus, Fabian pun akhirnya berangkat sendirian.


Sesampainya di Mega, suasana masih sepi karena jam memang baru menunjukkan pukul 7. Usai memarkirkan mobil, Fabian berjalan santai masuk ke gedung klub yang dijaga oleh dua pria kekar berseragam serba hitam. Karena dia sudah menjadi pelanggan tetap, dua petugas keamanan itu tidak lagi mau repot-repot menjalankan prosedur pengecekan identitas sehingga Fabian bisa melenggang masuk dengan bebas.


Di dalam klub, Gerald sudah menunggu. Bukan di belakang meja bar, melainkan di salah satu meja yang biasanya menjadi tempat para VIP menghabiskan minuman. Pemuda itu juga terlihat berdandan, menata rambutnya dan memastikan pakaian yang dia kenakan sekarang cukup pantas untuk sebuah perayaan.


"Dude!" Gerald melambaikan tangan, senyumnya melebar sampai ke telinga.


Fabian membalas lambaian tangan tersebut, kemudian mempercepat langkah agar bisa segera sampai di sisi Gerald.


"Lo beneran sewa Mega malam ini?" tanya Fabian, setelah dia duduk di seberang Gerald. Matanya menelisik seluruh sudut Mega, hanya untuk menemukan beberapa orag yang duduk di salah satu meja, di mana orang-orang itu semuanya adalah kenalan Gerald.


"Yup,"


"Tumben? Bokap lo ngga ngoceh? Kan, yang ada di otak dia cuma duit?" tanya Fabian heran. Yup, Mega sebenarnya adalah kllub milik ayah Gerald, dan itu adalah sebuah rahasia yang hanya dibagikan kepada seluruh anggota Pain Killer saja. Gerald bekerja di Mega karena ayahnya yang meminta, dan untuk urusan gaji, mereka benar-benar menghitungnya seperti gaji karyawan yang lain.


Gerald tersenyum kecut sebelum menjawab. "Gue hampir menguras semua tabungan yang gue punya buat bikin si tua bangka itu mau menyewakan Mega malam ini." Kata Gerald, sedikit nyeri saat mengingat berapa banyak uang yang harus dia berikan kepada ayahnya hanya untuk menyewa Mega.


Well, tidak seperti anggota Pain Killer yang kehilangan peran kedua orang tua, Gerald merasa masih lebih beruntung. Ayah dan ibunya masih memberikan kasih sayang kepada dirinya, meskipun tidak lebih besar ketimbang yang diberikan kepada kakak perempuannya yang kini tinggal di Kanada. Hanya saja, ayahnya memang sedikit tidak bisa bermurah hati kalau itu ada urusannya dengan uang dan bisnis. Pokoknya, menurut ayah Gerald, tidak ada yang namanya keluarga di dalam urusan bisnis. Untung dan rugi harus tetap dihitung dengan benar, sekalipun itu harus dibahas dengan sesama anggota keluarga.


Dulu, saat Gerald masih remaja, dia merasa kesal dengan prinsip ayahnya tersebut. Dia merasa ayahnya terlalu kikir. Tetapi, seiring dengan bertambahnya usia dan dia mulai terjun ke dunia kerja, Gerald mulai bisa mengerti bahwa sebuah bisnis memang seharusnya berjalan seperti itu. Karena sejauh ini, dia tidak pernah menemukan sebuah bisnis yang berjalan lancar jika masih mencampuradukkan masalah uang dengan status kekeluargaan.


"He's really good at bussines," ucap Fabian, dan Gerald mengangguk setuju.


Untuk beberapa saat, tidak ada obrolan lain yang terjadi. Gerald mulai sibuk menekuri poselnya yang berkali-kali memunculkan dering notifikasi. Sedangkan Fabian mulai kembali menelisik ke seluruh penjuru.


Fabian hanya menghabiskan beberapa detik untuk meneliti setiap sudut yang dilalui oleh matanya. Sampai kemudian tatapannya tiba di meja bar, dan dalam sekejap ia terpaku di sana cukup lama. Ingatan tentang pertemuan pertamanya dengan Biru kembali menyapa. Bagaimana gadis itu bahkan tidak mau repot-repot mengajaknya berkenalan. Bagaiamana gadis itu berani mengangkat kepala begitu tinggi untuk membela dirinya sendiri. Dan masih banyak hal-hal lain yang dalam sekejap telah berhasil mendapatkan tempat tersendiri di dalam kepala Fabian.


Lalu, Fabian sadar kalau Biru memang seperti itu. Dan, sedikit demi sedikit dia mulai menyadari betapa tindakannya sore tadi terlalu terburu-buru. Fabian mulai sadar, bahwa niat baiknya untuk mencegah Biru masuk ke dalam masalah yang lebih besar mungkin justru melukai harga diri gadis itu.


"Gue undang si Biru,"


Fabian menoleh kembali kepada Gerald, tepat ketika pemuda itu meletakkan ponsel ke atas meja. "Tapi dia bilang nggak bisa datang, kakinya keseleo." Kata Gerald lagi.

__ADS_1


Hanya anggukan kepala yang bisa Fabian berikan. Sebab dia tidak mungkin menceritakan kepada Gerald bahwa dia tahu lebih banyak tentang gadis itu, dan bahkan telah menjadikannya target taruhan bersama anggota Pain Killer.


"Kalian satu kampus, right?" tanya Gerald sembari menyodorkan gelas berisi vodka.


Fabian menerima gelas itu, memandanginya sebentar sebelum menghabiskan cairan pekat itu dalam sekali tenggak. "Beda fakultas," jawab Fabian. Gelas kosong di tangan ia sodorkan kembali kepada Gerald, minta diisi ulang.


Gerald dengan senang hati menuangkan minuman, walaupun teknisnya dia tidak sedang bekerja sebagai bartender malam ini. "Tapi tetap ada chance buat kalian ketemu, kan?" tanya Gerald kemudian.


"Gedung fakultas kami jaraknya dari ujung ke ujung, jadi sekalipun ada chance, kemungkinannya cuma satu banding seratus." Bohong Fabian.


"But it's still a chance, walaupun angkanya kecil."


Fabian menaikkan sebelah alisnya, mulai tidak mengerti ke mana Gerald akan menggiring obrolan mereka ini. "Lo mau ngomong apa sebenarnya?" tanya Fabian, malas menerka-nerka.


"She's a good girl,"


"Nggak ada yang bilang dia bajingan." Sela Fabian.


Gerald menghela napas. "Biarin gue selesaikan omongan gue dulu," protesnya.


"Well," Gerald menegakkan punggungnya, dalam hitungan detik merubah tatapannya menjadi jauh lebih serius. Pemuda itu menatap lurus ke mata Fabian, memberi jeda cukup lama untuk menelisik manik Fabian sampai ke dalam-dalamnya. "I think ... lo bisa coba buka hati untuk lihat dia lebih jauh. I mean ... cuma lo satu-satunya yang nggak pernah kelihatan punya minat ke lawan jenis." Gerald terkesan begitu hati-hati saat menyampaikannya, dan Fabian tahu jelas mengapa pemuda itu melakukannya.


"But you said that she's a good girl," ucap Fabian, kemudian menenggak lagi Vodka miliknya.


Gerald mengangguk, sedangkan Fabian justru tersenyum sumir atas anggukan itu. "If she's truly a good girl, you shouldn't asked me to do that. Lo tahu gue bajingan,"


"You're not," elak Gerald.


"I am." Final Fabian. Dan itu benar-benar keputusan final, karena Gerald tidak lagi diberikan kesempatan untuk bicara lebih banyak.


...****************...


Semakin malam, tamu undangan yang datang ke Mega juga semakin banyak. Gerald harus berkali-kali pindah dari meja satu ke meja lain, untuk sekadar menyapa tamu-tamu yang ia undang dan berbasa-basi sebentar setelah menerima ucapan selamat ulangan tahun, sampai kemudian dia memutuskan untuk kembali ke meja di mana empat anggota Pain Killer berada.


Gerald tidak kembali seorang diri. Dia membawa serta empat gadis berpakaian seksi yang kemudian dia perkenalkan satu persatu kepada anggota Pain Killer yang sudah setengah mabuk.

__ADS_1


"Pilih mana pun yang kalian suka," kata Gerald setelah selesai memperkenalkan para gadis. Yang padahal nama mereka bahkan sama sekali tidak diingat oleh anggota Pain Killer karena mereka memang tidak pernah tertarik pada nama-nama para gadis.


"Nggak dulu, gue off." Kata Baskara, sembari meraih gelas berisi whiski kemudian menenggaknya.


Pernyataan tak biasa itu tentu membuat semua yang ada di meja melotot tak percaya. Karena belum pernah terjadi sebelumnya, seorang Pramudya Baskara menolak seorang gadis, apalagi yang disodorkan kepadanya secara cuma-cuma.


Di antara semua yang diterpa keheranan, Fabian menjadi satu-satunya yang menyadari keanehan lain dari Baskara bahkan sejak awal kedatangan pemuda itu ke Mega beberapa jam sebelumnya. Sama sekali tidak ada keantusiasan yang Fabian lihat dari pemuda itu. Seolah-olah Baskara datang ke sini bukan untuk bersenang-senang, melainkan hanya menghargai Gerald yang telah sudi mengundangnya.


Kalau diingat-ingat lebih baik lagi, Fabian sebenarnya merasa tingkah Baskara memang sudah aneh sejak unggahan Biru yang menggemparkan jagad Neosantara itu muncul. Tetapi Fabian belum ada kesempatan untuk mencari tahu lebih banyak tentang apa yang terjadi kepada Baskara karena ia justru sibuk memikirkan Biru.


"Kenapa? Ceweknya kurang hot?" Gerald mengatakan itu dengan lantang, membuat empat gadis yang dia bawa saling pandang kemudian tampak mulai menelisik penampilan mereka sendiri.


"They're good. I'm just not in the mood," ucap Baskara. Pemuda itu kemudian menatap empat gadis itu secara bergantian, menyunggingkan senyum tipis lalu kembali menatap Gerald. "Takutnya gue malah kentang pas main dan bikin para gadis cantik ini kecewa."


Gerald membuang napas keras-keras. "Tapi gue udah siapin empat yang terbaik buat kalian,"


"Jatah gue buat Reno aja," ucap Baskara enteng.


"Mata lo!" Reno dengan nada ngegas yang sudah menjadi kebiasaan."Punya gue cuma satu, gimana caranya bisa main bertiga?!"


Baskara terkekeh pelan. "Ya gue juga nggak tahu gimana caranya. Lo pikirin aja sendiri,"


Usai mengatakan itu, Baskara bangkit dari duduknya. Ia membawa serta Fabian, menarik lengannya lalu menelusupkan jemarinya dan mengeratkannya dengan milik Fabian.


Empat gadis yang masih menunggu nasib mereka sontak salah fokus pada perbuatan Baskara itu. Berbagai pemikiran acak mulai berkeliaran di kepala mereka, lalu satu di antara empat tersenyum tipis atas pemikiran tersebut.


Sedangkan Reno, Juan dan Gerald yang sudah tahu betapa absurd tingkah Baskara justru merasa jengkel karena tahu pemuda itu sengaja bersikap demikian untuk menggiring opini bahwa dia adalah gay. Baskara memang suka menggunakan cara itu untuk menolak seorang gadis secara halus.


"Jangan kabur!" cegah Reno. Pemuda itu mencekal lengan Baskara yang lain. "Ini cewek udah pada nungguin anjir," sambungnya, setengah berbisik.


Namun Baskara sudah memutuskan akan menghabiskan malamnya dengan kegiatan seperti apa. Jadi, tangan Reno di lengannya dia hempas pelan-pelan. Kemudian, ia menunduk, mendekatkan bibirnya di telinga Reno dan berbisik. "Sekalian punya Fabian, buat lo juga. Lumayan kan, bisa main berempat."


Kemudian Baskara menegakkan kembali punggungnya, dan segera menarik Fabian pergi tepat sebelum suara Reno menggelegar memenuhi seluruh Mega.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2